A-YO GG !

Cendrawasih Merah : Antara Kultur, Eksploitasi, dan Konservasi

Posted: September 8th 2014
Cendrawasih Merah (Paradiseae rubra)

Cendrawasih Merah (Paradiseae rubra)

Keberadaan satwa burung di Indonesia semakin hari semakin menurun. Hal ini terjadi karena adanya perburuan liar sehubungan dengan meningkatnya permintaan pasar. Selain itu penurunan kualitas habitat sebagai akibat dari aktivitas manusia, lemahnya pengamanan, pengawasan, penerapan, sanksi hukum, serta rendahnya kesadaran masyarakat tentang konservasi, juga turut mengakibatkan penurunan populasi burung di alam. Walaupun telah berstatus dilindungi (termasuk oleh pemerintah daerah di mana habitat dan jenis burung berada ), namun perburuan liar tetap terus berjalan. Hal ini juga terjadi di Papua yang mna merupakan habitat raksassa dimana ratusan bahkan ribuan jenis tanaman dan hewan tersebar di daratan tanah dari pulau yang dulu dikenal nama “Irian Jaya” itu. Pulau “surga” ini masih memiliki daya dukung lingkungan yang baik yang sesungguhnya tidak terlepas dari ekosistem – ekosistem yang masih mempunyai siklus hidup yang baik didalamnya. Lingkungan alam dan kelestariannya yang masih terjaga dengan baik tentu saja tidak lepas dari kepedulian dan sifat memiliki dari masyarakat sekitar terhadap salah satu sumber kearifan lokalnya.
Kekhasan dan keunikan dari Papua yang menjadi primadona di Indonesia dan di dunia adalah kehadiran Cendrawasih (Bird of Paradise). Cendrawasih merupakan burung dengan bulu yang indah karena merupakan gabungan dari beberapa variasi beberapa warna indah seperti coklat, kuning, merah, ungu, putih, hijau, dan biru. Klasifikasi dari cendrawasih adalah merupakan filum chordata, kelas aves, ordo Passerifomes, famili Paradisaeidae, terdiri dari 13 genus dan 43 spesies (jenis). Penyebaran burung indah ini
terdapat pada hutan – hutan lebat yang umumnya terletak di daerah dataran rendah dan hanya dapat ditemukan di Indonesia bagian timur terutama pulau – pulau selat Torres, Papua Nugini, dan Australia timur.

  • Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra)
Cendrawasih Merah (Paradiseae rubra)

Cendrawasih Merah (Paradiseae rubra)

Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra) merupakan salah satu spesies/jenis dari kelompok cendrawasih. Jenis ini merupakan salahsatu yang terkenal dan mempunyai daya tarik yang tinggi. Secara kasat mata, jenis cendrawasih ini dominan dengan warna merah terang (merah darah) pada bagian ekornya dimana juga terdapat perpaduan dengan bulu berwarna putih. Beberapa jenis cendrawasih merah juga mempunya perpaduan warna bulu ekor dengan warna bulu kuning yang merupakan warna bulu dasar dari cendrawasih. Bulu bagian tubuh terdiri dari dua warna yaitu ada cendrawasih merah yang mempunyai tubuh berwarna hitam dan ada yang mempunyai tubuh berwarna coklat seperti cendrawasih pada umumnya. Sedangkan pada bagian leher yang merupakan salah satu bagian paling eksotis dari cendrawasih ini terdapat perpaduan antara hijau zamrud dengan warna kuning seperti pada cendrawasih umunya. Kemudian pada bagian ekor terdapat bulu panjang berwarna hitam seperti tali berjumlah dua buah.
Cendrawasih Merah hidup bersama kelompoknya di dahan pohon – pohon yang berukuran tinggi dan tentunya lingkungan hutan yang masih bagus. Mereka bermain dan menari bersama dengan kawananya. Aktifitas menari ini mereka lakukan pada jam – jam tertentu seperti jam 9 pagi hingga jam 4 sore pada habitat mereka. Aksi menari ini sebagai salah satu cara untuk menarik cendrawasih lawan jenisnya. Hal yang lazim dilakukan Cendrawasih merah adalah menari dengan licahnya pada dahan – dahan pohon dengan memamerkan bulu indahnya pada lawan jenisnya untuk menarik perhatian. Cendrawasi merah merupakan jenis spesies poligami. Setelah kopulasi, burung jantan meninggalkan betina dan mulai mencari pasangan yang lain. Burung betina menetaskan dan mengasuh anak burung sendiri. Keterikatan batin antara satu cendrawasih dengan cendrawasih lain sangat kuat. Hal ini terbukti jika ada salah satu dari kelompoknya yang terpisah, maka dia akan mengeluarkan suara khas untuk memancing teman – teman satu kelompoknya untu mencarinya. Proses pencarian tersebut berlangsung dalam waktu yang tidak terlalu lama, dan kelompoknya akan menghampiri cendrawasih yang mengeluarkan sumber suara tersebut.

  • Kemelimpahan
raja42

Peta Penyebaran Cendrawasih Merah di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat (Sumber : ksdarajampat.blogspot.com)

Seperti yang telah dipaparkan pada awal, bahwa kemelimpahan dan penyebaran kelompok cendrawasih dominan tersebar di beberapa daratan papua seperti bagian barat pulau papua yang meliputi daerah Raja Ampat, kemudian menyebar juga di daerah sekitar Teluk Cendrawasih (Pulau Waropen, Pulau Biak, dan Nabire) dan pedalaman hutan papua pada bagian utara. Namun berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, serta populasi dan daerah dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, Cendrawasih Merah berisiko masuk kedalam daftar hewan yang terancam punah oleh IUCN Burung ini juga didaftarkan dalam CITES Appendix II. Di Indonesia Cendrawasih Merah dilindungi oleh UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.

  • Konservasi
Cendrawasih Merah (Paradiseae rubra)

Cendrawasih Merah (Paradiseae rubra)

Maraknya perburuan liar dan perusakan hutan untuk pemenuhan kebutuhan – kebutuhan di era globalisasi dan teknologi, secara tidak langsung mengancam kehidupan dan habitat dari cendrawasih. Hal yang miris terjadi adalah perburuan liar oleh – oleh oknum – oknum yang notabene bukan merupakan penduduk lokal. Perburuan yang akhir – akhir ini terjadi adalah penggunaan cendrawasih untuk hiasan dan penggunaan bulu untuk tujuan tertentu seperti awetan yang dipajang sebagai hiasan di dinding dan untuk dipamerkan bahkan jual beli. Produsen – produsen industri fasion di Eropa dan Amerika menggunakan bulu cendrawasih sebagai salah satu bahan dasar pembuatan tas, kalung, hiasan kepala, dan pakaian. Cendrawasih merah mempunyai harga yang tinggi untuk dijual apalagi cendrawasih yang telah ditangkap dan dipelihara. Hal ini lah yang menjadi tujuan utama dari para pemburu sehingga kecenderungan untuk eksploitasi besar – besaran terjadi. Eksploitasi besar – besaran ini sudah terjadi sejak jaman penjajahan Belanda yang dimanfaatkan untuk perdagangan dan industri.
Hal ini tentu saja kontras dengan yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Masyarakat lokal cenderung memburu cendrawasih merah untuk dijadikan hiasan kepala untuk upacara adat yang merupakan tradisi leluhur. Tetapi, perburuan tidak dilakukan secara besar – besaran melainkan sesuai dengan kebutuhan akan upacara tradisi tadi. Biasanya masyarakat setempat telah memperhitungkan cendrawasih sepeti apa yang akan mereka buru, yakni seperti umur, kesehatan, kebiasaan, warna bulu, dan tanda – tanda dari leluhur mereka yang dipercayai.
Perlindungan dan pelestarian Cendrawasih Merah telah digalakan baik secara nasional dan global. Keberadaan burung ini selain mempunyai pengaruh terhadap ekosistem juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Pengaturan dan pengawasan yang baik akan memberikan manfaat dan nilai – nilai positif bagi masyarakat terutama yang mengelola dan memeliharanya. Salah satu usaha konservasi yang dilakukan adalah yang pertama dengan menerapkan sistem pemanfaatan berkelanjutan dimana eksploitasi cendrawasih berhenti dilakukan dan ditingkatkan keberadaanya. Pilihan lain yang sedang dikaji adalah eksploitasi dibawah pengawasan yang ketat dan peningkatan jumlah cendrawasih. Kedua, adalah konservasi berbasis pariwisata, dimana salah satu cara untuk konservasi dengan mengajak masyarakat peduli terhadap risiko terancam punahnya cendrawasih merah. Contohnya, pemanfaatan Cendrawasih Merah serta satwa burung lainnya di Raja Ampat hanya untuk menunjang pariwisata, sehingga keberadaannya di alam disenangi oleh wisatawan, yaitu sebagai salah satu atraksi wisata. Contohnya saja kegiatan pengamatan burung berbasis konservasi di Raja Ampat khususnya jenis Cendrawasih Merah dapat dilakukan di Kampung Sawinggrai dan Saporkren. Ketiga, antisipasi perusakan dan eksploitasi hutan secara besar – besaran terus dilakukan dengan pengawasan dan perlindungan dengan kerja sama badan pemerinta, LSM, dan masyarakat papua sendiri.

Cendrawasih sebagai hiasan kepala dalam tradisi masyarakat Papua

Cendrawasih sebagai hiasan kepala dalam tradisi masyarakat Papua

Masyarakat Papua memiliki beberapa bentuk kearifan lokal yang berhubungan dengan konservasi burung cenderawasih berbasis masyarakat seperti melalui kearifan lokal masyarakat dalam pemanfaatan burung cenderawasih secara terbatas untuk kegiatan ritual dan budaya, perburuan yang diatur dengan norma adat, dan melalui konsep konservasi modern dengan kehadiran lembaga konservasi swadaya masyarakat. Persepsi masyarakat tentang nilai-nilai tradisional dan tentang burung cenderawasih dan konservasinya berhubungan langsung dengan tingkat partisipasi masyarakat dan kondisi ekologi burung cenderawasih, dimana semakin baik persepsi masyarakat tentang nilai-nilai tradisional dalam upaya konservasi burung cenderawasih semakin tinggi tingkat partisipasi dalam konservasi burung cenderawasih serta semakin baik persepsi masyarakat tentang nilai nilai tradisional dan pengetahuan akan burung cenderawasih dan konservasi, semakin baik juga kondisi ekologinya.

 

REFERENSI

Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. 2013. Burung Cendrawasih : Mengenal Kecantikan Burung dari Surga. (www.indonesia.travel.com) (Diakses 7 September 2014)

Cahyono, Duto Sri.  2012. Burung Cendrawasih Papua hadapi Masa Kritis. (www.omkicau.com) (Diakses 7 September 2014)

Moehayat, Praminto. 2009. Refleksi Konservasi dan Implikasi Bagi Pengelolaan Taman Nasional. Gramedia. Jakarta.

Tim BTNTC. 2006. Laporan Statistik Balai Taman Nasional Teluk Cendrawasih Provisi Papua Barat. Nabire.

KSDA Raja Ampat. 2013. Cendrawasih Merah Satwa Endemik Pulau Waigeo. Seksi Konservasi Wil I Waisai.

 


18 responses to “Cendrawasih Merah : Antara Kultur, Eksploitasi, dan Konservasi”

  1. Junaidi Pratama says:

    Info yang cukup baik..akan lebih baik lagi jika daftar pustakanya dicantumkan. Terima kasih..

  2. miabone says:

    Wah andaikan semua suku di Indonesia seperti ini ya, mau menyelaraskan budaya lokal dengan kelestarian hewan endemiknya pasti akan lebih mudah bagi bangsa kita menjaga kekayaan yang ada. Namun semua itu pasti membutuhkan dukungan dari pemerintah juga. Apakah ada tindakan tegas dan nyata dari pemerintah, selain membuat UU, untuk membuat para oknum-oknum jahat yang mengganggu cenderawasih itu jera? Terimakasih sebelumnya untuk informasi yang Anda berikan.

    • alanpeter says:

      Kalau liat solusinya itu gimana? Melestarikan cendrawasih merah tapi bakalan dimanfaatkan lagi untuk kesejahteraan masyarakat? Baik apa enggak yaa… ? #LetsSaveCendrawasih

  3. Santha21 says:

    Kerennnnn! baru tau kalau ada cemdrawasih merah, ternyata keberadaannya hampir punah. Informasi yang bagus 🙂

  4. elviena says:

    sangat disayangkan kehadiran burung cantik :bird of paradise’ ini terancam punah. upaya pemerintah nampaknya sudah cukup baik dimana pemanfaatan Cendrawasih Merah serta satwa burung lainnya di Raja Ampat hanya untuk menunjang pariwisata (y). #let’s save cendrawasih and promo it!

    • alanpeter says:

      Bener sekali. Apalagi jumlah Cendrawasih Merah saat ini tidak lebih dari 50 ekor di seluruh daratan Papua. #LETSSaveCendrawasih

  5. adeirma says:

    Sungguh disayangkan burung sebagus ini sudah mulai langka. Padahal belum tentu semua orang sudah pernah melihat burung ini secara langsung

    #LetsSaveCendrawasih \m/

  6. christianbunardi says:

    Informasi anda sangat bermanfaat bagi kita semua.. sudah sewajarnya qta ikut berpartisipasi dalam upaya pengawasan terhadap pihak2 yang ingin mengeksploitasi secara besar-besaran, sangat disayangkan sekali jika burung cendrawasih merah yang eksotik tersebut sampai punah..
    Semoga masyarakat semakin peduli terhadap resiko terancam punahnya cendrawasih merah.
    #LETSSaveCendrawasih

  7. Sainawal Tity says:

    Para pekerja seni terkadang melakukan over eksploitasi hewan cantik ini demi memenuhi permintaan pasar, terlebih menjelang hari2 besar seperti Festival Danau Sentani di Sentani, Jayapura, dan sejenisnya. tanggapan kamu ?

    • alanpeter says:

      Tapi kalau masyarakat lokal tau bagaimana cara atau aturan dalam menggunakan burung ini. Masalah nya justru datang dari luar.

      • alanpeter says:

        Penggunaan Cendrawasih untuk hiasan kepala pada saat festival/acara adat kan sudah tradisi. Tinggal bagaimana tradisi itu disesuaikan dengan keberadaan cendrawasih sekarang. Perlu adanya alternatif penggunaan Cendrawasih yang perlu disosialisasikan kepada masyarakat lokal seperti penggunaan cendrawasih buatan daripada cendrawasih yang asli.

  8. pradhyaparamitha says:

    wah nice info :). beruntung sekali indonesia punya spesies secantik ini. semoga keberadaannya tetap dijaga dan dilestarikan, sayang sekali jika hewan ini punah

  9. friskaunandy says:

    WOW!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php