Agnes Triffany S

Let me introduce myself.. Hi :) My name is RHINOCEROS SONDAICUS..

Posted: October 31st 2016

Hewan bercula yang unik dan bertubuh besar yang memiliki warna kulit yang gelap ini sudah terancam punah karena populasinya di dunia sudah semakin sedikit. Mari kita lihat bagaimana hewan bercula ini sekarang berada di dalam status “Critically Endangered” atau terancam punah.

badak-jawa

(Gambar 1. Rhinoceros sondaicus)
KLASIFIKASI, MORFOLOGI, BIOEKOLOGI DAN STATUS KEPUNAHAN BADAK JAWA


Badak jawa termasuk ke dalam golongan binatang berkuku ganjil atau Perissodactyla. Menurut Lekagul & McNelly (1977), badak jawa secara taksonomi dapat diklasifikasikan ke dalam Kingdom Animalia, Phylum Chordata, Sub Phylum Vertebrata, Super Kelas Gnatostomata, Kelas Mammalia, Super Ordo Mesaxonia, Ordo Perissodactyla, Super Famili Rhinocerotidea, Famili Rhinocerotidae, Genus (Rhinoceros, Linnaeus 1758) dan Spesies (Rhinoceros sondaicus, Desmarest 1822).

Menurut Hoogerwerf (1970), individu badak jawa jantan mempunyai cula tunggal yang tumbuh di bagian depan kepala yang sering disebut sebagai cula melati. Hoogerwerf (1970) menyatakan bahwa panjang maksimum cula jantan 27 cm dan panjang rata-rata cula jantan dewasa 21 cm. Individu badak jantan yang baru berumur kira-kira 11 bulan sudah mempunyai cula sepanjang 5-7 cm.

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822) merupakan spesies yang paling langka di antara 5 spesies badak yang ada di dunia sehingga dikategorikan sebagai critically endangered atau terancam punah dalam Red List Data Book yang dikeluarkan oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) tahun 1978 dan mendapat prioritas utama untuk diselamatkan dari ancaman kepunahan. Selain itu, badak jawa juga terdaftar dalam Apendiks I CITES (Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora) tahun 1975. Jenis yang termasuk dalam Apendiks I adalah jenis yang jumlahnya di alam sudah sangat sedikit dan dikhawatirkan akan punah (Rahmat, 2007).

badak-jawa-2 badak-jawa-3

Gambar 2. Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (atas) dan Badak Jawa di Taman Nasional Cat Tien Vietnam (bawah)

Pada saat ini penyebaran badak jawa di dunia terbatas di dua negara saja, yakni di Indonesia dan Vietnam. Di Indonesia, badak jawa hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dengan populasi yang relatif kecil, yakni sekitar 59-69 ekor (TNUK, 2007). Di Vietnam, populasi badak jawa hanya terdapat di Taman Nasional Cat Tien yang diperkirakan tinggal 5-8 ekor (Polet dan Mui, 1999).

Secara alami badak jawa tidak akan mampu mempertahankan eksistensinya dalam jangka panjang. Eksistensi badak jawa juga dinilai sangat rawan terhadap terjadinya bencana alam, degradasi habitat, inbreeding, penyakit, dan perburuan (Rahmat, 2007).

Kelangsungan hidup badak jawa di TNUK masih terancam oleh berbagai faktor. Sebagai satwa yang memiliki sebaran terbatas, badak jawa lebih rentan (dibanding satwa lain yang tersebar luas) terhadap bahaya-bahaya bencana alam, misalnya ledakan Gunung Krakatau, gempa bumi dan tsunami. Sementara itu, badak jawa juga menghadapi ancaman yang semakin meningkat dari manusia. Perluasan pemukiman, perladangan liar, perambahan hutan dan kehadiran manusia berpotensi menimbulkan resiko penyakit baru dan menurunnya kualitas habitat. Badak jawa juga menghadapi ancaman yang paling besar yaitu diburu oleh manusia untuk diambil culanya. Ancaman terbesar ini disebabkan oleh berkembangnya anggapan bahwa cula badak mempunyai khasiat dalam pengobatan tradisional Cina (Rahmat, 2007).

Hoogerwerf (1970) menyatakan bahwa jenis makanan badak Jawa adalah pucuk-pucuk daun baik tumbuhan pohon maupun semak belukar, ranting, kulit kayu, dan liana. Pada umumnya pohon yang bagian tumbuhannya diambil oleh badak sebagai makanannya tidak mati melainkan tumbuh kembali sehingga diduga badak jawa memiliki mekanisme memelihara dan melestarikan sumber pakannya (Schenkel & Schenkel-Hulliger 1969, Hoogerwerf 1970, Sadjudin & Djaja 1984).

Secara ekologi badak jawa termasuk satwa yang soliter kecuali pada saat musim kawin dan mengasuh anak. Perilaku sosial umumnya hanya ditunjukkan pada masa berkembang biak, yakni sering dijumpai individu badak jawa dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas jantan dan betina atau jantan, betina, dan anak (Schenkel & Schenkel-Hulliger 1969).

Berdasarkan pengamatan petugas TNUK bulan perkawinan badak jawa terjadi pada Agustus dan September. Periode menyusui dan memelihara anak berkisar antara 1 sampai 2 tahun dan lama kebuntingan sekitar 16 bulan. Interval melahirkan adalah satu kali dalam 4-5 tahun dengan jumlah anak yang dilahirkan satu ekor. Badak betina dapat digolongkan dewasa apabila telah berumur 3-4 tahun, sedangkan jantan sekitar umur 6 tahun. Umur maksimum badak betina mampu menghasilkan keturunan adalah 30 tahun.

penyebaran

Gambar 3. Daerah Penemuan dan Penyebaran Badak Jawa

SEJARAH PENEMUAN DAN PENYEBARAN BADAK JAWA


Orang yang pertama kali menyatakan bahwa badak yang hidup di Jawa tidak identik dengan badak india (Rhinoceros unicornis) adalah Camper (1772) seorang profesor zoologi di Groningen. Menurut Raffles (1817) dan Marsden (1811), spesies badak jawa juga terdapat di Sumatera yang hidup secara simpatrik dengan badak sumatera (Didermoceros atau Dicerorhinus sumatrensis). Risalah ilmiah secara terinci tentang spesies badak jawa ini dilakukan oleh Desmarest (1822) dan diberi nama Rhinoceros sondaicus (Sody 1941, Sody 1959, Guggisberg 1966 dalam Muntasib 2002).

Pada pertengahan abad ke-19, kondisi spesies badak jawa telah mendekati kepunahan di sebagian besar wilayah distribusinya. Hal ini menyebabkan sulitnya menentukan batas daerah penyebaran badak jawa pada saat itu. Sampai saat ini masih dipertanyakan apakah badak jawa pernah hidup secara bersama-sama (simpatrik) dengan badak india di Lembah Brahmaputra (Irrawady) atau apakah spesies ini pernah hidup di sebelah Utara Brahmaputra, misalnya di Sikkin. Namun demikian, secara pasti diketahui bahwa badak jawa pernah terdapat di Bengal (Sunderbans), Assam, Thailand, Indocina, Cina Tenggara dan pada abad XX masih ditemukan dalam jumlah kecil di Burma, Malaya dan Sumatera (Schenkel & Schenkel-Hulliger 1969).

Hoogerwerf (1970) menyatakan bahwa pertumbuhan populasi badak jawa mengalami peningkatan sejak tahun 1937, walaupun kegiatan inventarisasi dan sensus baru dilaksanakan secara berkesinambungan sejak tahun 1967. Schenkel mulai melakukan sensus populasi badak jawa pada tahun 1967 dan diduga terdapat populasi sebanyak 25 ekor (Schenkel & Schenkel-Hulliger 1969).

Berdasarkan hasil sensus yang dilakukan mulai tahun 1967 sampai sekarang maka diketahui bahwa pertumbuhan populasi badak mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Perkembangan populasi badak jawa berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan di Semenanjung Ujung Kulon. Sampai tahun 1981, laju pertumbuhan populasi badak jawa menunjukkan tingkat perkembangan yang relatif baik karena banyak dijumpai badak muda dan dewasa. Selain itu masih dijumpai juga 7 induk betina bersama anaknya (Sadjudin 1983).

Dugaan populasi terbesar diperoleh dari hasil inventarisasi pada tahun 1983, yakni berkisar antara 58- 69 individu, disusul hasil inventarisasi tahun 1984 yang diduga sebanyak 52 individu (Sadjudin 1983). Selanjutnya Sadjudin (1983) menyatakan bahwa pertumbuhan populasi badak jawa di Ujung Kulon termasuk rendah karena pada periode 1980-1983 hanya dapat dijumpai satu individu muda yang tergolong bayi. Inventarisasi badak jawa terakhir yang dilakukan pada bulan Juli 2007 menunjukkan kisaran populasi sebesar 59-69 individu (TNUK, 2007).

Berdasarkan hasil inventarisasi tahunan badak jawa, pada saat ini konsentrasi penyebaran badak jawa pada umumnya di daerah bagian selatan Semenanjung Ujung Kulon, yakni di daerah Cibandawoh, Cikeusik, Citadahan, dan Cibunar. Sedangkan di sebelah utara terdapat di daerah Cigenter dan sekitarnya (Rahmat, 2007).

Muntasib (2002) menyatakan bahwa habitat badak jawa terdiri atas komponen fisik, biologis, dan sosial. Komponen fisik habitat badak jawa adalah ketinggian, kelerengan, kubangan, dan air (neraca air tanah, kualitas air, ketersediaan air, kondisi air permukaan). Komponen biologis habitat badak jawa adalah struktur vegetasi, pakan badak, dan satwa besar lain. Badak jawa menyukai daerah yang rendah yang memanjang di sekitar pantai, rawa-rawa mangrove, dan hutan sekunder. Akan tetapi, di daerah perbukitan dan hutan primer jarang sekali ditemukan jejak badak (Hoogerwerf 1970). Badak jawa lebih beradaptasi di lingkungan dataran rendah ketimbang daerah pegunungan, khususnya apabila mereka hidup simpatrik dengan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang lebih beradaptasi dengan lingkungan pegunungan. Bila hanya badak jawa yang ditemukan di suatu wilayah, misalnya Pulau Jawa, mereka juga menempati habitat pegunungan. (Van Steenis 1972 dalam Muntasib, 2002).

Pada saat ini, Semenanjung Ujung Kulon merupakan satu-satunya habitat bagi populasi badak Jawa yang “viable” di dunia. Namun, tidak semua kawasan Semenanjung Ujung Kulon ditempati oleh badak jawa dan menjadi habitat terpilih. Hal ini menunjukkan bahwa habitat yang sesuai belum tentu disukai oleh badak jawa menjadi habitat terpilih. Ada faktor-faktor tertentu dari komponen fisik maupun biotik habitat yang menjadi preferensi bagi badak jawa untuk menempati suatu ruang habitat tertentu. Kehadiran badak jawa pada suatu habitat sangat dipengaruhi oleh faktor fisik dan biotik habitat itu sendiri.

Komponen habitat yang paling dominan mempengaruhi frekuensi kehadiran badak jawa pada suatu habitat yang disukai di TNUK adalah kandungan garam mineral (salinitas) dan pH tanah. Areal yang disukai oleh badak jawa di TNUK adalah areal yang memiliki karakteristik kandungan garam mineral sumber-sumber air yang berkisar antara 0,25-0,35o/o, pH tanah berkisar antara 4,3-5,45, jarak dari pantai berkisar antara 0-600 meter, dan kandungan garam mineral pada permukaan dedaunan pakan badak adalah 0,35 o/o (Rahmat 2007).

cat-tien tnuk

^__^ Thank you 🙂 ^__^
Daftar Pustaka :
Hoogerwerf, A. 1970. Ujung Kulon : The Land of the Last Javan Rhinoceros. E. J. Brill Leiden.

Lekagul, B dan McNeely, J. 1977. Mammals of Thailand. The Association for the Conservation of Wildlife, Bangkok.

Muntasib, H. 2002. Penggunaan Ruang Habitat oleh Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desm. 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. Disertasi. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Polet, G dan Mui, T. V. 1999. Javan Rhinoceros in Vietnam. Vietnam Publishing House, Ho Chi Minh City.

Rahmat, U. M. 2007. Analisis Tipologi Habitat Preferensial Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. Tesis. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sadjudin, H. R dan Djaja, B. 1984. Monitoring Populasi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desm., 1822) di Semenanjung Ujung Kulon. Fakultas Biologi Universitas Nasional.

Sadjudin, H. R. 1983. Dasar-dasar Pemikiran bagi Pengelola Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desm., 1822) di Ujung Kulon. Taman Nasional Ujung Kulon, Labuan.

Schenkel, R dan Schenkel, H. L. 1969. The Javan Rhinoceros (Rhinoceros sondaicus Desm., 1822) in Ujung Kulon Nature Reserve, Its Ecology and Behavior. Field Study 1967 and 1968. Acta Tropica Separatum 26 (2).

Taman Nasional Ujung Kulon. 2007. Laporan Sensus Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon, Pandeglang.

Van Strien, N. J. 1974. Dicerorhinus sumatrensis The Sumatran of Two Herned Asiation Rhinoceros Nature Conservation Departemens Agricultural. Winein University, Netherland.


3 responses to “Let me introduce myself.. Hi :) My name is RHINOCEROS SONDAICUS..”

  1. Pascalia Shendy Anggriany says:

    wahh, informasi yang dicantumkan sudah sangat lengkap, seperti penyebaran, habitat, perilaku sosial, makanan, serta status keterancamannya.. semoga keberadaan badak jawa ini tetap terjaga dengan baik 🙂

  2. Shendy says:

    wahh, informasi yang dicantumkan sudah sangat lengkap, seperti penyebaran, habitat, perilaku sosial, makanan, serta status keterancamannya.. semoga keberadaan badak jawa ini tetap terjaga dengan baik 🙂

  3. mariawati says:

    Blog Badak Jawa sudah memberikan informasi Badak Jawa yang sudah terancam punah sudah seharusnya dijaga dan dilestarikan agar tidak terancam punah. Makasih infonya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php