Agnes Triffany S

TAPIRUS INDICUS ?! Apa ? Hewan Nan Lucu Ini Masuk Kategori Terancam Punah ?

Posted: August 27th 2016

Ya, hewan lucu yang memiliki kulit berwarna hitam putih ini sudah terancam punah karena populasinya di dunia sudah semakin sedikit. Mari kita lihat bagaimana hewan yang lucu ini sekarang berada di dalam status “Endangered”.

tapir 1

(Gambar 1. Tapirus indicus. www.arkive.org)

Kingdom    : Animalia

Filum          : Chordata

Kelas          :  Mammalia

Ordo           : Perissodactyla

Family        : Tapiridae

Genus         : Tapirus

Spesies       : Tapirus indicus

Tapir asia memiliki tubuh gempal besar dengan hidung menonjol menyerupai belalai. Tapir dewasa memiliki pola warna dramatis, dengan setengah tubuh depan berwarna hitam, bagian belakang berwarna putih, dan seluruh kaki depan dan belakang berwarna hitam. Mata berbentuk oval dan tidak sangat serasi dengan tubuhnya. Kaki depan memiliki empat kuku, tetapi hanya ujung kuku keempat (belakang) tidak menyentuh tanah, sehingga jejak kaki menunjukkan jejak tiga kuku. Sedangkan kaki bagian belakang hanya memiliki tiga kuku. Tapir/ tenuk/ Melayan tapir/ Asian tapir dengan nama latin Tapirus indicus merupakan satwa mamalia yang termasuk ke dalam suku Tapiridae dan bangsa Perissodactyla. Hingga saat ini, terdapat empat spesies tapir di dunia, tiga spesies terbesar di Amerika Selatan yang memiliki nama latin (Tapirus bairdii, Tapirus pinchaque dan Tapirus terrestris) dan hanya satu yang terdapat di Asia Tenggara (Tapirus indicus) (Peraturan Menteri Kehutanan RI, 2013).

Tapir merupakan satwa pemakan tumbuhan, baik berupa buah, dedaunan ataupun kulit pohon. Ukuran tubuh, luas daerah jelajah, serta tingkah laku makan yang berbeda, menjadikan tapir mempunyai fungsi tersendiri dalam proses pemencaran biji dan regenerasi hutan karenanya kebiasaan makan tersebut memberi peran besar terhadap distribusi tumbuhan dan kondisi hutan. Pada kondisi normal kebiasaan tapir menarik tumbuhan untuk dimakan menyebabkan tumbuhan tersebut merunduk dan dapat dimanfaatkan oleh jenis satwa lain seperti babi, kancil, rusa dankijang. Hal ini juga merupakan fungsi penting tapir di dalam suatu ekosistem, yakni meningkatkan jumlah makanan untuk spesies lain (Peraturan Menteri Kehutanan RI, 2013).

Tapir merupakan hewan pemakan tumbuhan tetapi bukan termasuk ke dalam hewan ruminansia. Pakan tapir terdiri dari berbagai macam rumput, daun tumbuhan air dan ranting. Tapir sering menggunakan hidungnya untuk menarik ranting dan daun untuk dimasukkan ke dalam mulut. Hewan ini mencari makan pada rute yang sama. Mereka cenderung berlindung dihutan dan semak selama siang hari. Habitat dan persebaran tapir diseluruh hutan hujan dataran rendah di Asia Tenggara termasuk Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Burma, Thailand dan Vietnam. Namun saat ini di Indonesia, tapir hanya dapat dijumpai di Sumatera, itupun hanya pada bagian selatan Danau Toba sampai ke Lampung. Hanya ada satu catatan keberadaan tapir di bagian utara Danau Toba yaitu di Pangkalan Beranda.

Keunikan dari Tapirus indicus yaitu kebiasaan dalam mencari makanan menggunakan jalur yang sama dengan perjalanan jarak jauh pada malam hari. Selain itu, tapir makanannya berupa buah- buahan dari berbagai pohon dan semak- semak dalam jumlah besar, serta tanaman air, daun, tunas dan ranting yang lembut. Jika penglihatan dari Tapirus indicus kabur maka tapir akan mengandalkan indera pendengaran mereka dan bau sebagai komunikasi, untuk mencari makanan dan mendeteksi predator (www.arkive.org).

Berdasarkan data dari IUCN (2008), saat ini Tapirus indicus berada pada status Endangered (terancam punah), yang berarti spesies ini memiliki peluang untuk punah > 20% dalam kurun waktu 20 tahun apabila tidak ada upaya konservasi dilakukan. Sedangkan dari sejarahnya, status perlindungan tapir menunjukkan adanya naik turun yaitu pada tahun 1986 sampai 1994 berstatus Endangered (terancam punah), tahun 1996 Vulnerable (tersedia), tetapi pada tahun 2002 kembali lagi menjadi Endangered (terancam punah) dan tahun 2003 kembali lagi Vulnerable (tersedia) hingga sampai saat ini statusnya terancam punah.

Adanya ancaman terbesar bagi klestarian tapir seperti hilangnya habitat, fragmentasi habitat dan aktivitas perburuan menyebabkan tapir (Tapirus indicus) terancam punah. Penyusutan dan kerusakan kawasan hutan dataran rendah yang terjadi di Sumatera selama sepuluh tahun terakhir telah mencapai titik kritis yang dapat membawa bencana ekologis skala besar bagi masyarakat. Perusakan habitat berskala terus di Sumatera, diperkirakan terjadi penurunan spesies mungkin lebih dari 50% dalam 30 tahun ke depan mengingat situasi pembalakan liar tidak terkendali di Sumatera. Sebagian besar hutan yang menjadi habitat tapir di Sumatera telah menjadi perkebunan kelapa sawit. Karena itu, berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999, tapir termasuk salah satu binatang langka yang dilindungi di Indonesia. Selain itu, pemasangan jerat dan penjualan daging tapir tercatat terjadi di beberapa lokasi.

Walaupun tapir (Tapirus indicus) telah dikategorikan sebagai salah satu fauna yang sudah terancam punah, namun sampai sekarang masih sangat sedikit pengetahuan tentang ekologi tapir (seperti populasi, distribusi dan tingkah laku) yang tersedia. Terbatasnya data yang tersedia disebabkan sedikitnya kegiatan penelitian yang telah dilakukan terkait dengan tapir di Indonesia. Kurangnya perhatian para peneliti terhadap penelitian khusus tentang tapir, bisa jadi disebabkan popularitasnya dalam bidang penelitian mengenai ekologi tapir yang lebih rendah dibandingkan mamalia besar Sumatera kharismatik lainnya seperti gajah, badak, harimau, atau orangutan sehingga pengetahuan tentang data ekologi tapir sangat minim.

Beberapa Cara yang Telah Dibuat/Aksi terhadap Konservasi Tapir yang Telah Ada :

Konservasi yang sudah diterapkan berupa konservasi Ex situ, tapir merupakan jenis satwa yang sudah sangat lama mulai dipelihara di kebun binatang dengan tingkat keberhasilan berbiak yang cukup baik. Contohnya, kebun binatang Gembira Loka menunjukkan keberadaannya sejak tahun 1964, Ragunan pada tahun 1969. Saat ini sebanyak 274 individu tapir dipelihara di 78 kebun binatang di seluruh dunia. Dibandingkan dengan jenis lainnya Tapirus indicus merupakan jenis kedua yang paling banyak dipelihara di kebun binatang (Peraturan Menteri Kehutanan R.I, 2013).

Adapun aksi konservasi lainnya berupa “tapir specialist group conservation fund ” merupakan  kelompok global ahli biologi, profesional kebun binatang, peneliti dan pendukung yang didedikasikan untuk melestarikan tapir dan habitatnya melalui tindakan-perencanaan strategis di negara-negara di mana tapir hidup, berbagi informasi, dan melalui penjangkauan pendidikan yang menunjukkan pentingnya tapir terhadap ekosistem lokal dan dunia pada umumnya. lembaga konservasi tapir ini pusatnya terdapat di Brazil tetapi tidak menutup kemungkinan untuk negara lain juga ikut andil dalam melestarikan tapir.(www.tapirs.org).

Selain itu, langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk konservasi tapir ini adalah mengajak suatu lembaga swadaya masyarakat atau juga masyarakat untuk mensurvei dan menyelamatkan tapir di beberapa lokasi terdapatnya tapir dan bagi orang yang tidak mengetahui apa dan bagaiman tapir itu serta juga bagi orang yang tidak bisa melihat secara langsung kehidupan tapir di habitatnya namun ingin ikut andil dalam konservasi tapir, dapat melakukan aksi konservasi sambil berbisnis terkait dengan hewan tapir yang lucu ini dengan cara pembelian merchandise (seperti boneka, sarung bantal, sprei, jaket, kaos dan sebagainya) yang memiliki desain dengan nuansa tapir yang lucu. Hasil dari pembelian merchandise ini kemudian sebagian dapat disumbangkan ke lembaga resmi yang khusus menangani konservasi tapir di berbagai daerah atau juga dapat menjadi bantuan dana untuk donasi untuk konservasi tapir (sarana dan prasarana).

Semoga tapir Asia nan lucu dan gembul ini dapat terlindungi dan tidak punah. Let’s go to save the cute tapirus indicus ^__^. Thank you 🙂

Daftar Pustaka :

http://www.arkive.org/asian-tapir/tapirus-indicus/image-G17906.html

Lynam, A., Traeholt, C., Martyr, D., Holden, J., Kawanishi, K., van Strien, N.J. & Novarino, W. 2008. Tapirus indicus. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2014.3. www.iucnredlist.org. Diakses 20 Agustus 2016.

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.57/Menhut-II/2013. 2013. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Tapir (Tapirus indicus) Tahun 2013-2022. Menteri Kehutanan Republik Indonesia.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php