Abraham Payunglangi

PAPUAN HORNBILL From Paradise Island

Posted: November 2nd 2016

3

Papuan Hornbill/Blyth’s Hornbill

(Rhyticeros plicatus)


Indonesia menyimpan ratusan juta spesies yang merupakan sumber plasma nutfah yang belum diteliti dan diidentifikasi maupun diketahui kegunaannya. Menurut Mittermeier dan Mittermeier dalam buku Megadiversity diungkapkan bahwa Brazil dan Indonesia merupakan dua negara di dunia yang kaya akan keragaman hayati (biodiversity).

Perhatian saya tertuju pada salah satu wilayah diindonesia yaitu Papua, dimana papua memiliki susunan flora dan faunanya sangat rumit dan beranekaragam. Hal ini karena daerah papua merupakan campuran dari antara dua daerah pembagian zoogeografi yaitu daerah Orient dan daerah Australia. Sehingga keanekaragaman baik flora maupun fauna sangat beraneka ragam.

pandangan saya tertuju pada anggota aves atau burung dimana jenis-jenis burung yang dijumpai di Papua tercatat sebanyak 717 spesies termasuk 602 jenis yang bersarang di atas tanah dan pohon serta di antaranya terdapat 290 jenis yang endemik. Burung-burung tersebut sebagian besar tergolong fauna Australia, tetapi sebagian lagi termasuk fauna Asia seperti rangkong papua (Aceros plicatus), betet (Yellow faced minor) dan lain-lain. Tentu saja burung yang paling indah bulunya dan menarik adalah burung cenderawasih (Paradisae) yang banyak diburu dan diperdagangkan terutama jantannya dan juga sebagai ikon budaya. Selain burung cenderawasih, burung kakatua jambul kuning, nuri, elang, bangau, raja udang, numdur, mambruk dan lain-lain juga memiliki daya tarik tersendiri dan memiliki peran yang penting juga baik bagi masyarakat dan lingkungan.

Fokus saya kemudian tertuju pada Rangkong, dimana wilayah papua juga memiliki  rangkong yang termasuk termasuk dalam famili Bucerotidae. Mayoritas rangkong banyak ditemukan di daerah hutan dataran rendah dan hutan perbukitan dengan ketinggian 0-1500 mdpl. Rangkong yang ada di indonesia tersebar dari Aceh hingga Papua.

Rangkong

Gambar 1. Rangkong Papua/Papuan Hornbil (Rhyticeros plicatus) http://www.arkive.org/papuan-hornbill/aceros-plicatus/image-G120723.html

Papuan Hornbill/Blyth’s Hornbill atau yang lebih di kenal di Indonesia Julang Papua berukuran 76 sampai 91 cm, bertubuh hitam dan berekor putih , memiliki paruh besar dan berwarna pucat. Betina berkepala hitam sedangkan Jantan berwarna putih pada leher dan kepalanya serta berulas warna kulit madu.

Rangkong papua ini memiliki ciri khas suara atau dengkuran yang berbunyi seperti tuter tunggal yang dalam, atau dalam satu rangkaian nada meninggi dan agak menurun bergema sampai jauh. Ketika terbang sayapnya bersuara “wus-wus” sangat keras setiap kali dikepakkan, seperti suara “puf-puf” lokomotif uap. Ketika melayang, sayap terdengar seperti suara tersobek-sobek.

Rangkong papua memiliki habitat hidup pada daerah hutan cemara primer dan securder dari atas permukaan laut hingga ketinggian 1500 m diatas permukaan laut. Mengunjungi kanopi hutan pamah, hutan perbukitan, hutan rawa, dan hutan galeri, dan daerah pinggiran sungai. Rangkong Papua menggunakan pohon-pohon besar sebagai sarang sebgai tempat tinggal mereka.

5

Gambar 2. Peta Distribusi Rangkong Papua http://maps.iucnredlist.org/map.html?id=22682544

Rangkong papua sendiri dapat ditemukan pada daerah di kepulauan Maluku (Indonesia), Nugini dan Kepulauan Bismarck, Timur ke Kepulauan Solomon

STATUS6

Daftar merah IUCN termasuk dalam Least Concern dan Perdagangan internasional termasuk dalam  Appendix II  CITES, dimana dapat diperdagangkan dengan pengaturan tertentu dan Di indonesia sendiri seluruh jenis rangkong dilindungi oleh Undang-Undang melalui Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 226 tahun 1931, Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, SK Menteri Kehutanan No.301/Kpts-II/1991 tentang Inventarisasi Satwa Dilindungi, Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa.

References :

IUCN Red List (November 2016) http://www.iucnredlist.org

http://www.arkive.org/papuan-hornbill/aceros-plicatus/image-G120723.html

Beehler, B.M., T.K. Pratt dan D.A. Zimmerman. 1986. Birds of New Guinea. Princenton University Press. Princenton

Marshall, A. J and B. M. Beehler. The Ecology of Papua. Vol I dan II. Periplus Editions (HK) Ltd. Hong Kong

Sillitoe, P. 2003. Managing Animals in New Guinea. Routledge, London.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php