http://blogs.uajy.ac.id/randy

Dunia Molekuler Pemamfaatan Tulang Rawan dan Minyak Hati ikan Hiu sebagai obat antikanker

Posted: May 28th 2013

Ada sekitar 50.000 jenis hewan bertulang belakang (vertebrata) yang diketahui sampai saat ini. Mereka hidup pada semua lingkungan biologi baik di daratan, air laut, air tawar, maupun udara. Walaupun bentuk dan ukuran tubuhnya beragam tetapi mempunyai struktur dasar tubuh yang sama. Hewan bertulang belakang umumnya terdiri dari kepala dan tubuh. Tubuh terdiri dari rongga dada dan abdomen. Hewan bertulang belakang yang hidup di darat biasanya mempunyai leher. Hiu atau cucut adalah sekelompok ikan  dengan kerangka tulang rawan yang lengkap dan tubuh yang ramping. Kerangka hiu sangat berbeda dibandingkan dengan ikan-ikan bertulang seperti misalnya ikan kod. Kerangka hiu terbuat dari tulang muda yang sangat ringan dan lentur, meskipun tulang muda di ikan-ikan hiu yang lebih tua kadang-kadang sebagian bisa mengapur, sehingga membuatnya lebih keras dan seperti tulang (Anonim, 2011a). Ikan  hiu merupakan 7% dari seluruh jenis ikan yang ada.  Sebagian besar menghuni perairan laut di semua samudera maupun perairan air tawar.  Jenisnya beraneka ragam mulai dari yang terbesar yaitu ikan hiu paus (whale shark), Rhincodon typus yang berukuran panjang  tubuh 14 meter, hingga yang terkecil berukuran panjang 15 cm yaitu Squaliolus laticadus.  Di dalam rantai makanan pada ekosistem laut, ikan hiu menduduki tingkatan konsumen puncak sebagai predator yang amat berpengaruh bagi keseimbangan ekosistem.  Banyak pakar kelautan meyakini bahwa ikan hiu merupakan mahluk vital dalam menjaga keanekaragaman hayati, khususnya di perairan laut (Benyamin, 2010). Makalah ini akan membahas lebih lanjut mengenai pemanfaatan hiu, khususnya mengenai pemanfaatan tulang rawan ikan hiu. Alasan dipilihnya tema ini adalah karena selama ini bagian tulang rawan dari ikan hiu masih jarang dimanfaatkan, padahal manfaatnya sangat besar.

Kelompok ikan adalah binatang bertulang belakang yang hidup di air, bernapas dengan insang. Ikan mempunyai sirip yang berfungsi untuk berenang dan tubuh yang ramping untuk memudahkan bergerak di dalam air Secara umum ikan dibedakan berdasarkan penyusun rangka tubuhnya menjadi dua, yaitu ikan berkerangka tulang rawan dan ikan berkerangka tulang sejati.

Kelompok ikan berkerangka tulang rawan kerangkanya tersusun dari tulang rawan yang elastis. Terdapat sekitar 1.000 jenis meliputi hiu, ikan pari, ikan cucut (Anonim 2011).

Kelompok ikan berkerangka tulang sejati mempunyai tulang tengkorak dan tulang rangka serta ruas-ruas tulang belakang. Ikan bergerak dengan bantuan sirip yang diperkuat oleh tulang rusuk. Sirip ikan dibedakan atas sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip belakang, dan sirip ekor.

Hiu identik dengan keganasannya. Akan tetapi, dibalik tubuhnya yang menakutkan itu, hiu memiliki kandungan gizi yang tinggi (lihat lampiran).

Penelitian dari MIT: potensi tulang rawan ikan hiu sebagai sumber senyawa penghambat tumor à ikan hiu memiliki sejumlah besar endoskeleton yang tersusun hampir seluruhnya oleh tulang rawan. Sel tumor menghasilkan senyawa yang disebut sebagai faktor angiogenesis (TAF= Tumor Angiogenesis Factor) à memberi “isyarat” pada pembuluh darah à terjadi pertumbuhan pembuluh kapiler secara abnormal yang akan mengarah pada sel tumor. Hampir seluruh tubuhnya juga dapat dimanfaatkan oleh manusia, mulai dari daging, kulit, sirip, hingga minyak hati. Daging ikan hiu umumnya diolah menjadi dendeng, abon, daging lumat, surimi hiu, bakso, sosis dan tepung daging. Kulit ikan hiu dapat dimanfaatkan sebagai produk berbahan kulit atau makanan kerupuk. Siripnya dijadikan makanan di restoran-restoran mewah karena rasanya yang lezat. Sedangkan tulang rawan hiu masih jarang diolah. Padahal, bagian ini mengandung banyak manfaat.

Tulang rawan hiu dapat diekstraksi dari kepala dan siripnya. Tulang rawan adalah jaringan pengikat yang ditemukan di sistem rangka banyak binatang, termasuk manusia. Tulang hiu umumnya hanya dimanfaatkan sebagai lem, tepung atau kerajinan. Padahal, tulang hiu yang diekstrak dapat menghasilkan kondroitin. Kondroitin dapat dimanfaatkan untuk obat tetes mata dan mencegah penuaan sel. Bahkan akhir-akhir ini, peneliti mendapatkan fakta bahwa tulang hiu dapat dimanfaatkan sebagai antikanker.

Tulang rawan ikan hiu sebagai obat antikanker

Pada tahun 1971, dr. Judah Folkman dari Harvard University Medical School mengemukakan pendapatnya bahwa pertumbuhan tumor tergantung pada pembentukan pembuluh darah di tumor (angiogenesis). Dengan demikian, jika bisa ditemukan suatu cara yang bisa menghambat pertumbuhan pembuluh darah tumor, logikanya tumor yang terjadi tidak bisa berkembang kemudian mati pelan-pelan. Empat tahun setelahnya, diketahui bahwa bahan penghambat angiogenesis ternyata terdapat pada tulang rawan ikan hiu. Akan tetapi, hal ini hanya ditujukan bagi tumor yang sifatnya padat saja. Jadi, tidak cocok misalnya untuk kanker darah atau limfe (Tapan, 2005).

Tulang rawan hiu mengandung polipeptida dengan daya kerja menghambat angiogenesis yaitu pembentukkan pembuluh darah baru yang berfungsi menyalurkan zat gizi dan oksigen ke sel tumor. Tulang rawan hiu juga mengandung mukopolisaccharida (nama baru: glucosaminoglycan) yang berkhasiat menstimulir sistem imun. Tulang rawan pada tahap embrio diketahui memiliki pembuluh darah, tapi setelah proses kelahiran tidak lagi memiliki pembuluh darah. Jadi struktur tulang rawan dilengkapi dengan mekanisme penghambat proses neovaskularisasi.

Ekstraksi sirip hiu dengan pelarut guanidin (1 molar) à menghasilkan senyawa potensial menghambat sel tumor.

Uji bioassay senyawa dengan menggunakan sel tumor V2 karsinoma, ditempatkan pada kornea kelinci. Pada hari ke-15: sejumlah pembuluh darah tumbuh dari tepi kornea menuju sel tumor, sehingga sel tumor menjadi besar. Pada perlakuan pemberian ekstrak tulang rawan ikan hiu à pembentukan pembuluh darah ditekan sebesar 70-80%. Senyawa bioaktif dlm tulang rawan hiu diperkirakan suatu poli-peptida seperti yg dijumpai dlm tulang rawan kelinci dan sapi à hasil yang sama. Keunggulan ikan hiu sebagai sumber senyawa anti-tumor à prosentase tulang rawan lebih tinggi daripada tulang rawan mamalia. Berdasarkan sifat-sifat ini, sejak awal tahun 1990-an mulai digunakan untuk pencegahan dan penanganan berbagai jenis kanker. Efek sampingnya hanya berupa sukar buang air besar akibat kadar kalsium yang tinggi dalam serbuk tulang rawan hiu. Keluhan ini dapat diatasi dengan minum laktulosa setiap hari 15-30 ml (Tjay dan Kirana, 2007).

Untaian pusat protein yang membentuk jantung tulang rawan ikan hiu adalah salah satu protein terbesar dihasilkan oleh sel. Untaian ini adalah protein makro yang muncul untuk membawa inhibitor angiogenesis, dan untaian ini begitu umum dalam tulang rawan ikan hiu, yang memberikan 1.000 kali efek antiangiogenesis tulang rawan mamalia.

Menurut Anonim (2011b), proses pembuatan bubuk kering tulang rawan ikan hiu adalah: (1) Pembersihan, (2) Pengeringan, (3) Pembubukan, (4) Pensterilan. Proses ini harus dicapai tanpa membuat serat protein yang aktif tidak efektif. Pembersihan, pengeringan, penumbukan, dan proses sterilisasi dengan panas yang berlebihan dan/atau menggunakan pelarut yang kasar atau bahan kimia sering mengubah sifat suatu benda protein aktif dan membuat tulang rawan menjadi rusak. Setelah melakukan tahun penelitian dan percobaan, Dr. I. William Lane mengembangkan sebuah proses untuk pembersihan, pengeringan, penghancuran dan mensterilkan tulang rawan ikan hiu yang menjamin kualitas dan kehandalan tanpa membuat serat protein aktif tidak efektif. Penemuan dari Dr. Lane ini sangat efektif dan inovatif, sehingga pada tahun 1991 ia mendapat paten atas karyanya.

Beberapa eksperimen menunjukkan bahwa tulang rawan hiu memiliki kemampuan untuk memperlambat pertumbuhan pembuluh darah baru pada kultur sel laboratorium dan pada binatang. Akan tetapi, efek pada manusia belum diketahui secara pasti. Dalam suatu percobaan penelitian yang melibatkan 50 pasien, peneliti menyimpulkan bahwa suplemen tulang rawan hiu tidak memiliki efek pada pasien dengan kanker stadium lanjut (Anonim, 2011).

Peneliti umumnya setuju bahwa molekul protein dalam tulang rawan hiu terlalu besar untuk diserap oleh pencernaan makanan dan mudah diekskresikan sebelum sempat sampai pada tumor di dalam tubuh. Beberapa peneliti menyarankan bahwa substansi tersebut mungkin lebih mudah untuk diserap dalam keadaan cair. Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa ekstrak cairan tulang rawan hiu AE-941 (Neovastat) yang dimasukkan melalui mulut efektif dalam memperlambat pertumbuhan pembuluh darah baru pada laki-laki sehat.

Oleh karena itu, ukuran partikel sangat menentukan. Tulang rawan ikan hiu harus diserap ke dalam sistem secepat mungkin untuk mencegah protein dicerna oleh enzim proteolitik. Jika dicerna oleh enzim, protein akan dipecah menjadi asam amino penyusunnya, yang tidak efektif dalam antiangiogenesis. Solusi apabila ingin dibentuk produk dalam bentuk bubuk/serbuk, maka serbuk tulang rawan hiu harus ditumbuk cukup halus agar dapat secara cepat diserap ke dalam tubuh sebagai protein siap pakai. Pengalaman menunjukkan bahwa setidaknya 90 persen harus melalui layar 200-lubang agar efektivitasnya maksimum. Serbuk tersebut bahkan lebih halus dari bedak.

Ikan hiu/cucut: produksi di Indonesia tahun 1985 mencapai 35 – 40.000 ton. Daerah penghasil: Sumatra Barat, Sumatra Timur, Selat Malaka, Kalimantan, Jawa (Utara dan Selatan), dan Sulawesi Selatan. Saat ini hanya dimanfaatkan sebagai sup (sirip) à ekspor ke Hong Kong, Singapura, Malaysia. Kulit: dibuat menjadi tas dan sepatu, hati hiu untuk diambil minyak ikannya, sedang gigi hiu sebagai hiasan.

Khasiat minyak hati ikan hiu

Khasiat minyak hati ikan hiu di antaranya adalah Squalene sebagai penguat dan penambah gairah hidup Squalene (minyak Hiu) adalah salah satu bahan baku dalam pembuatan kolesterol dan steroid. Kolesterol adalah bahan organik yang sangat penting dan ditemukan dalam jaringan seperti lemak , sel membran , susunan saraf , darah , dsbnya. Kolesterol juga memegang peranan penting dalam proses metabolisme dan bila diaktifkan dapat membentuk vitamin D untuk menyempurnakan pertumbuhan dan perkembangan tulang. Kolesterol dapat juga diproses menjadi hormon. Sedangkan dari steroid juga dapat dibuat menjadi hormon dan hormon ini memegang peranan sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Tanpa hormon manusia adalah tidak berdaya baik secara fisik , mental , seksual maupun sosial. Umumnya pada orang-orang lanjut usia yang sudah menurun gairah seknya akibat penurunan kadar baik estrogen ( Pada wanita ) maupun testoteron ( Pada laki-laki ) , maka dengan penambahan squalene dalam tubuh , kadar hormon yang rendah tersebut bukan saja dapat dipulihkan akan tetapi bahkan dapat ditingkatkan menjadi lebih maksimal. Squalene pada orang-orang lanjut usia juga dapat memperbaiki dan meningkatkan fungsi kelenjar kelamin dan pituitari yang terkenal sebagai pangkal reaksi sumber gairah. Minyak hati ikan hiu juga bermamfaat sebagai penguat fungsi dan penyembuh penyakit hati. Telah dilaporkan oleh beberapa rumah sakit kepunyaan Universitas di Tokyo dan Fakuoka dan juga RS Nasional di Jepang , setelah dicoba untuk mengobati para penderita radang hati / Lever , mereka menyimpulkan bahwa squalene bermanfaat dan berkasiat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Pada tahun 1970 an para peneliti di Jepang sedang melakukan penelitian hasil ekstrak air asal tumbuhan yang disebut Glycyrrhiza radix. Zat aktifnya yang terisoler diberi nama generik Glycyrrhizin. Zat ini sangat ampuh untuk mengobati penyakit hati / lever. Sekarang oleh salah satu pabrik obat di Jepang zat ini di jual dengan merek dagang SNMC ( Stronger Neo Menophagen C ). Hasil trial mengenai manfaat dan kasiat SNMC untuk pengobatan hati telah dipaparkan dan disajikan pada symposium on Prevention of viral Hepatitis di Sixth International Congress of Virology , September 2nd , 1984 di Sandai , Jepang. Ternyata SNMC yang berkasiat untuk mengobati penyakit hati ini mengandung senyawa yang mempunyai rantai molekul terdiri dari polimer isopren dan disebut terpenes dan triterpenes dengan kimianya C30. Senyawa ini banyak ditemukan dalam ekstrak hati ikan hiu botol yang disebut Squalene. Squalene adalah zat yang mengandung tritepene dengan bentuk struktur cincin bensen terbuka dan sudah lama dikenal sebagai Interferon Inducer ( IFN ). Sudah sejak lama diketahui bahwa Interferon dapat berfungsi untuk meningkatkan baik jumlah maupun aktivitas Natural killer cells ( NK ) atau lymphocytes. Para dokter dan peneliti di bidang Onkologi percaya bahwa peningkatan jumlah dan aktivitas NK pada pasien penderita kanker memberikan prognosa baik. Selain itu minyak hati ikan hiu juga berkasiat untuk penyakit deabetes militus (dapat menyetrabilkan kadar gula darah dalam tubuh). Kencing manis (Diabetes militus ) adalah suatu penyakit akibat kekurangan insulin. Insulin adalah sejenis hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas dan berfungsi untuk proses metabolisme makanan terutama golongan karbohidrat atau gula. Squalene adalah bahan baku untuk pembuatan hormon, dalam hal ini ialah pembuatan insulin. Dengan demikian squalene selain berfungsi untuk memperkuat dan memperbaiki kelenjar pankreas , Ia juga membantu mempertinggi produksi Insulin yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain itu, juga dapat meningkatkan Ketahanan Tubuh(menjaga stamina). Para dokter di Jepang percaya bahwa bila Squalene diminumkan pada pasien dapat membantu memperbaiki sistem ketahanan tubuh ( Sistim immunologi ) , karena molekul squalene terdiri dari polimer isoprene yang disebut terpene dan triterpene. Zat ini sudah dibuktikan dapat sebagai interferon inducer. Interferon dapat meningkatkan baik jumlah maupun aktifitas sel-sel dalam sumsum tulang , kelenjar getah bening , hati dan tymus. Jenis sel-sel yang ditingkatkan kemampuan dan ketahanannya terutama adalah sel-sel limfosit T dan B serta sel makrofag. Maka di Jepang sebelum ditemukan antibiotik , squalene banyak digunakan untuk mengobati tuberkulosa , hepatitis , kencing manis , masuk angin  flu dan sebagainya. Berfungsi Sebagai disenfektan Pada Luka Squalene adalah sebagai sumber pensuplai oksigen yang efektif. Seperti halnya pada Ozon ( O3 ) yang bersifat pensteril dan pensuplai O2. Karena Ozon terurai menjadi On ( Nasendi dan O2 ) dimana On bersifat pembunuh kuman dan O2 mengaktifkan dan meningkatkan metabolisme sel-sel yang bersangkutan. Demikian juga sifat squalene sama seperti Ozon. Luka atau radang tadi bukan saja menjadi steril dan cepat sembuh , tetapi juga tidak terasa nyeri/sakit , hal ini sesuai dengan teori yang dikembangkan oleh Dr. Yoka , yakni : Pain is caused by oxygen shortage ( Kesakitan adalah akibat kekurangan oksigen ).
mamfaat lain minyak hati ikan hiu yaitu menghilangkan letih lesu Dan pegal linu. Rasa letih lesu dan pegal linu adalah antara lain akibat pengendapan asam laktat di dalam otot skelet karena terjadi pembakaran yang tidak sempurna. Squalene yang kaya akan oksigen di dalam tubuh akan mengalir dan menyebar ke semua jaringan tubuh dan mensuplai oksigen. Dengan demikian asam laktat yang mengendap dalam serabut otot akan dioksider sampai habis menjadi CO2 , H2O dan energi. Maka akhirnya fungsi otot pulih kembali dan badan merasa segar dan sehat. Selain itu memberikan mamfaat Pelembab, Pelicin Dan Penghalus Kulit. Squalene bila dioleskan pada kulit dengan mudah sekali dapat diserap. Squalene sudah dapat diserap dalam waktu 0,5 detik dan tersebar seluas 1 mm dan dalam waktu kurang dari 1 menit sudah mencapai dan tersebar dalam pembuluh darah kapiler. Karena squalene adalah konstituen normal dan getah sebum maka sangat bermanfaat sekali sebagai pelembab , pelicin, penghalus dan penghilang keriput kulit. Bermanfaat Untuk Tukak Lambung Dan Usus Duabelas Jari. Menurut majalah kedokteran Amerika , dilaporkan bahwa squalene sangat bermanfaat dan berkasiat untuk mengobati tukak lambung dan usus duabelas jari tanpa menimbulkan efek samping. Dasar keterangannya adalah seperti telah dijelaskan pada butir 5. Mamfaat yang paling utama adalah dapat Mencegah Kanker. Dr. Noguchi mengatakan : “ Penyebab segala macam penyakit adalah akibat kekurangan oksigen “. Demikian juga Dr. Wettenberg dari Universitas Minnisota menyatakan : “ Dengan menghindari kekurangan oksigen , dapat ditahan timbulnya kanker. Dan DR. Yokota berpendapat : “ Substansi penyebab kanker adalah segala macam bahan yang menghabiskan atau merampas oksigen “. Essensi dari ketiga pernyataan/teori itu adalah sama. Hal ini dapat dimengerti karena jaringan kanker dan keadaan jaringan di sekitarnya adalah miskin akan oksigen dan bersamaan dengan ini juga mempunyai derajat keasama yang tinggi. Pengasaman ini mengakibatkan struktur membran sel berubah bentuknya dan kumpulan sel-sel yang berubah sifat inilah yang disebut kanker. Dr. Tsujimoto telah menguraikan bahwa squalene berperan sebagai pensplai oksigen dan memperlancar serta mempertinggi metabolisme. Dengan demikian jaringan kanker yang miskin akan oksigen dan asam itu dapat dinetralisir oleh squalene yang kaya oksigen. Pada bulan oktober 1984, Prof. Kuwano dari Medical Center , University Oita , Jepang , mengutarakan : “ Bahwa umur penderita kanker dapat diperpanjang bila diberi obat kombinasi antara obat kanker plus squalene dari pada yang hanya diobati dengan obat kanker saja”. Demikian juga Dr. Ikegawa dari pusat pengobatan kanker , Jepang , menyampaikan laporan pada simposium penemuan dan pencegahan kanker ke 4 di London yang isinya antara lain : pada percobaan dengan tikus penyebaran kanker paru-paru dapat dicegah dengan squalene…..”. Demikian juga pada pertemuan sedunia mengenai pengobatan dan bedah kanker di Sanremo , Itali , Dr. Okuma menyatakan : “Squalene meningkatkan dan menguatkan antibodi terhadap kanker. Squalene mengandung senyawa yang terdiri dari terpene dan triterpene , kedua zat kimia ini sudah dibuktikan berfungsi sebagai interferon inducer. Zat yang akhir ini berfungsi meningkatkan dan mengaktifkan sel-sel limfosit T , terutama Natural killer cell. Natural killer cell adalah pembunuh sel-sel kanker.
dan paling terakhir adalah dapat menstabilkan fungsi kerja Jantung. Beberapa riset sebelumnya melaporkan bahwa peningkatan konsumsi ikan hiu atau pun minyak ikan berdampak pada penurunan risiko kematian akibat serangan jantung. Fakta ini pun lalu memunculkan ide bahwa minyak ikan dapat menyeimbangkan atau menstabilkan ritme jantung. cara mengkonsumsinya terdapat berbagai macam cara diantaranya secara langsung yaitu dengan diadakan pemanasan terhadap hati hiu yang akan mencair menjadi minyak,atau dikemas dalam membran berbentuk kapsul berwarna seperti minyak kuning keemasan (hal ini untuk menghindari bau amis yang terdapat pada minyak ikan hiu.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php