Veronica Erni

Kerabat dekat kita.. Simpanse ataukah Neandertal?

Posted: May 13th 2014

Ada Missing Link antara Simpanse dan Manusia Modern ?

Manusia modern non-Afrika mewarisi antara dua hingga empat persen DNA Neandertal loh.. hmmm…

 

 

blog kerabat

 

Gambar1. Perbandingan anatomi manusia Neanderthal dengan manusia modern

“Pertanyaan akan asal-usul manusia selalu menjadi debat yang menarik,” ujar Herawati Sudoyo, Wakil Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta. Bersama 56 peneliti lain dari 21 institusi, ia merunut jejak leluhur manusia modern (Homo sapiens) berdasarkan genetika. Benarkah ada keterkaitan antara manusia modern yang hidup pada masa kini dengan manusia prasejarah Homo neanderthalensis?

Memahami evolusi manusia tak sederhana. Jikalau menilik, melacak balik ke garis keturunan, manusia prasejarah Neandertal merupakan kerabat terdekat kita Homo sapiens. Menurut seorang peneliti asal Department of Biomolecular Engineering, University of California-Santa Cruz, Richard Edward Green, ada missing link untuk melihat relasi antara simpanse (yang dikatakan kerabat terdekat manusia yang masih eksis hingga sekarang) dengan spesies manusia modern. Ini menjadi sulit diterangkan, sebab tidak sedikit spesies yang sudah punah. Tapi yang secara luas ahli-ahli sepakati, kerabat terdekat manusia yang telah mengalami kepunahan adalah Neandertal.

(Lalu bagaimana dengan simpanse?)

Ternyata dari hasil penelitian DNA dari fosil-fosil Neandertal lebih dekat untuk digunakan membantu mengidentifikasi keunikan-keunikan manusia modern ketimbang dari DNA simpanse. Pada masa sekarang, metode pengambilan DNA purbakala telah berkembang maju. Perkembangan ilmu biologi molekuler di bidang teknologi terapan sekuensing DNA sudah bisa makin memudahkan penelitian. Melalui teknologi mutakhir yang disebut direct high-throughput sequencing, didapat data genomik fosil tulang Neandertal.

(Informasi genetik pada suatu makhluk hidup tersimpan pada DNA-nya. Nah, untuk mengetahui informasi genetik tersebut digunakan teknik DNA Sequencing, yaitu metode yang digunakan untuk menentukan urutan basa nukleotida (adenine, guanine, cytosine dan thymine) pada molekul DNA. Saat ini teknik DNA Sequencing sudah memasuki tahap baru yang mengarah pada large scale atau high-throughput sequencing, jutaan bahkan miliaran basa nukleotida DNA dapat ditentukan urutannya dalam sekali run saja. Amazing bukan? 🙂).

Dari hasil analisi fosil yang ditemukan di Vindija, Kroasia. Dari total 21 tulang Neandertal, hasilnya terdapat DNA primata walau dalam presentase kecil 3,5 persen, tetapi sebagian besar sampel DNA memang merupakan mikroorganisme karena terkubur lama dalam gua. Fosil yang ditemukan di gua Denisova, Pegunungan Althai, Siberia,  menunjukkan percampuran antara manusia modern dengan manusia purba Neandertal. Lebih kontroversial, belulang the Denisovans menunjukkan terdapat bagian DNA yang memiliki kemiripan dengan DNA yang ditemukan pada populasi manusia di wilayah di sebelah timur garis Wallacea—Filipina, Flores, Maluka, Papua Nugini, Australia dan Oseania.

(Wahhh ternyata Kecocokan hanya ditemukan pada orang-orang yang berada di timur garis Wallacea. Kenapa bisa begitu ya??)

Memancing pertanyaan baru juga soal kaitannya dengan Homo floresiensis, manusia purba yang ditemukan di Liang Bua, Flores. lewat membandingkan susunan gen dari ras manusia modern non-Afrika dan Afrika. Perbandingan antara populasi di Prancis, suku Han, dan Papua di luar Afrika, serta suku Yoruba dan San di Afrika, memperlihatkan kontribusi genetik Neandertal sekitar 2-4 persen dapat ditemukan pada gen manusia sekarang non-Afrika atau secara spesifik, orang Eurasia.

Jadi, siapa nih kerabat dekat kita? Simpanse? Ataukah Neandertal? 😀

 

Referensi

Jafar. 2010. Ada DNA Neanderthal di Tubuh Kita. http://lppm.ipb.ac.id.

Samantha, G. 2013. Ada Missing Link antara Simpanse dan Manusia Modern. http://nationalgeographic.co.id.

Utomo, Y.W. 2013. Ada “Missing Link” antara Simpanse dan Manusia Modern. http://sains.kompas.com.

Wang ET, Sandberg R, Luo S, Khrebtukova I, Zhang L, Mayr C, Kingsmore SF, Schroth GP, Burge CB: Alternative isoform regulation in human tissue transcriptomes. Nature 2008, 456(7221):470-476.

 

 

 


4 responses to “Kerabat dekat kita.. Simpanse ataukah Neandertal?”

  1. maria says:

    selain direct high-throughput sequencing, ada teknik apa lagi yak?

  2. tyaswulan says:

    Bagus nih, dan akan lebih bagus jika penulisan spesies dicetak miring…hehehe 😀

  3. endang sigiro says:

    saya mah gak begitu peduli siapa sebenarnya kerabat dekat kita. yang berlalu biarlah berlalu…
    btw [on topic] kerabat dekat kita tuh mnrut eike ya simpanse. ya ga perlu dilihat dari genetiknya ajalah, dilihat dari daya tahan hidupnya aja

  4. Mitha Octavia says:

    tulisan yang menarik dan masih menjadi perdebatan 😀
    oh ya jangan lupa memperhatikan penulisan seperti penulisan nama latin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php