Veronica Erni

Atasi Kelangkaan Daging Sapi Lokal dengan Teknologi Molekuler!!!

Posted: May 13th 2014

Atasi Kelangkaan Daging Sapi Lokal di Indonesia dengan Teknologi Molekuler

ditulis oleh: Rahel Deananta Sirait (110801228)

Daging sapi

Daging sapi

Menjelang bulan puasa, harga daging sapi masih bertengger pada kisaran Rp 90.000 per kilogram (kg). Rupanya, target pemerintah menurunkan harga daging sapi pada kisaran Rp 75.000/kg belum bisa tercapai pada Ramadhan tahun ini. Apa pasal?

Selama ini, pemerintah mencukupi kebutuhan daging sapi dalam negeri mengandalkan impor karena pasokan dalam negeri kurang. Pada sisi lain, sekarang ini, pemerintah masih membatasi impor daging sapi walaupun kebutuhan memasuki Ramadhan dan Lebaran meningkat. Konsumsi daging sapi di Indonesia terbilang tinggi di kawasan Asia. Seandainya kebutuhan daging tidak terpenuhi, jelas akan menimbulkan persoalan. Oleh sebab itu, harus ada langkah-langkah trobosan untuk memenuhi kebutuhan daging sapi yang mengalami peningkatan. Permasalahan ini menjadi tantangan para peneliti untuk mencari solusi yang tepat.

Nah, LIPI beberapa tahun belakangan ini meneliti dan mengembangkan teknologi molekuler pada ternak sapi. Setelah dilakukan penelitian, ternyata teknologi ini mampu mengatasi kelangkaan sapi yang belakangan akan terjadi di Indonesia.

“Teknologi molekuler menawarkan berbagai keuntungan dalam mencari atau mengembangbiakkan bibit unggul. Dengan pendekatan molekuler kita tidak perlu menunggu lama hingga generasi keempat dan kelima hanya untuk melihat sifat unggul dari ternak yang diteliti. Dari segi efektivitas jelas teknologi ini lebih efektif,” menurut Lukman Hakim, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dibandingkan seleksi ternak konvesional, lanjut Lukman, teknologi molekuler jauh lebih bagus. Pola konvesional cenderung memakan waktu lama dan bertele-tele, bertolak belakang dengan implementasi teknologi molekuler yang sudah terbukti lebih efektif dan efisien karena tidak banyak melibatkan populasi ternak dan tenaga di lapangan.

Sapi

Sapi

Peneliti senior Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Endang Tri Margawati mengatakan implementasi teknologi ini menjanjikan hasil dengan ketepatan yang tinggi mengingat analisisnya berbasis pada DNA.

“Teknologi marker ini ketepatannya sangat tinggi, tidak melibatkan banyak populasi ternak dan tenaga lapangan,” jelasnya.

Selain itu, melalui teknologi ini tidak perlu menunggu lama hingga generasi ke-empat dan ke-lima hanya untuk melihat sifat unggul dari ternak yang diteliti, “dari segi efektifitas jelas teknologi ini lebih efektif karena tidak harus menunggu hingga generasi ke-empat dan ke-lima hanya untuk melihat sifat unggulnya,” terangnya.

Endang melanjutkan, sapi ternak yang sudah terdeteksi sifat unggulnya ini dapat disebarkan ke peternak rakyat, sehingga produktifitas ternak lokal dapat segera ditingkatkan. “Bila ternak sapi meningkat, maka kebutuhan daging nasional akan terpenuhi dengan baik,” tegasnya.

Menurut Endang, sebenarnya Indonesia memiliki lima sapi asli, yaitu sapi Aceh, Pesisir, Madura, dan Bali, serta sapi peranakan ongole atau sapi PO (Sumbawa dan Jawa) yang awalnya berasal dari India, namun sekarang sudah dianggap sapi Indonesia. Diantara kelima kerabat sapi tersebut, sapi bali menduduki peringkat populasi tertinggi, yakni 2.632.000 ekor dengan rata-rata bobot hidup 395 kg, sementara bobot sapi PO jantan kurang dari 600 kg dan betina kurang dari 450 kg.

“Sapi bali dan PO termasuk sapi terbaik sebab ukuran badannya cukup besar. Tak hanya di Bali dan Jawa, melalui teknologi ini kita bisa menyebarkan atau mengembangbiakkan sapi bali dan PO ke luar Pulau Jawa dan Bali hingga semua masyarakat memunyai sapi berkualitas baik,” tuturnya.

Apabila sapi ini sudah beranak pinak, diharapkan kebutuhan daging dalam negeri dapat tercukupi. Alhasil, harga daging pun diharapkan dapat terjangkau dan terkendali seiring terus dikuranginya impor.

Sumber:

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. 2012. Atasi Kelangkaan Daging Sapi. http://www.biotek.lipi.go.id/index.php/news/biotek/987-atasi-kelangkaan-daging-sapi. 12 Mei 2014.

Antara SUMBAR. 2013. Peneliti: Teknologi Molekuler bisa atasi Kelangkaan Daging. http://www.antarasumbar.com/berita/berita/j/21/294580/peneliti-teknologi-molekuler-atasi-kelangkaan-daging-sapi.html. 12 Mei 2014.

Arisandy, Y. 2013. Peneliti: Teknologi Molekuler bisa atasi Kelangkaan Daging. http://www.antaranews.com/berita/380014/peneliti-teknologi-molekuler-bisa-atasi-kelangkaan-daging. 12 Mei 2014.

GatraNews. 2013. LIPI: Teknologi Molekuler mampu Perbaiki Swasembada Daging. http://www.gatra.com/il-tek/sain/32558-pendekatan-teknologi-molekuler-mampu-perbaiki-swasembada-daging-dalam-neger.html. 12 Mei 2014.

Rahman, M. T. 2013. Teknologi Molekuler Ternak untuk Swasembada Daging. http://industri.bisnis.com/read/20130614/99/144991/teknologi-molekuler-ternak-untuk-swasembada-daging. 12 Mei 2014.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php