Earth Ranger

Labi-labi Moncong Babi (Carrethochelys insculpta)

Posted: December 6th 2014

Pig-nosed Turtle atau kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) pertama kali di deskripsikan sebagai suatu genus baru pada tahun 1886 oleh E. P Ramsay berdasarkan spesimen yang ditemukannya di Strickland River, Papua New Guinea. Setelah penelitian dan deskripsi yang begitu panjang, Boulenger (1887) menempatkan Carettochelys dalam Famili nya sendiri, yakni Carettochelyidae. Berikut ini adalah klasifikasi lengkap hewan yang juga dikenal dengan nama labi-labi moncong babi menurut IUCN

 

Kingdom         :           Animalia

Phylum            :           Chordata

Class                :           Reptilia

Order               :           Testudines

Family             :           Carettochelyidae

 

Kura-kura Moncong Babi memiliki penyebaran yang sangat terbatas, yang ditemukan dalam sistem sungai utara di Australia bagian utara dan di dataran rendah selatan New Guinea. Kura-kura ini menghuni beberapa sungai dalam bagian utara, termasuk Victoria dan Sungai Daly.  Di Provinsi Papua, kura-kura jenis ini terdapat di bagian selatan mulai dari Timika, Asmat, Mappi, Boven Digul, Yahukimo, hingga sebagian kecil wilayah Merauke. Kura-kura yang memiliki rahang yang kuat dan ekor yang pendek ini menghuni badan air tawar dan muara air. Dapat pula ditemukan di pantai berpasir , sungai, anak sungai, danau, air payau, dan mata air panas.

 

Pig-nosed-turtle-in-captivity-resting-on-bottom-of-tank

Gambar 1. Kura-Kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta

Kura-Kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta) termasuk sumber protein utama bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang jaringan sungai di pulau Papua.  Kabupaten Asmat, Boven Digoel, Nduga, Mimika, Yahukimo,  dan Mappi memiliki jaringan sungai yang sangat potensial sebagai breeding site dan nesting site bagi labi-labi moncong babi. Karena distribusi nya yang ada pada sekitar pemukiman masyarakat pesisir, potensi kura-kura moncong babi yang awalnya hanya sebagai pemenuh kebutuhan akan protein, kini beralih menjadi sumber mata pencaharian yang menjanjikan masyarakat yang hidup berdampingan secara langsung dengan habitat kura-kura ini untuk mencari keuntungan dari perdagangannya.

Kura-kura moncong babi oleh World Wide Fund for Nature (WWF) diakui sebagai salah satu dari sepuluh spesies yang paling diincar untuk perdagangan satwa liar ilegal. Meskipun statusnya dilindungi, pada akhir tahun 1990 sekitar 1.500.000 untuk 2.000.000 butir per tahun secara ilegal dikumpulkan dari Papua. Lebih dari 500.000 telur diperkirakan oleh otoritas lokal diambil dari Sungai Vreenchap sendiri selama tahun 1998 (Maturbongs, 1999). Sebagian besar telah dikirim ke Jakarta, Ujung Pandang, Surabaya, atau Denpasar dimana mereka secara ilegal diekspor ke Taiwan, China, atau Singapura (Samedi dan Iskandar , 2000; Samedi dan Irvan, 2002).

Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan mengingat “kebutuhan” akan jenis ini semakin meningkat di pasar lokal maupun pasar internasional terlebih mengingat persebarannya yang sangat terbatas sehingga sangat rentan untuk mengalami kepunahan. Populasi Carettochelys dilaporkan telah menurun drastis di beberapa dekade terakhir di Provinsi Barat (Rose, 1981; Rose,. dkk 1982.). Terlepas dari kepadatannya yang tinggi di beberapa daerah dalam habitatnya, Carettochelys adalah hewan yang sangat rentan baik secara geografis maupun spesies taksonomi (Simpson, 1944) dan jarang dalam arti terbatas secara geografis. Dikategorikan dalam spesies yang secara lokal berlimpah dengan kisaran terbatas yang mungkin lebih rentan daripada spesies yang langka tapi memiliki distribusi yang luas (Rabinowitz, 1981).

Mengingat populasi dari hewan yang dikategorikan sebagai vulnerable oleh IUCN, Appendix II oleh CITES, Northern Territory PWC Act sebagai Near Threathened semakin menurun, perlu ada upaya dan tindakan yang perlu dilakukan yakni sebagai berikut :

  1. Berperan baik langsung maupun tidak langsung menjaga Covering and Conserved area yang telah dibuat oleh pemerintah Daerah Papua untuk melindungi populasi Labi-labi Moncong Babi yang hidup secara liar di alam.
  2. Bersama dengan LSM dan Pemerintah terkait melakukan Community Education and Awareness Programs untuk melibatkan masyrakat Papua khususnya masyakat yang hidupnya berdampingan dengan eksistensi Labi-labi Moncong Babi ini. Kampanye Perlindungan Labi-Labi Moncong Babi dengan merekrut semua aktivis dan pemerhati lingkungan setempat juga perlu dilakukan secara kontinyu pada masyrakat luas, dalam artian bukan hanya masyarakat di rural areas Dimana pada kampanye perlindungan nanti disampaikan resiko-resiko dari eksploitasi berlebihan, dan bagaimana caranya untuk mengonservasi populasi yang masih ada mulai dari hulu hingga hilir sungai. Turut membantu pemerintah terkait untuk melaksanakan pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah mulai dari jenjang terendah untuk menciptakan rasa cinta terhadap lingkungan mulai dari awal. Pendidikan lingkungan juga sebaiknya didapatkan oleh semua agensi terkait mulai dari PHKA, BKSDA, Karantina Hewan, Bandar Udara dan Pelabuhan serta aparat keamanan untuk mendukung eksistensi hewan ini melalui penegakkan hukum. Para Staff di agensi terkait sangat diwajibkan untuk dilatih mengenai identifikasi spesies, status konservasi, regulasi CITES Indonesia yang melibatkan para pemuka CITES, NGOs, dan akademis.
  3. Kesehatan, kondisi, dan populasi dari spesies ini (khususnya yang ditangkarkan) bagaimanapun harus dipastikan baik secara berkelanjutan sebelum akhirnya dilepas kembali ke alam. Hal ini penting untuk mencegah transfer penyakit, disrupsi genetika populasi, dan efek lain bagi flora dan fauna di alam liar. Pelepasan satwa ini ke alam turut melibatkan anak-anak sekitar untuk menciptakan rasa cinta lingkungan sejak dini. Bagaimanapun, kesadaran publik terhadap ilegalisasi dan resiko-resiko yang berkaitan dengan trade spesies ini adalah hal yang sangat penting untuk ditingkatkan mengingat para pemanen dan penjual di Papua sangat bertanggungjawab atas pemenuhan permintaan pasar internasional.
  1. Captive Breeding spesies ini diketahui hanya berada di Pulau Jawa. Oleh sebab itu diperlukan adanya Captive Breeding di Provinsi Papua yang dibuat oleh pemerintah dan instansi terkait misalnya BKSD dan LIPI dan dibantu oleh aktivis lingkungan dan semua pihak yang tertarik baik secara langsung maupun tidak langsung (dengan donasi)
  2. Sebagai sebuah prioritas yang darurat, konservasi dan rencana manajemen spesies ini perlu untuk didesain dan diimplementasikan dengan baik bersama semua agensi pemerintah, para peneliti, akademis, dan NGOs. Berdasarkan hasil lapangan, masih banyak informasi mengenai hewan ini yang belum diketahui dan terjadi lack of data tentu saja. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian yang melibatkan orang-orang diatas dan tentu saja tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat lokal dan mahasiswa ilmu terkait yang terkait untuk melakukan penelitian mengenai daerah sebaran nya di Papua, kemelimpahan populasi, dan manajemen konservasi nya.

 

Keywords : Labi-labi Moncong Babi, Public Awareness, Environmental Education, Local People, Related Government, CITES Indonesia, NGOs, Environmental Activist, Academia.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Burgess, E., A., Lilley, R. 2014. Assessing The Trade In Pig-Nosed Turtles

Carettochelys insculpta In Papua, Indonesia. A Traffic Report. TRAFFIC. Malaysia. Page 22-25

Georges, A., Doody, J, S., Eisemberg, C., Alacs, E. A., Rose, M. 2008.

Carrethochelys insculpta Ramsay 1896 PiG-Nosed Turtle, Fly River Turtle. Institute of Applied Ecology, University of Canberra. Australia. Page 1-7.

Stefano Barone. Reptilia. Page 56-60

http://bbksdapapua.dephut.go.id/?p=291

http://earthtrust.org/archive/wlcurric/appen2.html

http://www.iucnredlist.org

http://www.arkive.org


4 responses to “Labi-labi Moncong Babi (Carrethochelys insculpta)”

  1. agustina ruban says:

    nice info tity.. yang mau aku tanya, gimana kalau pemerintah sendiri tidak terlalu mempedulikan? ada siasat konservasi lain?

    • Sainawal Tity says:

      Kalau pemerintah tidak peduli, mau tidak mau para aktivis lingkungan, akademis, dan LSM yang peduli saja yg melakukan aksi konservasi. Khususnya untuk public awareness melalui campaign. Pada kenyataannya toh memang mereka2 diatas yang lebih memegang peran dalam public awareness 🙂

  2. rendi says:

    banyak sekali hewan endemik di Indonesia yang terancam karena kegiatan manusia, terutama sebagai barang yang di perjualbelikan. menurut saya ketegasan dari pemerintah untuk menindak lanjuti perdangangan ilegal dan kesadaran penduduk lokal untuk ikut dalam pelestarian menjadi faktor utama dalam konservasi.

    • Sainawal Tity says:

      Benar skali
      elemen pemerintah dan masyarakat lokal merupakan elemen paling penting dalam aksi konservasi semua spesies endemik indonesia 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php