rony kristianto

Biodiversitas dan Permasalahan Lingkungan Sungai Babarsari

Posted: June 18th 2015

Yiiiiiiihaaa, ketemu lagi nihhhh, kali ini saya gak sendirian guys, tapi bersama tim saya nih yang anggotanya ada saya (Rony), Intan, Alan, dan Mimi. Kali ini kita bakal bahas Biodiversitas di sungai Babarsari. Bagi yang belum tau biodiversitas itu sama aja keanekaragaman makhluk hidup guys. Nah yang akan dibahas kali ini tempatnya di sungai Babarsari, mungkin temen-temen sebagian udah pada tau ya tempatnya, ini sungai yang di belakang desa Tambakbayan itu.

Nah sebenernya apa sih tujuan kita ngelakuin ini? Lingkungan kampus kita (Atma Jaya Yogyakarta) kan di area Babarsari, nah alangkah baiknya kalau kita mengenali hewan apa aja sih yang ada di sekitar kita, namun kali ini kita bakalan fokus ke hewan-hewan yang ada di sekitar Babarsari dulu nih, siapa tau temen-temen bisa mencoba mengenali hewan di sekitar kos mungkin. Selain itu, kita bakal menganalisa nih mengenai aktivitas di sekitaran Sungai, biar kita tau dampaknya terhadap lingkungan itu apa.

Langsung aja tanpa ba bi bu lagi, Sungai ini panjangnya sekitaran 2500 m, oleh karena itu kami membagi tim ke dalam 10 tim, sehingga 1 tam mendapat 250 m. Saya bersama temen-temen saya dapat tim 10 yang berlokasi di bawah jembatan selokan mataram. Survey yang kita lakukan ini menggunakan metode Survey Perjumpaan Visual. Metode ini gampang kok guys, bagi yang belum pernah melakukannya juga terbilang gampang, karena metode ini kita cuma mengamati sepanjang 250 meter, nah sepanjang perjalanan itu, spesies yang kita lihat dicatat, kalau bisa di foto biar dapet gambarnya buat identifikasinya nanti. Cuman kelemahan metode ini adalah hewan (spesies) yang diperoleh itu tidak mewakili seluruh spesies yang ada di tempat itu, tapi kelebihan metode ini adalah cepat dan mudah, kita tidak perlu menggunakan alat-alat yang beribet, cukup modal kamera, binokuler (buat ngamatin burung), dan keberanian buat basah-basah aja guys.

Hasil survey yang kita lakukan cukup memuaskan, kita mendapatkan total 23 hewan, yaitu dari golongan Aves adalah Hirundo rustica dan Passer montanus, spesies dari golongan Reptil adalah Eutropis multifasciata, spesies dari golongan Pisces adalah Poecilia reticulate, Oreochromis niloticus, Carcharinus longimanus, dari golongan Insekta adalah Oxya chinensis, Valanga nigricornis, Solenopsis invicta, Oecophylla sp., Lymantria sp., Musca domestica, Atractomorpha crenulata, Eurema tominia, Castoblastis cactorum, Gerris remigis, Coccinella magnifica, Papilio demoleus, Acraea terpsicore, dan Eurema hecabe, sedangkan spesies dari kelompok Mollusca adalah Pilshbryoncha exilis, Semisulcospira telonaria, dan Anadara granosa, dimana spesies Anadara granosa merupakan kelas Gastropoda, sedangkan dua lainnya merupakan kelas Bivalvia. Nih kita kasih liat fotonya, tapi gak semua yang guys, gak cukup kalo semua nanti

Valanga nigricornis-belalang kayu Crocothemis servilia-capung merah 20150602_093327

 

Gambar 1. (Kiri) Belalang kayu (Valanga nigricornis), (Tengah) Capung merah (Crocothemis servilia), (Kanan) Semisulcospira telonaria (Sumber: dokumentasi pribadi)

Atractomorpha crenulata Kerang darah-Anadara granosa Pilshbryoncha exilis-kijing

Gambar 2.  Atractomorpha crenulata (kiri),  Anadara granosa (tengah), dan Pilshbryoncha exilis (kanan)

Eutropis multifasciata Hirundo rustica Passer montanus

Gambar 3. Eutropis multifasciata (kiri), Hirundo rustica (tengah), dan Passer montanus (kanan)

Acraea terpsicore Eurema hecabe Papilio demoleus

Gambar 4.  Acraea terpsicore (kiri),  Eurema hecabe (tengah), dan Papilio demoleus (kanan)

Tuh guys, foto-foto yang kita ambil dari lokasi pengamatan. Hewan-hewan yang ada di sungai Babarsari pastinya mempunyai peranan masing-masing dalam rantai makanan maupun lingkungan. Misalnya aja burung gereja (Passer montanus), burung ini bisa digunakan sebagai indikator kualitas udara, jadi kalau ada banyak burung ini di sekitaran kos atau rumah temen-temen, artinya kualitas udara di sekitar kos atau rumah kalian bagus guys. Pokoknya semakin banyak burung gereja di suatu tempat, maka kualitas udara tempat tersebut juga semakin bagus.

Tapi sayang, keanekaragaman spesies yang ada di sana mungkin dapat terganggu karena aktivitas manusia di sekitaran Sungai. Dari survey yang udah kita lakukan, ada tiga aktivitas utama yang membahayakan hewan-hewan di area sekitar, manusia, dan lingkungan, yaitu terlalu dekatnya kolam budidaya ikan, adanya TPA yang cukup besar di sekitar sungai, dan adanya pencemaran minyak di perairan sungai nya.

gambaran sungai+kolam

Gambar 5. Kolam budidaya ikan di tepian Sungai Babarsari (Sumber:dokumentasi pribadi)

TPA pencemaran

Gambar 6. TPA (kiri) dan pencemaran minyak di perairan sungai Babarsari (kanan)

Nah nah nah, udah kebayang kan gimana aktivitas manusia dan pencemaran yang ada di sungai Babarsari. Ketiga hal tersebut dapat menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan dan manusia. Limbah dari kolam ikan jika langsung dibuang ke sungai tanpa pengolahan lagi, akan menyebabkan dampak yang berbahaya, hal ini dapat menyebabkan biota air mati, sehingga rantai makanan di ekosistem dapat terganggu, selain itu hal tersebut juga berdampak pada masyarakat yang memanfaatkan air sungai, seperti digunakan untuk mandi dan konsumsi air sungai. Jika air yang tercemar di konsumsi manusia, akan menyebabkan gangguan kesehatan. Sama halnya dengan keberadaan TPA di sekitar sungai, terutama karena air lindi yang dihasilkan. Air lindi yang meresap ke tanah dapat menyebabkan pencemaran tanah dan matinya hewan tanah, apabila masuk ke perairan sungai, akan membunuh biota air di dalamnya, sehingga keanekaragaman akan berkurang bahkan tidak menutup kemungkinan akan hilangnya kenakeragaman hayati di sekitar sungai akibat pencemaran. Pencemaran yang terakhir berasal dari pencemaran minyak, minyak di perairan dapat menyebabkan biota air mati karena keracunan, selain itu juga dapat menghambat sinar matahari yang masuk ke air, sehingga fitoplankton tidak dapat berfotosintesis dan akhirnya mati. Fitoplankton merupakan produsen di lingkungannya, artinya fitoplankton sebagai penghasil makanan sendiri dan merupakan makanan bagi organisme lain, seperti ikan, jika fitoplankton mati, maka makanan ikan juga akan berkurang, hal ini dapat menyebabkan ikan jadi mati.

Kita sebagai mahasiswa dan masyarakat yang peduli akan lingkungan, punya aksi konservasi nih supaya meminimairis pencemaran sungai seperti yang sudah kita bahas tadi, tidak main-main nih, kita punya 7 usaha konservasi berdasarkan pemikiran kita, monggo disimak

1Pendekatan ke orang berkepentingan di daerah tersebut seperti RT ataupun RW. Pendekatan ini merupakan langkah awal yang perlu dilakukan untuk dapat merealisasikan apa yang menjadi rencana kami untuk dapat memperbaiki kondisi sungai (untuk konservasi). Hal ini dikarenakan mereka adalah warga di area tersebut yang memiliki hak dan kewajiban yang lebih besar untuk melakukan perubahan atau pencanangan suatu rencana usaha konservasi sungai tersebut. Pendekatan yang dilakukan meliputi pemaparan permasalahan yang terjadi dan kondisi yang akan terjadi di masa mendatang apabila permasalahan tidak diselesaikan, dampak yang akan terjadi bagi mereka apabila tidak dipedulikan, serta tawaran solusi untuk permasalahan yang terjadi.

2. Pembangunan budaya cinta lingkungan terlebih dahulu di sekitar lingkungan tersebut. Hal ini dapat dilakukan oleh orang yang berkepentingan untuk mencanangkan beberapa kebijakan sederhana bagi warganya, baik untuk rumah tangga biasa ataupun yang memiliki usaha mengenai perilaku peduli lingkungan dan hal-hal yang berkaitan dengan pembuangan limbah.

3. Membuat kebijakan yang berisi mengenai pembuangan sampah sembarangan dan konsekuensinya, pembuangan limbah ke sungai dan konsekuensinya, aktivitas yang diperbolehkan di sekitar sungai dan konsekuensinya, serta mengenai kebijakan untuk melakukan pembersihan rutin daerah sungai. Hal tersebut dapat dirundingkan kembali dan diputuskan kebijakan yang paling sesuai dan realistis untuk dilakukan yang dapat memperbaiki kondisi sungai atau setidaknya mempertahankan agar tidak menjadi semakin buruk.

4. Membuat ‘plang’ di beberapa bagian dekat perumahan warga, daerah rawan pencemaran lingkungan seperti daerah budidaya ikan dan TPA, serta di pinggir jembatan Sungai Babarsari (plot 10). Sebuah kebijakan tentu akan lebih baik bila ada sanksi yang dicantumkan. Tidak berat namun juga tidak ringan, bisa berupa denda atau hal lain yang mungkin menggelitik seseorang apabila terkena sanksi tersebut sehingga membuat seseorang yang ingin melanggar berubah pikiran untuk enggan melakukannya. Apabila memang tertangkap basah ada yang melanggar kebijakan tersebut, tentu tidak perlu banyak pertimbangan namun langsung diproses.

5. Pembersihan rutin sungai, bisa sebulan sekali atau dua bulan sekali yang sudah ditentukan tanggal pastinya (tanggal yang memang ditetapka sebagai hari cinta lingkungan Sungai Babarsari). Ada baiknya bahwa kegiatan tersebut dibuat sebagai rangkaian acara dan didokumentasikan dengan bekerja sama dengan pihak tertentu sehingga terpublikasikan dan menarik simpati atau kepedulian warga lain untuk tidak melakukan pencemaran di area tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. Usaha pembersihan lingkungan dengan pendekatan budaya ini dapat bekerja sama dengan mahasiswa di sekitar Babarsari seperti UAJY, UPN, STIE, dan lain sebagainya. Mahasiswa dapat dijadikan peserta ataupun yang membantu untuk memberikan suatu ide yang dapat dilakukan warga secara sederhana untuk secara tidak langsung dapat mengkonservasi sungai tersebut.

6. Usaha untuk mengingatkan warga untuk tetap peduli lingkungan seperti adanya plang mengenai cinta lingkungan Sungai Babarsari di area perumahan atau sekitar sungai.

7. Sosialisasi mengenai pengolahan limbah sederhana yang dapat dilakukan oleh level rumah tangga dan usaha kecil. Dengan demikian, limbah yang dibuang ke sungai tidak seburuk apabila tidak menggunakan suatu metode pengolahan limbah. Mungkin pengolahan limbah sederhana tersebut tidak akan membuat air limbah 100% baik dibuang ke sungai, namun setidaknya mengurangi tingkat bahayanya.

By:

Kelompok 10:

Intan

Alan

Rony

Mimi


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php