rony kristianto

Penambangan “Si Kuning” Belerang di Indonesia

Posted: March 3rd 2015

Woyooo kembali lagi nih bersama saya !!
Masih tetep dalam topik yang sama, yaitu Konservasi. Namun kali ini kita gak akan membahas konservasi satwa ataupun ekosistem, melainkan mengenai sumberdaya  MINERAL.
Sebelumnya mungkin sudah ada yang pernah melihat, mengambil, mencium, atau bahkan merasakan BELERANG ? hahaha, tapi tenang aja di sini kita gak bakal merasakan belerang, tapi memperluas wawasan kita tentang belerang, termasuk di dalamnya potensi dan penyebaran belerang di Indonesia beserta permasalahan dalam penambangan belerang di Indonesia. Jadi ? mari kita simak

belerangnya

Gambar 1. Belerang (Boston, 2009)

 DESKRIPSI SULFUR

Sulfur adalah salah satu materi dasar yang penting dalam proses kimia, berbentuk zat padat yang berwarna kuning dan banyak dipakai untuk bermacam-macam bahan kimia pokok maupun sebagai bahan pembantu, sehingga dijuluki sebagai raja kimia

Belerang atau sulfur adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang S dan nomor atom 16. Belerang ditemukan dalam meteorit. R.W. Wood mengusulkan bahwa terdapat simpanan belerang  pada daerah gelap di kawah Aristarchus. Belerang terjadi secara alamiah di sekitar daerah pegunungan dan hutan tropis.  Sulfit tersebar di alam sebagai pirit, galena, sinabar, stibnite, gipsum, garam epsom, selestit, barit dan lain-lain. Bentuknya adalah non-metal yang tak berasa, tak berbau dan multivalent. Belerang dalam bentuk aslinya, adalah sebuah zat padat kristalin kuning. Di alam belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau sebagai mineral- mineral sulfide dan sulfate. Ia adalah unsur penting untuk kehidupan dan ditemukan dalam dua asam amino (Nurdajat dan Elkhasnet, 2007).

POTENSI DAN PENYEBARAN SULFUR DI INDONESIA

peta belerang

Gambar 2. Peta Persebaran Sulfur di Indonesia

Kalian pasti akan bilang WOW ketika mendengar potensi belerang yang dimiliki Indonesia. Ya ! Seperti yang kita tahu, bahwa Indonesia menyimpan potensi sumber daya alam yang sangat melimpah, khususnya sumber daya mineralnya. Belerang menjadi salah satu sumber daya mineral Indonesia yang sangat melimpah. Belerang terbentuk akibat dari aktivitas vulkanisme, sehingga banyak dijumpai di setiap gunung berapi yang masih aktif, dan kita tahu bahwa Indonesia memiliki banyak gunung berapi yang masih aktif. Sudah dapat membayangkan melimpahnya belerang di Indonesia ? Kalau belum mari disimak.

Menurut Sumarti (2010), sampai saat ini baru diketahui 6 provinsi di Indonesia yang menyimpan tambang belerang, yaitu :

  1. Jawa barat : Gunung Tangkuban Perahu, Danau Putri, Galunggung, Ceremai, Telaga bodas
  2. Jawa tengah : Gunung Dieng
  3. Jawa timur : Gunung Arjuno, Gunung Welirang, Gunung Ijen.
  4. Sumatera utara : Gunung Namora
  5. Sulawesi utara : Gunung Mahawu, Soputan, dan Gunung Sorek Merapi
  6. Maluku : Pulau Damar

Dari total jumlah sulfur yang diproduksi tersebut, sekitar 70-85% digunakan untuk pembuatan asam sulfat. Sedangkan asam sulfat banyak digunakan untuk industri pupuk (37%), industri bahan kimia (18%), industri bahan warna (8%), pulp dan kertas (7%), besi baja, serat sintetis, minyak bumi dan lain-lain.

Kawah ijen merupakan penghasil belerang utama di Indonesia dibandingkan dengan wilayah lain (Sumarti, 2010). Menurut pengelola Taman Nasional Alas Purwo, dimana Taman Nasional tersebut membawahi antara lain kawasan Kawah Ijen, menyebutkan bahwa sedikitnya 14 ton belerang ditambang tiap harinya. Sementara itu berdasarkan analisa BPPTK, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyebutkan bahwa nilai tersebut hanya sekitar 20% dari potensi yang sesungguhnya disediakan oleh alam. Sudah bisa membayangkan ? Jika masih kurang, masih ada satu fakta lagi tentang potensi belerang. Menurut Kelompok Program Teknologi Informasi Pertambangan (2005), apabila pengolahan belerang dilakukan dengan cara sublimasi, maka belerang merupakan bahan tambang yang TIDAK TERBATAS, wow !

MANFAAT SULFUR

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa pemanfaatan sulfur atau belerang cukup banyak dilakukan di Indonesia pada berbagai industri besar seperti industri bahan kimia yaitu pembuatan asam sulfat, industri gula, industri ban, industri cat, industri karet, industri tekstil, industri korek api, bahan peledak, pabrik kertas, dan lain sebagainya. Penggunaan terbesar belerang yaitu sekitar 78% untuk pembuatan asam sulfat. Seperti yang kita ketahui memang asam sulfat merupakan bahan yang sangat penting bagi kemajuan industri suatu Negara. Setiap industri selalu memerlukan asam sulfat baik sebagai bahan pelarut, memberikan suasana asam, sebagai pereaksi, dan sebagainya. Dengan demikian, semakin besar penggunaan asam sulfat suatu Negara, maka akan semakin maju pula industri suatu Negara karena asam sulfat adalah indikator yang baik terhadap kekuatan industri suatu Negara. Secara tidak langsung dapat kita simpulkan bahwa semakin banyak pula kebutuhan belerang untuk memenuhi konsumsi asam sulfat tersebut (Juliantara, 2013).

SUMBER SULFUR

Seperti yang kita ketahui bahwa belerang dapat diperoleh secara murni atau berikatan dengan senyawa lain. Pada pembuatan asam sulfat, sebagian besar dari sulfur yang digunakan berupa sulfur alam (56%), dari senyawa pyrite atau batuan sulfide/sulfat lainnya (19%), dan dari gas buangan industri minyak bumi/ batu bara (25%).

Menurut Juliantara (2013), pengambilan sulfur sendiri memiliki beberapa proses, tergantung sumber dari sulfur itu sendiri. Berikut adalah beberapa cara pengambilan sulfur, antara lain:

1.Proses Frasch

Sulfur yang diperoleh dari proses ini dilakukan dengan pencairan sulfur di bawah tanah/laut dengan air panas, lalu memompanya ke atas permukaan bumi. Pada proses ini digunakan 3 buah pipa konsentris 6’, 3’, dan 1’. Air panas dengan suhu 3250C dipompakan ke dalam batuan sulfur melalui bagian pipa 6’, sehingga sulfur akan meleleh (2350F). Lelehan sulfur yang lebih berat dari air akan masuk ke bagian bawah antara pipa 3’ dan 1’, dan dengan tekanan udara yang dipompakan melalui pipa 1’, air yang bercampur dengan sulfur akan naik ke atas sebagai crude S, kemudian diolah menjadi crude bright atau refined S.

  1. Pengambilan S dari batuan sulfide/ sulfat

Sulfur dapat diperoleh dengan mengambil dari batuan sulfide seperti pyrite FeS2, chalcopyrite CuFeS2, coveline CuS, galena PbS, Zn Blende ZnS, gips CaSO4, barire BaSO4, anglesite PbSO4, dan lain-lain.

  1. Pengambilan dari gunung berapi

Deposit Sulfur di gunug berapi dapat berupa batuan, lumpur sedimen atau lumpur sublimasi, kadarnya tidak begitu tinggi (30-60%) dan jumlahnya tidak begitu banyak (600-1000 juta ton). Pemanfaatan sulfur melalui cara ini diperlukan adanya peningkatan kadar sulfur terlebih dahulu dengan cara flotasi dan benefication. Cara flotasi yaitu dengan cara menambahkan air dan frother yang nantinya akan membuat sulfur terapung dan dapat dipisahkan. Cara benefication lebih rumit dibandingkan dengan flotasi yaitu awalnya sulfur ditambahkan dengan air dan reagen, kemudian reagen dipanaskan dalam autoklaf selama 1/2-3/4 jam pada tekanan 3 atm. Nantinya setiap partikel kecil dari sulfur akan terkumpul, lalu dilakukan pencucian dengan air untuk menghilangkan tanah. Setelah itu dipanaskan kembali dalam autoklaf sehingga sulfur akan terpisah sebagai lapisan S dengan kadar 80-90%.

  1. Pengambilan Sulfur dari Gas Buang

Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini Indonesia memiliki  banyak industri yang semakin berkembang. Semakin banyak industri tersebut maka semakin banyak pabrik pengolahan dan tentu semakin banyak gas buang yang dihasilkan. Sulfur adalah salah satu unsur yang dapat diperoleh dari gas buang tersebut. Sulfur diperoleh dari flue gas asal pembakaran batu bara atau pengilangan minyak bumi. Sulfur ini tidak boleh dibuang langsung ke udara karena dapat menimbulkan pencemaran. Oleh karena itu gas buang tersebut terlebih dahulu harus diabsorpsi dengan menggunakan etanolamin dan sebagainya, kemudian dipanaskan kembali untuk mendapatkan gasnya dan kemudian diproses lebih lanjut.

PERMASALAHAN DAN PENGELOLAAN BELERANG DI INDONESIA

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa sekitar 78% sulfur di Indonesia dimanfaatkan dalam pembuatan asam sulfat. Namun sayangnya sulfur yang ada di Indonesia jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan dalam pembuatan asam sulfat. Bukan karena Indonesia miskin akan sulfur, namun karena eksplorasi terhadap sumber daya ini memang kurang. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa potensi sulfur di Indonesia belum dimanfaatkan dengan baik sehingga adanya kebutuhan sulfur di Indonesia harus dipenuhi dengan jalan impor.

 Berikut adalah beberapa pabrik asam sulfat yang sudah berdiri antara lain,

  1. PT. Liku Telaga di Gresik Jatim, kapasitas produk 325.000 ton/tahun
  2. PT. Petrokimia Gresik Jatim, kapasitas produk 678.000 ton/tahun
  3. PT. Aktif Indo Indah di Rungkut Surabaya, kapasitas produk 15.000   ton/tahun.
  4. PT. Budi Acid Jaya di Lampung Utara, kapasitas produk 60.000 ton/tahun.
  5. PT. Indoesian Acids Industry di Jakarta Timur, kapasitas produk 82.500 ton/tahun

Dari sekian banyak produksi asam sulfat yang ada di Indonesia ini pun masih saja tidak mampu mencukupi kebutuhan akan asam sulfat Negara Indonesia untuk berbagai industri karena dari beberapa data yang diperoleh, masih banyak dilakukan impor asam sulfat bahkan trend impor asam sulfat ini naik tajam sampai pada tahun 2012. Bahkan perkiraan konsumsi asam sulfat pada tahun 2022 adalah 900.000.000 kg. Berikut adalah tabel data impor asam sulfat Indonesia,

Tabel 1. Impor Asam Sulfat

Tahun Jumlah (kg)
2008 66.911.030
2009 95.444.696
2010 118.138.629
2011 158.137.521
2012 447.420.207

Pengelolaan dan Pemanfaatan belerang di Indonesia telah dilakukan dalam waktu yang lama tepatnya sejak jaman kolonial Belanda. Pengelolaan masih dilakukan dengan bentuk dan cara kerja yang sederhana tanpa didukung oleh teknologi yang memadai dan tepat guna. Berdasarkan beberapa artikel yang serupa tentang penambangan belerang di Kawah Ijen menunjukan bahwa proses penambangan belerang dan sumber daya manusia yang berproses didalamnya masih sangat minim dan tradisional. Sumber daya manusia berasal dari masyarakat sekitar yang tentunya mayoritas berekonomi lemah dan kurangnya pengetahuan dan pendidikan yang memadai.

Permasalahan mendasar adalah proses pengambilan belerang yang menjadi pro dan kontra yang tentunya mempertaruhkan seluruh jiwa dan raga demi beberapa kilo belerang yang selanjutnya akan diolah. Bermodalkan peralatan sederhana para pekerja yang terdiri dari laki – laki dan perempuan mengambil sumber belerang langsung dari dasar kawah dengan teknologi yang sederhana. Belerang dari dasar kawah lalu dialirkan untuk mengisi kantung – kantung / keranjang yang akan diangkut ke tempat pengelolaan. Setiap pekerja rata – rata mengangkut sekitar 80 kg dan hanya diberi upah sebesar Rp. 800 per kilogram. Hal ini tentunya sangat tidak sebanding dengan kerja dan perjuangan mereka dalam mempertaruhkan hidup nya untuk penambangan belerang.

nota menambang

Gambar 3. Nota Pengangkutan (Jefftravels, 2013)

Faktor kesehatan tentunya sangat mempengaruhi karena gas belerang sangat berbahaya apabila terhirup langsung oleh tubuh. Para penambang belerang tentunya sangat berisiko mengalami gangguan kesehatan pada saat proses penambangan belerang. Faktor lingkungan menjadi ancaman bagi para penambang belerang karena mereka “dihantui” oleh hembusan angin kencang berbau belerang dan erupsi dari kawah ijen yang dapat membahayakan nyawa mereka sendiri. Proses seperti ini dilakukan setiap hari oleh para penambang belerang tanpa mengenal lelah dan kondisi lingkungan yang tidak menentu.

boston

Gambar 4. Penambang Kawah Ijen Memikul Belerang (Boston, 2009)

penambangg

Gambar 5. Penambang Kawah Ijen (Boston, 2009)

Para penambang belerang perlu diberikan perlindungan dan perhatian baik dalam proses penambangan belerang tidak hanya di Kawah Ijen tetapi juga ditempat – tempat lain di Indonesia yang mungkin bernasib sama bahkan lebih dari itu. Pengkajian khusus baik terhadap teknologi tepat guna yang digunakan dan pemanfaatan sumber daya manusia perlu diperhatikan dan diperjuangkan hak – haknya. Penentuan tarif upah yang sebanding dengan proses kerja yang dilakukan, dan manajemen pengelolaan belerang yang baik dan bermanfaat perlu diterapkan demi meningkatkan hasil sumber daya belerang di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Boston. 2009. Sulfur Mining in Kawah Ijen. http://www.boston.com/bigpicture/2009/06/sulfur_mining_in_kawah_ijen.html. Diakses pada 3 Maret 2015.

Hakim, A. 2014. Mereka Bertaruh Nyawa di Kawah Ijen. http://kompasiana.com. Diakses pada 1 Maret 2015.

Jefftravels. 2013. Sulfur Mining on The Top of Kawah Ijen in East Java. http://jefftravels.com/2013/07/15/sulfur-mining-on-the-top-of-kawah-ijen-in-east-java/. Diakses pada 2 Maret 2015.

Juliantara, M. 2013. Proses Pembentukan Asam Sulfat. Fakultas Teknik Program Studi Teknik Mesin, Universitas Teknologi Sumbawa.

Kelompok Program Teknologi Informasi Pertambangan. 2005. Potensi Belerang. http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Belerang/ulasan.asp?xdir=Belerang&commId=7&comm=Belerang. 28 Februari 2015.

Nurdajat, D. dan Elkhasnet. 2007. Perbaikan Sifat Agregat dengan Belerang untuk Meningkatkan Kinerja Campuran Beraspal. Jurnal Teknik Sipil.

Sumarti, S. 2010. Kawah Ijen Penghasil Belerang Terbesar. http://esdm.go.id/berita/56- artikel/3509-kawah-ijen-penghasil-belerang-terbesar.html?tmpl=component&print=1&page=. 28 Februari 2015.

KELOMPOK 10

Stefanus Rony

Maria Janina Lain

Frederik Peter

Maria Intan


5 responses to “Penambangan “Si Kuning” Belerang di Indonesia”

  1. danielharjanto says:

    karena proses pengambilan belerang yang masih tradisional sangat pro dan kontra, bagaimana menurut anda jika dilakukan penambangan secara modern?

  2. miabone says:

    Di blog Anda tertulis hanya 70-85% belerang yang digunakan dari keseluruhan produksi. Bagaimana dengan sisa 25-30% yang ada?

  3. agungprayogo says:

    sangat bermanfaat…nice 🙂

  4. novia11 says:

    Kasian ya para penambang belerang mereka bekerja keras tapi kerja keras mereka tidak sebanding dengan penghasilan dan bahaya yang mereka hadapi :(. Penyakit apa yang diderita para penambang karena menghirup gas belerang?

  5. siprianus bhuka says:

    luar biasa sekali bapak roni atas infonya,,,,,saya mau bertanya apa dampak negatif dari sulfur terhadap kesehatan masyarakat dan udara di lingkungan di sekitar daerah pertambangan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php