rony kristianto

Green Turtle: “Lepaskan kami ! Jangan Biarkan Kami Punah”

Posted: December 5th 2014

Penyu hijau (Chelonia mydas L) merupakan jenis penyu yang paling sering ditemukan dan hidup di laut tropis. Dapat dikenali dari bentuk kepalanya yang kecil dan paruhnya yang tumpul (Nuitja, 1992). Penyu dewasa dapat mencapai berat sekitar 250 kg yang makannya berupa rumput laut (algae) atau lamun (seagrass) yang tumbuh disepanjang pantai sampai daerah terumbu karang (Mortimer, 1981). Menurut Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut (2009), ciri-ciri morfologi penyu hijau adalah karapas (cangkang) berbentuk oval, berwarna kuning keabu-abuan, tidak meruncing di punggung dengan kepala bundar

.images

Gambar 1. Penyu Hijau

Kenapa Perlu Mengkonservasi Penyu Hijau ? yang pertama karena penyu yang mempunyai jarak tempuh hingga ribuan mil laut ini berperan penting bagi tumbuhan dan hewan laut, karena penyu hijau ini menyebar nutrisi melalui kotorannya. Kotoran penyu hijau dapat dijadikan sebagai pupuk dan makanan bagi tumbuhan dan hewan laut lainnya. Selain itu penyu hijau juga dapat menjadi pengendali populasi lamun, karena lamun merupakan makanan utama dari penyu hijau. Seandainya penyu hijau punah, rantai makanan akan terganggu, artinya populasi padang lamun akan semakin padat, akibat tidak ada yang memakannya lagi. Kepadatan padang lamun menyebabkan munculnya bakteri patogen, yaitu Labyrinthula, sehingga menyebabkan ikan-ikan yang ada disekitar ekosistem lamun terserang penyakit.

Penyu hijau mempunyai habitat yang berbeda-beda dalam kehidupannya seperti mencari makan yang tidak jauh dari daerah bertelur, habitat untuk kawin dan habitat yang sesuai untuk peneluran karena tidak semua pantai dapat dijadikan penyu untuk tempat peneluran dan penetasan. Keberhasilan penetasan telur penyu hijau (Chelonia mydas L.) secara alamiah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pantai itu sendiri seperti suhu lingkungan, letak sarang, kedalaman sarang, keadaan vegetasi, struktur pasir, pasang surut air laut, lebar pantai dan kelandaian pantai (Mortimer, 1981).

Semua Penyu Laut dilindungi oleh pemerintah. Penyu di Indonesia dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pangawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.Bahwa penyu berikut bagian-bagiannya termasuk telurnya merupakan satwa yang dilindungi oleh negara.” Dan peluang pemanfaatannya melalui penangkaran yang diatur PP No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.

Menurut IUCN penyu hijau dikategorikan sebagai spesies yang terancam punah, sehingga masuk dalam kategori Endangered

Untitled

 

sedangkan menurut CITES, penyu hijau masuk ke dalam kategori Apendix I, yang artinya spesies ini dilindungi dari perdagangan internasional secara komersial. Apabila tidak dihentikan, maka spesies ini akan benar-benar terancam punah

Ada beberapa ancaman yang menyebabkan status penyu hijau menurut IUCN adalah Endangered, yang paling utama adalah penangkapan telur dan anak penyu maupun penyu yang telah dewasa. Penyu dikenal memiliki kandungan protein yang tinggi, sehingga banyak yang menangkapnya untuk dijadikan makanan, namun alasan lain penangkapan penyu adalah untuk dijadikan cendera mata. Ancaman lain adalah adanya degradasi habitat akibat pembangunan gedung-gedung yang berlebihan, sehingga mengganggu habitat penyu. Selain itu adanya abrasi menyebabkan habitat penyu hijau rusak, seperti yang terjadi di rumah konservasi penyu di Pantai Samas, Bantul yang rusak akibat adanya abrasi, sehingga menyebabkan banyak penyu dewasa maupun telur penyu mati.

1265428_201308230851381

 Upaya yang akan saya lakukan ini cukup sederhana, yaitu saya akan mengajak LSM atau Kelompok Studi Biologi (KSB) Fakultas Teknobiologi Atmajaya Yogyakarta untuk pergi ke pantai Samas dan bergabung dalam Forum Konservasi Penyu Bantul (FKPB) untuk membantu konservasi penyu, terutama penyu hijau. Langkah-langkah yang akan ditempuh adalah yang pertama akan menyusuri pesisir pantai Samas untuk mencari telur penyu hijau (tidak hanya penyu hijau) dan dipelihara secara semi-alami di rumah penangkaran penyu yang ada di sana. Setelah itu telur yang diperoleh akan dipelihara hingga menetas dan menjadi tukik. Dalam waktu tertentu, tukik dilepas ke alam (laut) untuk menambah jumlah populasi penyu Hijau. Harapan saya dengan langkah konservasi yang saya rencanakan ini bisa menambah populasi penyu Hijau dan dapat mencegah punahnya penyu hijau.

Tukik

Jangan biarkan si “Unyu” hengkang dari dunia ini akibat keserakahan dan keegoisan oknum-oknum tertentu. Mari bergabung bersama saya untuk mewujudkan aksi konservasi penyu Hijau ini !

DAFTAR PUSTAKA

Nuitja, I.N.S., 1992. Biologi dan Ekologi Pelestarian Penyu Laut. Institut Pertanian Bogor (IPB). Bogor.
Mortimer, J. A. 1981. The feeding ecology of the west Carribean green turtle (Chelonia mydas). Biotropica 13:49-58.
Direktorat  Konservasi Dan Taman Nasional Laut. 2009. Pedoman Teknis Pengelolaan Konservasi Penyu. Departemen Kelautan dan Perikanan            RI. Jakarta.
Seminoff, J.A. 2004. Chelonia mydas. www. iucnredlist.org. 5 Desember 2014.


15 responses to “Green Turtle: “Lepaskan kami ! Jangan Biarkan Kami Punah””

  1. santha21 says:

    wahhh, what the real action that you make to conserve Green Turtle!! Semoga ini menjadi langkah yang akan benar-benar diwujudnyatakan oleh KSB, Semngatt bang Ronny dkk!!

    • ronykristianto says:

      terima kasih santha, Aminnnn, semoga ini menjadi langkah awal untuk pelestarian penyu hijau. Kalau berminat boleh bergabung lohh

  2. Elviena says:

    good personal action! mungkin kelompok KSB juga dapat memberi sedikit penyuluhan kepada masyarakat supaya telur penyu ini tidak terus-terus diambil

    • ronykristianto says:

      Terimakasih mbak vina atas sarannya. Ini akan kami coba untuk memberi penyuluhan kepada warga setempat, mungkin kalau mbak vina berminat bisa bergabung

  3. ronalsimaremare says:

    menarik sekali untuk dipelajari lebih dalam lagi tentang spesies ini. bagaimana dampak ekosisitem dialam yang akan terasa untuk kedepannya, mungkin ada yang hilang dan terasa pada kesimbangan yang berujungnya pada manusia itu sendiri.

  4. agnes9 says:

    topik yang menarik. apakah dalam langkah merealisasikan aksimu ini kamu melakukan sosialisasi mengenai penyu hijau kepada masyarakat sekitar pantai samas? jadi tidak hanya anggota KSB dan LSM yang berperan dalam aksi konservasi ini. selamat beraksi 🙂

    • ronykristianto says:

      Sejauh ini jujur saya belum berpikiran untuk melakukan sosialisasi sendiri, karena saya akan memulai aksi saya dengan hal yang sederhana dan paling realistis dulu. tapi mengenai aksi sosialisasi bisa saja dilakukan sebagai aksi lebih lanjut dari rencana aksi saya, karena percuma juga ketika aksi ini terwujud namun masyarakat sekitar masih saja memburu telur dan penyu dewasa. Terimakasih 😀

  5. siprianus bhuka says:

    langkah akan mengajak LSM atau Kelompok Studi Biologi (KSB) Fakultas Teknobiologi Atmajaya Yogyakarta untuk pergi ke pantai Samas dan bergabung dalam Forum Konservasi Penyu Bantul (FKPB) untuk membantu konservasi penyu, terutama penyu hijau adalah sangat bagus. karena mengingat para anggota ksb yang kemampuanya diatas rata2 di bagian konservasi. dan untuk penyu hijau perlu dilestarikan karena kerbradaaanya yang hampir punah. langkah yang bagus kawan.Jangan biarkan si “Unyu” hengkang dari dunia ini akibat keserakahan dan keegoisan oknum-oknum tertentu. ….salam lestari.

    • ronykristianto says:

      Iya teman, semoga ini benar-benar terwujud ya. Kalau ingin bergabung boleh loh, kita sama-sama ke Pantai Samas untuk melihat konservasi penyu hijau (tidak hanya penyu hijau) secara langsung

  6. christianbunardi says:

    informasi yang anda berikan sangat bermanfaat.
    semoga langkah konservasi yang akan anda rencanakan ini dapat menambah populasi penyu Hijau dan dapat mencegah punahnya penyu hijau.
    selamat beraksi.. 🙂

  7. agustina ruban says:

    simple action ron.. semoga berjalan ya 🙂

  8. richardkion says:

    info yang menarik. tapi apakah tidak ada peraturan pemerintah yang melindungi si penyu hijau ini? kemudian apakah anda tidak mempunyai rencana konservasi cadangan jika seandainya aksi konservasi anda ini gagal?

    • ronykristianto says:

      untuk peraturan pemerintah sudah saya cantumkan di artikelnya, silahkan dilihat lagi. Untuk masalah plan B, sebenarnya saya optimis dengan rencana saya ini, karena menurut saya ini aksi yang cukup sederhana dan realistis untuk dilakukan, namun jika ada beberapa faktor yang menjadi penghalang aksi konservasi saya, saya akan membuat rencana yang kurang lebih hampir sama, namun tempatnya terletak di Taman Nasional Alas Purwo, di sana juga ada rumah penangkaran penyu dan saya bisa mewujudkan aksi ini di sana.

  9. miabone says:

    Aksi Anda sederhana namun sangat realistis. Semoga banyak teman-teman FTB yang mau terlibat, bukan hanya dari KSB saja. Dan semoga aksi ini bisa menginspirasi kelompok-kelompok studi lainnya. Lanjutkan! 😀

  10. rana says:

    Saya ingin sekali bergabung. Tapi saya tidak mempunyai pengalaman apapun tentang hewan esp penyu. Dan juga bukan seorang dari kalangan mahasiswa/universitas/akademik. Mohon saran & infonya. Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php