rony kristianto

Savana Baluran: “a little Africa” yang terancam rusak ?

Posted: September 7th 2014

Indonesia digadang-gadang sebagai negara mega diversity karena keanekaragaman hayatinya yang sangat melimpah, dari spesies hingga ekosistemnya. Ekosistem savana merupakan salah satu contoh dari jutaan kekayaan Indonesia. Savana merupakan padang rumput dan semak yang terpencar di antara rerumputan (Sabarno, 2002). Ekosistem Savana yang cukup terkenal di Indonesia adalah ekosistem savana Taman Nasional Baluran, yang terletak di Jawa bagian timur, tepatnya kabupaten Situbondo, kecamatan Banyuputih. Orang-orang sering menyebut Savana sebagai “a little Africa”, karena savana menjadi ciri khas negara Africa.

10380526_816779724999577_595865352917751157_o

Gambar 1. Ekosistem Savana Taman Nasional Baluran (sumber: dokumentasi KSB UAJY, 2014)

Menurut Gunaryadiย  (1996), kawasan savana pada umumnya kurang terancam oleh eksploitasi ekonomi dibandingkan hutan hujan, meskipun demikian savana juga mendapat tekanan berupa penggembalaan ternak dan penggunaan pertanian lainnya. Savana merupakan ekosistem yang kurang stabil, keseimbangannya tergantung pada iklim, api, penggunaan oleh margasatwa dan lain-lain. untuk melestarikan ekosistem savana diperlukan kegiatan manipulatif seperti pembakaran terkendali, pengaturan populasi satwa, penebangan vegetasi.

Ekosistem Savana di Taman Nasional Baluran memiliki beberapa masalah yang harus ditangani secara serius, karena akan mengakibatkan perubahan ekosistem lainnya. Masalah pertama yaitu invasi tanaman eksotik Acacia nilotica yang mengakibatkan penurunan luas savana, sehingga mengakibatkan perubahan komposisi, struktur, dan produktivitas. Tanaman ini awalnya didatangkan dari Afrika sebagai penyekat kebakaran yang memang menjadi masalah di sana, namun kecepatan tumbuh dan penyebaran tanaman ini telah mengakibatkan penurunan jumlah kualitas dan kuantitas savana, hingga merubah perilaku satwa liar herbivora yang sumber pakan utamanya adalah rumput di savana. Oleh karena itu, satwa liar di sana mencari alternatif makananya lain, yaitu daun dan biji A.nilotica. Hal ini menyebabkan penyebaran biji tanaman ini semakin cepat, ditambah lagi dengan penyebaran melalui injakan kaki satwa terhadap biji-biji yang jatuh, jika penyebaran biji semakin cepat otomatis akan semakin banyak wilayah di savana yang akan ditumbuhi tanaman tersebut, sehingga luas savana menjadi menurun. Pihak pengelola Taman Nasional telah berupaya untuk mengatasi masalah ini, yaitu dengan cara pemberantasan A.nilotica secara kimiawi dan mekanis (penebangan), namun kedua cara tersebut dianggap kurang efektif karena membutuhkan biaya yang cukup besar untuk pengadaan bahan kimia dan memakan waktu yang lama jika dilakukan secara mekanis. Alternatif lain dalam upaya penanggulangan masalah ini adalah dengan cara pembongkaran dengan buldoser, cara ini dianggap cukup efektif, akan tetapi dampak lahan bekas pembongkaran tonggaknya berpengaruh terhadap perubahan struktur tanah. Pihak pengelola telah melakukan penebangan dan pembakaran tonggak, serta pencabutan seedling.

Permasalahan lain tidak hanya soal tanaman A.nilotica, namun datang dari masyarakat sekitar Savana. Intensitas yang tinggi penggembalaan liar oleh masyarakat sekitar adalah penyebab utamanya. Menurut Haifs, (1992), setiap hari ditemukan sekitar 1600 ekor sapi dan 400 ekor kambing digembalakan secara liar di kawasan Baluran, khususnya dibagian utara. Padahal daya dukung padang rumput diduga dibawah jumlah ternak yang digembalakan, sehingga terjadi overgrazing area dan mengancam kelestarian ekosistem savana tersebut. Menurut Utomo (1997), dalam percobaannya telah diketahui bahwa produktivitas rumput di Savana Bekol seluas 75 ha adalah 13.700 gr/ha/hari, sedangkan daya dukung pada rumput adalah 8,9 kg/ha/hari atau 33,2 gr/m2, padahal menurut Riyawati (1999), kebutuhan rusa per hari adalah 10% dari berat tubuhnya, yaitu rata-rata 5,5 kg/hari/ekor, oleh karena itu savana seluas 75 ha hanya mampu mendukung sekitar 114 ekor rusa dewasa, padahal berdasarkan sensus yang dilakukan oleh pihak pengelola taman nasional, ada sekitar 192 ekor rusak di Savana. Hal ini menunjukkan bahwa savana di Baluran tidak lagi optimum dalam mendukung kehidupan satwa liar yang ada, sehingga kelestariannya semakin terancam dan populasi yang adalah di dalamnya akan menurun jumlahnya. Salah satu akibatnya adalah satwa liar akan terusir, karena persaingan dengan ternak dan aktivitas manusia yang masuk ke dalam kawasan. Pengelola taman nasional telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi masalah penggembalaan liar ini, yaitu dengan penyuluhan dan pemberian bibit rumpur pakan ternak untuk dibudidayakan, namun hasilnya tidak begitu signifikan.

Sudah seharusnya kita sebagai mahasiswa, untuk menjaga kelestarian ekosistem agar spesies-spesies yang ada di dalamnya tidak terganggu atau bahkan mengalami kepunahan. Sayang sekali rasanya jika mendengar bahwa Savana Baluran, yang merupakan tempat pelestarian spesies-spesies yang dilindungi, terancam rusak, banyak spesies yang dilindungi di sana, seperti rusa dan banteng, akan terusir oleh ulah manusia sendiri, seharusnya justru manusialah yang melestarikan spesies-spesies langkah tersebut dan menjaga ekosistem sekitarnya. Tentu anda bukanlah perusak lingkungan, benar begitu ? Jadi tunggu apa lagi? segera jaga dan lestarikan alam kita, agar spesies-spesies unik yang dimiliki Indonesia tidak terancam keberadaannya.

Daftar Pustaka

Sabarno, M.Y. 2002. Savana Taman Nasional Baluran. Biodiversity. Volume 3:207-212.
Gunaryadi, D. 1996. Pengamatan Populasi Cervus timorensis di Savana Bekol Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Disertasi.Yogyakarta: Fakultas Pasca Sarjana UGM.
Hafis, J. 1992. Telaah Beberapa Faktor Penyebab Penggembalaan Liar di Taman Nasional Baluran Utara Jawa Timur. Tesis. Yogyakarta: Fakultas Pasca Sarjana UGM.
Utomo, B. 1997. Studi Produktivitas Savana Bekol Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Skripsi. Jakarta: FMIPA UI.
Riyawati. 1999. Studi Jenis Pakan Rumput Rusa Timor (Cervus timorensis) di Savana Bekol Balai Taman Nasional Baluran Banyuwangi Jawa Timur. Skripsi. Malang: Institut Pertanian Malang.


10 responses to “Savana Baluran: “a little Africa” yang terancam rusak ?”

  1. alfonslie says:

    informasi yang sangat menarik. keep blogging ๐Ÿ™‚

  2. miabone says:

    Semoga akan ada lebih banyak orang yang peduli setelah membaca informasi dari Anda ini. Keep blogging ๐Ÿ™‚

  3. caterinaakila says:

    Hmmmm sayang sekali pemandangan dan ekosistem seunik itu harus terancam rusak. Perilaku warga setempat yang mungkin sudah menjdai kebiasaan sejak dulu memang sangat susah untuk diperbaiki. Tetapi sudah adakah upaya pemerintah atau dari pihak Taman Nasional Baluran itu sendiri untuk melakukan pendekatan kepada warga setempat agar tidak menggembalakan hewan ternaknya di Savana Baluran yang dapat merusak ekosistem tersebut?

  4. restuapriyani says:

    bgaimna menurut anda cra yg efektif untuk penanggulangan tanaman acacia tersebut?
    conth lain dri yg sdah di jlskan di ats

  5. ronykristianto says:

    Mbak cathy: dari pihak Taman Nasional sendiri sudah melakukan sosialisasi tentang penggembalaan liar tersebut, bahkan telah diberi penyuluhan dan pemberian bibit rumput pakan ternak agar masyarakat dapat membudidayakannya, namun karena kesadaran sosial masyarakat sekitar agar tidak merusak lingkungan masih kurang, maka sebagian masyarakat masih tetap melakukan penggembalaan liar

    Mbak Restu: Sampai saat ini belum ada study yang mampu memecahkan masalah ini, ada sebagian orang yang mengatakan bahwa masalah acacia di Baluran adalah musuh abadi dan belum ada yang bisa menemukan cara yang efektif untuk menyelesaikannya, tetapi menurut saya, cara yang mungkin efektif untuk mengatasi masalah ini adalah perpaduan antara cara pembongkaran dengan buldoser dan secara biologi. Artinya, digunakan mikrobia yang mampu merusak struktur biji acacia yang jatuh di tanah, dengan itu pertumbuhan acacia akan terhambat, kemudian dilakukan pembongkaran dengan buldoser agar jumlah acacia di Savana semakin berkurang. Tidak hanya itu, monitoring secara berkelanjutan juga penting untuk melihat perkembangan dari metode ini. Setiap cara akan ada positif dan negatifnya, tetapi mengingat prioritas kasus ini adalah untuk mengurangi jumlah acacia, jadi menurut saya cara ini efektif untuk mengatasi masalah ini

  6. miabone says:

    Postingan Anda mengenai TN Baluran sangat unik dan menarik sekali mengingat Indonesia didominasi oleh hutan hujan tropis dan jarang sekali ada savana. Hal tersebut mengakibatkan kurangnya penangkaran hewan-hewan dengan vegetasi khas savana, seperti Walabi. Apakah ada kemungkinan hewan dengan vegetasi khas savana, seperti Walabi, dikembangkan di TN Baluran ini? Jika iya, menurut Anda apakah ada dampak terhadap ekosistem disana? Dan jika tidak, mengapa? Terimakasih ๐Ÿ™‚

    • ronykristianto says:

      Menurut saya walabi mungkin saja bisa dibiakkan di baluran, namun membutuhkan waktu yang cukup lama, karena Savana di Baluran memiliki iklim yang berbeda dengan tempat asal walabi, Papua. Savana di Baluran cenderung mirip dengan savana di Afrika, oleh karena itu perlu adaptasi khusus dari Walabi agar mampu bertahan hidup di Baluran. Dampak ekosistem tentu akan terjadi ketika ada spesies baru masuk, yang paling jelas adalah adanya perebutan makanan antara spesies lama (banteng, rusa, kerbau, kera, dll) dengan spesies baru (Walabi) di Baluran, mengingat Walabi adalah jenis hewan herbivor yang banyak memakan rumput. Selain itu, bertambahnya spesies di Baluran juga akan mempengaruhi tingkat persebaran tanaman Acacia. Tanaman tersebut sudah lama menjadi masalah yang belum usai karena persebarannya yang begitu cepat, seperti yang sudah saya paparkan di atas, oleh karena itu akan ada penurunan kuantitas jumlah Savana yang diakibatkan persebaran tanaman Acacia. Semoga ini menjawab ๐Ÿ™‚

  7. ronalsimaremare says:

    benar-benar sangat menarik bung, padang savana memang sangat perlu untuk dilestarikan, karena populasi yang ada didalam ekosistem tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, saling memerlukan, intinya semua saling terkait.
    misalnya kalau tidak ada padang savana hewan-hewan herbivora akan sangat sulit mencari makan, dan lama-kelamaan populasinya akan berkurang ditambah lagi dengan pemangsa hewan-hewan herbivora ini.
    mari kita letarikan alam kita…
    SALAM LESTARI….

    • ronykristianto says:

      Yak, betul sekali bung ronal, tentu kita tidak mau melihat spesies-spesies unik yang ada di Savana Baluran terganggu kehidupannya. Mungkin suatu saat KSB UAJY dapat membuat suatu program yang mampu mengatasi masalah-masalah yang sudah saya paparkan di atas, itu akan sangat berguna untuk menjaga keseimbangan ekosistem Savana di sana.

  8. siprianus bhuka says:

    penting sekali topikmu ini ronn…masyarakt cendrung memberi makan hewan ternaknya di savana sehuingga mnenyebabkan hewan asli savana ter4sebut kekurangan makanan dan posisi mereka di savana tersebut tergeser karena kalah jumlah dengan hewan ternak masyarakat tersebut.adanya pohon akasia justru menjadi bumerang bagi keberadaan savana tersebut karena pertumbuhan akasia yang bgtu ceopat,,mampu mepersemnpit lahan dari savana tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php