Following The Path of Nature

KEBERADAAN SANG PERANTAU HARUS LESTARI

Posted: December 6th 2015

Perubahan musim telah mengubah kondisi bumi belahan utara menjadi lebih dingin dengan intensitas cahaya rendah, sedangkan bumi belahan selatan mengalami penyinaran matahari lebih lama, sehingga menghangatkan daerah tersebut. Kondisi perairan dingin menyebabkan organisme-organisme menjadi tidak produktif, kekurangan pakan, dan sulit beradaptasi, sehingga perantauan pun dimulai. Sang perantau tersebut adalah burung pantai yang membentuk kawanan besar terbang bersama mencari pakan. Perantauan para kawanan burung pantai ini memanfaatkan cuaca yang mendukung, seperti angin yang sesuai untuk membantu perjalannnya, bila arah angina berubah perantaun dihentikan dan mengalihkan tujuan ke tempat peristirahatan (Febrianto dan Tirtoningtyas, 2013).gw1

Perantauan tersebut memiliki rute-rute tertentu seperti rute yang dikenali di Asia, yaitu jalur terbang bagian timur Asia/Australia. Burung-burung pantai yang menggunakan rute ini berasal daerah berbiak Siberia, China dan Alaska memanjang ke selatan melewati daerrah persinggahan di Asia Tenggara, Papua Nugini, Australia, Selandia Baru, dan Kepulauan Pasifik. Jalur kedua, yaitu Jalur terbang Indo-Asia, memanjang dari tepat asal berbiaknya di Serbia tengah,, melalui Himalaya hingga ke daratan Sub-benua India (Febrianto dan Tirtoningtyas, 2013). Burung pantai tersebut dikenal dengan nama shorebirds atau waders. Burung pantai memiliki habitat daerah pantai, selain itu seperti hutan bakau, rawa rumput, danau alami, bahkkan sawah. Sebagian besar burung pantai merupakan jenis pendatang dari bumi utara. Tercatat 214 jenis dari seluruh dunia, 65 jenis tercatat di Indonesia dengan 1 jenis penetap, yaitu Cerek Jawa (Charadrius javanicus) (Febrianto dan Tirtoningtyas, 2013).

Permasalahan terjadi jika area persinggahan burung pantai tersebut rusak, para perantau tersebut harus mencari persinggahan lain untuk istirahat dan mencari makan. Kejadian tersebut meningkatkan peluang kepunahan dari burung-burung tersebut, ditambah lagi adanya perubahan iklim yang tak menentu sehingga dapat mempengaruhi waktu migrasi beserta keberadaaan pakannya. Berdasarkan masalah tersebut menggerakan para pemerhati burung untuk menunjukan aksi konservasinya melalui berbagai penelitian ataupun aksi kecil dari LSM-LSM atau kelompok studi burung seperti KSB UAJY, Bionic UNY, Biolaska UIN, PPBJ, dan lain-lain. Aksi kecil tersebut adalah birdwatching (pengamatan burung) yang bertujuan untuk memantau jumlah kawanan burung yang bermigrasi dari berbagai tempat seperti di Yogyakarta. Secara berkala pengamatan ini dilakukan, sehingga dapat diketahui terjadinya fluktuasi jumlah kawanan burung pantai.

Fluktuasi merupakan peningkatan ataupun penurunan yang terjadi secara nyata. Jika terjadi penurunan maka dapat didiskusikan apa yang mempengaruhi penurunan tersebut seperti kabut asap yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan yang dapat mengacaukan rute sang perantaua. Asumsi-asumsi yang dicetuskan seringkali didiskusikan dengan para pengamat burung Yogyakarta, dan sering dikomunikasikan dengan pengamat burung Jakarta, Jambi dan tempat lain, hingga diadakan pertemuan besar yang sering kali membahas masalah tersebut. Aksi kecil pengamatan tersebut sangat mudah dilakukan dengan hanya bermodal binokuler, catatan, bila perlu kamera tele sudah cukup. Sangat diharapkan aksi-aksi tersebut sudah cukup membantu upaya konservasi burung-burung yang terancam.

Salam Lestari….!!!

Daftar Pustaka

  1. Febrianto, I dan Tirtaningtyas, F.N. 2013 Burung Pantai panduan lapangan di Pantai Cemara Jambi. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Propinsi Jambi dan Wildlife Conservation Society-Indonesia Program, Jambi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php