Following The Path of Nature

Sorotan baru untuk Konservasi Penyu Indonesia

Posted: September 1st 2015

Mata Indonesia telah melihat celah besar pada kepedulian masyarakatnya terhadap kekayaan alamnya sendiri. Kerusakan alam sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Kepunahan berbagai organisme telah terjadi. Kerusakan ekosistem telah menjamur di berbagai tempat. Apakah Indonesia diam…?

Masalah tersebut sangat kompleks dan berpengaruh di berbagai bidang yang menyebabkan sulit diselesaikan, kecuali penegasan dari pemerintah dan peningkatan upaya pemahaman terhadap masyarakat. Terutama kita sebagai pemuda Indonesia juga harus ikut berperan aktif mendukung pemerintah untuk melestarikan alam dan ikut peduli terhadap kelestarian flora-fauna Indonesia yang kini terbukti adanya kepunahan. Lalu bagaiman upaya kita?

Salah satu caranya, yaitu mendukung ataupun bergabung dengan lembaga-lembaga konservasi Indonesia, seperti WWF, Pro Fauna, Green Peace, Kelompok Studi Biologi Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta ataupun kelompok studi lain dan berbagai LSM. Lembaga-lembaga tersebut telah menunjukan usahanya secara nyata dalam melakukan konservasi berbagai flora-fauna dengan berbagai penelitian, publikasi konservasi, dan inventarisasi flora-fauna di Indonesia. Salah satu fauna yang menjadi sorotan lembaga konservasi adalah penyu. Penyu merupakan reptil yang hidup di laut serta mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh di sepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudra Pasifik dan Asia Tenggara. Berdasarkan observasi seluruh Indonesia telah tercatat enam jenis penyu yang hidup di perairan Indonesia yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), serta penyu tempayan (Caretta caretta). Secara internasional, penyu masuk ke dalam daftar merah (red list) di IUCN dan Appendix I CITES yang berarti bahwa keberadaannya di alam telah terancam punah sehingga segala bentuk pemanfaatan dan peredarannya harus mendapat perhatian secara serius.

Tabel 1. Status spesies penyu Indonesia menurut red list di IUCN

No Spesies Kategori redlist Tahun
1 Penyu hijau (Chelonia mydas) Endangered 2004
2 Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) Critically Endangered 2008
3 Penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea) Vulnerable 2008
4 Penyu pipih (Natator depressus) Data Deficient 1996
5 Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) Vulnerable 2013
6 Penyu tempayan (Caretta caretta) Endangered 1996

 

Keberadaan penyu tersebut terganggu oleh beberapa faktor seperti pemangsaan (predation), penyakit, yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau karena pencemaran lingkungan perairan. perubahan iklim yang menyebabkan permukaan air laut naik dan banyak terjadi erosi pantai peneluran sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap berubahnya daya tetas dan keseimbangan rasio kelamin tukik. tertangkapnya penyu karena aktivitas perikanan. aktivitas pembangunan di wilayah pesisir yang dapat merusak habitat penyu untuk bertelur seperti penambangan pasir, pembangunan pelabuhan dan bandara, pembangunan sarana-prasarana wisata pantai dan pembangunan dinding atau tanggul pantai. Oleh karena itu dilakukan berbagai upaya konservasi seperti penyuluhan terhadap nelayan dan kerjasama dari berbagai instasi peduli penyu untuk membangun dearah konservasi penyu, pemindahan telur ke sarang semi alami atau perlindungan langsung pada sarang alami dengan tujuan meningkatkan keberhasilan penetasan telur yang terhindar dari predator atau gangguan lain. Adapun dilakukan tracking dengan cara tagging pada daerah ketiak pada salah satu lengan penyu untuk mengetahui daerah jelajah penyu. Bidang molekuler telah mengembangkan teknik molekuler telah memberikan terobosan baru, yaitu meningkatkan aksi konservasi dalam lingkup genetic.

Salah satu penerapan molekuler di Indonesia dilakukan oleh Akira dkk. (2012) melalui penelitiannya di Bima dan Teluk Cempi (NTB) yang bertujuan untuk mengetahui komposisi genetic penyu hijau hasil tangkapan dari (Bima dan Teluk Cempi) dan mengetahui hubungan komposisi genetik penyu hijau hasil tangkapan liar dari Nusa Tenggara Barat (Bima dan Teluk Cempi) dengan komposisi genetik penyu Hijau di habitat peneluran lainnya di Australasia. Hal pertama yang dilakukan Rusmi dkk (2012) adalah identifikasi asal usul penyu Hijau hasil tangkapan liar dari Nusa Tenggara Barat menggunakan marka molekuler (mtDNA). Penelitian ini menggunakan 35 sampel jaringan dari 35 individu penyu Hijau, yaitu 22 sampel dari Teluk Cempi dan 13 sampel dari Bima. Selanjutnya dilakukan beberapa prosedur yang kompleks, yaitu Isolasi mtDNA menggunakan QiampTM DNA Mini Kit dari Qiagen. Segmen DNA target dihasilkan secara in vitro menggunakan teknik PCR (Polimerase Chain Reaction) dengan primer foward LTEi9 dan primer reverse H950, lalu dilakukan pembacaan hasil urutan DNA dengan menggunakan program MEGA 4.0. Persentase kontribusi populasi dari beberapa habitat peneluran dan manajement units dihitung dengan menggunakan Mixed Stock Analysis (MSA) dengan metode BAYES. Hasil yang diperoleh dari metode tersebut, yaitu:

1 2 3 4 5 6 7 8

 

Berdasarkan hasil dari penelitian tersebut telah disimpulkan bahwa Penyu Hijau hasil tangkapan liar dari Nusa Tenggara Barat terdiri atas 11 haplotipe yaitu C1 (25,8%), C3 (20%), C4 (2,8%), C5 (5,7%), C7 (5,7%), C9 (2,8%), C14 (11,5%), D2 (8,6%), A1 (5,7%), Orphan1 (8,6%), Orphan2 (2,8%). Analisis Mixed Stock Analysis (MSA) memperlihatkan bahwa penyu hasil penelitian tersebut berasal dari beberapa habitat peneluran di wilayah Australasia seperti Northwest Cape (28,77%), Pulau Sangalaki (22,34%), dan Pulau Sipadan (8,86%)

Referensi:

Akira, R., Wandia, I N., dan Adyana, I.B. W. 2012. Komposisi Genetik Penyu Hijau (Chelonia mydas) Hasil Tangkapan Liar dari Nusa Tenggara Barat  (Bima dan Teluk Cempi). Indonesia Medicus Veterinus 1 (1): 22-36

Dermawan, A., S. Nyoman, I., Soedharma, D., Halim, M., Kusrini, M., Lubis, B., Alhanif, R. Khazali, Murdiah, Lestari, W. dan Mashar, A.  2009. Pedoman Teknis Pengelolaan Konservasi Penyu. Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut, Direktorat Jendral Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulai Kecil, dan Departemen Kelautan dan Perikanan RI, Jakarta.

 


7 responses to “Sorotan baru untuk Konservasi Penyu Indonesia”

  1. Yani Evami says:

    Informasi yang sangat bagus dan menarik, semoga dengan metode tersebut dapat mendukung kemajuan konservasi Penyu yang ada dan dapat diterapkan untuk konservasi hewan lain yang serupa.

  2. Natalia Cinthya Deby says:

    Keren,,, traditional but universal..

    Ini ni, semoga pemerintah dan masyrakat lebih tanggap sama konservasi,.
    Mungkin oneday bisa lebih dikembangin usaha konservasi penyu gak cuma di daerah tertentu tapi di setiap pantai yg memungkinkan utk konservasi, jadi cakupan daerah yg lebih luas diharapkan bisa menyelamatkan lebih banyak lagi, terus bisa keluar dari RED LIST deh hhahaha #Prayforpenyu

  3. Neil says:

    jadi kegunaan tracking dan tagging dalam upaya konservasinya itu bagaimana ya? karena yang dijelaskan hasil tracking dan tagging cuma menunjukkan daerah asal dari penyu tersebut.
    Terima kasih.

    • Robert Fernando says:

      Tagging merupakan upaya dari tracking penyu yang mendarat di suatu pulau untuk bertelur. Tagging merupakan sistem penanda yang berupa pengaitan metal berbarcode/kode dimana kode tersebut digunakan untuk mengenali seekor penyu yang sudah ditagging. Hal ini sangat diperlukan kerjasama dari seluruh lembaga konservasi penyu di Indonesia (di Baluran, Trenggalek, Daerah Pantai Goa Cemara, Pelangi, Papua, dan kalimantan), dimana masing-masing lembaga juga memiliki alat untuk mengenali kode pada metal tersebut dan data tersebut dicatat dan dapat diakumulasikan, sehingga dapat dianalisis dari satu penyu yang ditagging sudah mendarat di pulau mana saja. Hasil tersebut akan terlihat berupa pola atau track penyu itu sendiri.

  4. informasi yang menarik, namun apakah teknik konservasi dalam lingkup genetik ini sudah dilakukan di berbagai tempat di Indonesia? kita tahu penyu tidak hanya ada di Bima, setahu saya di daerah Papua juga ada penyu. nah apakah informasi ini sudah sampai di daerah pelosok seperti di kabupaten di Papua? dan bagaimana tingkat keberhasilan konservasi penyu jika dilihat dari metode konservasi genetiknya sendiri sampai saat ini? tks

    • Robert Fernando says:

      Saya juga sudah banyak mengetahui berbagai tempat konservasi di Papua dan disana sudah termasuk lembaga yang besar dan dikelola secara internasional, karena disana banyak pulau yang dijadikan peneluran spesies penyu belimbing. Berkaitan dengan perkembangan konservasi penyu di Indonesia masih sangat kurang karena kurangnya kepedulian dan SDM yang mumpuni di bidang konservasi penyu. Jangan bilang Papua, di daerah Yogyakarta saja yang terkenal sebagai kota pelajar masih belum mengambangkan konservasi penyu di daerah Pantai Goa Cemara, Pelangi, dan Pandasimo, terlebih bidang molekuler. Memang sangat diperlukan sebuah konferensi dimana seluruh lembaga konservasi penyu di Indonesia bersama untuk diskusi dan mengembangkan konservasi penyu.
      Secara nyata konservasi genetik dari penyu bertujuan untuk mengungkap, memantau, membandingkan populasi atau melihat keberagaman dan tracking. Hal tersebut menurut saya merupakan perkembangan yang luar biasa karena metode tersebut sangat membantu menguak misteri dari penyu itu sendiri yang mana perilaku, persebaran, populasi penyu sangat sulit dilacak

  5. nataliarizki says:

    jumlah populasi penyu sudah semakin memprihatinkan yaa 🙁 dilihat dari data kategori redlist nya. sangat menarik karena banyak usaha-usaha konservasi dan teknologi terbaru semakin membantu mempertahankan populasinya. salam lestari !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php