Richard Kion

Review jurnal Genetika Populasi dan Strategi Konservasi Badak Jawa (Penggunaan Mikrosatelit)

Posted: September 1st 2015

ekomol
Badak jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822) merupakan spesies yang paling langka di antara 5 spesies badak yang ada di dunia sehingga dikategorikan sebagai critically endangered atau terancam punah dalam Red List Data Book yang dikeluarkan oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) tahun 1978 dan mendapat prioritas utama untuk diselamatkan dari ancaman kepunahan. Selain itu, badak jawa juga terdaftar dalam Apendiks I CITES (Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora) tahun 1975. Jenis yang termasuk dalam Apendiks I adalah jenis yang jumlahnya di alam sudah sangat sedikit dan dikhawatirkan akan punah.
Pada saat ini penyebaran badak jawa di dunia terbatas di dua negara saja, yakni di Indonesia dan Vietnam. Di Indonesia, badak jawa hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dengan populasi yang relatif kecil, yakni sekitar 59-69 ekor (TNUK 2007). Di Vietnam, populasi badak jawa hanya terdapat di Taman Nasional Cat Tien yang diperkirakan tinggal 5-8 ekor (Polet and Mui 1999). Populasi kecil yang hanya terdapat di satu areal memiliki resiko kepunahan yang tinggi, sehingga upaya untuk menjamin kelestarian populasi badak jawa dalam jangka panjang merupakan salah satu prioritas program konservasi badak jawa di Indonesia.
Secara alami badak jawa tidak akan mampu mempertahankan eksistensinya dalam jangka panjang. Eksistensi badak jawa juga dinilai sangat rawan terhadap terjadinya bencana alam, degradasi habitat, inbreeding, penyakit, dan perburuan. Tanpa tindakan pengelolaan yang tepat dan direncanakan secara matang untuk jangka panjang, populasi badak jawa akan mengalami kepunahan. Selain itu, dinamika ekosistem alam di habitat badak jawa diduga akan memberikan pengaruh negatif terhadap eksistensi populasinya.
Kelangsungan hidup badak jawa di TNUK masih terancam oleh berbagai faktor. Sebagai satwa yang memiliki sebaran terbatas, badak jawa lebih rentan (dibanding satwa lain yang tersebar luas) terhadap bahaya-bahaya bencana alam, misalnya ledakan Gunung Krakatau, gempa bumi dan tsunami. Sementara itu, badak jawa juga menghadapi ancaman yang semakin meningkat dari manusia. Perluasan pemukiman, perladangan liar, perambahan hutan dan kehadiran manusia berpotensi menimbulkan resiko penyakit baru dan menurunnya kualitas habitat. Badak jawa juga menghadapi ancaman yang paling besar yaitu diburu oleh manusia untuk diambil culanya. Ancaman terbesar ini disebabkan oleh berkembangnya anggapan bahwa cula badak mempunyai khasiat dalam pengobatan tradisional Cina. Selain itu, sebagai satwa yang memiliki sebaran terbatas, potensi terjadinya inbreeding menjadi semakin besar, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas genetik badak.
Ilmu konservasi biologi mempelajari individu dan populasi yang sudah terpengaruh oleh kerusakan habitat, eksploitasi, dan perubahan lingkungan. Informasi ini digunakan untuk membuat suatu keputusan yang dapat mempertahankan keberadaan suatu spesies di alam. Sudah lebih dari satu dekade ini, studi genetik digunakan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dalam pengambilan keputusan tersebut. Dengan studi genetik, maka informasi tentang keragaman antar individu di dalam dan antar populasi, terutama pada spesies-spesies yang terancam punah dapat diketahui. Perkembangan teknik molekuler sekarang ini seperti penemuan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction) yang mampu mengamplifikasi untai DNA hingga mencapai konsentrasi tertentu, penggunaan untai DNA lestari (conserved) sebagai penanda dalam proses PCR, penemuan lokus mikrosatelit yang hipervariable, dan penemuan metode sekuensing DNA, telah menyebabkan ilmu genetik molekuler mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam studi biologi suatu populasi. Terobosan-terobosan ini bersamaan dengan berkembangnya teknik pemodelan matematika melalui program-program komputer, telah mempermudah para peneliti untuk mendapatkan data genetik suatu populasi yang sangat berguna dalam merancang program konservasi suatu spesies tertentu.

ekomol 2
Peranan penanda DNA dalam konservasi genetik adalah Analisis keragaman genetik pada level DNA akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda dibandingkan dengan analisis yang dilakukan pada level protein karena informasi yang terdapat pada sekuens DNA jauh lebih banyak daripada informasi yang terdapat pada sekuens protein. Beberapa penanda DNA telah digunakan dalam analisis genetik suatu populasi yaitu DNA mitokondria, lokus Major Histocompatibility Complex (MHC), Single Nucleotida Polymorphism (SNP), dan mikrosatelit pada kromosom Y yang diperoleh secara biparental. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih penanda DNA dalam analisis keragaman genetik suatu populasi adalah bahwa polimorfisme yang terdapat dalam penanda DNA bersifat netral dan keragaman genomik suatu populasi dapat diwakili hanya dengan penggunaan sejumlah lokus bebas. Dalam pemilihan penanda DNA harus disesuaikan dengan tujuan analisis yang ingin dicapai. Untuk analisis keragaman genetik dan struktur populasi, maka marker DNA yang umum digunakan lebih dari satu dekade terakhir adalah mikrosatelit karena sifatnya yang polimorfik dan kodominan. Mikrosatelit dapat digunakan untuk sejumlah analisa molekuler seperti pemetaan genetik, linkage analysis dalam kaitannya dengan gen penyebab penyakit tertentu, dan sejumlah analisis genetik populasi. Dalam analisis genetik populasi, keragaman lokus mikrosatelit telah digunakan untuk mengetahui keberadaan hibridasi antar spesies. Perbandingan derajat keragaman mikrosatelit antar spesies dan populasi juga berguna dalam penilaian keragaman genetik secara keseluruhan. Mikrosatelit juga dapat digunakan untuk menduga ukuran populasi, derajat substruktur populasi termasuk jumlah migrasi antar subpopulasi serta hubungan genetik di antara subpopulasi yang berbeda. Selain itu, mikrosatelit juga dapat digunakan dalam analisis silsilah dan kekerabatan serta sejarah populasi. Data yang diperoleh dari analisa genetik populasi inilah yang kemudian digunakan sebagai landasan untuk merancang program konservasi terhadap suatu spesies tertentu terutama bagi spesies-spesies yang terancam punah.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php