Richard Kion

Kasuari Si Burung Tak Bersayap Yang Agresif dari Papua

Posted: September 9th 2014

kj

Burung kasuari gelambir ganda (Casuarius casuarius Linn 1758) adalah salah satu jenis satwa burung yang dapat dijumpai di kawasan hutan Papua. Burung jenis ini hidup di lantai hutan untuk mencari makan maupun beraktifitas lainnya. Keberadaan satwa ini selalu menjadi incaran para pemburu untuk diambil telur, daging maupun bulunya sebagai pelengkap aksesoris pakaian adat. Tidak semua suku yang ada di Papua memanfaatkan burung sebagai pemenuhan kebutuhan protein hewani maupun sebagai pelengkap aseksoris pakaian adat.

Burung Kasuari mempunyai ukuran tubuh yang berukuran sangat besar, kecuali Kasuari Kerdil (Casuarius bennetti) yang ukuran tubuhnya lebih kecil. Burung Kasuari tidak dapat terbang. Burung kasuari dewasa mempunyai tinggi mencapai 170 cm, dan memiliki bulu berwarna hitam yang keras dan kaku. Di atas kepalanya Kasuari memiliki tanduk yang tinggi berwarna kecokelatan. burung kasuari merupakan kelompok burung pemakan buah-buahan. Burung betina serupa dengan burung jantan, dan  pada saat pengeraman telur dilakukan oleh kasuari jantan.

bbbbbbbbbbbbbb

penyerangan yang dilakukan burung kasuari yang merasa terganggu

Kaki burung Kasuari sangat panjang dan kuat. Kaki ini menjadi senjata utama burung langka dan dilindungi ini. Kaki burung Kasuari mampu menendang dan merobohkan musuh-musuhnya, termasuk manusia, hanya dengan sekali tendangan. Mungkin karena tendangan dan agresifitasnya ini tidak berlebihan jika kemudian The Guinness Book of Recordsmenganugerahinya sebagai burung paling berbahaya di dunia.

Pada Kasuari Gelambir Ganda terdapat dua buah gelambir berwarna merah pada lehernya dengan kulit leher berwarna biru. Sedangkan pada Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius unappendiculatus), sesuai namanya hanya mempunyai satu gelambir.

Kasuari merupakan burung endemik yang hanya hidup di pulau Papua dan sekitarnya, kecuali Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius) yang dapat juga ditemukan di benua Australia bagian timur laut. Dalam bahasa Inggris, Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius) disebut (Southern Cassowary), Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius unappendiculatus) disebut (Northern Cassowary) dan Kasuari Kerdil (Casuarius bennetti) disebut sebagai (Dwarf Cassowary).

 

kasuari gelambir tunggal

kasuari gelambir tunggal

Burung Kasuari gelambir ganda

Burung Kasuari gelambir ganda

foto kasuari

kasuari kerdil

 

Shanaz dan Rudyanto (1995) mengatakan bahwa burung kasuari merupakan salah satu jenis burung yang rentan kepunahan karena selalu diburu untuk diambil bagian-bagian tubuhnya. Hal ini dipercepat lagi dengan rusaknya habitat alami, sebagai dampak dari pembalakan liar, kebakaran hutan, bencana alam dan konversi
hutan menjadi areal untuk pemanfaatan lain seperti perkebunan, pertambangan, transmigrasi dan pemukiman penduduk. Nandika (2005) mengatakan bahwa laju perusakan hutan di Indonesia dalam kurun waktu 25 tahun terakhir mencapai 0,9 juta hektar pertahun, sementara Dahliawati (2010) menuliskan, program inventarisasi hutan Nasional pada Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa perusakan hutan yang terjadi rata-rata sebesar 0,8 juta hektar setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2004 laju kerusakan hutan tercatat mencapai 3,6 juta hektar. Dengan melihat kenyataan ini maka perlu dilakukan upaya-upaya konservasi bagi kehidupan satwa yang ada didalamnya. Bentuk kegiatan konservasi yang dapat dilakukan salah satunya melalui kegiatan penangkaran, yaitu suatu kegiatan pengembang-biakan satwa di luar habitat aslinya (eksitu). Keberhasilan kegiatan penangkaran
dipengaruhi oleh beberapa aspek, antara lain bentuk kandang, kesehatan satwa dan pemberian jenis pakan.

Populasi burung Kasuari tidak diketahui dengan pasti namun diyakini dari hari ke hari semakin mengalami penurunan. Karena itu IUCN Redlist memasukkan burung Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius) dan Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius unappendiculatus) dalam status konservasi Vulnerable (Rentan) sejak tahun 1994. Sedang Kasuari Kerdil (Casuarius bennetti) diberikan status konservasi Near Threatened (Hampir terancam)

telur

telur burung kasuari

anakan kasuari

anak burung kasuari

Reverensi

Dahliawati. S. 2010. 1,3 juta hektar hutan di Indonesia rusak. www.rribandarlampung.co.id. Diakses tanggal 8                                 september 2014

http://www.iucnredlist.org Diakses tanggal 8 september 2014

Nandika, D. 2005. Hutan bagi ketahanan nasional. Cetakan pertama Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Shanaz, J. P. Jepson dan Rudyanto. 1995. Burung-burung terancam punah di Indonesia. PHPA Birdlife                                          Internasional Indonesia Programme. Bogor.


9 responses to “Kasuari Si Burung Tak Bersayap Yang Agresif dari Papua”

  1. ronalsimaremare says:

    sangat menarik bung infonya, saya jadi tau kalau burung kasuari ini endemik di papua.
    jujur bung saya belum pernah melihat burung kasuari secara lansung, tapi menurut artikel ini lumayan agreif juga yaaa si kasuari ini.
    ini bisa menjadi tugas kita semua untuk melestarikan satwa yang hampir punah ini, sangat di sayangkan kalau kasuari hanya tinggal nama dan gambar saja nantinya, jangan sampai sama kasusnya dengan dinosaurus.
    bukan hanya kasuari bung yang kehilangan habitatnya satwa lain juga banyak yang merajalela akibat kehilangan tempat tinggal. pemerintah seharusnya peduli dengan masalah ini, bukan begitu bung ical??????
    SALAM LESTARI….

  2. yunicefemilia says:

    Info yang menarik 🙂
    Aku baru tau ternyata ada burung yang tak bersayap. Di atas kepalanya Kasuari memiliki tanduk yang tinggi berwarna kecokelatan, nah aku mau nanya apakah fungsi dari tanduk tersebut? apakah tanduk tersebut untuk perlindungan dari musuhnya?

  3. leonardo says:

    Sangat disayangkan hewan seindah ini dibunuh hanya untuk memuaskan keinginan manusia, dan harus kehilangan habitat mereka karena terjadinya perusakan hutan. Semoga kita masing-masing tergerak untuk selalu menjaga lingkungan kita. Informasi yang sangat bermanfaat.

  4. agnes9 says:

    informasi yang sangat menarik untuk dibaca 😀
    namun, apakah ada tindakan dari pemerintah sebagai bentuk ketegasan terhadap perlindungan burung kasuari?

  5. elviena says:

    sangat disayangkan burung cantik ini jumlahnya sudah tidak banyak lagi. semoga penduduk setempat berhebti memburu burung cantik ini untuk dikonsumsi maupun digunakan sebagai aksesoris. semoga pemerintah dan masyarakat sama-sama memiliki kesadaran yang tinggi dalam upaya konservasi burung cantik ini

  6. alanpeter says:

    Menurut anda baik apa buruk apabila kasuari ini dijinakan dan tidak bisa menyerang manusia sama sekali sama sekali ? Soalnya di tempat saya ada kasuari yang jinak, dan tidak seperti kasuari lainnya.

    Visit punya saya : http://blogs.uajy.ac.id/alanpeter/2014/09/08/cendrawasih-merah-antara-kultur-eksploitasi-dan-konservasi/

  7. franstheowiranata says:

    akibat keserakahan manusia mengakibatkan kepunahan burung ini harusnya pembalakan liar, kebakaran hutan serta perkebunan, pertambangan, transmigrasi dan pemukiman penduduk bisa ditekan dan dipantau serta harus ada peraturan yang tegas. jangan sampai spesies ini hanya menjadi cerita.. ayoo kita jaga..

  8. agungprayogo says:

    terima kasih infonya, sangat bermanfaat..forza 🙂

  9. Florencia Grace Ferdiana says:

    wah sayang sekali ya jika burung cantik yang agresif ini punah, 🙁 apalagi pernah masuk rekor dunia. tentunya suatu kebanggan jika Indonesia merupakan habitat asalnya, dan seharusnya kita benar-benar melestarikannya. apakah ada tempat konservasi burung ini di daerah asalnya ? atau mungkin di daerah lainnya? karena mungkin diartikel ini belum dijelaskan dengan lengkap 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php