karenninabrata

Timah: Persebaran, Manfaat, dan Permasalahannya di Indonesia

Posted: February 27th 2019

Timah merupakan jenis logam berwarna putih keperakan dan tingkat kekerasan rendah. Sifat timah yaitu memiliki konduktivitas terhadap panas dan listrik yang tinggi. Terdapat 2 jenis timah di Indonesia yaitu timah putih dan timah hitam. Pada tahun 2014, produksi timah di Indonesia mencapai 84.000 m3 ton dan memberi kontribusi sekitar 30% dari total produksi timah duna. Daerah yang menjadi tempat produksi timah di Indonesia antara lain pulau Karimun, Kuodur, Singkep, sebagian daratan Sumtera, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau hingga bagian barat pulau Kalimantan. Daerah tersebut dikenal dengan sebutan “The Indonesian Tin Belt” (US Geological Survey, 2015).

Provinsi Bangka Belitung menjadi sumber utama produksi timah di Indonesia dengan mendominasi 90% (Haryadi dkk., 2010). Perusahaan dengan produksi timah terbesar di Indonesia dimiliki oleh PT. Timah dengan wilayah penambangan mencapai 92% sedangkan 8% wilayah lainnya dimiliki oleh pihak swasta (PT. Timah, 2015). Wilayah persebaran produksi timah di Indonesia dapat dilihat pada gambar 1 dan total produksi timah per tahun di Indonesia pada Gambar 2.

Gambar 1. Wilayah Persebaran Produksi Timah di Indonesia (PT. Timah, 2011).


Gambar 2. Produksi Timah di Indonesia (USGS dan LME, 2015).

Menurut ITRI (2015), timah memiliki sifat yang fleksibel sehingga mudah dibentuk menjadi berbagai macam barang. Sifat konduktivitasnya yang baik menyebabkan timah sering digunakan dalam industri elektronik dan pembangkit listrik. Produksi timah sebesar 50% lebih banyak dimanfaatkan untuk pembuatan solder, 15,5% sebagai bahan kimia dan 14,7% sebagai bahan tinplate. Pemanfaatan timah di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Pemanfaatan Timah di Indonesia (ITRI, 2015).

Terdapat beberapa manfaat timah yaitu :

  1. Bahan pelapis baja, pembuatan suku cadang atau komponen pada industri otomotif dan listrik.
  2. Bahan pengemas kemasan pada obat dan makanan seperti bahan pelaps kaleng. Timah aman untuk digunakan karena sifatnya yang tahan terhadap udara,
  3. Pelat timah sebagai pelindung kontainer dan saluran air pada atap rumah karena memiliki sifat anti korosi
  4. Bahan pembuat solder
  5. Bahan untuk dipadukan dengan logam lain missalnya baja. Tujuannya agar bahan campuran menjadi lebih ringan dan tahan terhadap karat.
  6. Penghantar daya magnet bila dipadukan dengan mobium.
  7. Timah oksida hasil pembakaran dapat dimanfaatkan sebagai sensor gas pada industri keramik.
  8. Bahan baku industri kaca dan dihasilkan kualitas kaca yang padat, tidak mudah pecah, serta tahan tekanan.
  9. Bahan pembuatan perunggu bila timah dicampurkan dengan tembaga.
  10. Bahan pembuatan gigi palsu dengan pencampuran antara timah dan perak.
  11. Pembuatan zirconium yang digunakan dalam pembangkit listrik tenaga nuklir.
  12. Bahan pembuat pipa terutama pada pipa industri, saluran minyak, dan gas.
  13. Timah murni untuk dekorasi hiasan seperti cermin dan tempat lilin.

Meningkatnya produksi timah juga ikut meningkatnya luas persebaran wilayah yang rusak akibat penambangan timah. Hal tersebut dikarenakan tingginya aktivitas tambang inkonvensional oleh masyarakat sekitar dan perusahaan swasta. Teknologi, informasi, dan pengalaman yang rendah memperparah kerusakan lingkungan. Salah satunya terjadi di provinsi Bangka Belitung sebagai pusat utama produksi timah.

Perairan umum di Pulau Bangka sangat rentan tercemar timah hitam akibat proses pengambilan, pencucian, dan pengolahan. Sungai-sungai di Pulau Bangka mengalami peralihan fungsi menjadi penampung limbah hasil penambangan timah. Efeknya ialah mengecilnya kemiringan dasar sungai akibat peningkatan jumlah endapan pasir dan material lain sehingga daya tampung sungai berkurang. Penambangan timah di sepanjang hulu sungai dan pantai pulau Bangka menyebabkan terjadinya sedimentasi dan pendalaman pada beberapa bagian akibat pengambilan tanah pada dasar laut.

Sisa air hasil pencucian timah dari tanah yang melekat menyebabkan tingkat kesuburan perairan meningkat. Hal tersebut dikarenakan adanya humus dari tanah yang ikut larut dalam air sisa pencucian. Pembuangan air beserta humus ke sungai inilah menyebabkan ledakan pertumbuhan fitoplankton dan mikroba. Akibatnya, terjadi peningkatan total padatan tersuspensi, biological oxygen deman (BOD), chemical oxygen deman (COD), unsur C, N, dan P. Apabila berlangsung dalam jangka waktu panjang secara terus menerus menyebabkan kematian makhluk hidup di perairan, ketidakseimbangan ekosistem, dan menurunnya cadangan air bersih.

Salah satu upaya mengatasi masalah tersebut ialah dibentuknya undang-undang terkait izin usaha pertambangan oleh pemerintah. Contnhnya ialah UU No. 4 tahun 2009 pasal 1 terkait izin pelaksanaan usaha pertambangan dan pasal 36 terkait izin usaha pertambangan eksplorasi serta operasi produksi. Penerapan kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi usaha illegal, membantu pendataan perusahaan kecil sebagai penambang timah, sehingga kerusakan lingkungan dapat diturunkan. Perlu adanya koordinasi antara masyarakat dan pemerintah untuk membantu memantau proses pelaksanaan tambang, upaya rehabilitasi lingkungan darat dan perairan.

DAFTAR PUSTAKA

Haryadi, H., Miswanto, A., Mandalawanto Y. Supriatna, E., dan Daranin, E. A. 2010. Analisis Perkembangan Pengusahaan Mineral dan Batubara. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta.

Industrial Technology Research Institute (ITRI). 2015. World Tin Use. https://www.itri.co.uk/information/tin-explorers/itri-staff-market-tin-use-surveypresentation-itri-2015- london-tin-seminar. Diakses 26 Februari 2019.

LME. 2015. LME Tin. http://www.lme.com/metals/non-ferrous/tin/. Diakses 26 Februari 2019.

Prianto, E., dan Husnah. 2009. Penambangan timah inkonvensional: dampaknya terhadap kerusakan biodiversitas perairan umum di pulau Bangka. Jurnal Bawal Riset Perikanan Perairan 2 (1) : 193-198.

PT Timah (Persero) Tbk. 2011. Laporan Tahunan Terpadu PT Timah (Persero) Tbk 2011 Go Offshore, Go Deeper, Jakarta.

Salim, Z., dan Munadi, E. 2016. Info Komoditi Timah. AMP Press, Jakarta.

USGS. 2015. Tin Statistics and Information. Report of Mineral Information United States Geological Survey (USGS). http://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/tin/. Diakses 26 Februari 2019.


8 responses to “Timah: Persebaran, Manfaat, dan Permasalahannya di Indonesia”

  1. novalinda08 says:

    Konten yang ada sangat lengkap dan menarik, kira2 apa upaya sederhana yg mampu dilakukan untuk permasalahan yang ada ya ? Terimakasih

    • renkarenninabrata says:

      Untuk upaya bisa mengajak masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan dan memberi informasi terkait dampak negatif pertambangan timah. Masyarakat bisa diajak untuk ikut memantau langsung di lapangan sekaligus memberikan pengetahuan terkait pengolahan air cucian limbah. Misal penggunaan tanaman tertentu untuk mengurangi senyawa kimia berbahaya yang lebih aman dan bermanfaat.

  2. Angga_Yorra says:

    Wah informasi sangat detail dan menarik, take action

  3. Angela Mericy says:

    Informasinya begitu lengkap termasuk dengan data2 yang dimuat. Terima kasih

  4. Zefanya Agatha Chandra says:

    blog ini sangat mendidik dan informatif

  5. Rizki Aji Wiradana says:

    Wah informasinya sangat bagus dan menarik. Kalau boleh kasih saran, mungkin peta persebaran di Indonesia bisa dibuat berwarna agar lebih mudah dipahami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php