BIOLOGY

Pelestarian Trenggiling (Manis javanica)

Posted: December 3rd 2015

Taukah anda ? Hewan yang berasal dari Jawa yang biasa disebut Trenggiling atau Manis javanica adalah mamalia bersisik yang dilindungi di Indonesia dengan kepandaian yang mampu menggulungkan badannya seperti bola. Secara fisik, trenggiling memiliki kaki pendek, kepala yang berukuran panjang, sisik yang tebal yang menutupi tubuhnya, panjang tubuh mencapai 150 cm, dan berat mencapai 5-7 kg. Trenggiling juga memiliki ekor. Sisik yang keras yang berada di tubuh trenggiling ini membantu trenggiling untuk melindungi diri dari musuh. Selain itu, kemampuan menggulungkan badanya menjadi salah satu cara dalam melindungi diri dari musuh.

Klasifikasi Trenggiling adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Mamalia

Ordo                : Pholidota

Famili              : Manidae

Genus              : Manis

Spesies            : Manis javanica

Trenggiling ketika menggulung

Gambar 1. Trenggiling ketika menggulungkan badannya

gambar-trenggiling-dan-harga-daging-sisiknya-yang-mahal

Gambar 2. Trenggiling ketika tidak menggulungkan badannya

Trenggiling hidup di daerah hutan hujan tropis dataran rendah. Di Indonesa, trenggiling biasa ditemukan di Jawa namun kini sudah menyebar di pulau Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Keberadaan trenggiling memang sudah menyebar dari pulau Jawa ke pulau Kalimantan dan Sumatra, namun keberadaan trenggiling kini sudah benar-benar terancam punah.

Malayan-pangolin-natural-range-pmo3fl

Gambar 3. Penyebaran Trenggiling di Asia Tenggara

Menurut IUCN Red List (2014), Manis javanica atau biasa disebut dengan trenggiling berstatus critically endangered atau kritis terancam punah di bumi. Di Indonesia sendiri, trengiling salah satu spesies dilindungi, namun perburuan liar satwa ini terus meningkat. Perburuan liar yang terus meningkat mengakibatkan populasi trenggiling di alam semakin menurun dan terancam punah.

Suhendra (2012), menyatakan bahwa kementrian kehutanan mencatat terjadi maraknya penyelundapan binatang trenggiling ke luar negri dalam 2 tahun terakhir (2011-2012). Pada tahun 2011, petugas bea cukai Bandara Soekarno Hatta berhasil menggagalkan pengiriman 500 kg trengggiling ke Singapura. Pada tahun 2012, petugas Balai Karantina kelas II Cilogen-Banten menemukan truk box Termo King yang berisi trenggiling 4,1 ribu dan 31,36 sisik. Hal ini menyatakan bahwa, perburuan liar karena permintaan ekspor adalah salah satu penyebab penurunan populasi trenggiling.

114603_tringgiling4

Gambar 4. Penyelundupan Trenggiling

BBC (2015), menyatakan bahwa penyelundupan trenggiling masih marak terjadi pada tahun 2015. Di Surabaya, 1,3 ton atau 1,390 kg trenggiling yang dibekukan dan disamarkan menjadi ikan siap diekspor, namun hal tersebut digagalkan oleh petugas bandara Surabaya. Trenggiling tersebut rencana akan diekspor ke Singapura.

150709155229_pangolin_surabaya_640x360_afp

Gambar 5. Trenggiling dalam keadaan beku dan disamarkan menjadi ikan

Salah satu penyebab turunnya populasi trenggiling adalah perburuan liar trenggiling. Perburuan liar trenggiling dilakukan karena nilai ekonomis trenggiling yang tinggi, sehingga jika dijual ke luar negri memberikan keuntungan yang tinggi. Pada tahun 2012, daging trenggiling di Indonesia mencai Rp. 250.000,- per kilogram dan di pasar Internasional mencapai Rp. 1.000.000,-. Oleh karena itu, perburuan liar hewan ini terus meningkat, karena masyarakat terus memenuhi permintaan ekspor dengan melakukan perburuan ilegal di alam sehingga membuat populasi trenggiling terus menurun.

Kepunahan trenggiling pada umumnya juga disebabkan oleh tingkah laku manusia yang kurang bertanggung jawab. Masyarakat yang kurang bertanggungjawab menjadikan hutan yang awalnya sebagai tempat tinggal atau habitat trenggiling berubah menjadi lahan perkebunan untuk memenuhi kebutuhan primer dari manusia, sehingga tempat tinggal trenggilingpun hampir tidak ada lagi. Hal ini membuat trenggiling mati karena kurangnya habitat atau tempat tinggal. Tingkah laku beberapa masyarakat yang melakukan perburuan liar trenggiling untuk kepentingan pribadi juga membuat populasi trenggiling turun drastis.

Dalam upaya pelestarian trenggiling, perlu dilakukan action untuk mengurangi penurunan populasi trenggiling sehinga trenggiling terus berkembang-biak dan tidak punah. Salah satu action adalah dengan menyadarkan masyarakat yang terus menerus melakukan perburuan liar bahwa trenggiling ialah hewan mamalia yang memiliki hak untuk hidup dan terus berkembang-biak. Jika trenggiling terus dijual-belikan, maka pemerintahpun juga akan mengalami kerugian. Oleh karena itu, perlu adanya hukuman tegas dari pemerintah untuk masyarakat yang melakukan perburuan ilegal.

Action dalam mengurangi penurunan populasi trenggiling juga dapat dilakukan dengan memberikan saran kepada lembaga konservasi untuk melakukan penangkaran trenggiling. Penangkaran trenggiling dilakukan dengan memberikan hidup layak kepada trenggiling dan mengkondisikan kehidupan trenggiling seperti kehidupan alami. Konservasi secara ex-situ dapat diterapkan pada hewan trenggiling ini agar trenggiling mampu berkembang biak dan tidak punah.

 

REFRENSI

 

BBC. 2015. #TrenSosil Penyelundupan Trenggiling Beku Picu Kemarahan di Medsos. http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/07/150709_trensosial_trenggiling_beku. Diakses pada 3 Desember 2015.

IUCN Red List. 2014. Manis javanica. http://www.iucnredlist.org/details/12763/0. Diakses pada 3 Desember 2015.

Sawatiri, R., Bismark, M., dan Takandjandji, M. 2012. Perilaku Trenggiling (Manis Javanica Desmarest, 1822) Di Penangkaran Purwodadi, Deli Serdang, Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam 9 (3) : 285 – 297.

Suhendra. 2012. Kasus Penyelundupan Ekspor Daging Trenggiling Kian Marak. http://finance.detik.com/read/2012/06/20/114603/1945970/4/kasus-penyelundupan-ekspor-daging-trenggiling-kian-marak. Diakses pada 3 Desember 2015.


12 responses to “Pelestarian Trenggiling (Manis javanica)”

  1. Armae Dianrevy says:

    Trenggiling merupakan salah satu hewan yang memiliki keunikan, dilihat dari bentuk tubuhnya dan kulitnya yang banyak menarik. Saya sependat bahwa populasi hewan trenggiling ini semakin menurun, wajar saja semakin banyak jumlah penduduk semakin besar wilayah yang digunakan. Fragmentasi hutan dan pembukaan lahan tidak sesuai dengan resortasinya. Saya sangat sedih melihat gambar 4 pada artikel anda, saat ini saja masih banyak masyarakt yang masih belum mengerti akibat penyuluhan yang kurang. Perburuan trenggiling masih terjadi hingga sekarang, kulit trenggiling menjadi daya tarik dan memiliki nlai jual tinggi.

  2. Armae Dianrevy says:

    Terlepas dari itu semua, semoga pelestarian trenggiling ini membanti kita semua untuk lebih menyadari dan meningkatkan kesadaran kita. Artikel yang sangat menarik dan semoga konservasi trenggiling ini tidak hanya perhatian masyarakat lokal, tetapi seluruh masyarakat dan pemerintah 😀

  3. fernandopn says:

    Upaya untuk menyadarkan masyarakat untuk tidak melakukan perburuan liar merupakan salah satu tantangan besar bagi kita semua. Terkadang kesadaran untuk hal ini dikalahkan dengan keegoisan masing-masing yang disebabkan karena faktor kepuasan dan ekonomi. Upaya pengawasan menjadi salah satu aspek penting bagi kita sebagai masyarakat yang peduli terhadap lingkungan untuk kita dapat melakukan fungsi pengawasan terhadap perburuan dan perdagangan satwa liar yang dilindungi. Hal ini sangat membantu untuk membantu upaya konservasi terhadap satwa yang dilinungi seperti trenggiling ini.

  4. renitanurhayati says:

    Terimakasih komentarny untuk nando dan armae. memang upaya menyadarkan masyarakat adalah tantangan yang besar, namun bagaimanapun juga untuk melakukan konservasi ataupun pelestarian selanjutnya harus ada kerinduan dari diri kita masing-masing kalau sungguh berharganya trenggiling tersebut. kesadaran dari kita akan mendukung kita untuk terus melestarikan trenggiling ataupun hewan lainnya.

  5. Stephanie Halimawan says:

    Sangatlah disayangkan Trenggiling mengalami kepunahan dikarenakan penyelundupan…. Semoga lembaga konservasi dan pemerintah terus melirik kepunahan Trenggiling sehingga penyelundupan dapat dicegah dan kepunahan trenggiling dapat teratasi… 😀

  6. ruthangelina says:

    Action plan yang sangat menarik! Saya juga setuju, menyadarkan masyarakat adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan. Perlu adanya komunikasi yang baik untuk itu. Kita harus sabar melakukan itu semua agar upaya konservasi ini segera terwujud. Semangat! 🙂

  7. rinda anggita nugraheni says:

    action yg saudara buat sangat memberikan inspirasi, semoga khususnya kaum muda semakin sadar khususnya akan keberadaan satwa-satwa yang hampir punah keberadaannya. 🙂

  8. etti14 says:

    tringgiling merupakan hewan yang unik dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sayang jika hewan ini hampir punah karena keserakahan beberapa orang, semoga action plan yang renita buat dapat menyadarkan masyarkat akan pentingnya menjaga kelestarian hewan ini, semangat !

  9. sylviemonica says:

    sungguh miris dan sedih melihat trenggiling tersebut diselundupkan demi untuk penjualan ilegal :(. semoga konservasi ex-situ dapat terlaksana pada trenggiling ini sehingga trenggiling dapat dijaga kelestariannya.

  10. Monica Tri Kumala Dewi says:

    Trenggiling mempunyai keunikan tersendiri pada bagian kulit yang memiliki tekstur seperti kulit salak, sayang apabila saat ini trenggiling mempunyai status endangered dalam IUCN karena perburuan liar. Semoga action yang anda buat benar-benar dapat menyadarkan masyarakat, karena hal ini dapat terlaksana apabila kesadaran mereka muncul dan hati mereka tergerak.

  11. Naomi Ronsumbre says:

    PRP yang akan dilakukan ini sgt bagus Dan memotivasi smoga dgn dilakukan hal ini for mngurangi kepunahan Dan melestarikan spesies Jenis ini 🙂

  12. zuraekanaomi says:

    Trenggiling merupakan hewan yang sangat khas sehingga perlu dijaga kelestariannya. dengan adanya blog ini semoga dapat membantu menyadarkan masyarakat untuk menjaga kelestariannya agar tidak punah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php