Rendi

Kodok Merah (Bleeding toad)

Posted: September 5th 2014

 

Di Pulau Jawa dikenal dua jenis kodok marga Leptophryne dari anak suku Adenominae, suku Bufonidae, yaitu L. borbonica dan L. cruentata. Jenis L. cruentata (Kodok Merah) hanya diketahui endemik di Jawa Barat (Iskandar, 1998). Selama ini, lokasi penyebaran Kodok Merah diketahui di dalam kawasan dan sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yaitu air terjun Cibeureum, Lebak Saar, Rawa Denok, Ciapus, Salabintana dan Curug Luhur. Pada 14 Agustus 2003, jenis Kodok Merah ditemukan di daerah Cikeris pada ket
inggian sekitar 1500 meter dari permukaan laut (Kurniati, 2003).

Kodok Merah (Leptophryne cruentata) berukuran kecil dan ramping. Ciri khasnya adalah wana kulitnya yang dipenuhi bintik-bintik berwarna merah darah. Kulit katak merah berwarna hitam dengan bintik-bintik merah atau kuning atau putih marmer. Kodok ini menyukai daerah dekat air yang mengalir deras di daerah berketinggianBleeding-toad-dorsal-profile antara 1.000 – 2.000 meter dpl.

Habitatnya hanya diperkirakan hanya terdapat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Pada tahun 1976 diperkirakan populasi katak ini masih sangat melimpah. Pada tahun 1987 dan paska meletusnya gunung Galunggung populasinya mulai jarang ditemui. Saking langkanya pada periode 1990 hingga 2003 hanya dapat ditemukan satu ekor Kodok Merah di sekitar air terjun Cibeureum.

Karena daerah sebarannya yang sangat sempit (endemik lokal) dan populasinya yang menurun drastis IUCN Redlist memasukkannya dalam daftar spesies Critically Endangered (Kritis). Sayangnya, meskipun populasinya sangat sedikit dan sebarannya yang sangat sempit,hewan langka, hewan endemik, sekaligus hewan unik ini tidak termasuk dalam satwa yang dilindungi di Indonesia.

Bleeding-toadPengrusakan hutan di daerah Cikeris berupa penebangan pohon yang dilakukan penduduk sekitar taman nasional untuk kebutuhan akan papan dan kayu bakar, menjadi salah satu penyebab penurunan populasi Kodok Merah. Karena ketergantungan Kodok merah pada habitat hutan primer yang tidak dirusak oleh aktivitas manusia. Menurut Gardner (2001), salah satu penyebab utama menurunnya populasi kodok di dunia akhir-akhir ini adalah pengrusakan habitat alami oleh aktivitas manusia.

Kodok Merah mempunyai penyebaran yang sangat sempit, maka tindakan konservasi tidak dapat ditunda lagi. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan meminimalkan gangguan terhadap habitatnya di Taman Nasional Gunung Halimun. Marilah kita mulai untuk menyadari dan melestarikan keanekaragaman yang terdapat pada negeri Indonesia ini.

Video 1. Leptophryne cruentata

 

Daftar Pustaka

  • amphibiaweb.org/cgi/amphib_query?where-genus=Leptophryne&where-species=cruentata (diakses 5 September 2014)
  • Gardner, T. 2001. Declining amphibian populations: a global phenomenon in conservation biology. Animal Biodiversity and Conservation, 24(2) : 25-44
  • Iskandar, D.T. 1998. Amfibian Jawa dan Bali .Puslitbang Biologi-LIPI. Bogor.
  • Kurniati, Hellen. 2003. Kodok Merah Leptophryne cruentata Ditemukan Di Taman Nasional Gunung Halimun – Jawa Barat. Jurnal Fauna Indonesia, 5(2) : 71-74

 


7 responses to “Kodok Merah (Bleeding toad)”

  1. fentywaty says:

    Apakah katak jenis ini termasuk katak yang berbahaya?? Dan, predator alami dari katak ini sendiri apa? Terima kasih.

  2. Elviena says:

    jika pada periode 1990 hingga 2003 hanya dapat ditemukan satu ekor Kodok Merah di sekitar air terjun Cibeureum dan habitatnya diperkirakan hanya terdapat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, apakah masih dimungkinkan ditemukkannya kodok merah tahun 2014 ini? dan apakah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak sendiri belum melakukan upaya konservasi selama ini?

  3. Inge says:

    Nice info’,,, Thx’ udah ngenalin aku ke satu lagi fauna endemik Indonesia yg baru aku tahu.
    Sangat serius sekali masalahnya saat habitat fauna endemik ada di sekitar gunung aktif, lebih miris lagi pas baca kalimat ini “Saking langkanya pada periode 1990 hingga 2003 hanya dapat ditemukan satu ekor Kodok Merah di sekitar air terjun Cibeureum”,,, penasaran juga gimana nasibnya 1 kodok itu. kalau memang tinggal 1 individu bagaimana dia bisa eksis di situ? apa sejauh ini penangkaran yang dilakukan telah berhasil?

  4. rendi says:

    karena kodok merah sudah keburu langkah sehingga belum banyak penelitian yang dilakukan terhadap spesies ini. kemudian kementrian kehutanan Indonesia juga sudah mulai memperhatikan upaya konservasi terhadap kodok merah dengan meresmikan pusat penelitian dan konservasi amphibi di TN Gunung Gede Pangrango pada tahun 2010(http://www.dephut.go.id/index.php/news/details/6561). pada tahun 2011-2012 di lakukan observasi oleh himpunan relawan volunteer panthera di kawasan TN gunung gede pangrango dan ditemukan 50 individu yang teramati (Media Publikasi dan Informasi Dunia Reptil dan Amfibi Volume VI No 1, Februari 2013).

  5. dennamesselia says:

    Wahh, sangat miris sekali setelah mengetahui kalau populasi dari kodok merah sudah sangat sedikit, sehingga statusnya kini ‘kritis’. Saya ingin menanyakan apakah selama penelitian-penelitian yang pernah dilakukan, penyebaran dari spesies ini hanya terdapat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak?

  6. Leni Budhi Alim says:

    sayang sekali, dengan penyebaran wilayahnya yang hanya di dapat ditemukan 2 wilayah, kawasan hutannya pun dirusak. Hal ini sungguh sangat memprihatikan bagi spesies yang unik seperti ini. Padahal dengan adanya kodok merah ini menjadi salah satu kebanggaan Indonesia karna mempunyainya, jika keberadaannya yang semakin lama berkurang sangat disayangkan sekali kalau generasi selanjutnya hanya dapat melihat dibalik buku saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php