'Logi Blog

Blasteran Lele-Patin

Posted: April 2nd 2016

Ceritanya sih bukan blasteran.. cuma mirip-mirip aja antara lele dan patin haha.

Tau kah kamu ikan tagih?Mungkin pernah ada yang tau tentang ikan ini kalau aku kenalkan dia dalam beberapa bahasa ya.

Dalam bahasa betawi ikan ini dipanggil ikan Bawon; Senggal atau Singgah dalam bahasan Sunda; Tagih atau Tageh dalam bahasa Jawa; Niken, Siken, Tiken atau Tiken Bato oleh masyarakat Kalimantan Tengah; Baung dalam bahasa Indonesia dan lain-lain.

Ikan ini mungkin tidak endemik di Bandung, Jawa Barat, tempat besarku dan tapi tersebar banyak di daerah asia tenggara (tepatnya Paparan Sunda)

Ikan tagih memiliki nama latin Bagrus nemurus dan masih termasuk dalam marga Hemibagrus. Ada 2 sinonim dari spesies ini yaitu Hemibagrus nemurus dan Mystus nemurus tapi, ikannya sama kok. Kaya gimana sih bentukkannya? Saya sebut ini campuran Patin dan Lele . Hehe. Tapi memang ikan ini masih kerabat dengan ikan Lele.

Makanannya sama dengan ikan lainnya yaitu memiliki sifat omnivore (pemakan segala). Secara umum ikan tagih terdistribusi di beberapa daerah atau negara di Asia yaitu: Mekong, Chao Phraya, Xe Bangfai basins, Malay Peninsula, Sumatera, Jawa dan Borneo. Ikan ini merupakan ikan perairan umum yang mempunyai nilai ekonomis penting, yang banyak dijumpai di daerah perairan Sumatera, Jawa dan Kalimantan. (Sumber Jurnal)

DAS citarum

Di Jawa barat, ikan ini dapat ditemukan di Sungai terpanjang di Jawa barat, Sungai Citarum. Tepatnya, ikan ini ditemukan di bagian tengah sungai (Perairan Waduk Jatiluhur dan Citara) dan hilir sungai (Bagian hilir di daerah Kerawang, Poncol-Rengeasdengklok).  Selain ikan tagih, masih terdapat banyak ikan yang ada di Sungai Citarum (tahun 2011), bisa dilihat di tabel berikut, ikan Tagih atau ikan baung terdapat di nomor 27.

tabel 1_1tabel 1_2tabel 1_3

(SUMBER)

Kandungan protein pada ikan ini cukup tinggi namun rendah lemak. Rasanya enak, gurih dan lezat melebihi rasa daging ikan patin, ikan lele atau ikan jambal air tawar. Sebenarnya ikan ini mampu bersaing dengan ikan-ikan ekonomis lainnya. Namun karena sulit didapat diluar daerah aslinya menjadikan tagih belum sepopuler ikan konsumsi jenis lainnya. Daging dari ikan tagih bias diolah emnajdi bakso, nugget ataupun abon karena teksturnya hamper sama seperti ikan Patin. Dijawa barat, ikan tagih banyak ditemukan di Rumah makan Rajamandalah, keramba jaring apung cirata cianjur dari hasil tangkap masyarakat sekitar, dll. (SUMBER)

tabel nutrisi

masakan

Widiiihhh ueeenyakk…

Sebelumnya produksi ikan tagih mengandalkan hasil tangkapan di alam. Selain jumlah dan ukurannya tidak menentu, terjadi penurunan kemampuan alam untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang semakin meningkat. Beberapa lembaga penenlitian perikanan dan perguruan tinggi negri berusaha memijahkan ikan tagih ini, karena merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi di Indonesia. Pada tahun 1998, BBPBAT Sukabumi berhasil melakukan pemijahan buatan ikan tagih.

Sayangnya ikan ini sudah mulai langka ditemukan di Citarum. Banyak hal yang mempengaruhi kelangkaan ini termasuk karena kualiatas airnya yang mulai memburuk. Walaupun memang tidak semua bagian dari Citarum kualiatasnya memburuk. Perubahan keadaan lingkungan suatu daerah akan sangat berpengaruh terhadap organisme yang hidup di sana. Bila karena sesuatu dan lain hal, keadaan lingkungan suatu daerah berubah menjadi ekstrim bagi kehidupan suatu spesies yang hidup di sana, maka organisme tersebut terpaksa bermigrasi ke daerah lain atau mati.

Dalam data IUCN Red List, ikan ini termasuk tipe Least Concern atau tidak begitu diperhatikan. Ini tandanya belum banyak penelitian seputar ikan ini.  Maka dari itu, survey yang komprehensif pada ikan tawar di perairan Jawa masih harus terus diselidiki kebenaran status biodiversitasnya.

Sayang sekali ya jika ikan khas ini mati bukan karena alami faktor alam tapi juga disebabkan oleh aktifitas manusia sendiri. Jadi, kita memang butuh mereka, namun kita juga harus menghormati mereka untuk tetap ada di sini.

Baiklah, sekian blogku kali ini ya teman-teman.. semoga dapat menambah pengetahuanmu. Terimakasih 😀


5 responses to “Blasteran Lele-Patin”

  1. Krisna Dewantara says:

    Baru tau ada ikan unik mirip lele ini, ditambah kandungan proteinnya cukup tinggi. Sepertinya ikan ini masih belum dibudidayakan dan cukup disayangkan dengan kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Padahal jika ikan ini dibudidayakan dan dipasarkan mungkin dapat menghindari penurunan populasinya dan membuat orang peduli dengan habitatnya di sungai citarum yang masih banyak menjadi tempat pembuangan limbah

  2. Gusti Ayu Putri Amelia says:

    Yah sayang sekali ikan ini mulai langka. Saya berharap pencemaran yg menyebabkan kualitas air memburuk dpt di atasi sehingga dpt menjadi tempat yg nyaman utk ikan2 yg hidup di sana. Skormu 80 ya

  3. monicadewi says:

    Sangat menarik, saya baru dengar nama ikan ini, tapi sayang ikan tagih sudah mulai langka semoga permasalahan yang dapat menyebabkan ikan ini menjadi langka dapat teratasi.
    Nilaimu 81 yaa

  4. Krisna Dewantara says:

    Nilai 80

  5. febriyantivera says:

    Iya di tempatku Kalimantan ikan ini dinamakan ikan baung. Kandungan nutrisi protein yang tinggi namun dengan lemak yang rendah menjadi alasan utama di burunya ikan ini dan disayangkan masih kurangnya usaha budidaya ikan tagih/baung ini. Skormu 80 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php