Pradhya Paramitha

Kura-kura moncong babi

Posted: September 9th 2014

Kura-kura moncong babi (Carettochelys insclupta).

Kura-kura moncong babi (Carettochelys insclupta) asli Papua, Irian Jaya diambang kepunahan. selain disebut kura-kura moncong babi (pig-nosed turtle), fauna ini disebut fly river turtlenew guinea plateless turtle, dan pitted-shell turtle.Fauna ini endemis dan eksotis. Hanya ada di Indonesia, Papua Niugini, dan sebagian Australia. (Kurakuraku.com)

kura-kura-moncong-babi-carettochelys-insclupta-_130401145126-535

Hewan air yang satu ini merupakan hewan asli Indonesia. Kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta), disebut juga fly river turtle, terdapat disungai-sungai di Papua, yaitu di daerah Danau Jamur hingga daerah Merauke, dan daerah utara Australia. Kura-kura ini merupakan kura-kura yang ‘Full Aquatic’, dimana hampir seluruh hidupnya dihabiskan di air, mereka baru akan pergi ke daratan hanya untuk bertelur.

Kura-kura ini mendapat julukan ‘Kepala Babi’ atau ‘Moncong Babi’ karena memiliki moncong yang menyerupai hidung babi. Tempurung (karapas) kura-kura ini lebih menyerupai kulit tebal dibandingkan dengan tempurung kura-kura lainnya, karena kura-kura ini memang lebih dekat dengan keluarga kura-kura yang bertempurung lunak (soft-shell), seperti labi-labi.Hal yang unik dari kura-kura ini adalah bahwa mereka memiliki kaki-kaki yang lebih menyerupai sirip renang, seperti pada penyu air laut, satu hal yang mendukung bahwa mereka lebih beradaptasi untuk kehidupan dalam air. ( Thebantenjournal)

Pada kura-kura ini, bagian tubuh sebelah atas, karapas (tempurung) dan kaki-kaki berwarna abu-abu gelap, sedangkan bagian tubuh sebelah bawah berwarna terang, hal tersebut merupakan kamuflase agar pemangsa sulit menemukan mereka. Kura-kura Moncong Babi dapat tubuh besar, mereka bisa mencapai berat 22,5 kg, dan panjang 56 cm. Walaupun demikian, sebagai hewan peliharaan biasanya sulit mencapai ukuran tersebut. (Kurakuraku.com)

kura-moncong-babi

th (1) th (2) th kura2-foto-3

Permasalahan yang dihadapi adalah ekploitasi besar-besaran dan penyelundupan illegal.

Eksploitasi  besar-besaran

Informasi dari para pemburu telur moncong babi ilegal pada tahun 2011, mereka panen telur di 1.327 sarang dengan rentang waktu pemanenan paling pendek 2 bulan dan paling lama 5 bulan 1 minggu.

pemanenan telur biasanya dilakukan pagi hari setelah labi-labi selesai bertelur. Namun, kini dengan banyaknya pemburu dari luar dan masyarakat lokal, pemanenan dilakukan dini hari. Tujuannya agar bisa mendapat telur lebih dulu. Pemanenan dilakukan mulai pukul 03.30 menggunakan senter sebagai penerang dan tugal (tongkat penusuk pasir) untuk mendeteksi sarang.

Melimpahnya jumlah sarang yang dapat dipanen saat ini membuat para pemburu dan masyarakat lokal berpikir bahwa pemanenan tidak akan memengaruhi kelestarian labi-labi moncong babi di alam. Dampaknya, pemanenan telur dilakukan tanpa memikirkan kelangsungan generasi labi-labi moncong babi di masa depan.

Padahal, kura-kura moncong babi perlu waktu 20 tahun untuk menjadi dewasa atau hampir sama dengan manusia. Bayang-bayang ke arah kepunahan sudah di depan mata. Penyebabnya, beberapa generasi hilang akibat tidak ada penerus yang berkembang di alam sebagai pengganti induk serta hilangnya induk akibat dikonsumsi setiap tahun. (Sains.kompas.com)

 

Kura-kura ini adalah jenis hewan yang dilindungi oleh UU Nomor 5 tahun 1990 dan PP No 7/1999.
Tindakan penyelundupan satwa langka itu adalah ilegal karena melanggar Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Serta Undang-undang Nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Selain itu, tidak sesuai dengan konvensi CITTES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa Liar Spesies Terancam.

Dalam daftar Konvensi Perdagangan Internasional terkait Spesies Terancam Punah dari Tanaman dan Hewan Liar (CITES) 12 Januari 2005, kura-kura dengan bentuk moncong seperti babi ini diklasifikasikan dalam Apendiks II. Artinya, keberadaan di alam tak terancam punah meski perdagangannya harus dikendalikan. (Theglobejornal).

Namun, di dalam perundangan konservasi Indonesia, kura- kura moncong babi (Carettochelys insculpta) termasuk satwa dilindungi. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, turunan dari Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, satwa ini tidak boleh dimanfaatkan kecuali untuk tujuan penelitian dan penangkaran.

Dengan status ini, pemanfaatan kura-kura moncong babi hanya bisa dari penangkaran. Tidak ada kuota pengambilan dari alam. Apalagi dalam Badan Konservasi Dunia (IUCN), kura-kura ini dimasukkan dalam kategori terancam punah (endangered). Artinya, pengambilan kura-kura ini dari alam merupakan bentuk pidana.

Perlunya upaya perlindungan, manajemen populasi serta habitat merupakan suatu kebutuhan mutlak bagi kelestarian hidup labi-labi moncong babi. Satwa unik dan memiliki nilai komersial ini perlu dilestarikan dan diatur pengelolaannya.Semoga labi-labi eksotik dari Papua ini nantinya tidak hanya dapat dilihat di akuarium kebun binatang, tetapi juga masih dapat ditemui oleh anak cucu kita di masa depan bergerak lincah dan bebas di alam. Keputusan yang diambil dengan pertimbangan dan evaluasi dari sejumlah pihak serta tindakan yang tepat diharapkan dapat menjadi solusi bagi kelestarian labi-labi moncong babi.

( National Geographic News, IUCN, Environment.gov.au)

Menurut website IUCN Carettochelys insculpta :

Taxonomy 

Kingdom Phylum Class Order Family
ANIMALIA CHORDATA REPTILIA TESTUDINES CARETTOCHELYIDAE

 

Scientific Name: Carettochelys insculpta
Species Authority: Ramsay, 1886
Common Name(s):
English Pig-nosed Turtle, Fly River Turtle, New Guinea Plateless Turtle, Pig-nose Turtle, Pitted-shell Turtle

Assessment Information

Red List Category & Criteria: Vulnerable A1bd ver 2.3
Year Published: 2000
Date Assessed: 2000-06-30
Annotations: Needs updating
Assessor(s): Asian Turtle Trade Working Group
Reviewer(s): Buhlmann, K., Rhodin, A. & van Dijk, P.P. (Tortoise & Freshwater Turtle Red List Authority)
History:
1996 Vulnerable
1994 Insufficiently Known (Groombridge 1994)
1990 Insufficiently Known (IUCN 1990)
1988 Insufficiently Known (IUCN Conservation Monitoring Centre 1988)
1986 Insufficiently Known (IUCN Conservation Monitoring Centre 1986)

Geographic Range 

Countries: Native:Australia; Indonesia; Papua New Guinea
Range Map: Click here to open the map viewer and explore range.

Habitat and Ecology

Habitat and Ecology: Terrestrial nest sites
Systems: Terrestrial; Freshwater

Threats 

Major Threat(s): This species is exported in large numbers for the international live animal trade from southern Irian Jaya, Indonesia. It is heavily exploited and locally consumed in Papua New Guinea and endangered by habitat loss and degradation in Australia.

Conservation Actions 

Conservation Actions: It is listed on CITES Appendix II.

 

Citation: Asian Turtle Trade Working Group 2000. Carettochelys insculpta. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2014.2. <www.iucnredlist.org>. Downloaded on 09 September 2014.
Disclaimer: To make use of this information, please check the <Terms of Use>.
Feedback: If you see any errors or have any questions or suggestions on what is shown on this page, please fill in the feedback form so that we can correct or extend the information provided

 

Untitled

Daftar Pustaka

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/04/kura-kura-moncong-babi-si-spesies-langka-dari-papua

http://sains.kompas.com/read/2013/04/24/10064514/Kurakura.Moncong.Babi.Dilindungi.dan.Diincar.

http://www.iucnredlist.org/

http://www.kurakuraku.com/articles.php?aID=23

http://www.thebantenjournal.com/2800-ekor-kurakura-moncong-babi-diselamatkan-balai-karantina.html

http://www.theglobejournal.com/Lingkungan/si-moncong-babi-yang-diburu-dan-lindungi/index.php

 


13 responses to “Kura-kura moncong babi”

  1. ronykristianto says:

    jika macan tutul benar-benar punah(tapi semoga saja tidak), apakah ada spesies yang akan terganggu keberadaannya ?

  2. ronykristianto says:

    eh maaf, maksud saya bukan macan tutul tapi kura-kura moncong babi 😀

  3. dennamesselia says:

    Nice info.., aku mau tanya, mit, setelah telur tersebut diambil, telur kura-kura moncong babi tersebut diapakan oleh si pemburunya?

  4. nitabawole says:

    thanks infonya mit.Salah satu hewan endemik indonesia lagi yang harus kita jaga kelestariannya agar tidak punah.Sungguh sangat di sayangkan ya kegiatan eksploitasi yang dilakukan oleh para pemburu dan masyarakat lokalnya.
    Kesadaran untuk menjaga dan melestarikan memang harus ada dan timbul dari dalam diri kita sendiri terlebih dulu 🙂

    • pradhyaparamitha says:

      Roni,. Hi, Roni. thanks udah menyempatkan mampir kesini dan membaca artikel ini, semoga bermamfaat 🙂

      spesies yang terganggu keberadaannya jika kura-kura moncong babi punah adalah reptil disekitar sarang telur kura-kura,karena kura-kura punya cangkang yang keras jadi reptilah yang memakan telur kura-kura. sedangkan jika sudah menetas dan bertumbuh dewasa faktor lingkungan habitanya lah yang akan berpengaruh. Kura-kura paling banyak dimamfaatkan oleh manusia untuk perhiasan dan makanan, tapi jika kura-kura punah manusia dapat memakan hewan lain. tapi keturunan kita lah yang tidak dapat melihat keindahan hewan satu ini 🙂

  5. Sainawal Tity says:

    karena lucu, hewan ini sering dijadikan peliharaan dan dipelihara pada kolam yang seadanya saja. bagaimana tanggapan kamu ?
    thanks 🙂

  6. pradhyaparamitha says:

    Hi Nita. thanks udah menyempatkan mampir kesini dan membaca artikel ini, semoga bermamfaat 🙂

  7. pradhyaparamitha says:

    Hi Dena. thanks udah menyempatkan mampir kesini dan membaca artikel ini, semoga bermamfaat 🙂

    setelah telur kura-kura diambil oleh pemburu, pemburu akan menjualnya untuk dijadikan perhiasan dan makanan.

  8. alanpeter says:

    Lumayan masih ada usaha – usaha konservasi secara nyata yang dilakukan. Misalnya seperti di gembira loka masih ada kura – kura jenis ini.

    Visit punya saya : http://blogs.uajy.ac.id/alanpeter/2014/09/08/cendrawasih-merah-antara-kultur-eksploitasi-dan-konservasi/

  9. agustinaruban says:

    Nice info mit.. kalau memang waktu kura-kura ini untuk dewasa selama itu dan perlakuan masyarakat lokal yang seperti itu, kira-kira berapa persen kura-kura ini bisa diselamatkan? masih ada kemungkinan tidak? terus aku mau nanya lagi ni 😀 kira-kira di tempat aslinya udah ada kawasan konservasinya nggak? 😀 mksih

  10. delilafaidiban says:

    Mungkin dengan minimnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat sekitar yang belum ngerti tentang cara melestarikan sehingga hewan ini mulai rentan. Tapi bakalan rugi banget kita, jika tidak dijaga fauna ini.

  11. yemievrina says:

    spesies yang sangat unik untuk dijaga kelestarian nya

  12. elviena says:

    Sungguh sangat di sayangkan kegiatan eksploitasi yang dilakukan oleh masyarakat lokalnya. semoga masyarakat segera sadar untuk melestarikan satwa tsb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php