Pelangi Asmara

Sudahkah Anda Tahu Tentang Nikel?

Posted: March 3rd 2015

//Disusun oleh : Pelangi Asmara Dewi, Agung Prayogo, Mytha Aprianti K, Nita Anggriani B, Daniel H

 

Haloo. Perkenalkan mineral yang satu namanya ini mbak nikel. Nikel Ardila *eh*

Hehe Bukan, nikel aja. Untuk perkenalan lebih lanjut simak ulasan berikut ini ya.

Nikel adalah salah satu logam yang paling penting dan memiliki banyak aplikasi dalam industri. Ada banyak jenis produk nikel seperti logam halus, bubuk, spons, dan lain-lain. 62% dari logam nikel digunakan dalam baja tahan karat, 13% dikonsumsi sebagai superalloy dan paduan nirbesi karena sifatnya yang tahan korosi dan tahan tinggi suhu (Barkas, 2010). Bijih nikel dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok yaitu bijih sulfida dan bijih laterit (oksida dan silikat), meskipun 70% dari tambang nikel berbasis bijih laterit, tetapi 60% dari produksi primer nikel berasal dari bijih sulfida (Kim dkk, 2010),(Superiadi, 2007).

Nickel ore

 

Bijih nikel laterit biasanya terdapat di daerah tropis atau sub-tropis yang terdiri dari pelapukan batuan ultramafik yang mengandung zat besi dan magnesium dalam tingkat tinggi. Deposit tersebut biasanya menunjukkan lapisan yang berbeda karena kondisi cuaca. Lapisan pertama adalah lapisan yang kaya silika dan yang kedua adalah lapisan limonit didominasi oleh gutit [FeO(OH)] dan hematit (Fe2O3). Lapisan berikutnya adalah saprolit [(Ni,Mg)SiO3.nH2O)] yaitu lapisan yang kaya magnesium dan elemen basal. Lapisan terakhir adalah batuan dasar yang berubah dan tidak berubah. Antara lapisan saprolit dan limonit biasanya ada lapisan transisi yang kaya magnesium (10-20% Mg) dengan besi yang disebut serpentine [Mg3Si2O5(OH)]. Untuk deposit laterit yang ideal, lapisan limonit sangat tidak cocok untuk ditingkatkan kadarnya, sedangkan peningkatan kadar untuk lapisan saprolit juga terbatas untuk peningkatan konsentrasi nikel. Hal ini merupakan perbedaan utama antara bijih laterit dan bijih sulfida yang dapat dibenefisiasi dari 10% menjadi 28% (Yıldırım dkk,2012)

Manfaat Nikel Dalam Kehidupan Manusia

Nikel digunakan sebagai pelapis logam tahan karat, membuat aliasi logam seperti monel, nikron dan alkino, dan serbuk nikel digunakan sebagai katalis pada hidrogenasilemak dalam pembuatan margarine. Berdasarkan sifatnya yang fleksibel, tidak berubah bila terkena udara, ketahanannya terhadap oksidasi dan kemampuannya untuk mempertahankan sifat- sifat aslinya pada suhu ekstrim, nikel banyak digunakan dalam banyak aplikasi komersial dan industri. Sekitar 70% dari produksi nikel digunakan untuk  produksi stainless steel, sementara sisanya digunakan untuk berbagai penggunaanindustri, seperti :

  1. stainless steel (pelindung baja).
  2. baterai isi ulang.
  3. string gitar listrik
  4. baja tahan karat
  5. bahan untuk koin 5 cen di Amerika dan Kanada.
  6. pembuatan magnet alnico (magnet elnico = paduan magnet yang terdiri dari aluminium (Al), nikel (Ni) dan kobalt (Co))
  1. instalasi proses penghilangan garam untuk mengubah air laut menjadi air segar(dalam bentuk alloy tembaga-nikel)
  2. Sebagai katalis untuk menghidrogenasi minyak sayur atau menjadikannya padat(dalam bentuk nikel yang sangat halus)
  3. pelindung tembaga.
  4. kawat lampu listrik.
  5. katalisator lemak
  6. pupuk pertanian

Selain itu Nikel juga dapat bermanfaat bagi tubuh jika membentuk suatu senyawa kompleks. Senyawa kompleks memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi senyawa ini meliputi bidang kesehatan, farmasi, industri, dan lingkungan. Senyawa kompleks terbentuk akibat terjadinya ikatan kovalen koordinasi antara suatu atom atau ion logam dengan suatu ligan (ion atau molekul netral). Logam yang dapat membentuk kompleks biasanya merupakan logam transisi, alkali, atau alkali tanah. Studi pembentukan kompleks menjadi hal yang menarik untuk dipelajari karena kompleks yang terbentuk dimungkinkan memberi banyak manfaat, misalnya untuk ekstraksi dan penanganan keracunan logam berat (Miessler dan Tarr, 1991).

Potensi dan penyebarannya di Indonesia

Peta Batuan Galian Indonesia http://webmap.psdg.bgl.esdm.go.id/

 

Menurut Pusat Data dan Informasi ESDM Kementerian ESDM tahun 2012, potensi sumberdaya nikel Indonesia diperkirakan mencapai 2.633.000.000 Ton ore dengan cadangan sebesar 577.000.000 ton ore yang tersebar di Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua. Nikel di Indonesia merupakan 15% dari cadangan dunia namun produksinya baru mencapai 10% dari produksi dunia. Daerah Sulawesi yang  kaya akan endapan nikel adalah daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Daerah Soroako, Sulawesi Selatan, merupakan salah satu operasi penambangan logam permukaan tanah terbesar di dunia. Cadangan nikel di Soroako menurut data tahun 2007 yaitu sebesar 94 juta ton kering bijih berkadar 11,9% nikel (Yani, 2007).

Sebagian dari potensi sumber daya nikel tersebut sudah ditambang dan diekspor dalam bentuk nickel matte (bijih nikel yang sudah dipisahkan dengan buangannya) oleh PT Inco Indonesia, Ferro Nickel (campuran yang mengandung 78% nikel dan 0,7% besi) oleh PT Antam ataupun dalam bentuk bijih nikel tanpa melalui proses pengolahan dan pemurnian yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang banyak bertumbuh dalam dasawarsa terakhir. PT. Antam Tbk melakukan penambangan nikel di Pomalaa (Sulawesi Tenggara) serta Mornopo, Gee, dan Tanjung Buli yang ketiganya berlokasi di Maluku Utara. Sedangkan PT Inco melakukan pertambangan besar di daerah Soroako, Sulawesi Selatan. Kegiatan penambangan bijih nikel menggunakan metode tambang terbuka dengan peralatan backhoe untuk penggalian dan truk untuk transportasi (Putra, 2011 dan Yani, 2007).

Komoditi nikel dikelompokkan menjadi tiga, yaitu bijih nikel, feronikel, dan nikel matte.  Selama periode tahun 2003-2009 produksi bijih nikel mengalami peningkatan yang cukup tinggi, yaitu dari 4.395.429 ton pada tahun 2003 menjadi 10.847.141 ton pada tahun 2009 atau mengalami kenaikan hampir 2,5 kali lipat. Pada periode yang sama, komoditi feronikel mengalami kenaikan dua kali lipat dari 8.933 ton Ni menjadi 17.917 ton Ni, sedangkan untuk nikel kasar mengalami fluktuasi, pada tahun 2003 jumlah produksi mencapai 71.211 ton Ni, tahun 2007 meningkat hingga 77.928 ton Ni, namun tahun 2009 menurun hingga menjadi 63.548 ton Ni (Pusat Data dan Informasi ESDM Kementerian ESDM, 2012).

Hampir seluruh hasil pertambangan nikel dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Permintaan nikel nikel dunia pada saat ini didominasi oleh negara-negara Asia, seperti Jepang yang sejak dulu menjadi negara utama tujuan ekspor nikel Indonesia dan China yang saat ini sedang melakukan pembangunan power plant sehingga banyak membutuhkan komoditi nikel.  Konsumsi nikel negara Asia, khususnya China pada Tahun 2009 mencapai 61 % dari konsumsi nikel dunia, diikuti Eropa 26%, Amerika 10%, Afrika dan Oceania 3%. Dengan tingginya permintaan nikel dunia dan banyaknya sumberdaya nikel di Indonesia, hal ini membuka potensi ekspor nikel yang besar bagi Indonesia.

Permasalahan Pengelolaan Nikel

Dampak lingkungan dari usaha pertambangan, khususnya nikel dapat menimbulkan bencana seperti banjir yang membuat lingkungan alam dan wilayah tambang dapat menjadi wilayah rawan bencana. Hutan kehilangan flora dan fauna serta fungsi hutan sebagai penyerap dan sumber persediaan air tanah menjadi hilang. Sementara yang dicari hanya tambang nikel tetapi dampak pencarian ini mengarah kepada pengrusakan hutan di wilayah tersebut. Dampak sosial dari usaha tambang yang dikelola dengan baik adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah tambang, pekerja dan perusahaan. Dari dampak ekonomi, kegiatan pertambangan dalam memberikan penghasilan yang meningkat dari penghasilan sebelumnya. Dampak sosial ekonomi dari kehadiran perusahaan tambang tidak selamanya memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Kehadiran perusahaan tambang dapat juga berdampak negatif kepada anak-anak usia sekolah yang meninggalkan sekolah untuk bekerja sebagai buruh di tambang, banyak petani dan nelayan tidak beraktivitas pada profesi mereka sebelum dan beralih kepada pekerja di pertambangan. Kondisi-kondisi seperti ini membuat masyarakat berada pada pilihan hidup yang tidak tetap artinya mereka lebih cenderung kepada penghasilan yang besar dibanding dengan profesi mereka sebagai nelayan maupun petani.

Aktivitas perusahaan pertambangan Nikel di Indonesia terus bertambah dan bukan saja perusahaan yang terdaftar sebagai pemegang izin Penambangan tetapi ada juga perusahaan yang tidak memiliki izin tetapi beraktivitas sebagai distributor tambang. Maraknya perusahaan pertambangan dalam pengelolaan tambang nikel membuat wilayah-wilayah tambang menjadi rusak dan berpotensi bencana alam. Salah satu contoh masalah yang terjadi adalah konflik tambang nikel di Maluku Utara antara masyarakat adat dengan Perusahaan Weda Bay Nickel dan PT. Tekindo. Masalah yang terjadi adalah konsesi proyek tambang nikel tersebut menabrak  tanah adat serta berada di tengah-tengah kawasan hutan primer yang masih bagus dimana flora dan fauna yang dilindungi oleh Kementrian Kehutanan. Masyarakat sekitar hutan tersebut juga bergantung pada hutan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dikutip dari www.mongabay.co.id,  masyarakat sekitar menggunakan air untuk kehidupan sehari-hari. Bukan itu saja, para perempuan yang akan melahirkan pun di sungai. “Mereka tak pakai Puskesmas, perempuan-perempuan melahirkan di air. Bagaimana jika sumber air tercemar?” Belum lagi keragaman hayati di kawasan ini, pada kawasan ini ada program perlindungan satwa dari perburuan dan perdagangan dari Kementerian Kehutanan didukung bank dunia. “Satu sisi ada program perlindungan, tapi diberi izin tambang masuk yang potensi kerusakan alam sangat besar hingga mengancam keragaman hayati, satwa dan tumbuhan di sana.” Konflik ini merupakan salah satu dari banyak permasalahan tambang nikel yang terjadi di Indonesia, dari permasalahan ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap lingkungan serta keterlibatan masyarakat sekitar dalam pengelolaan dan konservasi sumber daya alam baik hayati maupun non-hayati.

warga melakukan aksi blokir jalan

 

Referensi

Barkas, J. 2010. Drivers and risks for nickel demand. Dalam: 7th International China Nickel Conference. Shanghai.

Kim, J. Dodbiba, G. Tanno, H. Okayaa, K. Matsuo, S. dan Fujita, T. 2010. Calcination of low-grade laterite for concentration of Ni by magnetic separation. Minerals Engineering. 23: 282–288.

Miesslar, G. L. and. Tarr, D. A. 1991. Inorganic Chemistry. Prentice Hall. New Jersey.

Pusat Data dan Informasi ESDM Kementerian ESDM. 2012. Kajian Supply Demand Mineral. http://prokum.esdm.go.id/Publikasi/Hasil%20Kajian/ESDM%20SDM.pdf. 1 Maret 2015.

Putra, F. H. 2011. Analisis Pengaruh Strategi Pemasaran Produk dan Harga Terhadap Volume Penjualan Nikel Pada PT.ANTAM Tbk. http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/203?show=full. 1 Maret 2015.

Superiadi, A. 2007. Processing Technology vs. Nickel Laterite Ore Characteristic, PT Inco.

Saturi, S. 2013. Weda Bay Nickel, Berkonflik dengan Masyarakat Adat, Hutan Lindung pun Terancam. http://www.mongabay.co.id/2013/06/07/weda-bay-nickel-berkonflik-dengan-masyarakat-adat-hutan-lindung-pun-terancam/. 1 Maret 2015

Yani, A. 2007. Geografi : Mengungkap Fenomena Geosfer. Grafindo, Bandung

Yıldırım, H. Turan, A. dan Yücel, O. 2012. Nickel Pig Iron (NPI) Production From Domestic La Teritic Nickel Ores Using Induction Furnace. International Iron & Steel Symposium. 02-04 April 2012. Karabük, Türkiye, pp. 337-344.

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php