Pelangi Asmara

Jamu Herbal Palsu?? Identifikasi dengan Molekuler

Posted: September 9th 2014

Pernahkan kalian meminum jamu??

Walaupun generasi sekarang ini kurang menyukai jamu, namun pastinya sudah banyak mendengar tentang jamu. Jamu merupakan obat tradisional Indonesia yang dapat berasal dari bagian hewan, tumbuhan, maupun bahan mineral yang telah digunakan secara turun temurun berdasarkan pengalaman. Jamu yang biasa dijual dipasaran ada yang berupa potongan atau bagian tumbuhan yang dikeringkan atau biasanya disebut jamu herbal.

jamu

Gambar 1. Bermacam-macam jamu herbal

Di Indonesia, kasus pemalsuan jamu herbal ini cukup banyak, terutama untuk herbal yang berasal dari spesies tumbuhan yang sulit ditemukan. Hal ini sangat menghawatirkan mengingat tanaman yang digunakan untuk memalsukan tidak diketahui secara pasti efeknya dan terkadang juga dalam pembuatan jamu herbal palsu tersebut dapat menggunakan bahan-bahan yang berbahaya. Dalam bentuk kering bagian tumbuhan ini terkadang sulit dikenali berasal dari tumbuhan apa walaupun ada juga beberapa yang mudah dikenali dari baunya yang khas yang tidak dimiliki tumbuhan lain. Namun bau ini dapat hilang atau karena percampuran dengan bahan-bahan lain sehingga menyulitkan dalam melihat keaslian herbal yang diperjualbelikan.

20130214Pasar-Jamu-140213-hyp-3-

Gambar 2. Penjual jamu herbal di pasar tradisional (Antaranews.com)

Dalam mengatasi masalah ini, molekuler dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis tanaman tersebut. Metode yang dapat digunakan yaitu RandomAmplified Polymorphic DNA (RAPD). Metode RAPD merupakan salah satu modifikasi dari teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dapat mendeteksi perbedaan genetik dari berbagai jenis varietas tanaman (Kim et al., 2002), serta dapat mendeteksi keaslian suatu tanaman dengan beberapa jenis tanaman penggantinya (Cheng et al., 1998).

Dalam metode ini harus diketahui terlebih dahulu pola DNA tanaman asli yang kemudian di cocokkan dengan DNA tanaman yang diuji. Fragmen DNA dari jamu herbal yang ingin diuji dianalisis dengan PCR dan elektroforesis yang kemudian hasilnya dibandingkan dengan hasil analisis tanaman yang asli. Di negara kita, metode ini telah digunakan oleh badan pemerintahan untuk mengidentifikasi jamu herbal yang banyak beredar di pasaran yang diharapkan mampu mengurangi produk palsu yang beredar.

 

Daftar Pustaka :

http://ulpk.pom.go.id/ulpk/index.php?task=view&id=41&option=com_easyfaq&Itemid=26&lang=in

http://www.antaranews.com/berita/367716/kepala-bpom-berbagi-informasi-soal-jamu-palsu

Cheng, K.T., Su, C.H., Chang, H.C, dan Huang, J.Y. 1998. Differentiation of Genuines and Counterfeits of Cordyceps Spesies Using Random Amplified Polymorphic DNA. Planta Medica, 64(5): 451–453.

Kim, S.H., Jeong, J.H., Kim, S.K, dan Paek, K.Y. 2002. Parentage Identification of ‘Daebong’ Grape (Vitis spp) Using RAPD Analysis. Journal of Plant Biotechnology ,4(2):67–70

Yunita, O dan Kresnamurti, A. 2005. Identifikasi Simplisia yang Dijual sebagai Strychnos ligustrina Bl. Di Pasar Tradisional Surabaya dengan Metode Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Berk. Penel. Hayati: 11 (19–24)


14 responses to “Jamu Herbal Palsu?? Identifikasi dengan Molekuler”

  1. elviena says:

    semoga dengan metode ini kecurangan-kecurangan yang marak terjadi di Indonesia dapat diberantas. semoga SDM yang ahli dalam bidang molekuler juga semakin banyak sehingga penerapannya dapat merata di seluruh Indonesia 🙂

  2. leonardo says:

    Waaah… Cara ini akan sangat dibutuhkan dimasa yang akan datang, ditambah lagi sekarang ini orang-orang kembali menggunakan produk-produk herbal. Semoga saja metode RADP dapat dikembangkan di Indonesia agar dapat membantu banyak orang terhindar dari jamu palsu.

  3. ASTRI ASIH says:

    wow. metode yang menarik mba dewi. jika saya mempunyai sampel jamu, terus saya pengen coba nguji apakah jamu itu asli atau tidak, dimana saya dapat melakukan pengujian? berapa biayanya?
    apakah di Fakultas Teknobiologi UAJY bisa melakukan pengujian?

    terima kasih 🙂

  4. Sainawal Tity says:

    wi, aku mo nanya yaa
    kira-kira bagian mana ya dari tanaman jamu yang akan digunakan untuk identifikasi molekuler ?
    apakah diekstrak atau seperti apa ?

  5. vincentius yafet winata says:

    menarik dan aplikatif sekali, tpi yang menjadi pertanyaan apakah kondisi jamu yang kering ini masih terdapat DNA yang dapat dideteksi,akankah hal ini dapat menjadi kendala dalam identifikasi?

  6. Junaidi Pratama says:

    Wah akan sangat repot nih kalau kita mau minum jamu harus identifikasi dahulu lewat molekuler. Hehe..Apakah bisa lewat bentuk/morfologi atau bau dari bahan jamu tersebut, kita bisa mengetahui jamu itu asli atau palsu?

  7. alanpeter says:

    Info yang bagus. Menarik sekali ini menambah kewaspadaan kita tentang jamu – jamu ini. Nice blog !

    Visit punya saya ! http://blogs.uajy.ac.id/alanpeter/2014/09/08/cendrawasih-merah-antara-kultur-eksploitasi-dan-konservasi/

  8. christianbunardi says:

    informasi yang menarik sekali, semoga dengan berkembangnya ilmu dibidang molekuler yang dapat diaplikasikan ke berbagai hal dapat mengatasi segala macam tindakan yang merugikan konsumen dari pihak yang ingin mengambil keuntungan semata.

  9. florencia says:

    informasi yang sangat menarik. ternyata Indonesia sudah menerapkan teknik molekuler untuk mengidentifikasi jamu. semoga teknik molekuler juga segera diterapkan dibidang lainnya agar semakin memudahkan dalam melakukan penelitian karena cara yang digunakan lebih canggih dan efisien daripada cara konvensional 🙂

  10. intanmiw says:

    Info menarik kakak 🙂
    Sangat setuju bahwa kita perlu melakukan identifikasi molekuler terhadap produk herbal seperti ini. Mengapa? karena sekarang ini masyarakat sudah banyak yang beralih dari obat-obat generik ke obat herbal. Namun sayangnya, belum tentu semua produk herbal itu 100% asli dari tanaman herbal yang dimaksudkan berkhasiat. Apalagi kalau dilihat secara morfologi sangat susah, apalagi kalau sudah mengalami proses pengeringan. Maka dari itu sangat membantu sekali jika ada kajian molekuler terhadap produk jamu seperti ini. Jangan sampai masyarakat yang sudah ingin hidup sehat, namun malah tertipu dengan produk herbal.
    Sejauh ini, metode ini sudah dikembangkan oleh mana saja wi di Indonesia? Kendala apa aja yang kira-kira mempersulit metode ini untuk dilakukan, mungkin dari segi ketersediaan alat dan dari jamu itu sendiri, melihat bahwa produk jamu pasti sudah mengalami banyak proses produksi.

  11. danielharjanto says:

    info bagus, melalui molekuler dengan metode RAPD dimungkinkan identifikasi meskipun struktur tanaman tersebut sudah berubah dan tidak dapat diidentifikasi secara morfologi dengan demikian pemalsuan pada jamu dapat ditekan.

  12. Leni Budhi Alim says:

    wah sayang sekali, padahal jamu sendiri mempunyai manfaat yang sangat beragam, dengan maraknya jamu palsu kita perlu menjadi was-was untuk meminumnya. Dengan adanya identifikasi molekuler untuk jamu hal ini sangat membantu 😀 agar kita dapat tahu jamu mana yang orisinil dan palsu. nice info, thank you 😀

  13. Berkhasiat says:

    Pun demikian, harus ada cara yang lebih mudah dan alami agar masyarakat sendiri bisa membedakan, minimal mengetahui ada kandungan BKO pada sebuah obat.
    Seperti tusuk gigi pendeteksi boraks ini http://www.tribunnews.com/regional/2014/11/04/siswi-sman-3-semarang-raih-emas-gara-gara-tusuk-gigi-boraks

    Di lapangan sangat banyak obat herbal yang mengandung BKO dan tentunya lolos dari pengawasan, dan banyak pengguna yang belum sadar.

    Pasti ada caranya, andai ada yang mau perduli 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php