Wildlife

Ekologi Molekuler: Analisis Metagenom Mikrobioma Usus pada Pongo pygmaeus dan Pengaruhnya terhadap Tingkat Depresi

Posted: September 2nd 2015

Latar Belakang

Mandi tidak menjamin membunuh semua mikrobia pada tubuh. Tubuh manusia tidak bisa 100% “bersih” atau terbebas dari mikrobia karena tubuh manusia sudah bersimbiosis dengan berbagai bakteri sejak lahir. Hal ini tidak hanya terjadi pada manusia, tetapi seluruh organisme. Mikrobia yang alami hidup pada tubuh hewan disebut animal microbiome.

Animal microbiome dapat dijumpai di seluruh bagian tubuh hewan. Mulai dari bagian terluar, seperti bulu, rambut, kulit, hingga bagian terdalam seperti darah dan usus. Jumlahnya juga tidak tanggung-tanggung. Pada hewan tingkat tinggi, seperti manusia, terdapat animal microbiome sebanyak 1014 sel, lebih banyak dibanding sel penyusun tubuhnya yang hanya 1013 sel (Ezenwa, 2012).

Animal microbiome tidak bersifat patogen terhadap inangnya, melainkan berperan dalam berbagai hal baik. Antarspesies hewan memiliki sususan animal microbiome yang berbeda-beda. Penelitian sudah membuktikan, kelainan pada hewan tertentu bisa diakibatkan oleh hilangnya satu jenis atau lebih animal microbiome yang umumnya terdapat pada teman satu spesiesnya.

Salah satu penelitian yang cukup populer di bidang ini adalah analisis pengaruh animal microbiome terhadap perilaku hewan yang bersangkutan, di antaranya adalah tingkat depresi. Penelitian tersebut menunjukkan adanya reduksi jumlah Lactobacillus dan Bifidobacterium pada mencit yang dipisahkan dari induknya ketika lahir (Gareau dkk., 2007). Dalam penelitiannya, Desbonnent dkk. (2010) mengungkapkan bahwa komposisi mikrobia dalam usus tidak hanya mempengaruhi kesehatan usus, tetapi juga suasana hati, komunikasi antara otak dan usus, bahkan gangguan mental seperti depresi. Beliau juga menemukan bahwa terapi probiotik Bifidobacterium bisa mengatasi hal-hal di atas.

Berdasarkan model di atas, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui susunan mikrobia pada usus Pongo pymaues (orangutan) yang terancam punah. Dilansir dalam redapes.org (2015), tahun pertama dalam hidup orangutan sangat penting untuk menjamin perkembangan di tahun-tahun selanjutnya. Induk orangutan tidak pernah meninggalkan anak-anaknya. Di alam bebas, hidup anak orangutan sangat bergantung pada induknya hingga usia 7 tahun, padahal banyak orangutan yang terpisah dari induknya dari kecil, bahkan sejak lahir, dikarenakan perburuan yang keji. Untuk mengantisipasi ini, di berbagai penangkaran orangutan sudah disediakan pengasuh yang berperan sebagai ibu orangutan. Namun, jika pengasuh ini pergi sebentar saja, anak orangutan akan berteriak histeris. Jika anak orangutan ditinggalkan sendirian dalam waktu yang lama akan berdampak buruk dalam perkembangannya. Stres dan kesedihan yang berkepanjangan merupakan penyebab utama kematian anak orangutan di penangkaran (redapes.org, 2015).

Melihat kenyataan pahit di atas, dapat diketahui bahwa pengasuh yang berperan sebagai ibu orangutan belum cukup untuk mengatasi tingkat depresi anak orangutan yang terpisah dari induknya. Dengan mengetahui  perbedaan susunan mikrobia pada usus orangutan yang terpisah dari induknya dan sebaliknya, diharapkan akan ditemukan mikrobia yang berperan penting dalam menentukan tingkat depresi orangutan yang bersangkutan sehingga permasalahan ini bisa teratasi langsung ke sumbernya.

Animal microbiome

Tubuh manusia merupakan rumah bagi berjuta-juta mikroorganisme simbiotik, bahkan perbandingan jumlah sel penyusun tubuh manusia dengan mikroorganisme simbiotik ini mencapai 1:100. Berbagai penelitian terdahulu membuktikan bahwa hal ini berdampak baik terhadap kesehatan manusia. Akan tetapi, manusia bukan satu-satunya hewan yang memiliki mikrobioma dan mikrobioma tidak hanya berdampak terhadap kesehatan (Koch dan Schmid-Hempel, 2011; Sharon dkk., 2010). Penelitian dewasa ini mengungkapkan peran tidak terduga dari mikrobioma bahwa mikrobioma turut mempengaruhi pola makan hingga interaksi sosial dan perilaku inangnya seperti pada Gambar 1 di bawah ini (Sharon dkk., 2010; Heijtz dkk. 2011).

tabel 1

Gambar 1. Hewan dari berbagai takson dengan mikrobioma dan pengaruhnya (Sumber: Ezenwa dkk., 2012)

Serangga kudzu, hama pertanian, lahir tanpa simbion apa pun. Setelah lahir, serangga ini membutuhkan simbion spesifik dari kapsul bakteri yang diletakkan induknya di dekat telur. Jika kapsul ini dipindahkan, serangga-serangga yang baru lahir akan memperlihatkan perilaku pencarian yang dramatis untuk menemukan kapsul simbion tersebut (Hosokawa dkk., 2008).

Ketika asosiasi inang-mikrobia terjadi, mikrobia akan mempengaruhi perilaku inang melalui cara yang jauh mencapai implikasi ekologi dan evolusi inangnya (lihat Gambar 2). Lalat buah (Drosophila melanogaster) sangat cenderung memilih kawin individu lain yang memiliki pola makan yang sama, namun perlakuan antibiotik menghapuskan penemuan tersebut dan inokulasi dari lalat yang diberi perlakuan dengan mikrobia dari media makan menunjukkan bahwa mikrobia-lah yang memperngaruhi perilaku kawin, bukan jenis makanan. Hal ini ternyata diperngaruhi oleh kehadiran satu bakteri, yaitu Lactobacillus plantarum (Sharon dkk., 2010).

MICROBIOME ALTER BEHAVIOR

Gambar 2. Mikrobia mempengaruhi perilaku inang (Sumber: Ezenwa dkk., 2012)

Efek mikrobia pada senyawa kimia yang dihasilkan inang juga dikaitkan dengan perubahan interaksi mangsa-predator dan pola makan (11; 12). Menurut Verhuls dkk. (2011), Anopheles gambiae hanya menyalurkan malaria pada manusia yang mengeluarkan isyarat kimia tertentu dari kulitnya. Beliau juga menemukan bahwa manusia dengan keanekaragaman mikrobia lebih tinggi menjadi lebih tidak menarik bagi nyamuk ini. Banyaknya Pseudomonas spp. dan Variovorax spp. juga berasosiasi terhadap rendahnya ketertarikan nyamuk ini. Kedua bakteri ini diduga memproduksi senyawa kimia tertentu yang membuat nyamuk ini enggan mendekati kulit manusia.

Animal Microbiome yang Mempengaruhi Tingkat Depresi

Pada tahun 2007, Gareau dkk. melakukan penelitian untuk mengidentifikasi mikrobioma pada usus mencit yang dikondisikan normal (non-separation) dan dipisahkan dari induk (maternal separation). Mereka berhasil menemukan perbedaan susunan mikrobia pada usus mencit yang dipisahkan dari induk. Pada mencit tersebut dijumpai jumlah Lactobacillus dan Bifidobacterium mengalami penurunan yang sangat drastis dibanding mencit yang tidak dipisahkan dari induknya.

Penelitian Gareau dkk. didukung oleh penelitian Desbonnent dkk. (2010). Sebagai model stres, Desbonnent dkk. menggunakan tikus yang dipisahkan dari induknya. Desbonnent dkk. menemukan bahwa terapi probiotik Bifidobacterium bisa mengatasi gejala depresi yang muncul.

Penelitian terbaru menggunakan mencit menunjukkan bahwa mikrobia pada usus mempengaruhi stres, kegelisahan, dan depresi (Bravo dkk., 2011; Heijtz dkk., 2011). Mencit yang diberi makan dengan tambahan probiotik Lactobacillus rhamnosus bisa menjalani tes renang paksa lebih baik, mengindikasikan rendahnya kegelisahan, dan menunjukkan ekspresi reseptor asam γ-aminobutarat yang lebih tinggi pada otak (Bravo dkk., 2011).

Deskripsi Pongo pygmaeus dan Perilaku Depresi yang Terlihat

Orangutan merupakan hewan arboreal yang mempunyai gaya hidup soliter dan mempunyai ukuran tubuh besar (Setia, 2009). Orangutan termasuk kera besar dengan klasifikasi menurut Groves (2001) sebagai berikut.

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrae
Kelas : Mamalia
Ordo : Primata
Family : Pongidae
Subfamily : Pongoninae
Genus : Pongo
Species : Pongo abelii (Orangutan Sumatera)Pongo pygmaeus (Orangutan Kalimantan)

Orangutan muncul pertama kalinya pada awal Miosin dengan asal daerah penyebaran adalah Indocina. Pada masa Pleistosin orangutan ditemukan menyebar dari Cina Selatan menuju Laos, Vietnam, Semenanjung Malaya dan terus ke pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Pada saat sekarang orangutan hanya ditemukan di Sumatera bagian utara dan Kalimantan saja, sedangkan di tempat lain sudah punah. Orangutan pertamakali telah didiskripsi pada awal abad 17 dan kemudian diberi nama Simia satyrus. Berdasarkan International Commission on Zoological Nomenclature tahun 1927 nama orangutan berubah menjadi Pongo pygmaeus (Brandon-Jones dkk., 2004).

Hingga saat ini ada dua anak jenis orangutan, yaitu: Pongo abelii, penyebarannya di Sumatera dan Pongo pygmaeus di Kalimantan dengan 2 anak jenis, yaitu: Pongo pygmaeus pygmaeus (di bagian barat dan sebelah utara Sungai Kapuas, Indonesia dan bagian barat Sarawak, Malaysia) dan Pongo pygmaeus wurmbii (bagian barat daya Kalimantan, antara Sungai Kapuas dan Barito) (Brandon-Jones dkk., 2004). Hasil terbaru dari Orangutan Population and Habitat Viability Assessment (Singleton dkk, 2004) membedakan populasi orangutan Kalimantan yang berada Kalimantan Timur (sebelah selatan Sungai Mahakam, Indonesia dan Sabah, Malaysia) sebagai anak jenis ke tiga dari Pongo pygmaeus yaitu: Pongo pygmaeus morio.

Orangutan hidup di hutan tropik dengan tipe habitat hutan rawa, hutan dataran rendah sampai hutan dataran tinggi lebih kurang 1500 dpl. Hidup orangutan lebih sering di pepophonan (arboreal) dan sering pada ketinggian antara 10 samapi 20 meter di lapisan tengah kanopi hutan. Walau sering di pepohonan, kadangkadang orangutan turun juga ke permukaan tanah untuk memakan tanah, serangga ataupun makanan yang lainnya. Orangutan adalah pemakan buah (frugivorous), tetapi selain itu memakan juga bagian lain dari tumbuh-tumbuhan seperti: daun, kulit batang pohon, batang liana, bunga dan biji. Berdasarkan penelitian Rodman (1977) maka diketahui bahwa proporsi bagian makanan yang dimakan antara lain 53,8 % terdiri dari buah, 29 % terdiri dari daun, 14,2% terdiri dari kulit kayu, 2,2% bunga dan 0,8% serangga.

Berat badan orangutan betina dewasa berkisar 35-55 kg dan jantan dewasa 85- 110 kg, sedangkan berat bayi yang baru lahir sekitar 1-2 kg (rata-rata 1,8 kg) (Wich dkk., 2004). Perkembangbiakan orangutan diawali dengan pubertas atau dewasa, dimana proses reproduksi mulai terjadi. Pubertas pada orangutan jantan peliharaan umumnya terjadi pada umur 8 tahun, sedangkan pada orangutan liar terjadi kira-kira pada umur 10 tahun. Masa pubertas betina peliharaan pada umur sekitar 6 tahun, sedangkan yang hidup liar antara 12-13 tahun. Orangutan betina siap bereproduksi pada usia sekitar 14 tahun yang diawali dengan estrus (Wich dkk., 2004). Galdikas (1986) menjelaskan bahwa estrus adalah periode dimana hewan betina mempunyai keinginan birahi dan bersedia menerima pejantan.

Pada orangutan periode estrus ditandai dengan adanya perubahan perilaku yang seringkali berhubungan dengan perubahan faal sewaktu terjadi ovulasi. Selama estrus betina menunjukkan ketanggapan dan ketersediaan seks terhadap jantan. Lamanya birahi pada orangutan berkisar antara 2-3 hari yang dilanjutkan dengan proses ovulasi. Ovulasi diperkirakan terjadi pada pertengahan siklus birahi, yaitu pada hari ke-12 sampai ke-14 sejak permulaan birahi. Masa kehamilan orangutan berlangsung lebih kurang sembilan bulan dengan rata-rata 254-279 hari. Biasanya baru akan terjadi kehamilan setelah beberapa kali melakukan perkawinan dan melahirkan satu anak per kehamilan untuk setiap betina orangutan (Galdikas, 1986). Selanjutnya Wich et al. (2004) menjelaskan bahwa setiap kelahiran hanya menghasilkan satu bayi dengan jarak kelahiran 6-9 tahun, sehingga setiap induk orangutan paling banyak bisa melahirkan semasa hidupnya sebanyak 4 anak.

Bayi yang baru lahir akan memegang dengan kuat rambut di tubuh induknya dalam segala aktivitas, seperti pergerakan, makan dan istirahat. Akan tetapi, eksplorasi penjelajahan bayi, jarak bayi dengan induk akan berangsur bertambah seiring waktu berjalan. Masa transisi dari bayi menjadi kanak-kanak terjadi secara bertahap (Mackinnon, 1974). Hal ini disebabkan batas tahapan perkembangan orangutan dimulai pada masa kanak-kanak (Horr, 1977). Tahap pertumbuhan kehidupan orangutan di alam dapat dibedakan dalam beberapa kategori sebagai berikut.

Tabel 1. Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan Orangutan

Jenis Kelamin Taraf Perkembangan Umur (tahun) Berat (kg) Sifat Morfologi
Jantan/Betina Bayi (infant) 0-2,5 2-6 Masih sangat tergan tung dengan induk, bayi selalu digen dong oleh induk nya. Masih menyu su dan tidur di sa rang induk. Mempunyai rambut yang panjang dan ber diri di sekitar muka. Warna rambut biasanya jauh lebih pucat di sekeliling mata dan mulut bahkan seluruh tubuh terdapat bercak kulit.
Jantan/Betina Kanak-kanak(juvenile) 2,5-7 6-15 Sudah dapat mela kukan beberapa aktivitas sendiri, tetapi masih bersama in duknya. Biasanya berpindah bersama, tetapi terlepas dari badan induk, masih menyusu dan tidur dalam sarang induk. Warna rambut lebih gelap dari individu bayi dengan bercakbercak putih yang hampir pudar pada tu buh, tetapi wajah ma sih menyerupai bayi.
Jantan Remaja(adolescent) 7-12 15-30 Sudah terpisah dari induknya tetapi ber temu dengan induk atau dengan indivi du lain dan bergerak bersama dalam satu kelompok dan sudah menunjukkan perila ku sosialnya sendiri berupa tingkah laku sosial. Warna rambut pada daerah muka lebih gelap dari sebelum nya. Rambut di se kitar muka masih pan jang-panjang dan ber diri.
Betina Remaja(adolescent) 7-15

(Sumber: Mackinnon, 1974; Rijksen, 1978; dan Galdikas, 1986)

Ekologi orangutan mencakup pola makan, habitat, perilaku sosial, daerah jelajah, perilaku bersarang dan lain-lain. Sejak laporan pertama tentang orangutan diterbitkan, satwa ini dikenal sabagai pemakan buah. Pola makan ini sangat mempengaruhi kondisi biologis dan cara hidupnya. Oleh karena itu, distribusi jumlah dan kualitas makanannya menurut waktu dan tempat tertentu merupakan faktor penentu utama perilaku pergerakan, kepadatan populasi yang akhirnya menentukan organisasi sosialnya (Galdikas, 2001).

Orangutan memperlihatkan banyak variasi ekologi dan perilaku sosial individunya karena perbedaan seks, umur, kondisi reproduksi, status sosial dan juga keterampilannya (Galdikas, 2001). Selanjutnya Rijksen (1978) menjelaskan bahwa orangutan juga berbakat untuk mengembangkan pola hubungan yang kompleks, yaitu individu dominan berperan mengontrol dan melindungi sesamanya. Kemampuan ini sangat berperan dalam organisasi sosial orangutan untuk mempertahankan tingkat sosial relatif tinggi jika kondisinya memungkinkan (Meijaard et al, 2001).

Salah satu perilaku sosial yang cukup menonjol bagi anak orangutan adalah sosial bermain. Permainan dalam lingkungan sosial menunjukkan perbedaanperbedaan sosial yang menarik (Van Schaik, 2001). Selain perilaku bermain, perilaku sosial anak orangutan yang paling dominan adalah kontak dengan induknya. Anak orangutan (jantan dan betina) umur 0-4 tahun biasanya berpegang pada induknya saat bergelantungan di pohon dan masih menyusu pada induknya, sedangkan pada umur 4-7 tahun anak orangutan akan berpindah bersama induk dari satu pohon ke pohon lainnya tetapi sudah mulai terlepas dari induk saat berpindah dan juga masih tetap menyusu pada induk, dan benar-benar akan bebas dari induk pada umur 7-12 tahun walaupun kadang-kadang akan bergerak pindah juga bersama induk dalam satuan lain (betina) (Galdikas, 1986).

Perilaku sosial orangutan dapat terganggu dengan tingginya aktivitas manusia. Penebangan hutan, perburuan, perdagangan hewan, degradasi habitat dan konversi lahan, serta ekspansi manusia menyebabkan banyak orangutan menjadi yatim piatu, dibawa keluar dari hutan, dikandangkan, bahkan dibunuh (Rijksen, 2001; Rijksen dan Mejiaard, 1999; Russon, 2009). Pemeliharaan orangutan di dalam kandang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan orangutan. Kebanyakan orangutan yang dikandangkan merupakan bayi usia 1-4 tahun. Orangutan yang dibesarkan tanpa induk akan kehilangan kesempatan belajar bertahan hidup dan bersosialisasi (Fox dkk., 1999; Russon, 2003; van Noordwijk dan van Schaik, 2005).

Lingkungan kandang tidak mendukung kesempatan untuk pembelajaran mengenai keahlian yang dibutuhkan dalam hutan (ketrampilan) dan orangutan yatim piatu menunjukkan kompetensi yang rendah terhadap hutan (Bowden, 1980; Kaplan dan Rogers, 1994; Rijksen dan Rijksen-Graatsma, 1975). Orangutan yatim piatu juga tidak suka bersosialisasi dengan orangutan lainnya dan hal ini menurunkan kemampuan dan pengalaman bersosialisasi sesuai usianya. Banyak dari orangutan yatim piatu menunjukkan ketidakmampuan bersosialisasi yang ditandai dengan gejala depresi, seperti lesu, menarik diri dari segala bentuk sosialisasi, mudah takut, dan mengalami defisiensi perilaku sosial (Harlow dkk., 1965; Russon, 2009).

Teknik Analisis Metagenom Mikrobioma Usus

Pendekatan yang dapat dilakukan untuk menganalisa genom dari mikrobia yang hidup dalam usus orangutan adalah melalui pengambilan sampel secara noninvasif. Berbeda halnya dengan pengambilan sampel secara invasif, pengambilan sampel secara noninvasif tidak memerlukan penangkapan ataupun bersinggungan langsung dengan hewan uji. Hal ini tentu dapat menghilangkan resiko stres hewan uji dan penggunaan obat bius yang berbahaya (Gardipee, 2007). Metode ini juga sesuai digunakan dalam penelitian ini mengingat orangutan merupakan hewan arboreal yang menghabiskan banyak masa hidupnya di atas pohon sehingga sulit untuk ditangkap (Setia, 2009). Menurut Taberlet dkk., 1999), sampel yang diperoleh secara noninvasif dapat berupa feses, urin, rambut, bulu, kulit, dan tengkorak.

Feses merupakan salah satu sampel yang popular digunakan sebagai sumber DNA dalam analisis molekuler. Satu gram feses dapat mengandung sejumlah besar fecal DNA yang berasal dari sel-sel epitel usus yang terlepas selama proses pencernaan berlangsung (Wasser, 1997; Piggot dkk., 2003). Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas fecal DNA adalah usia feses. Usia feses sangat penting karena menentukan durasi feses terpapar kondisi lingkungan di sekitarnya, antara lain suhu, kelembaba, dan paparan sinar matahari yang dapat mempengaruhi aktivitas bakteri pendegradasi dalam menentukan kualitas dan kuantitas amplifikasi DNA. Sampel feses yang baik adalah yang berusia kurang dari 24 jam karena masih mengandung banyak lendir pada permukaannya (Fernando dkk., 2003).

Faktor lainnya yang juga mempengaruhi kualitas dan kuantitas fecal DNA adalah metode pengawetan sampel dan suhu lingkungan. Menurut Fernando dkk. (2003), metode pengawetan sampel yang disarankan adalah menggunakan etail 95% atau buffer penyimpanan yang mengandung DMSO/EDTA/Tris/larutan garam karena mampu mengawetkan sampel hingga lebih dari tiga tahun. Penggunaan buffer penyimpanan harus teliti dengan memperhatikan rasionya terhadap jumlah sampel. Suhu juga dapat mempengaruhi penyimpanan sampel karena pada suhu tinggi atau sekitar 37oC aktivitas endonuklease dan enzim hidrolitik lainnya meningkat sehingga dapat menurunkan kualitas dan kuantitas DNA yang diperoleh (Nsubuga dkk., 2004).

Kesimpulan

Analisa mikrobioma usus orangutan ini bisa menjadi dasar penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan usaha menurunkan tingkat depresi Pongo pymaues dengan cara alami melalui pemanfaatan mikrobioma usus yang bersangkutan. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat meningkatkan wawasan khalayak, khususnya di Indonesia, mengenai animal microbiome dan manfaatnya untuk kehidupan yang lebih baik.

Daftar Pustaka

Brandon-Jones, D., Eudey, A.A., Geissmann, T., Grove, C.P., Melnick, D.J., Morales, J.C., Shekelle, M., dan Stewart CB. 2004. Asian Primate Classification. International Journal of Primatology. 5:97-164.

Bravo, J.A., Forsythe, P., Chew, M.V., Escaravage, E., Savignac, H.M., Dinan, T.G., Bienenstock, J., dan Cryan, J.F. 2011. Ingestion of Lactobacillus Strain Regulates Emotional Behavior and Central GABA Receptor Expression via the Vagus Nerve.  Proc. Natl. Acad. Sci. 108(38):16050-16055.

Galdikas, B.M.F. 1986. Adaptasi Orangutan di Suaka Tanjung Putting, Kalimantan Tengah. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Groves, C. 2001. Primate Taxonomy. Smithsonian Institution Press. Washington.

Heijtz, R.D., Wang, S., Anuar, F., Qian, Y., Bjorkholm, B., Samuelsson, A., Hibberd, M.L., Forssberg, H., Pettersson, S. 2011. Proc. Natl. Acad. Sci. 108(7): 3047-3052.

Horr, D. A. 1972. The Borneo Orangutan. Borneo Research Bulletin.

Hosokawa, T., Kikuchi, Y., Shimada, M., dan Fukatsu, T. 2008. Symbiont Acquisition Alters Behavior of Stinkbug Nymphs. Biol.Lett. 4(1):45-48.

Koch, H. dan Schmid-Hempel, P. 2011. Socially Transmitted Gut Microbiota Protect Bumble Bees Against an Intestinal Parasite. Proc. Natl. Acad. Sci. 108 (48):19288-19292.

MacKinnon, J. R. 1972. The Behaviour and Ecology of The Orangutan (Pongo pygmaeus) with Relation to The Other Apes. PhD. Thesis. University of Oxford.

Rodman, P.S. 1977. Feeding Behaviour of Orangutan of The Kutai Nature Reserve, East Kalimantan. Dalam Primate Ecology (T. H. Clutton – Bbrock, ed.), Academic Press, New York.

Setia, T.M. 2009. Peran Liana dalam Kehidupan Orangutan. J Vis Vitalis, 2(1):55-61.

Sharon, G., Segal, D., Ringo, J.M., Hefetz, A., Zilber-Rosenberg, I.,  dan Rosenberg, E. 2010. Commensal Bacteria Play a Role in Mating Preference of Drosophila melanogaster. Proc. Natl. Acad. Sci.107(46):20051-20056.

Singleton, I., Wich, S.A., Hosson, S., Stephens, S., Utami-Atmoko, S.S., Leighton, M., Rosen, N., TaylorHolzer, K., Lacy, R., dan Byers, O. 2004. Orangutan Populationand Habitat Viability Assessment: Final Report. IUCN-SSC Conservation Breeding Spesialist Group, Apple Valey, MN.

Verhulst, N.O., Qiu, Y.T., Beijleveld, H., Maliepaard, C., Knights, D., Schulz, S., Berg-Lyons, D., Lauber, C.L., Verduijn, W., Haasnoot, G.W., Mumm, R., Bouwmeester, H.J., Claas, F.H.J., Dicke, M., van Loon, J.J.A., Takken, W., Knight, R., dan Smallegange, R.C. 2011. Composition of Human Skin Microbiota Affects Attractiveness to Malaria Mosquitoes.  PLoS ONE. 6(12):e28991.

Wich, S.A., Utami-Atmoko, S.S., Mitra, S.T., Rijksen, H.D., Schurmann, C., van Hoof, J.A.R.A.M., dan Van Schaik, C.P. 2004..Life History of Wild Sumateran Orangutan (Pongo abelii). J Human Evolution. 47(6):385 – 398.

 

 


3 responses to “Ekologi Molekuler: Analisis Metagenom Mikrobioma Usus pada Pongo pygmaeus dan Pengaruhnya terhadap Tingkat Depresi”

  1. ronykristianto says:

    Menarik sekali artikelnya, semoga dengan artikel ini dapat menambah wawasan tentang analisis metagenom dan guna untuk langkah konservasi orang utan ya, mengingat orang utan merupakan salah satu spesies asli Indonesia yang mulai terancam punah. Semangat konservasi!

  2. alanpeter says:

    Apakah ini bisa diterapkan pada mamalia berbadan besar lainnya ? Tantangan terberat dari teknik ini apa saja terutama bagi orang – orang konservasi ?

  3. rendi says:

    memang didunia ini tidak ada yang dapat hidup sendiri. semua saling kertergantungan. bahkan mikrobia memiliki peranan penting. luar biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php