Wildlife

Ada kangguru asli Papua, tahukah kamu?

Posted: September 5th 2014

“Hai, perkenalkan namaku Walabi. Banyak orang memanggilku kangguru, padahal aku dan kangguru itu berbeda, ya walaupun kami masih satu keluarga. Badanku lebih kecil dari kangguru dan aku tinggal di Papua, Indonesia. Sebenarnya, aku itu lovable banget. Tapi sayangnya masih banyak yang belum kenal aku, padahal aku sudah terancam hampir punah. Yuk mulai kenali aku dan jangan lupa sayangi aku ya 😀 ”

Walabi (Sumber: animals.nationalgeographics.com)

Kangguru vs Walabi (Sumber: animals.howstuffworks.com)

Kangguru vs Walabi (Sumber: animals.howstuffworks.com)

Klasifikasi Walabi

Kingdom: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mamalia

Ordo: Diprotodontia

Famili: Macropodidae (IUCN, 2008)

Nama ilmiah spesies ini adalah Macropus agilis dan biasa disebut agile wallaby dalam bahasa Inggris. Marsupialia ini hidup di savana berdataran rendah dan bersarang di vegetasi yang rimbun. Walabi suka hidup berkelompok, terdiri dari kurang lebih 10 individu dalam setiap kelompok dan tidak menutup kemungkinan setiap kelompok yang ada bergabung membentuk suatu kelompok yang lebih besar (IUCN, 2008). Walabi merupakan marsupialia terbesar yang ditemukan di Papua. Ukuran tubuh jantan lebih besar dibanding betina. Tinggi Walabi berkisar antara 578-700 mm, panjang ekor 494-540 mm, panjang kaki 174-210 mm, dan berat mencapai 26 kg (Husson, 1958).

Daerah Persebaran Walabi di Papua (Sumber: IUCN, 2008)

Daerah Persebaran Walabi di Papua (IUCN, 2008)

Macropus agilis merupakan spesies khas Papua (Indonesia), Papua New Guinea, dan Australia. Ketiganya memiliki vegetasi khas yang mirip sehingga Walabi secara alami hanya berkembang di ketiga wilayah tersebut. Ada dua kemungkinan persebaran Walabi menurut para ahli, yang pertama yakni lepasnya Walabi yang dibawa dari Australia sebagai peliharaan dan kemudian berkembang biak di alam bebas Papua (Flannery, 1995). Kemungkinan kedua adalah ketika permukaan air laut surut sekitar 14000-17000 tahun yang lalu sehingga padang rumput membentang dari utara Australia menuju dataran rendah di selatan Papua dan hal tersebut memungkinkan persebaran Walabi dari Australia ke Papua (Menzies, 2011).

Status dan Upaya Konservasi Walabi

Dalam IUCN Red List tahun 2008, Walabi dinyatakan dalam kondisi least concern, namun jumlahnya terus menurun secara global. Di Papua, upaya konservasi Walabi dilakukan di Taman Nasional Wasur, Merauke. Meski berada dalam tangkaran suatu taman nasional, keberadaan Walabi tetap terancam.

Menurut Saragih (2008), TN Wasur merupakan taman nasional yang di dalam kawasannya masih terdapat penduduk asli yang menggantungkan hidupnya pada hasil yang diperoleh dari alam untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Namun, seiring berjalannya waktu, Walabi tidak hanya diburu untuk dimakan tapi juga untuk dijual. Untuk Walabi dewasa harga jualnya berkisar antara Rp 35000-45000/kg. Hal tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan perburuan Walabi.

Maraknya penujualan Walabi juga dikarenakan harganya lebih murah dibanding sumber protein lainnya, seperti daging ayam dan sapi. Dari informasi yang diperoleh Saragih (2008), diketahui bahwa satu orang pedagang menjual 35-45 ekor/hari. Selain dikonsumsi dagingnya, kulit Walabi juga dimanfaatkan untuk membuat dompet. Sementara itu, telapak kakinya dijadikan gantungan kunci dengan harga sekitar Rp 30000-50000/buah. Tidak hanya itu, tulang Walabi pun dijadikan sebagai sendok (Antara News, 2011).

Hasil Buruan Walabi di Merauke (Saragih, 2008)

Hasil Buruan Walabi di Merauke (Saragih, 2008)

Hasil Kerajinan dari Walabi (Saragih, 2008)

Hasil Kerajinan dari Walabi (Saragih, 2008)

Penjualan Walabi harus segera dihentikan. Pemerintah Provinsi Papua harus segera bertindak tegas mengatasi kerusakan yang terjadi di TN Wasur untuk mencegah kepunahan Walabi. Namun, kita jangan hanya mengharapkan pemerintah. Kita semua sebagai MANUSIA memiliki peranan yang sama-sama penting untuk melestarikan Walabi dan semua makhluk hidup yang terancam. Semua diciptakan sedemikian rupa agar terjadi keselarasan yang indah di bumi ini. Mulailah dari diri kita untuk belajar tidak egois. Mereka adalah makhluk yang punya HAK untuk hidup, sama seperti kita. Let’s save them for the better future!

I need you to save me. Take care of me, okay? (Sumber: actinglikeanimals.com)

For more information:

Flannery, T.F. 1995. Mammals of New Guinea. Cornell University Press. Revised edition.

Husson, A.M. 1958. Notes on Protemnodon agilis papuanus (Peters & Doria) from New Guinea (Mammalia: Marsupialia). Nova Guinea 9: 245-252.

Saragih, I.N. 2008. KOHABITASI ANTARA WALABI LINCAH (Macropus agilis papuanus Peters and Doria, 1875) DAN RUSA TIMOR (Cervus timorensis de Blainville, 1822) DI SAVANA CAMPURAN UDIUDI SPTN III TAMAN NASIONAL WASUR, PAPUA. IPB. Bogor.

http://www.antaranews.com/berita/255433/tradisi-sendok-tulang-masih-lestari-di-suku-ngalum

http://www.iucnredlist.org/details/40560/0

http://mammals-of-papua.webs.com/agilewallaby.htm

 


11 responses to “Ada kangguru asli Papua, tahukah kamu?”

  1. caterinaakila says:

    Di Indonesia ternyata ada kangguru ya? 😀 Sayang karena ulah manusia dan lagi-lagi karena manusia yang hanya mementingkan masalah finansial, hewan selucu itu menjadi korbannya. Apakah pemerintah dearah Papua sendiri sudah mempunyai peraturan untuk menindaklanjuti masalah perburuan Walabi itu sendiri mi?

    • miabone says:

      Terimakasih untuk kepeduliannya, Cathy. Sayangnya dari pemerintah Papua sendiri memang belum bisa bertindak tegas untuk mengatasi permasalahan ini. Hal tersebut dikarenakan hampir semua perburuan dilakukan oleh masyarakat lokal yang hidupnya sangat bergantung dari alam dan mereka menganggap hal tersebut adalah hal yang wajar karena menurut mereka Walabi merupakan hewan untuk konsumsi, layaknya kita masyarakat di luar Papua mengonsumsi ayam dan sapi. Sampai tahun 2010 bahkan ada seorang aktivis Sekretariat Komisi Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Agung Merauke, Frater Wensislaus, yang masih mengecam tindakan perburuan liar ini dan meminta pemerintah Provinsi Papua untuk segera mengatasi kerusakan yang terjadi di TN Wasur (http://pegbintangkab.go.id/taman-nasional-wasur-terancam-rusak-2). Dan hal tersebut cukup menunjukkan belum adanya tindakan yang serius dari pemerintah Papua sendiri.

  2. Katonraga says:

    Memang konservasi walabi selain dari perlindungan badan pemerintah yang terkait juga harus didukung oleh masyarakat sekitar yang harus sadar akan dampak yang nantinya timbul akibat salah satu satwa indonesia ini sudah tidak ada lagi, Nah dalam hal ini yang ingin saya tanyakan, apakah upaya konservasi Walabi hanya dapat dilakukan di Taman Nasional Wasur, Merauke saja atau dapat dibuat ekosistem yang mirip habitat tempat tinggalnya dilain tempat dengan pengoptimalan konservasi satwa dilindungi tersebut??

    • miabone says:

      Pertanyaan yang bagus sekali, terimakasih Katon. Walabi merupakan hewan dengan habitat yang khas berupa savana. Untuk di Papua sendiri, selain ditangkarkan di TN Wasur (Merauke), Walabi juga ditangkarkan di TN Lorenzt (Mimika). Namun sayangnya di TN Lorenzt juga mengalami hal serupa karena sudah terjamah oleh manusia sehingga berbagai eksploitasi alam terjadi disana dan membahayakan keseluruhan flora dan fauna, termasuk Walabi (http://www.papua.us/2013/04/penebangan-liar-di-kawasan-hutan-di.html). Sementara untuk di luar Papua, Walabi sudah mulai dikembangkan di berbagai kebun binatang, seperti di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta dan Gembira Loka Zoo, Yogyakarta. Namun, usaha ini nampaknya belum optimal, terutama di TM Ragunan yang sempat kehilangan 14 dari 18 Walabi karena adanya anjing dari masyarakat sekitar yang masuk ke kawasan lindung Walabi (http://news.detik.com/read/2013/11/28/123718/2426231/10/14-kanguru-ragunan-yang-mati-walabi-papua-digigit-anjing-liar). Selain itu, saya belum menemukan kabar gembira mengenai taman nasional lain yang memiliki habitat khas Walabi.

  3. arum08 says:

    informasi yang baru. saya tau kalau ada kangguru kecil ini, tapi belum tahu ulah manusia yang keji dan statusnya yang hampir punah ini… let save them… 🙂

  4. ronykristianto says:

    artikel yang menarik, membuka wawasan saya tentang kangguru dari Papua, jangan biarkan spesies satu ini mengalami kepunahan, karena menurut saya ini spesies yang unik yang belum tentu ada di negara lain. Indonesia boleh bangga dengan sebutan “megadiversity”nya karena keanekaragaman hayati yang melimpah. Jangan sampai sebutan tersebut lama kelamaan memudar atau bahkan hilang, karena ulah manusia yang mengeksploitasi secara berlebihan.

    • miabone says:

      Ya, benar sekali. Walabi adalah keunikan milik Indonesia yang seharusnya kita lestarikan bersama. Terimakasih, Rony. Semoga akan ada lebih banyak teman-teman yang peduli seperti Anda.

  5. novia11 says:

    Sungguh malang nasih Walabi padahal hewan ini munggil dan lucu, betapa kejamnya orang-orang yang membunuh hewan ini. Apakah sampai saat ini tidak UU yang mengatur tentang perburuan Wakabi?dan vegetasi khas yang bagaimana yang dibutuhkan Walabi untuk dapat tumbuh dan berkembang biak?

    • miabone says:

      Terimakasih Novia untuk pertanyaan dan kepeduliannya. Perburuan Walabi sudah diatur dalam Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/1970 dan No. 247/Kpts/Um/4/1979 (Sumber: Kennedy, M. 1992. Australasian Marsupials and Monotremes, An Action Plan For Their Conservation. IUCN. Switzerland). Namun tampaknya pemerintah sendiri enggan untuk peduli terhadap permasalahan ini sehingga realisasi dari SK tersebut hanya sekedar impian yang tak kunjung datang. Walabi memiliki vegetasi khas berupa savana dan hal itulah yang menyebabkan Walabi sulit dikembangkan di tempat lain di Indonesia yang rata-rata ditutupi oleh hutan hujan tropis.

  6. langit says:

    Saya pernah melihat walabi di taman safari bogor. Saya bilang ke saudara saya walabi bukan kangguru. Tapi mereka tetap bilang sama cuma,ukurannya lebih kecil yang di Indonesia. Bantu saya untuk menjelaskannya lebih rinci secara ilmiah biar saya tidak keliru. Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php