luhshyntia

KONSERVASI BADAK DENGAN METODE MOLEKULER? MEMANG BISA?

Posted: August 30th 2015

Indonesia merupakan negara hutan tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan dikenal sebagai salah satu Megabiodiversity Country. Pulau sumatera salah satu pulau di Indonesia yang dapat menjadi gambaran kekayaan daerah tropis di Asia. Hal tersebut bisa dilihat dari flora dan fauna yang ada di pulau ini, yaitu satu diantaranya adalah badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).

Terdapat lima jenis badak yang masih hidup di dunia, tiga jenis berada di Asia yaitu Rhinoceros unicornis (badak India), Rhinoceros sundaicus (badak Jawa), Dicerorhinus sumatrensis (badak Sumatera) dan dua jenis lainnya berada di Afrika yaitu Ceratotherium simum (badak putih Afrika) dan Diceros bicornis (badak hitam Afrika) Lekagul & McNelly (1977).

Penasaran bagaimana perbedaan dari kelima jenis badak ini?? yuk kita lihat…

1. Rhinoceros unicornis (badak India)

Indian-rhinoceros- (http://www.arkive.org/indian-rhinoceros/rhinoceros-unicornis/image-G22199.html)

2. Rhinoceros sundaicus (badak Jawa)

Indonesian-Javan-rhinoceros-in-clearing (http://www.arkive.org/javan-rhinoceros/rhinoceros-sondaicus/photos.html)

3. Dicerorhinus sumatrensis (badak Sumatera)

Sumatran-rhinoceros-grazing(http://www.arkive.org/sumatran-rhinoceros/dicerorhinus-sumatrensis/)

4.  Ceratotherium simum (badak putih Afrika)

Southern-white-rhinoceros

(http://www.arkive.org/white-rhinoceros/ceratotherium-simum/)

5. Diceros bicornis (badak hitam Afrika)

Black-rhinoceros-anterior-view

(http://www.arkive.org/black-rhinoceros/diceros-bicornis/)


Menurut Alikodra (2002) populasi satwa liar dapat berkembang stabil ataupun menurun sesuai dengan kondisi perubahan komponen lingkungannya. Selain faktor tersebut, terancamnya populasi badak Sumatera juga akibat hidupnya yang soliter dan sensitif terhadap aktivitas manusia dan pengganggu lainnya, serta proses perkembangbiakan yang lambat dengan keturunan yang dihasilkannya pun sangat terbatas.

Populasi kecil lebih rentan pada sejumlah efek genetik yang merugikan, misalnya penurunan keragaman karena efek inbreeding serta terfiksasinya beberapa alela tertentu dalam populasi sehingga hewan tersebut menjadi monomorf dan mengalami penurunan kemampuan berevolusi atau adaptasinya pada lingkungan yang berubah. Selain itu berkurangnya populasi, faktor lain adalah terjadinya fragmentasi suatu habitat yang akan mendorong putusnya aliran gen (gen flow) dan meningkatnya genetic drift dan inbreeding (kawin silang dalam) antar populasi (Frankham et al. 2002).

“Mempertahankan keanekaragaman genetika dalam suatu populasi merupakan salah satu cara dari managemen populasi bagi spesies yang terancam punah”.

Dalam usaha melindungi semua jenis satwa liar dari kepunahan termasuk badak Sumatera, pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan peraturan perundangan untuk perlindungan semua jenis satwa liar yang dikeluarkan pada tahun 1931 No. 266. Di  samping itu badan Internasional yang bergerak dalam bidang konservasi sumberdaya alam IUCN (Internasional Union For Conservation of Nature and Natural Resources) juga telah memberikan perhatian terhadap kelestarian badak yang dimasukan dalam kategori “Endangered” atau genting (IUCN 1996) dengan membuat Suaka Rhino Sumatera (SRS). Suaka ini terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Way Kambas dengan areal seluas 9000 Ha, didominasi oleh ekosistem hutan hujan dataran rendah sedangkan lainnya adalah hutan rawa dengan lingkup yang kecil, dan dikelola secara khusus dan intensif.

Handayani dkk., (2011), melakukan penentuan keragaman genetik spesies badak sumatera terutama keragaman individu dalam populasi dilakukan dengan menggunakan Cytochrome Oxidase I (CO I) dari genom DNA mitokondria (mtDNA).

“Perkembangan ilmu dan pengetahuan dalam biologi molekuler, khususnya pada pengkajian karakter bahan genetik telah menghasilkan kemajuan yang sangat pesat bagi perkembangan penelaahan suatu organisme dan pemanfaatannya bagi kesejahteraan manusia. Di bidang taksonomi, sebagai contoh Avise & Lansman (1983) dan Brown (1983) mengungkapkan peran DNA mitokondria (mtDNA) dalam studi keanekaragaman genetika dan biologi populasi pada hewan. mtDNA dapat digunakan sebagai penanda genetika karena ukurannya relatif kecil. “


penelitian di bawah ini merupakan salah satu penelitian molekuler yang bertujuan untuk menganalisis genetika populasi badak Sumatera yang dilakukan oleh tim peneliti Handayani dkk.

penelitian diawali dengan pengumpulan sampel darah berasal dari SRS (Suaka Rhino Sumatera) TN Way Kambas Lampung.

Sampel berupa darah dari 2 ekor badak sumatera berjenis kelamin betina (Rosa & Bina) dan 2 ekor badak jantan (Torgamba & Andalas) yang diambil pada daerah vena auricularis (bagian telinga) dari masing-masing individu badak. Isolasi dan purifikasi DNA Total.

Amplifikasi daerah CO I pada badak Sumatera dilakukan dengan PCR menggunakan pasangan primer RHCOIF dan RHCOIR.

Amplifikasi daerah CO I pada badak Sumatera dilakukan dengan menggunakan pasangan primer RHCOIF dan RHCOIR menghasilkan fragmen DNA berukuran 711 bp. Jarak genetik digunakan untuk melihat kedekatan hubungan genetik antar individu badak Sumatera dan spesies badak lain melalui penggunaan analisis perhitungan Pairwie Distance dengan p-distance dapat ditunjukkan matriks perbedaan genetik antara badak Sumatera dan badak outgroup (badak India dan badak Afrika), hasil perhitungan berdasarkan daerah CO I parsial menunjukkan nilai jarak genetik berkisar antara 0.016 sampai 0.147. Jarak genetik pada Bina (♀) terlihat dekat dengan Torgamba (♂) sebesar 0.007.

Hubungan kekerabatan dengan menggunakan metode tersebut ditemukan bahwa badak putih Afrika berbeda kelompok dengan badak Asia.

Di dalam kelompok badak Asia terlihat bahwa badak India sama dengan kelompok dengan badak Sumatera (Indonesia).

Di dalam badak Sumatera (Indonesia) sendiri terjadi keragaman. Berdasarkan hasil sekuen gen CO I terdapat situs-situs spesifik pada badak Sumatera sebesar adalah 67% hasil tersebut dapat digunakan sebagai data base dalam penelitian-penelitian selanjutnya.


Perkembangan teknologi terutama bidang molekuler menjadi pintu gerbang kesuksesan bagi para biologis dunia termasuk Indonesia, khususnya pada bidang konservasi hewan yang terancam punah, salah satunya badak Sumatera, setelah  diketahuinya aspek genetika pada badak Sumatera,  kita dapat menggunakan penelitian tersebut dalam manajemen konservasi badak Sumatera.

Oleh karena itu penelitian keragaman genetik dari populasi Badak Sumatera merupakan langkah penting yang harus dilakukan, dan keberhasilan penelitian ini merupakan langkah dalam konservasi badak Sumatera. Hasil ini diharapkan dapat dijadikan data base dalam usaha manajemen populasi dan konservasinya. 

Daftar Pustaka:

Alikodra HS. 2002. Pengelolaan satwaliar jilid 1. Departemen Pendidikan dan kebudayaan Direktorat Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas IPB. Bogor.

Avise, J.C. & R.A. Lansman. 1983. Polymorphism of mitochondrial DNA in populations of higher animals. In. Evolution of genes and proteins. Ed. M.Nei & R.K. Hoehn. Sunderland: Sinaeuer Associates Inc. Publ. pp. 147-164.

Brown, W.M. 1983. Evolution of animal mitochondrial DNA. In. Evolution of genes and proteins. Ed. M.Nei & R.K. Hoehn. Sunderland: Sinaeuer Associates Inc. Publ. pp. 62-88.

Frankham RJD et al. 2002. Introduction to conservation genetics. Cambridge University Press.

Handayani, Dedy Duryadi Solihin dan Hadi S Alikodra. Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi Publisher: Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS.

IUCN. 1996. The IUCN red list of threatened animals, IUCN, Gland, Switzerland.

Lekagul B, McNelly. 1977. Mammals of Thailand. Sahakarnbhat Co. Bangkok.


8 responses to “KONSERVASI BADAK DENGAN METODE MOLEKULER? MEMANG BISA?”

  1. anggi21 says:

    Tulisan yang sangat menarik Luh Shyntia.. Saya menjadi tau bahwa Badak Sumatera dan Badak Afrika memiliki kekerabatan yang jauh tetapi berkerabat dekat dengan badak India.
    Namun, yang menjadi pertanyaan saya apakah molekuler juga dapat merekam penyebab variasi pada badak sumatera? Apakah disebabkan oleh mutasi? Terima kasih 🙂

  2. Yunice Femilia Bandue says:

    Terima kasih atas informasi yang sangat bermanfaat dan menarik Luh Shyntia,kita menjadi tahu bahwa salah satu cara untuk konservasi hewan yang terancam punah adalah dengan melakukan penelitian molekuler. Yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah konservasi badak dengan metode molekuler ini sudah membuahkan hasil yang signifikan dan terus dilakukan? Terima kasih 🙂

  3. luhshyntia says:

    terimakasih kepada saudari lia untuk pertanyaannya dan memberikan penilaian yang positif untuk postingan ini. untuk menjawab pertanyaan dari saudari yunice yaitu pada peneltian Handayani dkk., (2011) konservasi badak dengan metode ini hanya memberikan hasil pertama, badak Sumatera, badak India dan badak Afrika didapatkan situs-situs spesifik khususnya pada badak Sumatera sebesar 67%. kedua, pengelompokan badak Sumatera dengan badak India terlihat satu kluster/kelompok sedangkan badak Afrika berbeda. ketiga, Bahwa keempat badak Sumatera memiliki jarak genetik relatif besar bila dibandingkan dengan outgrupnya (badak India, badak Jawa, badak Afrika putih dan badak Afrika Hitam). untuk menjawab pertanyaan selanjutnya “apakah penelitian ini terus dilakukan”, sejauh pemahaman saya konservasi genetik sudah banyak dilakukan tetapi penentuan keragaman genetik spesies badak Sumatera di Indonesia belum pernah dilakukan, dan penelitian ini adalah yang pertama di Indonesia. tetapi adapula selain melihat keragaman genetik badak, salah satu contohnya pada judul penelitian “IDENTIFIKASI KERAGAMAN GENETIK KERBAU LOKAL POPULASI JAWA TIMUR DAN NUSA TENGGARA BARAT BERBASIS MIKROSATELIT SEBAGAI MODEL PENGEMBANGAN KONSERVASI KERBAU SECARA EX SITU”. dalam judul tersebut sama- sama mengidentifikasi keragaman genetik dari hewan untuk konservasi. terima kasih.

  4. luhshyntia says:

    terimakasih kepada anggi yang sudah memberikan tanggapan positif. untuk menjawab pertanyaan saudari, saya belum menemukan apakah molekuler ini juga dapat merekam penyebab penyebaran variasi dari badak Sumatera tetapi saya akan mecari tahu lagi apakah metode ini dapat dilakukan. sekali lagi terimakasih untuk pertanyaan yang diberikan.

  5. retnowulandari says:

    Sangat informatif,kerennya juga sudah mulai muncul dan banyak yang tertarik para peneliti-peneliti Indonesia seperti tim nya ibu Handayani dkk., (2011)ini dalam bidang konservasi hewan-hewan besar secara molekuler. Semoga jadi semakin banyak orang-orang yang care dengan badak. Saya ingin tanyakan,setelah penelitian keragaman genetik ini, memungkinkan tidak kalau langkah selanjutnya dilakukan kombinasi secara genetik dengan badak lainnya secara molekuler, karena mengingat untuk hewan besar seperti ini jika sudah berbeda jenis dan secara langsung dikawinkan kemungkinan akan sulit,tapi langkah ini bisa sedikit membantu persoalan inbreeding? terima kasih …

  6. mariajanina says:

    terima kasih buat informasinya Luh, dengan adanya tulisan anda saya bsa mendapat informasi yang cukup bermanfaat bagi saya. disini saya ingin bertanya di atas anda menulis bahwa pengumpulan sampel darah berasal dari SRS (Suaka Rhino Sumatera) TN Way Kambas Lampung. bagaimana penyimpanan darah yang anda dpatkan dari lapangan kemudian dibawa keLab untuk dianalisis secara molekuler ?.. terima kasih cantikk 🙂 ,,,

  7. pradhyaparamitha says:

    Wahh. Informasi yang sangat bermanfaat. Konservasi di bidang molekuler. Semoga hewan hewan langka di indonesia juga dilakukan konservasinya di bidang molekuler.

  8. Restu apriyani says:

    Sangat memberikan wawasan yang luar biasa. semakin berkembangnya dunia modern makan konservasi pun harus dilakukan secara modern juga agar dapat memberikan informasi yang tepat dan mengurangi kepunahan dari spesies badak tersebut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php