luhshyntia

“CEREK JAWA” si kecil yang jarang terdengar…

Posted: September 5th 2014

Pasti hal pertama yang terlintas dipikiran anda adalah sebuah pertanyaan sederhana “apa itu cerek Jawa? Memang ada ya?”. Mari saya akan memandu kalian untuk mengenal bersama- sama apa itu burung bernama cerek Jawa.

Cerek-jawa_Charadrius-javanicus_IT

Gambar 1. Burung cerek Jawa (Charadrius javanicus)

Burung cerek Jawa (Charadrius javanicus) atau dalam bahasa inggris yaitu Javan Plover. Seperti namanya, burung ini merupakan burung pantai yang endemik dan umum ditemukan di pesisir pantai Jawa. Burung ini merupakan burung pantai dimana kehidupannya bergantung pada ekosistem pantai dalam bersarang dan tempat mencari makan. Selain itu, burung ini memiliki habitat di pantai berpasir, lumpur, dan daerah terbuka yang berdekatan di sekitar pantai.

Kawasan pantai Trisik juga merupakan salah satu habitat bagi salah satu burung penetap Indonesia, burung tersebut adalah Cerek jawa (Charadrius javanicus). Burung ini sudah terpantau dan diamati sejak tahun 2006 oleh para pengamat burung di Yogyakarta. Cerek jawa merupakan salah satu jenis burung yang hanya memiliki persebaran di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, Bali dan Kangean (del Hoyo et al., 1996)

Cerek jawa oleh MacKinnon, et al. (1990), dideskripsikan sebagai berikut: tubuh berukuran kecil (15 cm), berparuh pendek, berwarna coklat dan putih. Warna jantan dan betina sama seperti halnya jenis-jenis charadriiae yang lain, yang hanya berwarna hitam-putih dengan warna abu-abu dan cokelat (Gambar 1) namun secara umum Cerek jawa dapat dibedakan dari jenis-jenis charadriiae yang lain dengan cara melihat warna putih pada kerah belakang yang tidak menyambung, iris coklat, paruh hitam, tungkai abu-abu hijau zaitun atau coklat pucat.

Selain itu, keunikan yang dimiliki cerek Jawa adalah Cicitan kecilnya yang berisik seringkali digunakan untuk mengusir para pemangsa menjauhi sarang tempat anak-anaknya bernaung

Menurut del Hoyo et al. (1996), Burung cerek Jawa membuat sarang berupa cekungan pada tanah. Sarang itu dipergunakan untuk menyimpan telurnya jumlah telur pada musim berkembangbiak umumnya berjumlah 1-3 telur per sarang per ekor. Telur Cerek jawa berwarna hijau kecoklatan dengan pola atau totol-totol berwarna hitam (gambar 2).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gambar 2. Telur cerek Jawa (Charadrius javanicus)

Berdasarkan hasil dari BirdLife International (2014), populasi dari burung cerek Jawa ini sudah mengalami penurunan dan ukuran populasi individu dewasa tidak diketahui. Selain itu, IUCN (International Union for Conservation of Nature) yaitu sebuah organisasi internasional yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam memasukkan cerek Jawa (Charadrius javanicus) atau Javan Plover sebagai salah satu spesies yang termasuk daftar merah spesies yang terancam punah (Red List of Threatened Species) dengan status konservasinya yaitu mendekati punah (Near Threatened/ NT). (IUCN, 2014).

Status iucn3.1 NT.svg

Gambar 3. status konservasi Javan Plover (IUCN ver 3.1)

Burung cerek Jawa (Charadrius javanicus) atau Javan Plover mendekati kepunahan dikarenakan spesies ini memiliki kisaran yang sempit dimana terjadi pembangunan dan dijadikan tempat rekreasi disekitarnya yang menempatkan tekanan pada habitatnya sehingga menjadi kritis. Hal ini cenderung memiliki populasi cukup kecil dan ini dianggap menurun. Dampak aktivitas tersebut menyebabkan wilayah jelajah maupun tempat bersarang cerek Jawa semakin sempit dan kompetisi yang ada semakin kuat sehingga memaksa hukum alam untuk berlaku.

Upaya yang dilakukan untuk menangani spesies tersebut agar tidak punah yaitu Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta – Pusat Pendidikan Konservasi dan Lingkungan Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). SMMA merupakan satu-satunya suaka margasatwa di Kota Jakarta, sekaligus yang terkecil di Indonesia. Walau begitu, tempat ini memiliki peranan penting dalam upaya pelestarian burung di dunia. Buktinya, Birdlife International memasukkan kawasan Muara Angke sebagai Important Bird Areas di Pulau Jawa. Beberapa jenis burung endemik Pulau Jawa juga bisa ditemukan di sini, seperti Cerek Jawa (Charadrius Javanicus).

Selain terdapat di kawasan konservasi, burung cerek Jawa juga dijadikan objek pengamatan oleh beberapa kalangan pengamat burung. Salah satu contohnya, Kelompok Pengamat Burung (KPB) UNY menggelar Festival Burung Pantai 2013, baru-baru ini di Pantai Trisik Yogyakarta. Pantai Trisik memang rutin menjadi tempat persinggahan burung-burung pantai yang melakukan migrasi akibat pergantian musim. Melangkah ke selatan areal persawahan, terdapat beberapa Cerek Jawa (Charadrius javanicus) yang dijumpai di sana (Anonim, 2013).

DAFTAR PUSTAKA:

Anonim. 2013. Bionic UNY Gelar Festival Burung Pantai 2013. http://fmipa.uny.ac.id/berita/bionic-uny-gelar-festival-burung-pantai-2013.html.  Diakses 4 september 2014. 

http://www.biodiversitywarriors.org/cerek-jawa-penghuni-pantai-marina.html  (diakses 4 september 2014)

BirdLife International. 2014. Charadrius javanicus. http://www.birdlife.org/datazone/speciesfactsheet.php?id=3133. Diakses 4 september 2014.

del Hoyo, J., Elliot, A. & Sargatal, J. , 1996. Hand Book the Bird of the World, Vol 3, Hoatzin to Ausk, Lynx Edicion. Barcelona.

IUCN. 2014. IUCN Red List of Threatened Species (ver. 2014.2). http://www.iucnredlist.org/details/summary/22693839/0. Diakses 4 september 2014.

MacKinnon, J. 1990. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

http://travel.detik.com/read/2012/02/07/162500/1836509/1025/ini-dia-suaka-margasatwa-terkecil-di-indonesia (diakses 4 september 2014)

 

 


17 responses to ““CEREK JAWA” si kecil yang jarang terdengar…”

  1. burung cerek jawa memang sudah jarang ditemukan di kawasan pantai yang ada di jawa terutama di pantai yang ada di yogyakarta jarang sekali burung cerek jawa di temukan dimana banyaknya pengunjung yang datang di pantai yang telah dibuka sebagai tempat wisata yang akhirnya mengganggu keberadaan cerek jawa sendri sehingga dengan adanya konservasi sangat penting untuk melestarikan burung cerek jawa yang mungil ini.

  2. Asoweni Samantha says:

    Burung Cerek Jawa ini memang indah dan mungil bentuknya. Acaman kepunahan ini terutama dikarenakan adanya pembangunan diseiktar pantai untuk tempat rekreasi, lalu karena hal tersebut populasinya menurun Yang ingin saya tanggapi adalah belum ada penjelasan mengenai peran utama/penting burung cerek jawa di ekositem alaminya sehingga perlu untuk dilestarikam selain alasan bentuknya yang indah dan keunikan cicitan kecilnya yang berisik. Terimakasihh,,!

  3. dayinfauzi says:

    Hewan mungil nann lucu. Memang benar yang menjadi faktor acaman kepunahan bagi satwa ini disebabkan oleh adanya pembangunan disekitar pantai seperti tempat-tempat rekreasi ataupun pembangunan kawasan industri, yang pada akhirnya menekan populasi satwa ini semakin menurun.
    yang ingin saya tambahkan bukan hanya faktor yang disebutkan diatas saja yang menjadi faktor ancaman, tetapi perilaku manusia seperti perburuan,perdagangan hewan terutama pencinta burung juga menjadi salah satu faktor penyebab penurunan satwa ini….

  4. saya sangat tertarik dengan cara burung ini menyimpan telurnya. burung cerek jawa ternyata tidak seperti burung lainnya yang menyimpan telurnya di sarang di ranting-ranting pohon yang tinggi. mungkin hal ini juga menjadi alasan burung ini semakin punah, jumlah predator di darat lebih banyak tentunya. cara konservasi telur seperti yang dilakukan pada pelestarian penyu berpeluang menjadi usaha konservasi burung cerek jawa yg efektif.

  5. yudharyanjanshen says:

    Burung yang unik
    saya ingin tahu ni tempat istrihat burung ini apakah di daratan atau seperti burung-burung lainnya di dahan pohon??
    dan apa yang menyebabkan burung ini tidak bisa hidup di hutan-hutan seperti jenis burung lain?? apakah tidak mampunya burung ini dalam beradaptasi??
    maap banyak pertanyaan 🙂 but nice posting!!

  6. restuapriyani says:

    sangat lucu dan menawan memang brung yg satu ini. bgaimna peran masyarkat dlm hal ini?
    apkah mreka ikut merusak hbitat brung itu sndri?

  7. luhshyntia says:

    Yudha: tempat istirahat burung ini sama seperti burung- burung biasanya karena tujuan mereka untuk berlindung dari predator di sekitar habitatnya. yang menyababkan burung ini tidak bisa hidup di hutan karena burung ini memang habitatnya pantai berpasir, lumpur, dan daerah terbuka yang berdekatan di sekitar pantai. oleh karena itu, burung ini tidak di jumpai di hutan melainkan di daerah sekitar pantai dan memang burung ini beradaptasi di sekitar pantai saja. dan julukan dari burung cerek jawa ini adalah burung pantai karena habitatnya yang lebih banyak di daerah pantai.

  8. nitabawole says:

    adakah upaya dari balai konservasi dan sumber daya lainnya untuk melestarikan hewan mungil ini?? selain yang telah dilakukan oleh BKSDA DAN SMMA yang ada di jakarta

  9. luhshyntia says:

    restu: menurut sumber yang saya dapat (Iskandar, S., dan Karlina, E. 2004. Kajian Pemanfaatan Jenis Burung Air di Pantai
    Utara Indramayu, Jawa Barat Buletin Plasma Nutfah.10 (1):43-48)Pemanfaatan burung ini sebagai sumber pangan bagi masyarakat yang
    tinggal di daerah pesisir pantai telah lama dilakukan dan menjadi suatu rutinitas
    yang penting. Pada awalnya pemanfaatan jenis-jenis burung tersebut hanya
    sebatas untuk pemenuhan kebutuhan protein bagi masyarakat setempat. Namun
    dalam perkembangannya, ternyata jenis-jenis burung tersebut tidak saja
    dimanfaatkan untuk kebutuhan protein, tetapi juga untuk diperjual-belikan kepada
    masyarakat kota, guna menambah sumber pendapatan

  10. Retno Wulandari says:

    Mungilllnya 🙂
    Shyn, Burung ini kan menyimpan telurnya di cekungan tanah, nah hal tersebut juga berkemungkinan ditemukan oleh manusia (selain dari predator-predator, seperti yang telah disampaikan sdri Anin).
    Nah, apakah ada hukuman atau tindakan baik dari pihak balai konservasi, pemerintah, dan lainnya bagi masyarakat yang kedapatan atau memang mencari telur ini (selain untuk dipelihara) misalnya hanya untuk dikonsumsi??

  11. luhshyntia says:

    wulan: sejauh ini belum ada larangan yang tegas dari pemerintah tentang pengambilan telur dari cerek jawa ini karena berdasarkan data yang didapat memang burung ini belum dimasukkan kedalam undang-undang seperti hewan-hewan lainnya.

  12. retnowulandari says:

    yahh 🙁 mudah-mudahan orang-orang yang menemui telur ini mereka tidak langsung berfikiran untuk menggorengnya/merebusnya, melainkan mereka membiarkan atau bahkan ikut menjaga agar menjadi burung mungill yang baruu 🙂 #aminn deh yahh

  13. luhshyntia says:

    wulan: yap,,benar sekali… kan kasihan burung ini sudah mendekati punah dan semoga saja tidak ada tangan jahil yang mau ambil telurnya.. amin 🙂

  14. anggi21 says:

    Sip info yang menarik. Saya jadi gemes dengan burung mungil ini,dengan kebiasaan dan ciri nya yang menarik dan berbeda dengan burung lainnya 🙂

  15. maria says:

    infonya menarik… baru tau juga kalo ada burung yang lucu kayak gini.. tapi seperti kita ketahui bahwa hampir semua burung memiliki ketertarikan pada bulu dan suara atau nyanyianya. menurut anda apa yang menjadi daya tarik tersendiri dari burung ini sehingga perlu dijaga dari kepunahan??

  16. luhshyntia says:

    menurut saya, yang menjadi daya tarik tersendiri dari burung ini untuk perlu di lestarikan adalah selain burung ini menyimpan telurnya di dalam cekungan tanah yang biasanya burung lainnya menyimpan telurnya di dalam sarang. selain itu, Burung ini memiliki urutan atau tahap perilaku saat memasuki musim kawin, ada tiga hal yang biasanya dilakukan oleh induk, 1). memilih dan mempertahankan area sarangnya, 2). mendekati dan berpasangan dengan induk betina untuk membuat sarang, dan mengerami telur, 3). tahap yang terakhir yaitu jantan dan betina sama-sama terlibat dalam menjaga anakannya

  17. mariajanina says:

    thx ya shyntia… atas informasi tentang burung cerek jawa, saya sering melihatnya namun saya tidak tau namanya.. thx ya 🙂 sekarang saya dapat mengetahui nama dari burung ini .. thx 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php