Krisna Dewantara

Juwet, lama tak didengar dan dilihat

Posted: February 28th 2016

Indonesia Negara yang sangat kaya. Bukan dari finansialnya melainkan kekayaan adat, budaya dan terutama alamnya. Alam Indonesia banyak menyediakan berbagai macam hasilnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mungkin karena banyaknya itu lah, kita hanya membudidayakan tanaman-tanaman tertentu, dan hanya mengenal itu-itu saja. Di Bali ada yang namanya buah “Juwet”? Ada yang mengenalnya? Kalo dalam bahasa Jawa atau mungkin di Indonesia dikenal dengan nama Duwet atau Jamblang. Buah dengan rasa manis sepet-sepet masam dan membuat lidah berwarna ungu ini mungkin ada yang mengenalnya, tapi apakah mudah mencari buah ini?

Buah Juwet (dalam bahasa inggris Java Plum atau Black plum) memiliki nama latin Syzygium cumini. Pohon buah ini memiliki tinggi mencapai 10-20 m, berbatang tebal, pertumbuhannya bengkok, dan bercabang banyak. Tangkai daun 1 – 3,5 cm dengan helaian daun lebar bulat memanjang atau bulat telur berbalik, panjang daun 7-16 cm dan lebar 5-9 cm. Buah juwet merupakan buah buni, lonjong, panjang 2-3 cm, dengan buah muda berwarna hijau muda dan saat masak berwarna merah tua keunguan.

merdeka com

(merdeka.com)

Buah satu ini sudah jarang ditemukan di sekitar kita, mungkin hanya bisa ditemukan di hutan-hutan yang masih asli. Kelangkaan pohon ini mungkin dikarenakan masyarakat lebih gemar memakan buah lain sehingga habitat pohon ini juga tergeser akibat budidaya buah-buah popular saat ini.Terakhir penulis memakan buah ini yaitu pada saat SMA kelas 1 (Kelas X) di dekat Pura Besakih, Karangasem. Waktu melihat buah ini jujur saja saya tidak ingat dengan buah mirip dengan anggur berwarna hitam. Setelah menanyakan namanya, Juwet, baru saya ingat dengan buah ini dan waktu itu juga sudah lama sekali tidak mencicip masamnya buah yang bisa dibilang langka.

Buah duwet ini memiliki banyak sekali manfaat untuk kesehatan manusia. Contohnya yaitu sebagai sebagai penangkal radikal bebas, kaya akan vitamin C, peluruh kencing, anti mikrobia, anti bakteri, diabetes, dan anti HIV. Tidak hanya buahnya yang dimanfaatkan, daun, biji dan kulit batangnya juga bisa dimanfaatkan. Contohnya daun juwet ini dapat digunakan sebagai pakan ternak dan pakan ulat sutra, kulit batangnya dapat menghasilkan zat penyamak dan dapat digunakan untuk mewarnai jala ikan.

 

tanobat com

(tanobat.com)

Dengan berbagai manfaat tersebut, sangat disayangkan tanaman ini tidak dipelihara atau dibudidayakan dengan baik di Bali. Tanaman ini mungkin hanya dapat ditemukan tumbuh liar di hutan-hutan tertentu dan sedikit yang menjual buahnya. Tidak hanya buahnya, bagian lainnya juga tidak dimanfaatkan dengan baik. Daun juwet ini juga berpotensi untuk dijadikan teh yang berpotensi sebagai anti diabetes. Untuk melestarikan lagi buah ini kita harus kembali mencintai buah-buah lokal dan juga perlu perhatian serta dukungan pemerintah, seperti hal nya di India dimana juga terdapat pohon ini dan digalakkan oleh pemerintah setempat untuk dibudidayakan.

 

Referensi :

Ayyanar, M. dan Subash-Babu, P. 2012. Syzygium cumini (L.) Skeels : A Review of its phytochemical constituents and traditional uses. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine 2 (3) : 240-246.

Dalimartha, S. 2007. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3. Puspa Swara, Jakarta.


9 responses to “Juwet, lama tak didengar dan dilihat”

  1. handiprihanto says:

    Sangat menarik infonya, baru tahu ada buah yang namanya juwet

  2. dwiky130801380 says:

    Wah, buah juwet ini sekilas kalau saya lihat mirip dengan yang ada di tempat saya namanya buah jamblang. rasanya juga sama masam. Dan ternyata buah juwet memiliki manfaat yang begitu banyak ya….

  3. Ganang Madyasta says:

    Hmmm… Melihat buahnya bikin lidah mengeluarkan liur mengingat rasanya sedikit masam. Saya pernah memakan buah ini, terakhir jaman SMP, memang sekarang buah ini jarang ditemukan, padahal bisa digunakan sebagai tambahan nutrisi terutama vitaminnya…. Semoga saja pohon juwet dapat dibiakkan dan dengan mudah ditemukan di pinggir jalan seperti dulu

  4. Gusti Ayu Putri A says:

    Waah saya blm pernah makan buah ini, jdi penasaran deh. Tp sangat di sayangkan ya pdhl buah ini memiliki bnyk potensi yg dpt di manfaatan terutama dlm bidang kesehatan. Saya berharap masyarakat dan pemerintah setempat dapat menanam kembali ataupun membudidayakan lagi tanaman ini.

  5. Vivi Indriasti Freshily says:

    ini informasi yang sangat menarik krisna, saya mengingat sekitar 7 tahun yang lalu yang mana saya masih bisa merasakan buah juwet, namun 5 tahun terakhir saya sulit untuk menemukannya padahal rasanya enak dan sepet serta memiliki kandungan nutrisi yang bagus…semoga buah ini dapat dibudidayakan lagi sehingga saya dapat memakannya lagi…

  6. Armae Dianrevy says:

    Menurut saya, terdapat isu yang mungkin menyebabkan buah ini mulai jarang terdengar atau terlihat yaitu masyarakat lebih menyukai buah import, tidak hanya buah juwet saja tetapi buah-buah lokal yang lainnya pun pada akhirnya kalah saing. Sehingga, para pedagang pun akhirnya lebih memilih menjajakan buah import dan hal ini yang memungkinkan pula nilai dari buah-buah lokal menjadi turun. Walaupun, tidak semua hal seperti itu misalnya dikarenakan kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan kondisi untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan itu sendiri. Artikel yang menarik.

  7. libriestanico says:

    sayang sekali padahal manfaatnya sangat banya,diharapkan pemerintah di Bali bisa lebih peduli terhadap buah yang sudah jarang di temukan ini

  8. buah juwet? saya menjadi penasaran dengan bentuk dan rasanya. namun sangat disayangkan yang harusnya menjadi sumberdaya alam yang terbarukan malah sekarang menjadi langka. sangat disayangkan. perlu tindak lanjut agar buah ini dapat dipertahankan mengingat potensi yang terdapat dalam buah juwet ini. thx

  9. bogo6013 says:

    Mirip anggur ya? perlu sekali buah ini dikembangkan, terutama masalah besar untuk mencegah HIV. info seperti ini perlu lebih banyak dipublikasikan, Krisna. Ayo kita kembangkan Juwet ini melalui kultur jaringan atau upaya lain dengan mengajukan proposal penelitian PKM ?? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php