Krisna Dewantara

Pendekatan molekuler untuk menentukan suatu spesies : Konflik Burung kakatua Cape

Posted: August 27th 2015
Cape Parrot (c) Cyril Laubscher

Cape Parrot
(c) Cyril Laubscher

Burung paruh bengkok atau kakatua Cape (Poicephalus robustus robustus) merupakan spesies langka yang menjadi perdebatan diantara para ilmuwan dan ahli biologi. Kenapa bisa begitu? Ternyata banyak yang menganggap burng ini tidak termasuk dalam spesies Poicephalus tetapi merupakan spesies baru. Hasil penelitian molekuler terbaru dari para peneliti Afrika selatan mengemukakan bahwa sebenarnya burung ini secara genetis berbeda dengan kerabat terdekatnya.

Sebelum penelitian ini dipublikasikan, bagaimana para ahli biologi bisa mengatakan burung ini spesies baru, padahal sekilas sangat mirip? Hmmmm……..
Mereka melihat burung yang satu ini memiliki habitat yang berbeda dibanding spesies Poicepalus bahkan sub-spesies P. robustus yang lain. Adanya perbedaan morfologi dan makanan juga mendukung pernyataan bahwa burung ini termasuk spesies yang berbeda.

Bagaimana cara meyakinkan pernyataan tersebut dengan analisis gen?
Tim peneliti mengambil sampel darah P. robustus untuk didapatkan data DNAnya dan dilihat perbedaan hasil analisis mikrosatelit (mikrosat).

 

 

Hasil analisis mikrosat

Hasil analisis mikrosat

Dan juga dilihat jarak genetiknya menggunakan pairwise comparison pad perbedaan frekuensi alel mikrosatelit menggunakan indeks fiksasi atau nilai Fst
 

3D Principal Coordinate Analysis (PCoA)

3D Principal Coordinate Analysis (PCoA)

(Semakin besar jarak genetic yang dihitung antar populasi, semakin sedikit perkawinan yang terjadi di antara mereka (interbreeding) dan lebih terisolasi secara spasial mereka dari satu sama lain dan sebaliknya)

Semua bukti tersebut meyakinkan kakatua Cape merupakan spesies yang berbeda dengan spesies Poichepalus

Terlepas dari apakah benar atau tidaknya burung Cape ini sebagai spesies baru, kita sebagai manusia harus tetap menjaga keseimbangan alam ini dan seluruh isinya, tidak hanya merusak alam tempat kita tinggal dan hidup.

Further Reading and other resources:
http://www.parrots.org/encyclopedia/cape-parrot/


Image credit and Reference:
http://www.parrots.org/encyclopedia/cape-parrot/
http://dx.plos.org/10.1371/journal.pone.0133376
http://www.theguardian.com/science/grrlscientist/2015/aug/12/taking-flight-cape-parrot-identified-as-new-species


9 responses to “Pendekatan molekuler untuk menentukan suatu spesies : Konflik Burung kakatua Cape”

  1. keke21 says:

    Hasil penelitian yang dilakukan berdasarkan sampel darah memang lebih mudah dan lebih akurat untuk menunjukkan apakah suatu spesies berbeda dari spesies lainnya. Selain itu, semakin cepat identifikasi suatu spesies baru, apalagi status spesies itu di alam saat ini adalah terancam punah, semakin cepat pula penanganan untuk konservasi spesies itu sendiri

  2. cindynatalia says:

    Terima kasih atas infonya, gaya penulisan cukup ringan. Semoga para pembaca semakin tertarik dalam penelitian seperti ini, mengingat banyaknya spesies yang masih menjadi pertanyaan sampai ini.

  3. Natalia Cinthya Deby says:

    Nice work,,,

    Mungkin bisa dikaji apakah DNA marker juga bisa dipakai utk penentuan spesies ini, thx..

  4. Sangat membantu krisna, Semangat terus 🙂

  5. Armae Dianrevy says:

    Artikel yang menarik dan menambah wawasan, infromasi genetik sangat berperan penting dalam spesies dan hal ini membantu dalam mengungkapkan keanekaragaman spesies.Semoga semakin banyak lagi spesies lainnya yang ditemukan.

  6. nataliarizki says:

    dapat pemahaman dan pengetahuan baru lagi dengan membaca artikel ini. bahwa spesies semakin bermunculan dan beragam. menarik sekali buat dibaca apalagi dengan gambar dan video yang sangat mendukung. nice 😀

  7. garvin says:

    wah infonya sangat menarik,,jadi tambah wawasan tentang metode untuk menentukan suatu spesies nih 😀

  8. ronykristianto says:

    Artikel yang informatif dan menambah pengetahuan baru, ternyata meskipun mirip secara morfologi, tetapi belum berarti merupakan spesies yang sama. Tetap sehat tetap semangat. Keep blogging krisna

  9. agnes9 says:

    wah informasi yang menarik, Krisna. semoga artikel ini dapat menarik hati banyak peneliti termasuk kita sebagai anak biologi untuk ikut berperan dalam mengungkapkan keanekaragaman spesies dan tidak hanya burung kakatua saja. keep blogging! 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php