Vincentius Y.Winata

“Analisis Forensik Molekuler DNA Profilling Dalam Mengejar Pelaku Pemerkosaan”

Posted: May 9th 2014

ee

Analisis forensik merupakan metode untuk mengumpulkan informasi mengenai masa lalu. Hal ini terutama menjadi penting dalam pelaksanaan hokum terhadap tindak criminal dimana dengan analisis forensik bisa diketahui identitas dan apa yang terjadi pada pelaku dan korban(Overman, 1972). Namun, terkadang dalam pelaksanaannya sering mengalami kendala seperti bukti forensik yang minimal atau bahkan hancur seperti pada kasus bom bali 1 dan 2, hampir semua korban tidak dapat teridentifikasi akibat hangus atau terbakar.

Ilmu biologi molekuler pun menjadi solusi yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan analisis forensik untuk mengkarakteristik bukti-bukti biologis yang minim tersebut. Untuk kasus pemerkosaan diperiksa spermanya tetapi yang lebih utama adalah kepala spermatozoanya yang terdapat DNA inti sel didalamnya. Sedangkan jika di TKP ditemukan satu helai rambut maka sampel ini dapat diperiksa asal ada akarnya. Namun untuk DNA mitokondria tidak harus ada akar, cukup potongan rambut karena diketahui bahwa pada ujung rambut terdapat DNA mitokondria sedangkan akar rambut terdapat DNA inti sel.

Teknologi Molekuler; “DNA Profilling”

Lebih dari satu dekade silam, proyek penelitian terbesar di planet bumi, mensekuens urutan basa di genome manusia, rampung. Ada lebih dari 3 milyar basa yang menyusun untai panjang genome manusia. Dan yang paling menarik adalah, kesamaan runutan basa antara satu orang dengan orang lain mencapai  99.9% !(Sulston, 2013) Saya dan anda hanya memiliki perbedaan 0.1% dari pola runutan basa dalam genome kita.

Ternyata ada pola yang sangat unik dalam wilayah 0.1% sekuens genome yang berbeda diantara kita. Pola tersebut adalah berupa pengulangan runutan basa. Misalnya, basa G berulang 3 kali, basa A 4 kali, atau pola lainnya. Pola ulangan ini disebut dengan variable number tandem repeats (VNTR). Pola ulangan ini tersebar di berbagai tempat dalam genome (lokus) kita dengan jumlah dan ukuran pengulanganya berbeda. Ada yang pendek, ada yang panjang. Tentu saja, ruas yang pendek akan lebih mudah dianalisa dibandingkan dengan ruas lebih panjang. Dus, untuk analisa DNA profiling, pola ulangan lebih pendek akan memudahkan analisa. Pola ini disebut dengan simple sequence repeats (SSRs) atau short tandem repeats (STRs), atau lebih simpel lagi disebut mikrosatelit(Daal dan Budwole, 2009).

Caranya simpel saja. Target lokasi mikrosatelit dalam ruas DNA di kopi dengan menggunakan potongan pendek DNA (primer) yang didesain dan disintesis berdasarkan pola ulangan dalam mikrosatelit yang diketahui secara umum. Proses pengkopian dilakukan lewat rangkaian reaksi kimia yang menggunakan enzim polimerase (reaksi polimerasi berantai/PCR). Sang primer akan menempel ke lokasi mikrosatelit, dan proses pengkopian ruas mikrosatelit berlangsung. Ukuran dan jumlah ruas mikrosatelit yang dihasilkan dalam proses pengkopian ini akan bervariasi antara satu orang dengan yang lainya, dan bisa dijadikan keunikan DNA individu. Pola ini dengan mudah dilihat dengan teknik elektroforesis, yang dengan gamblang memvisualisasikan hasil kopi ruas-ruas unik  dalam setiap DNA yang dianalisis.

dd

Gambar 1. Contoh Hasil visualisasi DNA Finger print(Addorio et al, 2006)

Sebenarnya bukan cuma analisis ruas mikrosatelit yang digunakan dalam DNA profiling. Metode lainnya yang bisa digunakan adalah RFLP (restriction fragment length polymorphism). Polimorfisme adalah perbedaan sekuens yang ada dalam human genome. Bisa saja disederhanakan bahwa 0.1% perbedaan dalam sekuens genom manusia adalah bentuk polimorfisme(Addorio et al, 2006)

Jadi jelas, DNA profiling tidak sama dengan pembacaan sekuens genom manusia (human genome sequencing). Dalam DNA profiling, kita sama sekali tidak melakukan pembacaan runutan basa dari 3 milyar basa dalam DNA yang ada ditemukan di sampel. Cukup dilakukan analisis pada ruas-ruas DNA yang memang sudah diketahui memiliki titik-titik perbedaan antar individu.

Penerapan

Hasil analisis pada akhirnya menghasilkan dua kemungkinan yang bisa dijadikan dasar pihak berwenang mengambil keputusan.

Pertama, jika hasil DNA profiling dari sampel yang melekat pada tubuh korban berbeda dengan tersangka, ada kemungkinan tersangka tidak terlibat. Tapi, lagi-lagi, tidak 100% dijamin bahwa pelaku tidak terlibat, tergantung kasusnya.  Dalam kasus pemerkosaan, jika pelaku menggunakan kondom, dan sampel diambil dari wilayah kemaluan korban, acap kali diperoleh hasil seperti ini. Karena tidak ada sel pelaku yang terambil dalam hal ini. Alih-alih, sel dari si korban sendiri yang terbawa.

Kedua, hasil DNA profiling bisa jadi akan “bisu”. Hal ini terjadi ketika hasil analisis tidak bisa digunakan untuk menarik kesimpulan apakah si tersangka terlibat atau tidak.. Kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang acap kali menghasilkan data yang tidak jelas, karena DNA masing-masing pelaku akan mengkontaminasi satu sama lain. Tetapi beberapa teknik tentu saja bisa meminimalisir. Kasus pemerkosaan WNI di malaysia yang terakhir terjadi ditengarai dilakukan oleh lebih dari satu orang, dan masih tetap bisa dihasilkan data yang well interpretable(Wibisono, 2013)  Teknik penanganan sampel menjadi titik kritis dalam kasus-kasus seperti ini.

Dari dua kemungkinan hasil tersebut, DNA profiling tidak hanya bisa digunakan untuk membuktikan si tersangka melakukan kejahatan, tetapi juga sebaliknya, membuktikan ketidakterlibatan si tersangka. David Lee Wiggins, yang sudah mendekam dalam penjara di negara bagian Texas, AS, atas tuduhan kasus pemerkosaan, dibebaskan setelah mendekam dipenjara lebih dari dua dekade, ketika uji DNA yang dilakukan belakangan munjukan hasil yang tidak konsisten dengan DNA profiling Wiggins. Hakim negara bagian tersebut kemudian membebaskan Wiggins di beberapa bulan lalu dan merehabilitasi namanya dari tuduhan kejahatan sebelumnya. Sebaliknya, kejahatan pelaku pemeroksaan Ronald White dari Baltimore, AS, justru terungkap ketika uji DNA dilakukan(Addorio et al, 2006).

Sumber :

Addorio, M., Campbell, B., and Grossman, R.2006. DNA Fingerprinting. Worcester Polytechnic Institue, Worcester.

Budwole, B. and Daal, A. 2009. Extracting evidence from forensic DNA analyses: future molecular biology directions.Biotechniques.46(5)339-350.

Kind S, Overman M (1972). Science Against Crime. New York City: Doubleday. pp. 12–13.

Wibisono, K. 2013. Kasus perkosaan WNI oleh Polisi Malaysia siap masuk pengadilan. http://www.antaranews.com/berita/409778/kasus-perkosaan-wni-oleh-polisi-malaysia-siap-masuk-pengadilan. 10 Mei 2014.

Yudianto, A. dan Kusuma, S.E. 2009. Pola Pemetaan Lokus DNA Inti Dalam Pemeriksaan Sampel Identifikasi Forensik Dengan Metode Polymerase Chain Reaction(PCR) Pada Lokus CSF1PO, THO1 dan TPOX. ProJustisia. 11(4)11-22.


5 responses to ““Analisis Forensik Molekuler DNA Profilling Dalam Mengejar Pelaku Pemerkosaan””

  1. juventini46 says:

    Blog yang bagus dan menantang…..

    Sebaiknya blog ini ditujukan pada calon pelaku pemerkosaan supaya urung dalam melakukan tindakan pemerkosaan. Hahaha……

  2. Alfonsius says:

    Informasi yang sangat menarik dan terkini.. Cheers 🙂

  3. radewi says:

    share di kaum awan (non biologi) deh buat nambah pengetahuan mereka 🙂

  4. Dominikus Bagas Hardiprasetya says:

    Informasi yang bagus dan menambah wawasan. Mungkin bisa menjadi sedikit teror bagi pelaku pemerkosaan.
    Semangat.

  5. Mitha Octavia says:

    ini bisa jadi boomerang untuk pelaku pemerkosaan.
    Nice information 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php