Kharina Waty

KALIMANTAN: Cadangan Batubara Melimpah… Anugerah atau Bencana ?

Posted: February 29th 2016

Halo anak-anak yang familiar dengan pemandangan kerukan tanah untuk mengambil batubara secara besar-besaran…
Sekarang waktunya kita menyuarakan “Konservasi Sumberdaya Lokal Batubara”, tidak hanya bagi masyarakat Kalimantan tetapi untuk seluruh masyarakat Indonesia. Pernahkan anda mengelus dada dengan sisa-sisa lobang yang di tinggalkan oleh para penambang sehingga mengakibatkan tergenangnya air dimana-mana?
Batubara dianggap sebagai bahan bakar termurah di dunia. Namun, batubara juga merupakan bahanbakar terkotor dan yang paling menyebabkan polusi. PLTU merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara. Tercatat dari seluruh konsumsi batubara dalam negeri pada tahun 2005 sebesar 35,342 juta ton, 71,11% di antaranya digunakan oleh PLTU. Hingga saat ini, PLTU berbahan bakar batubara, baik milk PLN maupun yang dikelola swasta, ada 9 PLTU, dengan total kapasitas saat ini sebesar 7.550 MW dan mengkonsumsi batubara sekitar 25,1 juta ton per tahun. Sangat gamblang bahwa batubara menyebabkan bahaya besar bagi penduduk dan alam dunia ini. Dampak buruknya tidak bisa mengimbangi keuntungan yang konon dibawakannya (Batubara Indonesia,2010).

b

Menurut World Energy Council, Indonesia memiliki cadangan batubara terbukti (proven reserve coal) sebesar 4,3 miliar ton atau sekitar 0,5% dari total cadangan batubara terbukti yang ada. Pada masa mendatang, produksi batubara Indonesia diperkirakan akan terus meningkat; tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (domestik), tetapi juga untuk memenuhi permintaan luar negeri (ekspor). Hal ini mengingat sumber daya batubara Indonesia yang masih melimpah, di lain pihak harga BBM yang tetap tinggi, menuntut industri yang selama ini berbahan bakar minyak untuk beralih menggunakan batubara.

cc


Sumber:Pusat Sumber Daya Geologi 2006

e
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar cadangan batubara tersebut terdapat di Kalimantan. Kalimantan memang menjadi primadona tambang batubara di tingkat nasional. Kalimantan Timur berada di peringkat pertama dalam hal mengeluarkan kuasa pertambangan, yakni 1.180 kuasa pertambangan, disusul Kalimantan Selatan (400- 578), Kalimantan Tengah (427), dan Kalimantan Barat (40). Jika luas wilayah satu kuasa pertambangan sekitar 2.000 hektar, lahan yang sudah dikapling untuk pertambangan itu berarti mencapai 4,09 juta hektar, lebih luas dari daratan Provinsi Kalsel yang 3,75 hektar.1 Sementara itu, pulau lain yang juga menyimpan cadangan batubara cukup besar adalah Sumatera, yang menyumbang sekitar 13% dari produksi batubara nasional.

KEUNTUNGAN PENGGUNAAN BATUBARA??
Ekspor batubara terdiri dari 200 juta ton batubara (steam coal) dan 30 juta ton kokas (coking coal). Indonesia saat ini merupakan negara eksportir batubara terbesar dunia setelah Australia dan merupakan eksportir batubara terbesar Asia (Statistik Batubara, World Coal Institute). Batubara digunakan untuk menghasilkan sekitar 41% dari persediaan listrik dunia (Henderson,dkk 2003) . Di Indonesia sendiri listrik yang dihasilkan dari batubara mencapai sekitar 14%9. Pemerintah menargetkan pada tahun 2025, listrik yang dihasilkan dari batubara akan mencapai 34,4%10. Tingkat permintaan energi yang berlipat berkorelasi positif dengan peningkatan penggunaan batubara yang meningkat. Antara tahun 1999 dan 2006 saja, penggunaan batubara di seluruh dunia melonjak sebesar 30%.

KERUGIAN PENGGUNAAN BATUBARA?
Sejak tahun 2000, 85.000 ha di Kalimantan Selatan dan 9.000 ha di Kalimantan Timur hutan hilang karena konsesi batubara tersebut.
Berdasarkan analisis mengunakan data tutupan hutan Departemen Kehutanan, total ancaman dari konsesi pertambangan adalah 0,18 juta ha dari konsesi aktif dan 0,81 juta dari konsesi yang direncanakan (0,08 juta status tidak tercatat), dengan total 1,1 juta ha. Di antaranya, 0,94 juta ha terletak di Kalimantan dan 0,13 juta di Sumatra. Tim pemerintah ini melihat dari udara ratusan lubang hitam besar yang ditinggalkan oleh tambang-tambang terbuka. Lubang-lubang ini seharusnya direklamasi dengan reforestasi oleh para pemegang konsesi tambang. Lonjakan penambangan batubara ini tampak mengakibatkan kerusakan parah pada hutan karena penerbitan ijin penambangan yang serampangan dari beberapa pemerintahan daerah. Hal ini ditambah oleh lemahnya penegakan hukum kehutanan, lingkungan, zonasi dan pertambangan.

PEMBANGKIT LISTRIK BERTENAGA BATU BARA
Menurut hasil kajian Biaya Eksternal yang dilakukan oleh Komisi Eropa (European Commission, EC) pada tahun 2003 mengenai beberapa jenis pembangkit listrik, PLTU bertenaga batubara tercatat sebagai pembawa biaya eksternal tertinggi. PLTU bertenaga batubara adalah salah satu dari sumber pengemisi bahan berbahaya terbesar. Di Amerika Serikat, PLTU bertenaga batubara diidentifikasi sebagai sumber terbesar emisi merkuri (U.S.EPA).
Saat merkuri memasuki air – apakah secara langsung atau terikat melalui udara – proses biologis mentransformasinya menjadi metil merkuri, bentuk merkuri yang lebih beracun dan berbioakumulasi dalam ikan dan hewan lain yang memakan ikan dan manusia (National Academy Press). Merkuri adalah logam yang sangat berbahaya dan tidak memiliki fungsi biokimia atau nutrisi. Sebagian besar dampak racun zat ini terjadi bila paparannya mencapai sistem syaraf pusat.
Dalam pelaksanaan pertambanagan sebenarnya sudah di atur dalam UU no.4 tahun 2009 tentang pertambangan. Namun, dari pihak yang tidak bertanggung jawab dan serakah tidak memenuhi aturan tersebut sehingga banyak mengakibatkan kerugian.

ENERGI TERBARUKAN PENGGANTI BATUBARA
Alam menyediakan begitu banyak pilihan sumber-sumber energi yang bisa diperbarui. Persoalannya tinggal bagaimana mengubah sinar matahari, angin, biomassa, atau air menjadi listrik, panas, serta tenaga gerak secara efisien, berkelanjutan dan terjangkau oleh masyarakat.
Sinar matahari yang sampai di permukaan bumi memiliki daya rata-rata 1 kilowatt/m2. Menurut Lembaga Penelitian Tenaga Surya, energi yang dapat disediakan oleh sumber-sumber terbarukan adalah sebesar 3.078 kali lebih banyak daripada yang dibutuhkan oleh dunia pada saat ini. Dalam satu hari, misalnya, sinar matahari yang mencapai bumi bisa memproduksi energi yang dibutuhkan oleh dunia selama 8 tahun. Walau hanya beberapa persen saja dari selurh potensi tersebut yang dapat diakses secara teknis ini pun masih bisa mencukupi kurang lebih 6 kali lebih banyak daripada yang dibutuhkan oleh dunia pada saat ini.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pengeruk sumber energy yang lupa akan potensi bahaya yang dapat ditimbulkan. Terima kasih kepada saudara yang bersedia membaca tulisan yang kurang sempurna ini. Cintai Negri Indonesia, Gunakan SDA yang ada dengan Bijaksana.

Referensi:
http://www.tekmira.esdm.go.id/data/files/Batubara%20Indonesia.pdf
Batubara Indonesia: dampak lokal, kaitan global, Down to Earth, No. 85-86, Agustus 2010.
Henderson, C., 2003. Clean Coal Technologies, report no. CCC/74. London: IEA Clean Coal Centre, October 2003.
Coal Statistics, World Coal Institute, September 2010
ESDM (2009) Statistik Batubara 2008, Kementrian Energi dan Sumber daya Mineral http://www.esdm.go.id/download/Statistik_Batubara_Indonesia.pdf
External Costs: Research results on socio-environmental damages due to electricity and transport, Luxembourg: Office fornOfficial Publications of the European Communities,2003.
U.S.EPA, Office of Water, “Air Pollution and Water Quality: Atmospheric Deposition Initative:Where is the Air Pollution Coming From//” Available online at http:/www.epa.gov/owowwtr1/oceans/airdep/air5html. (U.S.EPA, Mercury Report to Congress, 1997, Vol.1)
Toxicological Effects of Methylmercury, National Academy Press, Washington, DC, 2000


2 responses to “KALIMANTAN: Cadangan Batubara Melimpah… Anugerah atau Bencana ?”

  1. Vivi Indriasti Freshily says:

    terimakasih atas informasinya,, batu bara memang selalu menjadi perbincangan yang hangat, baik damapak baik sebagai penyedia energi namun juga dampak buruknya. sebagai salah satu sumber daya yang tidak terbarukan, konsumsi batu bara yang berlebih dapat berakibat pada penipisan stok bahan bakar serta dampak lain yaitu mengenai rumah kaca, di atas telah dikatakan adanya usaha untuk mencari dan menggunakan bahan bakar alternatif, nahh inilah PR besar kita sebagai orang biologi teknik, dimana kita harus mencari dan mencoba bahan bakar alternatif lain… informasi yang sangat menarik dan cukup memberikan kita suntikan semangat.. trimakasih karin

  2. Berliani Christy says:

    Artikel yang menggugah hati dan pikiran… di satu sisi, permasalahan negara Indonesia dapat terbantu dengan pengalihan bahan bakar BBM ke batu bara. namun, ternyata hal tersebut sama saja memperburuk keadaan negara kita… dalam artian perusakan lingkungan yang ditimbulkan akibat aktivitas pemanfaatan batu bara tersebut. Memang alternatif yang paling baik adalah beralih ke sumberdaya baru dan terbarukan. Sebaiknya pemerintah dan warga negara saling bahu membahu mencari jalan terbaik dalam memanfaatkan sumberdaya, baik itu bersahabat bagi lingkungan maupun bagi kesejahteraan manusia. Tidak semata-mata hanya terfokus pada meraup keuntungan mineral yang memang memiliki nilai jual yang fantastis. Sebaiknya, kita sebagai generasi muda penerus bangsa dapat lebih membuka mata dan pikiran agar keseimbangan alam dapat terus terjaga…

Leave a Reply to Berliani Christy Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php