BloggING's (blognya Inge)

Mengerat Keju Putih: Jogja Butuh Proteksi dari Ancaman “PETI” mati!!

Posted: March 2nd 2015

Keju putih? Kok Jogja? Bukannya Prancis ya yang banyak kejunya? PETI? Ini judul apaan sih? Bingung bacanya? Hehe… nggak usah bingung, nggak usah pusing… mendingan buruan baca biar tahu apa maksudnya…

mg_9239

Keju putih yang dimaksud ini adalah batu kapur. Kiasan doang gitu… mewakili karakteristik batu kapur yang warnanya putih dan sebagaimana keju putih yang kaya manfaat buat kesehatan tubuh kita, batu kapur itu juga punya segudang manfaat buat digunain. Suatu sumber daya lokal dari tanah air Indonesia yang wajib kita manfaatin secara bertanggung jawab.

 

Batu Kapur (Limestone)

Batu kapur (limestone) merupakan salah satu bahan galian industri non logam yang sangat besar potensinya dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia (Shubri dan Armin, 2014).  Batu kapur (gamping) dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu secara organik, secara mekanik, atau secara kimia. Sebagian besar batu kapur yang terdapat di alam terjadi secara organik, jenis ini berasal dari pengendapan cangkang/rumah kerang dan siput, foraminifera atau ganggang, atau berasal dari kerangka binatang koral/kerang. Batu kapur dapat berwarna putih susu, abu-abu muda, abu-abu tua, coklat bahkan hitam, tergantung keberadaan mineral pengotornya (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, 2005).

Mineral karbonat yang umum ditemukan berasosiasi dengan batu kapur adalah aragonit, yang selanjutnya akan berubah menjadi kalsit (CaCO3). Mineral lainnya yang berasosiasi dengan batu kapur namun dalam jumlah kecil adalah Siderit, ankarerit, dan magnesit (MgCO3) (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, 2005).

 

Manfaat

Sejauh ini, batu kapur banyak digunakan untuk keperluan Bahan bangunan sepertiang untuk plester, adukan pasangan bata, pembuatan semen tras ataupun semen merah. Kapur ini juga berfungsi untuk mengurangi plastisitas, mengurangi ppenyusutan dan pemuaian fondasi jalan raya. Uniknya, batu kapur juga dapat dimanfaatkan sebagai pembasmi hama, yaitu sebagai warangan timbal dan warangan kalsium (CaAsO3) atau sebagai serbuk belerang untuk disemprotkan. Tidak hanya itu, di dunia pertanian, bubuk batu kapur umum ditaburkan untuk menetralkan tanah asam yang relatif tidak banyak air, sebagai pupuk untuk menambah unsur kalsium yang berkurang akibat panen, erosi serta untuk menggemburkan tanah. Kapur ini juga dipergunakan sebagai disinfektan pada kandang unggas, dalam pembuatan kompos dan sebagainya.

Eitsss… tunggu dulu, nggak cuma itu… si batu sakti beribu fungsi ini juga bisa digunakan sebagai penjernih air. Dalam penjernihan pelunakan air untuk industri , kapur dipergunakan bersama-sama dengan soda abu dalam proses yang dinamakan dengan proses kapur soda. Dan ini dia, salah satu fungsi utama yang membuatnya berharga di industri persemenan… sekaligus yang jadi alasan kenapa penambangannya banyak dilakukan berlebihan. Kenapa? Industri apa? Bicara soal industri semen, ya batu kapur inilah yang jadi adonan utamanya. Dengan eksplorasi yang tidak bijak, lambat laun warisan dunia yang unik dan terbentuk ribuan tahun ini akan hilang dan hanya menjadi cerita anak cucu kita kelak, jika kita tidak ikut membantu melestarikannya.

 

Penyebaran

b

Tahu kan yang di atas itu gambar apa? yep, bener banget, peta Indonesia, dengan bakso-bakso hijau yang bertaburan di sana sini. Kenapa banyak bakso ijo’nya? ya karena tanah air kita Indonesia ini kaya banget akan batu kapur, potensi sumber daya mineral yang daerahnya terwakili dengan gambar bakso-bakso ijo di peta tersebut.

Potensi batu Kapur/Gamping di Indonesia hampir menyeluruh di wilayah Indonesia. Data secara umum jumlah batu kapur Indonesia mencapai 28,678 milyar ton. Sebagian besar cadangan batu kapur berada di Sumatra Barat dengan jumlah cadangan sekitar 23,23 milyar ton atau hampir 81,02 % dari cadangan keseluruhan di Indonesia (Madiadipoera dkk, 1990). Dari sekian banyak lokasi batu bara di Indonesia, tidak banyak yang sudah dimanfaatkan.

Di wilayah Kalimantan, potensi batuan gamping atau batuan kapur ini yang terbesar adalah di provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur (Anonim, a). Cadangan batuan kapur di dua daerah tersebut sangat memungkinkan untuk dikelola dan diolah untuk menjadi sebuah industri. Masih banyaknya sumber tanah gamping yang belum di eksplorasi, terutama di wilayah Indonesia bagian timur membuat kekayaan Indonesia atas bahan tambang galian seperti gamping ini dapat menjadikan sumber devisa bagi Indonesia.

 

Masalah

Okedeh, coba sekarang di’zoom gambar petanya… di pulau Jawa, deket jawa tengah, tapi agak ke bawah… yak, yak di sana… di Jogja juga ada bakso ijo’nya ternyata. Berarti nggak usah jauh-jauh… di deket kita pun ada nih. Di jogja, daerah Gunung Kidul. Pernah lewat sana kan? Pernah kan nemu onggokan lahan gersang yang warnanya keputihan gitu? Ya ini dia masalahnya… PETI…

PETI apa? Pertambangan Tanpa Izin…

Sesuai singkatannya, penambangan batu kapur yang dilakukan tanpa izin ini kalau dilakukan terus-terusan bisa jadi PETI kematian beneran, kematian potensi sumber daya batu kapur.

Kita perlu siap siaga ngejaga Jogja juga nih menanggapi statement Pak Edy Sumantry bahwa salah satu bahan galian yang dijadikan sasaran PETI adalah bahan galian golongan C berupa batu kapur. Berkaitan dengan metode penambangan terbuka, Dharmajala juga mengatakan bahwa pertambangan ini sangat merugikan lingkungan sekitar karena cara-cara seperti ini berakibat hilangnya vegetasi tanah penutup,tanah lapisan atas yang berhumus yang akan dijadikan lokasi penambangan dibuang begitu saja oleh para penambang.

Adapun dampak negatif dari PETI yang dikemukakan oleh Edy Sumantry ini ada beberapa macam yaitu kehilangan penerimaan Negara karena tidak ada pemasukan pajak, kerusakan lingkungan hidup, dan resiko kecelakaan tambang karena tidak memenuhi prosedur K3. Selain itu, dampak nyata yang bisa langsung kita lihat dan rasain nih, misalnya polusi udara, banyak lahan terbuka, tanah yang berdebu dan berpasir, galian material yang terserak dimana-mana, lubang-lubang, udara kotor akibat prosesing serta jalan-jalan yang dilintasi para pengangkut tambang jadi cepat rusak akibat kelebihan beban. Kegiatan penambangan maka vegetasi penutup tanah akan dihilangkan, hal ini akan berpengaruh pada keadaan morfologi daerah tersebut. Selain itu, keadaan udara juga menjadi kotor hal itu disebabkan debu tambang yang dihasilkan dari kegiatan penambangan tersebut mengakibatkan gangguan pada para penambang dan masyarakat sekitar penambangan, seperti timbulnya beberapa jenis penyakit atau gangguan paru-paru (Supardi, 1984).

Dan satu lagi, yang paling krusial… kalau mengurus ijin saja tidak mau, apalagi reklamasi. Padahal selanjutnya, menurut Katili (1983), usaha perbaikan lingkungan di dalam pertambangan seharusnya meliputi perbaikan kembali kondisi lapisan atas tanah sedemikian rupa sehingga tidak mudah tererosi, misalnya dengan penggarapan secara fisik serta penanaman tumbuhan. Selain itu, perlu dilakukan penanaman kembali lahan yang habis ditambang, dilakukan dengan cara mengembalikan tanah penutup atau memindahkan tanah penutup lainnya yang sedang atau harus dikupas ke lahan yang telah selesai yang telah dilakukan tidak diikuti dengan usaha perbaikan tanah, udara, dan kondisi air. Kebayang kan kalau batu kapur itu ditambang ilegal, PETI…

Di Kabupaten Gunungkidul sendiri terdapat 8 (delapan) kecamatan yang merupakan tempat kegiatan pertambangan PETI batu kapur, yaitu kecamatan Ponjong, Semin, Semanu, Karangmojo, Patuk, Tepus, Girijati, dan Wonosari (Dinas  Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pertambangan Bidang Pertambangan dan Energi Kabupaten Gunung Kidul, 10 September 2009).

Penindakan lanjut terhadap PETI batu kapur di daerah kabupaten Gunungkidul dilakukan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pertambangan dibantu DinasPerekonomian, Dinas Satuan Polisi Satuan Polisi Pamong Praja danKantor Pengendalian Dampak Lingkungan. Sehubungan dengan kendala yang dihadapi Budi Susanto selaku Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan PertambanganBidang Pertambangan dan Energi Kabupaten  Gunungkidul menjelaskan bahwa kendala yang dihadapi berupa tidak ada kesadaran daripara penambang batu kapur.

Rendahnya pengetahuan para penambang akan arti penting sebuah perizinan dan tingkat pendidikan masih rendah serta tidak ada keinginan untuk mengurus perizinan. Hal ini membuat pemerintah daerah kesulitan dalam memberikan sanksi pidana sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain itu, masalahnya juga terjadi karena adanya gejolak sosial dalam masyarakat seperti unjuk rasa atau demonstrasi oleh penambang yang tidak terima berkaitan dengan usaha pertambangan yang merupakan mata pencaharian mereka dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari (Arvina, 2009).


Anonim, a. 2011. Potensi Gamping. http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/30/gampang-memanfaatkan-potensi-gamping-di-indonesia-376878.html. Diakses pada 28 Februari 2015.

Anonim. 2005. Informasi Mineral  dan Batubara. http://www.tekmira.esdm.go. id/data/ Batuk apur/potensi.asp?xdir=Batukapur&commId=35&comm=Batu%20kapur/gamping. Diakses pada 28 Februari 2015.

Arvina, S. U. 2009. Penegakan Hukum terhadap Perusakan Lingkungan sebagai Akibat Penambangan Batu Kapur Tanpa Izin di Kabupaten Gunung Kidul. Skripsi S1.Universitas Atma Jaya Yogyakarta Fakultas Hukum.

Edy Sumantri. Pertambangan Tanpa Izin dan Karekteristiknya. www.djmbp.esdm.go.id.

Katili. 1983. Sumberdaya Alam Untuk Pembangunan Nasional. Ghalia Indonesia, Jakarta.

Madiadipoera, T., dkk. 1999. Bahan Galian Industri di Indonesia. Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Bandung.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. 2005. Ulasan Batu Kapur/Gamping. http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Batukapur/ulasan.asp?xdir=Batukapur&commId=35&comm=Batu%20kapur/gamping. Diakses tanggal 28 Februari 2014.

Shubri, E. dan Armin, I. 2014. Penentuan Kualitas Batu Kapur dari Desa Halaban Kabupaten Lima Puluh Kota di Laboratorium Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumatera Barat. Universitas Bung Hatta. Padang.

Supardi. 1984. Lingkungan Hidup dan Kelestariannya. Alumni, Bandung.


Christian, Inge, Arum, Dayin, Mia

 

 


18 responses to “Mengerat Keju Putih: Jogja Butuh Proteksi dari Ancaman “PETI” mati!!”

  1. novia11 says:

    Waw ! ternyata batu kapur ini memiliki berbagai manfaat yaa tapi sayang sekali kesadaran orang Indonesia akan lingkungan masih sangat sangat kecil. Yang ingin saya tanyakan plastisitas itu apa ya? dan di Indonesia sendiri sudah ada belum peraturan tentang penambangan batu gamping?

    • Inge says:

      plastisitas itu ukuran di teknik sipil yang menyatakan mudahnya jalan itu berubah bentuk. Nah, biar tetep kokoh kita bisa pake batu kapur alias gamping ini… untuk peraturannya ada di Pasal 34 ayat (2) Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 Tentang Mineral dan Batubara… selain itu secara khusus di Gunung Kidul sendiri sudah didukung juga di Pasal 1 angka 6 Peraturan Daerah Kabupaten Gunung Kidul No. 11 Tahun 2003 Tentang Usaha Pertambangan Bahan Galian dimana batu kapur digolongkan dalam bahan galian tipe C.

  2. Junaidi Pratama says:

    Ulasan yang cukup menarik…
    menurutmu bagaimana penambangan batu kapur di Jogja sekarang, apakah masih “ngeyel” pada penambangnya? atau bagaimana? Thanks..

    • Inge says:

      iya, seperti yang sudah saya paparkan di artikel. di jogja sendiri utamanya di daerah Gunng kidul (tersebar pada 8 kecamatan), penambangan liar masih banyak terjadi, baik oleh oknum perusahaan ilegal maupun oleh oknum masyarakatnya sendiri.

  3. agustinaruban says:

    artikel yang menarik..aku mau nanya dari sisi pemerintah gimana? udah ada tindakan dari pemerintah setempat belum?

    • Inge says:

      trimakasih.
      seperti yang sudah dikemukakan pada artikel di atas, dari pemerintah baik pusat maupun daerah sudah ada usaha untuk konservasi dengan membuat peraturan dan monitoring terhadap pelaksanaan penambangan yang dilakukan. sosialisasi juga sudah dilakukan. tapi usaha tersebut tidak cukup efisien karena kesadaran masyarakat yang masih rendah.

  4. selviaemanuella says:

    menurut anda sejauh ini reklamasi pada lahan penambangan kapur, sudah berjalan? apabila iya mungkin bisa diberikan contoh PT yang sudah menerapkan.. Tks

    • Inge says:

      trimakasih.
      beberapa perusahaan yang legal dan sudah terdaftar juga telah memenuhi tanggung jawabnya untuk mereklamasi lahan bekas galian. beberapa file laporan pertanggungjawabannya pun ada yang sudah diupload secara bebas di internet. salah satunya PT. Sugih alamanugroho.

  5. alanpeter says:

    Bagaimana penanganan yang efektif terhadap pembukaan dan pengembangan sektor parawisata yang secara tidak langsung mengurangi ketersediaan batu kapur, terutama di Yogyakarta ?

    • Inge says:

      jika bicara tentang penangannanya, tentu saja lagi2 kembali ke aturan, hukum, pelaksanaannya, dan monitoringnya. Aturan sudah ada. yang dibutuhkan selanjutnya adalah penegakannya, pelaksanaannya yang bertanggung jawab, dan monitoringnya. lalu bagaimana bisa efektif? ya lagi2 kembali ke kesadaran diri para penambang bahan galian ini dan kesadaran diri para penegak hukum.

  6. yuurie989 says:

    kapur sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.. memang baiknya kita harus bisa mengendalikan eksplotasi kita terhadap kapur..sekedar tanya saja.. adakah upaya bioremediasi untuk penanggulangan penambangan kapur?

    • Inge says:

      bioremediasi? mungkin lebih tepatnya istilah reklamasi. beberapa perusahaan yang sadar lingkungan juga sudah melakukannya. kalau tertarik, di internet juga sudah banyak file laporan pertanggungjawaban reklamasinya.

  7. santha21 says:

    si keju putih ini, sangat bnyak manfaatnyaa yaaa,,
    untuk dampak pgelolaan batu kpur si PETI ini apakah pemrintaah tdak mgeluarkan UU atau PERPU untuk mngatasi msalah secara hukum yaaa??

    • Inge says:

      iya, sudah ada peraturannya.
      Pasal 34 ayat (2) Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 Tentang Mineral dan Batubara… selain itu secara khusus di Gunung Kidul sendiri sudah didukung juga di Pasal 1 angka 6 Peraturan Daerah Kabupaten Gunung Kidul No. 11 Tahun 2003 Tentang Usaha Pertambangan Bahan Galian dimana batu kapur digolongkan dalam bahan galian tipe C.

  8. hal yg menarik adalah lagi2 soal perizinan, di satu sisi pemerintah menginginkan segala kegiatan pertambangan itu dapat dikontrol baik jumlah dan pengelolaannya lewat peraturan perizinan, tapi di sisi lain, kebanyakan penambang memandang bahwa perizinan itu justru menyulitkan mereka mencari nafkah..
    yg paling sering diusulkan untuk menanggapi polemik ini adalah melakukan penyuluhan dan temu langsung antara pemerintah dan penambang sekaligus masyarakat di sekitar pertambangan.
    mungkin, ada baiknya kalau pemerintah atau kerja sama dengan pihak swasta menentukan lokasi pertambangan2 batu kapur yang bisa ditambang konvensional oleh masyarakat. Jadi masyarakat tidak perlu mengurusi soal perizinan tetapi ada jaminan juga dari “atasan”. singkatnya, ngasih lahan gitu ke masyarakat, tapi tetap ada pengontrolan dan pengawasan untuk menghindari eksploitasi. siapa tau sistem koperasi jg bisa diterapkan buat pertambangan. hahaha
    kalau untuk perusahaan2 besar yg mau mengajukan perizinan, tentunya harus diperketat lagi, jangan hanya tergiur sama uang2 yg mungkin ditawarkan oleh pemegang kekuasaan. 😀

  9. ancilla says:

    Ternyata di si keju putih alias batu kapur bermanfaat sebagai pupuk.. mau tanya dong, batu kapur kan bersifat panas, nah kalo buat pupuk sendiri kira-kira kadarnya berapa persen ya dari keseluruhan total campuran pupuk??
    oyaa, sama mau tanya, batu kapaur itu biasanya banyak ditemukan di kawasan mana ya?? kalo kayak di jogja gitu kan soalnya kebanyakan di gunung kidul (kaawsan pantai). Perbedaan kawasan batu kapur itu akan mempengaruhi kualitas dari batu kapur atau tidak?? makasiii 😀

  10. Inge says:

    trimakasih pertanyaannya.
    untuk mengatai sifat panasnya itu sendiri, biasanya batu kapur direndam dulu sampai menjadi kapur sirih. kapur sirih inilah yang aman untuk digunakan sebagai pupuk. iya, kebanyakan memang di kawasan dekat pantai. di kawasan karst gitu. karena tempat2 seperti itulah yang kaya mineral kalsit dari akumulasi cangkang2 hewan laut yang sudah mati. untuk kualitasnya relatif sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php