BloggING's (blognya Inge)

Lutung: Terjepit di antara Just A Tale dan Just For Sale?

Posted: September 6th 2014

Ayo nge’discuss tentang Lutung Jawa!!! SHARE something, GET something, dan ACT something… 

Ilustrasi Esay " Lutung: Terjepit Di antara Just A Tale dan Just For Sale?"

Gambar 1. Ilustrasi Esay ” Lutung Jawa: Terjepit Di antara Just A Tale dan Just For Sale?”

—Intro

Maybe sebagian dari kalian pernah denger legenda Jawa yang judulnya “Lutung Kasarung”. Saya juga. Awalnya, saya pikir Lutung itu just a tale “mungkin seperti serial drama Sun Go Kong dan cerita pewayangan Hanoman, penulisnya terinspirasi dari hewan monyet untuk menciptakan tokoh utama yang diberi nama “Lutung” begitu?”.

*buat yang belom tahu bisa diliat nih musical drama trailer’nya, monggo di’klik

YT

Tapi, beberapa waktu lalu saat saya sedang membaca skimmingReport on Biodiversity and Tropical Forest in Indonesia” (salah satu pdf yang diupload Pak Pram, dosen saya), saya baru tahu bahwa Lutung itu is the real one yang benar-benar ada di Indonesia dan merupakan salah satu dari tiga jenis monyet endemik Jawa.

Lutung in Tale (kiri), Lutung in Real (kanan)

Gambar 2. Lutung in Tale (kiri), Lutung in Real (kanan)

Rasa penasaran lebih lanjut membuat saya sempat tanya ke beberapa teman, dan ternyata sebagian besar juga seposisi dengan saya, yang mengira bahwa Lutung itu just a tale. Well, saya pikir “kalau jaman sekarang masyarakat Indonesia sendiri saja tidak kenal Lutung, lalu siapa lagi yang bisa “menjaga” fauna endemik yang satu ini?”. So, lebih lanjut saya berusaha menelusuri situs IUCN dan EOL (mendapat pencerahan dari kuliah tadi pagi, hehe, buat yang penasaran bisa dibuka sendiri nih link IUCN & EOL‘nya), serta beberapa referansi lain. And finally jadilah postingan pertamaku ini. Yaaayyy!!! 🙂

—Deskripsi 

Genetic Biodiversity dalam Koloni Lutung

Gambar 3. Foto Lutung dalam Koloninya

Lutung Jawa atau yang dalam istilah lain dikenal sebagai Ebony Leaf Monkey adalah jenis primata arboreal diurnal. Sesuai dengan namanya, fauna endemik Jawa ini merupakan herbivora pemakan daun, bunga, buah, dan biji-bijian, namun  di habitat aslinya paling sering mengkonsumsi daun Eboni. Lutung Jawa secara alami hidup berkoloni dengan anggota sekitar 7 individu dimana 2 diantaranya adalah individu dewasa (jantan & betina dewasa).

Mereka hidup dalam luasan home range mencapai 0,05 km2 dengan kepadatan populasi rata-rata adalah sebesar 41,99 individu/km2. Lutung dapat bertumbuh hingga mencapai berat rata-rata 9,72 kg dan mencapai usia maksimal 31,1 tahun. Dapat dibedakan dari yang jantan, Lutung betina memiliki rambut berwarna putih di sekitar area pubis. Musim kawin Lutung dewasa dapat terjadi sepanjang tahun, dan betina dapat melahirkan 1 anak tiap kalinya.

Genetic Biodiversity

Fauna dengan nama latin Trachypithecus auratus ini terbagi ke dalam 2 subspesies. Salah satu subspeciesnya adalah Trachypithecus auratus auratus yang umum dijumpai di daerah Jawa Timur, Bali, dan Lombok. Pada keanekaragaman tingkat gen, subspesies ini selanjutnya dapat dibedakan kembali menjadi dua golongan, yaitu yang berwarna hitam mengkilap dan coklat terang. Subspesies lainnya yaitu Trachypithecus auratus mauritius, berwarna hitam dan subspecies ini umumnya tersebar di daerah Jawa Barat.

Peta Distribusi Populasi Kedua Subspesies Lutung

Gambar 4.Peta Distribusi Populasi Kedua Subspesies Lutung

Habitat

Secara umum, Lutung hidup di daerah terestrial, sedangkan secara terkhusus spesies ini umum dijumpai di hutan bakau, hutan pesisir pantai, dan hutan di sekitar rawa, baik hutan yang terletak di dataran rendah maupun di daerah perbukitan. Di Indonesia sendiri, jumlah terbanyak secara alami dapat dijumpai pada hutan-hutan di Pegunungan Dieng dan di wilayah Gunung Prahu.

Status Konservasi

Pada Tahun 1996, Lutung Jawa dapat dikategorikan termasuk dalam status Vulnerable. Selama rentang waktu 4 tahun terlihat kemunduran serius yang sempat mengkategorikan statusnya menjadi Endangered pada tahun 2000. Namun demikian, perbaikan yang diusahakan dapat menempatkannya kembali ke posisi sebelumnya yaitu Vulnerable. Hal ini dipertegas berdasarkan publikasi hasil penelitian terakhir yang telah dilakukan pada tahun 2008. Meski demikian, secara umum penelitian tersebut menunjukkan bahwa masih terjadi penurunan serius jumlah populasi hingga 30% dalam 3 generasi terakhir. Sampai saat ini, Population Trend spesies ini teramati dalam keadaan terus menurun.

*Baca lebih lanjut Pengkategorian Status Konservasi dengan klik di sini

Faktor Ancaman

  1. Perburuan liar untuk diperjualbelikan secara ilegal sebagai hewan peliharaan\
  2. Proyek urbanisasi, komersialisasi lahan, pengadaan wilayah pemukiman
  3. Pembukaan hutan untuk keperluan agriculture & aquaculture
  4. Perburuan liar untuk dijadikan bahan makanan
  5. Kecilnya ukuran populasi yang terisolasi
  6. Eksistensi antar populasi yang terpisah berjauhan (barrier)
  7. Kuantitas anakan yang dihasilkan tiap kali kawin kecil

Aksi Konservasi

  1. Dimasukkannya Lutung Jawa ke dalam daftar spesies di Appendiks II, dan telah dilindungi oleh hukum Indonesia sejak tahun 1999 (Keputusan Mentri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 733/Kpts-11/1999).
  2. Dilakukan konservasi di Cagar Alam Pangandaran, Taman Nasional Gunung Halimun, dan Taman Nasional Ujung Kulon.
Proyek Pelepasan Lutung Jawa yang Ditransfer dari Howletts and Port Lympne Wild Animal Parks (UK) di Javan Langur Rehabilitation Centre (JLRC) Jawa Timur, Indonesia.

Gambar 5. Proyek Pelepasan Lutung Jawa yang Ditransfer dari Howletts and Port Lympne Wild Animal Parks (UK) di Javan Langur Rehabilitation Centre (JLRC) Jawa Timur, Indonesia.

From the Desk of Writer

Mempertegas judul yang saya bubuhkan untuk postingan kali ini, saya kembali ingin bertindak sebagai reminder alarm buat kita yang merasa cinta Indonesia, cinta damai dengan alam, dan cinta kehidupan. Sekarang, kita diperhadapkan pada keadaan bahwa banyak spesies flora fauna endemik Indonesia yang terancam punah, salah satunya Lutung Jawa. Sekarang kita tahu bahwa mereka beneran ada di dekat kita, mereka bukan lagi just a tale. So, bagikanlah ke yang lain, biar lebih banyak masyarakat yang tahu apa itu Lutung. Sekarang, ancaman itu semakin nyata di depan, ancaman untuk menjadikan mereka just for sale. This is not a good transaction, is it? Jadi, biarkan mereka tetep stay di sini, di antara kita. Let’s give them the larger space biar mereka nggak semakin terjepit lagi, karena mereka bukan just a tale dan bukan just for sale.

 

REFERENCE

http://www.iucnredlist.org

Nijman, V. & Supriatna, J. 2008. Trachypithecus auratus. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2014.2. <www.iucnredlist.org>. Downloaded on 04 September 2014.

http://www.eol.org

Groves, C. P. (2005). Wilson, D. E.; Reeder, D. M, eds. Mammal Species of the World (3rd ed.). Baltimore: Johns Hopkins University Press.

`Harcourt, A. H. dan Parks, S. A. 2002. Threatened Primate Experience High Human Densities: Adding an Index of Threat to The IUCN Red List Criteria. Biological Conservation 109 (2003) 137-149.

`Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 733/Kpts-11/1999 tentang Penetapan Lutung Jawa Trachypithecus auratus sebagai Satwa Dilindungi.

`Wedana, M., Kurniawan, I., Arsan, Z., Wawandono, N. B., Courage, A., King, T. 2013. Reinforcing the Isolated Javan Langur Population in the Coban Talun Protected Forest, East Java, Indonesia. Wild Conservation Vol 1 (2013), pp. 31-39.

 

Image Sources

http://www.arkhive.org


16 responses to “Lutung: Terjepit di antara Just A Tale dan Just For Sale?”

  1. Jacqueline Hayu Sri Lestari says:

    Apabila kuantitas anakan yang dihasilkan tiap kali kawin kecil, apakah tidak ada usahalain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kuantitasnya?

  2. Inge says:

    Thx Jacq.
    So far, dari apa yang aku baca dan temuin, ada salah satu jurnal yg ng’publikasiin ttg conservation project kerjasama antara lembaga dalam negri (JLC) dan luar negri dari UK (see Gambar 5.). Langkah konservasi semacam yang mereka lakukan juga yang biasanya dipakai pada projct2 yang lain. Nah, di situ dijelasin bahwa kondisi dii in situ sendiri kondisinya sangat susah. ada banyak barrier yang membuat tingkat perkawinan kecil, jadi tingkat kelahiran juga kecil.
    Apalagi belum tentu si Lutung kecil bisa survive untuk hidup in situ. jadi salah satu project ini ngelakuin yang namanya “CAPTIVE BREEDING”, jadi macem mengusahakan kondisi yang oke buat mereka kawin, dan menghasilkan individu baru, yang nantinya akan dilepas kembali ke alam. Hasilnya sih tetap 1 anakan tiap kawin, tapi diusahain mereka bisa kawin dan menurunkan individu baru secara konsisten dan kontinu.
    kalo mau tahu lebih lanjut, bisa juga buka link ini. ini link mereka (lembaga konservasi dari UK) yang ngebantuin JLC Jatim.

    http://www.aspinallfoundation.org/

  3. sampai saat ini, keberadaan kebun binatang masih menjadi perdebatan. tetapi, apabila dilihat sisi positifnya, keluarga-keluarga di Indonesia memiliki niat yang cukup tinggi untuk membawa anak-anak mereka berkunjung ke kebun binatang dan tempat-tempat konservasi binatang lainnya seperti taman nasional. seperti yang Inge sebutkan, saya juga mengira kalau lutung itu hanyalah ‘tale’, masyarakat luas kemungkinan besar juga berpikir demikian. Lalu apakah ‘memamerkan’ lutung di kebun binatang bisa menjadi usaha yang benar untuk menyadarkan masyarakat akan keberadaannya dan untuk menggugah masyarakat berpartisipasi dalam pelestarian lutung?

  4. Inge says:

    Bener, menurutku salah satu cara yang bisa dilakuin untuk usaha perbaikan status konservasi Lutung Jawa adalah dengan “mencolek” masayarakat bahwa Lutung itu ada dan bukan dongeng belaka, salah satunya ya lewat media wisata edukatif di kebun binatang. dan satu poin penting lagi, ketika orang tua mengajak anaknya nonton fauna2 lucu kek macem Lutung ini, satu hal yang harus ditanemin ke anak dari kecil “MEREKA BUKAN UNTUK PELIHARAAN DI RUMAH”. so, bakal bisa mengurangi tingkat resiko jual beli Lutung di masa depan.
    sejauh ini dan setahu saya ada 1 kebun binatang dari Inggris, Howlett zoo. Appreciate buat mereka karena mereka bisa menangkarkan Lutung Jawa di sana hingga kandang yg tersedia kelebihan populasi. WOW.
    Di Indonesia sendiri Lutung baru ada di 2 kebun binatang, di Ragunan dan di Bali zoo. yang dari Ragunan kiriman dari Howlett, dan yang di Bali beneran lahir di Bali zoo baru2 ini. Namanya “Unggul” lahir 13 Juni 2014 sekitar pukul 09.30 Wita. hihi,,,

    Link:
    http://www.antaranews.com/berita/439854/lutung-jawa-langka-lahir-di-bali-zoo

    Berharap bonbin2 di Indonesia juga bisa makin konsisten menangkarkan “Unggul”2 selanjutnya, menyusul Howlett, apalagi Lutung kan endemiknya justru di Jawa. Good Luck buat Bali zoo, buat Ragunan, buat Howlett dan buat “Unggul”.

  5. dayinfauzi says:

    selain sarana edukasi yg telah dijelaskan di atas, dibutuhkan juga pendidikan karakter anak sejak dini terutama pnddikan karakter untuk menyayangi alam termasuk flora fauna d dlmnya karena kita ketahui peran orang tua terhadap anaknya sangat diperlukan (memberikan contoh yg baik, pemahaman orang tua tentang pentingnya mlestarikan alam juga perlu d tingktkan…

  6. catherinekath says:

    Konservasi exsitu yang dilakukan di dua kebun binatang tersebut (menanggapi komentar sebelumnya, inge-anindya), terhadap subspesies yang mana dari spesies ini? menjadi kekhawatiran ketika fokus konservasi terhadap satu jenis subspesies saja. Bagaimana Howlett zoo dapat melakukan konservasi ex situ dengan baik? mengingat kondisi iklim berbeda.

  7. rendi says:

    di Indonesia banyak kebun binatang yang satwa nya kurang terawat karena minimnya biaya. Banyak media masa yang mengabarkan kalau banyak spesies yang terancam punah dan berusaha di konservasi justru mati karena kurangnya perawatan. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah kebun binatang di Indonesia memang bertujuan untuk membantu mengkonservasi satwa yang terancam atau hanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan semata ?

  8. yuurie989 says:

    saya ingin tahu.. beberapa orang secara ilegal memelihara lutung.. namun walaupun secara ilegal di pelihara, apakah tindakan ini juga dapat di katakan membantu konservasi lutung??

  9. Inge says:

    Dayin: Sippp… Setuju…

  10. Inge says:

    Ci Cathy: yep, baru terpikir juga setelah ada yang tanya “dari subspecies mana ya yang sejauh ini sudah dikonservasi?”. setelah aku cari lebih lanjut, nemu satu artikel yang dilangsir oleh jakarta post di http://www.thejakartapost.com/news/2003/04/15/rare-ri-primates-find-home-rural-england.html
    dan di situ disebutin kalo ternyata yang dikonservasi hanya yang Trachypitecus auratus auratus, sedangkan yang Trachypitecus auratus mauritius nggak (BELOM tepatnya, semoga bisa dilakukan selanjutnya) mengingat konservasi tidak hanya ditujukan untuk ng’jaga biodiversitas tingkat species, tapi juga tingkat gen.
    untuk langkah konservasi di Howlett terkait kondisi adaptasi iklimnya, saya belum menemukan referensi. MUNGKIN mereka juga pakai alat pengatur suhu ruangan karena dari literatur yg saya temukan, Lutung hidup optimal di suhu 20-25 derajat Celcius.
    kalau ada temen lain yang nemu, bisa d’share di sini ya… Thx’…

  11. Inge says:

    Rendi: pertanyaan yang semoga bisa menggelitik nurani mereka yang duduk berkuasa di kebun binatang sana. hehe… kalau masalah apakah benar-benar diTUJUKAN untuk konservasi, ya harusnya iya. tapi masalahnya yang terjadi, pada kasus2 itu adalah KOMITMEN mereka untuk merealisasikan tujuan. lagi2 komersialisasi lebih diutamakan daripada konservasi, hiks hiks…

  12. Inge says:

    Yuurie989:
    Lagi2 soal kesadaran diri… kalau sudah ada undang2 yang dibuat dan si “pemelihara” (YANG BELUM TENTU BENAR2 MEMELIHARA DENGAN BENAR) tidak punya ijin resmi (ilegal) jelas tidak bisa disebut melakukan konservasi. mengurus ijin saja tidak bisa, apalagi melakukan tanggung jawab untuk konservasi, JELAS TIDAK BISA DIPERCAYA. #malah pada mati ntar kalo urusnya nggak bener. mungkin yang bisa dilakukan seharusnya adalah MENGADOPSI (membiayai mereka untuk diurus orang2 yg memang kerjaannya mengrus mereka).

  13. ancilla says:

    Info yang sangat menarik dan menambah wawasan… karena saya juga baru tau kalau di Indonesia ada fauna “Lutung”, mungkin teman2 lain juga ada yang tidak tau akan keberadaan fauna ini.
    Jika keberadaan lutung ini sudah ada di beberapa kebun binatang di Indonesia (konservasi secara ex-situ), alangkah lebih baik jika keberadaan fauna ini ada di seluruh kebun binatang di Indonesia sehingga semua masyarakat Indonesia di berbagai pulau tau akan keberadaan fauna ini yang langka dan nantinya masyarakat turut berperan serta dalam mengkonservasi fauna ini =D

  14. Inge says:

    tengqyu Lala,,,
    semoga usaha konservasi Lutung Jawa (kdua subspecies) tambah sukses. mungkin masih terbatas pd dana perawatan dan ketersediaan anakannya.
    tp kalau sekarang hanya ada beberapa bonbin yg melihara Lutung, mungkin mahasiswa/i kek qt ini bs juga ikut ng’bantu ng’share ttg Lutung ini ke orang2,,, hehe,,,
    makin banyak publikasi, makin banyak penelitian, mungkin makin banyak yg aware sama Lutung ini. Amin. whoho,,,

  15. catherinekath says:

    Karena kakak juga penasaran sama pertanyaan kakak sendiri, jadi kakak mencari jawaban jg.
    untuk bagaimana mereka penanganan pakan sudah ada panduan dalam Jurnal berikut.
    Kool, K.M. 1993. The diet and feeding behavior of the silver leaf monkey (Trachypitecus auratus sondaicus)in Indonesia. International Journal of Primatology. 14:667-799.
    Spesies yang ada di Howlett’s Zoo adalah Trachypithecus auratus mauritius, seperti dilansir oleh Nijman dalam buku Forest and Primates, Halaman 66, bahwa ciri dari ventral pattern yang berwarna dark grey memiliki kecenderungan kearah barat dan diduga berasal dari dekat Bandung.
    Meski kakak sendiri juga tidak menemukan bagaimana mereka bisa berhasil konservasi ex-situ, tetapi kakak mendapat berita, bahwa di Howlett Zoo mereka sudah berhasil captive breeding dan mendapatkan 7 anakan yang dikembalikan ke Bandung Zoo, berikut linknya http://pemilu.tempo.co/read/news/2013/04/24/206475560/Primata-Asal-Inggris-Sudah-Doyan-Lalapan
    Semoga membantu 🙂

  16. Inge says:

    Sip,,, thx’ ce info’nya. sangat terbantu.
    buat temen2 yg maw baca lebih lanjut jurnal yg disebut ci Cathy di atas, bisa dilihat abstraknya di http://link.springer.com/article/10.1007/BF02192186
    kalau full version’nya harus bayar.
    seperti yg dilansir di link yg disebutin ci Cathy di atas, berarti pola makan species tersebut berubah selama dikonservasi di Howlett zoo. Apakah ini tidak akan mengurangi kemampuan dia survive di habitat aslinya pas dibalikin lagi ke habitat aslinya di Indonesia ya? ditunggu comment dari temen2,,, hehe,,, trima kasih…
    Salam curious!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php