Iman Bahy

MALARIA Plasmodium falciparum Terhadap Klorokuin Menggunakan PCR-RFLP.

Posted: May 13th 2014

Penulis: Elizabeth N. (110801220)

Malaria merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit genus Plasmodium. Terdapat beberapa spesies Plasmodium yang lazim menyebabkan penyakit pada manusia yaitu Plasmodium falciparum, P. vivax, P. malariae dan P. ovale. Di antara keempat spesies tersebut, P. falciparum merupakan spesies yang mematikan, oleh karena potensinya menyebabkan komplikasi serebral. Malaria sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat terutama di negara tropik sekaligus menjadi ancaman global bagi penduduk bumi. Menurut WHO, sekitar 1 milyar  penduduk di dunia tinggal di daerah endemi dan 1 juta diantaranya meninggal akibat malaria setiap tahunnya (WHO, 1983).

siklus

Siklus hidup parasit penyebab malaria, Plasmodium sp

Klorokuin merupakan obat anti malaria golongan 4-aminokuinolin yang bersifat skizontisida darah terhadap semua jenis Plasmodia pada manusia dan gametositosida untuk P.vivax, P.ovale, dan P.malariae (Chwatt, 1991). Klorokuin bersifat basa lemah dan aktifitasnya di dalam Plasmodium terjadi dalam vakuola makanan parasit stadium aseksual. Klorokuin yang dimakan per oral diabsorbsi melalui saluran cerna ke dalam plasma darah kemudian berdifusi ke dalam sitoplasma parasit karena adanya perbedaan tekanan dan konsentrasi. Di dalam sitoplasma parasit, klorokuin dimasukkan (uptake) ke dalam vakuola makanan melalui aktifitas suatu protein carrier pada membran vakuola makanan yang homolog dengan protein carrier pada manusia yang disebut p-glikoprotein homolog-1 (Pgh1) yang berfungsi sebagai pompa (ATP binding transport protein). Selain itu aktifitas Pgh1 juga berfungsi mengeluarkan klorokuin (efflux) kembali dari vakuola makanan ke sitoplasma (Bayoumi et al, 1994).

Gen Pfcrt merupakan gen yang terletak pada kromosom 7 parasit Plasmodium falciparum ternyata berhubungan erat dengan penurunan sifat resistensi melalui uji genetic crossing (Wellems and Plowe 2001). Gen ini merupakan suatu protein transporter putatif sepanjang 425 asam amino yang terletak pada membran vakuola makanan parasit dan diperkirakan berperan dalam influks dan efluks obat ke dan dari dalam vakuola makanan serta berperanan pengaturan pH intra-vakuola. Saat ini telah dipetakan delapan mutasi titik pada gen pfcrt yang menyebabkan perubahan asam amino; M74I, N75I, K76T, A220S, Q271E, N326S, I356T dan R371I yang bertanggung jawab terhadap munculnya resistensi terhadap Klorokuin. Pada penelitian dengan metode genetic complementation, kodon 76 dibuktikan berperanan penting dalam kejadian resitensi terhadap klorokuin.

Di NTT, belum tersedia data mengenai penyebaran kasus resistensi terhadap obat antimalaria golongan Klorokuin ini secara komprehensif. Dengan pendekatan teknologi biologi molekuler PCR-RFLP diharapkan dapat memberikan gambaran yang akurat dan cepat mengenai pola resistensi terhadap obat ini.

Kenapa sulit dikontrol?

Walaupun ditularkan oleh nyamuk, penyakit malaria sebenarnya merupakan suatu penyakit ekologis. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak dan berpotensi melakukan kontak dengan manusia dan menularkan parasit malaria. Contoh faktor-faktor lingkungan itu antara lain hujan, suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, ketinggian. Air merupakan faktor esensial bagi perkembang-biakan nyamuk. Karena itu dengan adanya hujan bisa menciptakan banyak tempat perkembangbiakan nyamuk akibat genangan air yang tidakdialirkan di sekitar rumah atau tempat tinggal. Nyamuk dan parasit malaria juga sangat cepat berkembang biak pada suhu sekitar 20-27 derajat C, dengan kelembaban 60-80 %. Karena itu iklim di NTT memiliki kondisi suhu dan kelembaban yang ideal untuk perkembangbiakan nyamuk dan parasit malaria.

Salah satu faktor lingkungan yang juga mempengaruhi peningkatan kasus malaria adalah penggundulan hutan, terutama hutan-hutan bakau di pinggir pantai. Akibat rusaknya lingkungan ini, nyamuk yang umumnya hanya tinggal di hutan, dapat berpindah ke pemukiman manusia. Di daerah pantai, kerusakan hutan bakau dapat menghilangkan musuh-musuh alami nyamuk sehingga kepadatan nyamuk menjadi tidak terkontrol.

Malaria juga sulit diberantas karena keberadaan nyamuk itu sendiri yang mencapai ratusan spesies. Tidak kurang dari 400 jenis nyamuk anopheles hidup di muka bumi. Dari jumlah ini, “hanya” 80 jenis yang dapat menularkan malaria. Indonesia memiliki sekurang-kurangnya 20 jenis anopheles; dimana 9 spesies di antaranya ditemukan di daerah NTT.

Faktor lain yang turut memperparah kondisi malaria di dunia, termasuk di Indonesia adalah akibat resistensi nyamuk terhadap insektisida dan obat anti malaria. Zaman dulu DDT merupakan insektisida yang sangat ampuh membunuh nyamuk malaria dan berhasil menekan kasus malaria di berbagai belahan bumi. Namun belakangan diketahui bahwa ternyata nyamuk telah menjadi kebal dengan DDT dan juga pengaruh negatif DDT terhadap kematian serangga lain yang ternyata secara ekologis berguna bagi manusia. Karena itu DDT akhirnya dilarang dan tindakan penyemprotan rumah untuk tindakan anti malaria menggunakan insektisida lain yang lebih mahal. Akibatnya tindakan penyemprotan merupakan kebijakan paling akhir yang baru bisa diambil jika cara lainnya dianggap gagal dan hanya dalam keadaan kejadian luar biasa atau wabah. Tentunya harus didahului dengan survai entomologis untuk mengetahui secara pasti kebiasaan dan perilaku nyamuk malaria sebelum disemprot.

Hal ini merupakan deskriptif untuk mengetahui resistensi Plasmodium falciparum terhadap anti malaria Klorokuin dengan marka alel Lys76Tyr gen Pfcrt dengan menggunakan teknik Biologi Molekuler (Nested-PCR). Penelitian ini merupakan penelitian payung Resistensi Plasmodium falciparum Terhadap Obat Anti Malaria Di NTT. Pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dilakukan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan.

Sampel adalah semua tersangka  malaria yang memenuhi kriteria inklusi penelitian sebagaimana penelitian Penggunaan Polymerase Chain Reaction (PCR). Sebagai Metode Diagnosis Pasti Infeksi Plasmodium falciparum. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara passive case detection (PCD) yaitu menunggu pasien datang ke laboratorium dan sampel yang dibawa oleh petugas. Pencatatan kriteria inklusi dilakukan oleh paramedis yang sudah terlatih dengan cara mengisi kuisioner.

DAFTAR PUSTAKA

GROTH, S., KHAN, B., ROBINSON, A., dan  HENDRICHS, J., Nuclear sciences figths malaria. Radiation and molecular techniques can play targeted roles, IAEA Bulletin 43/2/2001, pp. 33-36 (2001).

HOFFMAN, S.L., GOH, M.L., LUKE, T.C., Protection of humans against malaria by immunization with radiation-attenuated Plasmodium falciparum. The Journal of Infectious Diseases, 185 : 1155 – 64 (2002).

WHO. Advance in malaria chemotherapy. WHO Technical Report Series 711, 1984:10-55.

Wellems TE. Molecular genetics of drug resistance in Plasmodium falciparum malaria.  Parasitology Today 1991; 7:110-2.


One response to “MALARIA Plasmodium falciparum Terhadap Klorokuin Menggunakan PCR-RFLP.”

  1. Fransiska Setyanti says:

    info yang bagus.. Malaria memang perlu dideteksi dengan cepat ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php