Herviera Rosita | UAJY

Kura-kura Rote (Roti Island Snake Necked Turtle) : Slow but Sure.. Extinct

Posted: September 5th 2015

Kura-kura rote (Chelodina mccordi)

Chelodina mccordi  dengan nama daerah Kura-kura Rote merupakan salah satu jenis kura-kura air tawar yang merupakan hewan endemik Indonesia dengan ukuran 18-24 cm. Kura-kura Rote tidak dapat menarik dan menyembunyikan leher dan kepalanya ke dalam tempurung untuk bersembunyi, kura-kura berleher ular ini hanya dapat melipat lehernya ke samping tempurung.  Penyebaran Kura-kura Rote ini ditemukan hanya di habitat lahan basah pulau Rote, bagian timur Indonesia.  Kura-kura Rote ini baru diperkenalkan pada tahun 1994, semenjak itu menjadi target buruan dalam perdagangan internasional menjadi sangat intensif untuk spesies ini sampai pada titik ambang kepunahan di alam.

Taksonomi dari Kura-kura rote (Chelodina mccordi)

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Reptilia

Order: Testudines

Family: Chelidae

Genus: Chelodina

Spesies: Chelodina mccordi

Roti-Island-snake-necked-turtlekura-leher-ular-pulau-rote

Spesies ini hanya ada pada tiga populasi terpisah di sebuah pulau kecil tunggal (Rote) dengan habitat yang seluas 70 km² . Spesies ini menjadi eksklusif untuk diperjual-belikan sebagai  hewan peliharaan, dengan harga yang  tinggi karena statusnya  yang langka , dan satwa endemic dari Pulau Rote. Kura-kura ini sekarang dianggap punah secara komersial oleh pedagang Indonesia.

Beberapa ancaman terhadap keberadaan kura-kura Rote adalah:

1. Perburuan
Para pemburu menangkap kura-kura dengan menggunakan trap yang dari pukat/jaring dengan kerangka besi yang dipasang di danau dan rawa. Para pemburu juga menangkap kura-kura secara manual. Perburuan ini menyebabkan penurunan populasi C. mccordi di seluruh Rote. Menurut seorang pemburu kura-kura di Rote, dulu ia dapat menangkap 30 ekor kura-kura leher panjang pada satu lokasi dalam satu hari, tetapi sekarang hanya mampu mendapat sekitar tiga ekor dalam satu tahun.

2. Perladangan
Perubahan lahan menjadi sawah dan lahan budidaya telah terjadi selama bertahun-tahun. Perubahan lahan serta perladangan menyebabkan berkurangnya habitat.

3. Pencemaran perairan
Untuk meningkatkan produktivitas lahan atau sawah, masyarakat Rote menggunakan pestisida Acodan dan pupuk urea. Penggunaan pestisida dan pupuk tergantung pada curah hujan dan luas ladang. Sebagian bahan kimia dari pestisida dan pupuk tercuci dan mengalir ke badan air seperti sungai dan danau, sehingga membahayakan kura-kura dan satwa lainnya

4. Penggembalaan
Di Pulau Rote terdapat hewan ternak seperti babi, sapi, kerbau, kuda, dan kambing. Hewan ternak digembalakan tanpa dikandang. Hewan tersebut memakan rumput, hingga padang rumput berubah menjadi tanah kosong pada beberapa lokasi. Kerusakan lahan akibat penggembalaan secara tidak langsung mempengaruhi keberadaan kura-kura leher panjang. Selain itu babi juga merupakan predator terhadap telur kura- kura

Pada tahun 1996, IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) mengkategorikan kura-kura rote dalam Red List  sebagai vulnerable, dan sejak sekarang sudah diubah menjadi kategori Red List IUCN menjadi critically endangered dengan kriteria A1d, B1+2e.

Tercantumya kura-kura Rote (Chelodina mccordi) pada CITES Appendix II (Konvensi Mengenai Perdagangan Internasional Terhadap Spesies Satwa dan Tumbuhan Dilindungi) merupakan salah satu tindakan konservasi yang sudah dilakukan menurut IUCN,  dimana semua perdagangan internasional terhadap satwa ini harus dilaksanakan sesuai sistem resmi yang berlaku. Walaupun Chelodina mccordi telah dimasukkan dalam daftar spesies dilindungi di Indonesia. Namun sangat disayangkan, hewan ini tidak termasuk daftar hewan yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999.

DAFTAR PUSTAKA
CITES. 2004. Convention on international trade in endangered species of fauna and flora. Amendments to Appendices I and II of CITES. http://international.fws.gov Diakses September 2015.

Iskandar, D. T. 2000. Kura-kura dan buaya Indonesia dan Papua Nugini. PALMedia Citra. Bandung.

Riyanto, A. & Mumpuni. 2003. Metode survei dan pemantauan populasi satwa. Seri Ketiga Kura-kura. Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI. Bogor.

Rhodin, A.G.J. 1994. Chelid turtles of the Australasian Archipelago: II. A new species of Chelodina from Roti
Island, Indonesia
. Breviora 498: 1-31.


11 responses to “Kura-kura Rote (Roti Island Snake Necked Turtle) : Slow but Sure.. Extinct”

  1. Orta Yudhistira says:

    Disini dikatakan kura kura rote hampir punah karena diburu, nah diburu itu untuk diapakan ya? dikonsumsi kah atau dijadikan obat dan semacamnya? terimakasih..

  2. etti14 says:

    wah,hewan ini juga sangat jarang ditemukan diperairan indonesia, sayang sekali jika hewan ini sampai punah, seharusnya hewan ini dijaga dan dilestarikan..

  3. laurensianachandrika10 says:

    stop ilegal logging, sayang kalu sampai kura-kura ini punah dan perlu ada sosialisasi terhadap masyarakat sekitar khususnya dalam menggembalakan hewan ternak…save kura-kura rote 🙂

  4. destri says:

    Unik sekali kura-kura yang satu ini 🙂 kura-kura yang umumnya dapat menyembunyikan kepalanya di dalam tempurung tapi kura-kura leher ular ini hanya bisa menekuk kepalanya ke samping tempurungnya, lehernya yg panjang seperti ular jg menjadikan kura” ini tambah menarik. Sayangnya blm banyak masyakarat yg mengetahui bahwa kura-kura ini dlm status rentan dan dpt menjadi punah bila kegiatan sperti perburuan tetap dilakukan. Semoga pemerintah cepat membuat peraturan dan usaha konservasi dpat dilakukan sedini mungkin. KEEP WRITTING VIERA!

  5. garvin says:

    Bagaimana siklus reproduksinya? apakah cpt?atau lama? atau bagaimana?

    • hervierarosita says:

      Kura Rote hanya bisa bertelur setelah umurnya mencapai 6 tahun, padahal hanya beberapa kura rote yang dapat mencapai untuk mencapai 6 tahun tersebut

  6. Natalia Cinthya Deby says:

    Kura-kura ini emmang gak familiar, tapi ternyata tau-tau udah critically endangeres..

    Semoga upaya pelestarian bisa terus ditingkatkan baik dari lokal maupun oleh pemerintah,, tentunya dg sanksi yg tegas bagi yg melanggar..

  7. ayusuraduhita says:

    semoga upaya pelestarian tetap dilakukan ya..sehingga kepunahan dapat dicegah

  8. julioalexander says:

    di pasty ada ni,di online juga masih banyak diperjualbelikan

  9. beathrine says:

    Kura-kura ini belum begitu terkenal ya, tetapi memiliki keunikan sehingga patut dilestarikan. Apakah pemerintah setempat sudah melakukan tindakan konserasi yang lebih nyata seperti penangkaran ex-situ atau sebagainya? Trimakasih. Keep blogging!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php