biochaos

Timah Indonesia

Posted: March 3rd 2015

Timah adalah unsur logam pada golongan 4A, periode 5 tabel periodik kimia, yang memiliki nomor atom 50. Lambang Sn dari unsur ini diambil dari bahasa latin timah yaitu Stannum. Dilihat dari kelimpahannya di alam, timah adalah unsur urutan ke-49 paling melimpah di alam. Berikut serba-serbi tentang unsur timah.

timah 1

Sifat Fisik Timah

Informasi Umum:

Nama Unsur : Tin
Simbol : Sn (Stannum : Latin)
Nomor Atom : 50
Kelompok : Logam
Golongan : 4a

Sifat Atom:

Berat Atom : 118,70999999999999
Densitas : 7.30 g/cm3
Struktur Kristal : Tetragonal
Kofigurasi Elektron : 2,8,18,18,4
Elektron Valensi : 2,4
Orbital : [Kr] 4d10 5s2 5p2
Jari-jari Atom : 1.72 Angstrum
Jari-jari Ion : .71 (+4) Angstrum
Volume Atom : 16.3 cm3/mol
Elektronegativitas : 1,96
Energi Ionisasi I : 7.3438 V
Energi Ionisasi II : 14.632 V
Energi Ionisasi III : 30.502 V
Bilangan Oksidasi : (4),2

Termodinamika:

Titik Didih : 2602°C
Titik Lebur : 231.97°C
Kalor Jenis : 0.227 J/gK
Kalor Uap : 295.80 kJ/mol
Kalor Lebur : 7.029 kJ/mol
Konduktivitas Panas : 0.666 W/cmK

Sifat Kimia Timah
Timah punya sifat tahan karat ketika terkena air tetapi tidak tahan terkena asam dan alkali. Ia tidak terlalu terpengaruh oleh air dan oksigen pada suhu kamar, tidak karatan dan tidak mudah korosi. Timah biasa digunakan sebagai lapisan pelindung untuk logam lain. Lapisan ini berguna mencegah oksidasi lanjutan oleh oksigen yang ada pada di udara atau air. Akan tetapi pada suhu tinggi timah dapat bereaksi dengan oksigen membentuk oksida timah.
Tidak hanya pada suhu tinggi, timah juga dapat bereaksi lambat dengan asam encer seperti asam klorida (HCl) dan asam sulfat (H2SO4). Selain itu, timah mudah larut dalam asam pekat dan dalam larutan alkali panas. Timah juga bereaksi dengan unsur-unsur halogen membentuk senyawa seperti timah klorida dan timah bromida.

Sejarah Penemuan Timah
Timah telah diketahui dan dimanfaatkan manusia selam ribuan tahun. Ia telah ditemukan oleh manusia sejak sebelum masehi. Dalam kita suci orang hindu, Reg Veda yang ditulis sekitar 1000 tahun sebelum masehi telah menyebutkan adanya beberapa logam termasuk timah.

Potensi Dan Penyebaran Timah di Indonesia

Indonesia kaya dengan sumber daya alam, khususnya bahan tambang. Saat ini, Indonesia, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menduduki peringkat ke-6 sebagai negara yang kaya akan sumber daya tambang. Selain itu, dari potensi bahan galiannya untuk batubara, Indonesia menduduki peringkat ke-3 untuk ekspor batubara, peringkat ke-2 untuk produksi timah, peringkat ke-2 untuk produksi tembaga, peringkat ke-6 untuk produksi emas. Posisi cadangan timah Indonesia menduduki peringkat ke-5, yakni sebesar 8,1% dari cadangan timah dunia. Daerah-daerah penghasil timah di Indonesia Bangkinang (Riau), Dabo (Pulau Singkep), Manggar (Pulau Belitung), dan Sungai liat (Pulau Bangka) (Dwiarto, 2014).

Berdasarkan informasi dan US Geological Survey 2006 disebutkan bahwa cadangan terukur timah di Indonesia adalah 60.000 ton/tahun atau setara dengan 90.000 ton/tahun pasir timah. Cadangan tersebut akan mampu bertahan sekitar 10 hingga 12 tahun lagi hingga tahun 2017-2019. Sumber daya timah ini menyimpan potensi ekonomi dengan nilai sekitar US$ 18 miliar atau Rp 190 Triliun,” jelas Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjahmada, Nuryati Attamimi  pada orasi ilmiahnya saat upacara wisuda ke 2 Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Pahlawan 12 Bangka, Sabtu (22/3/2014) di Hotel ST 12 Sungailiat.

Di Indonesia, wilayah cadangan timah mencakup Pulau Karimun, Kundur, Singkep dan sebagian di daratan Sumatera (Bangkinang) di utara terus ke arah selatan yaitu Pulau Bangka, Belitung dan Karimata hingga ke daerah sebelah barat Kalimantan. Penambangan di Bangka, misalnya, telah dimuali pada tahun 1711, di Singkep pada tahun 1812, dan di Belitung sejak 1852 (Nuh, 2010).

tabel

Sumber: PT Timah Tbk

Tabel diatas memperlihatkan produksi timah Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Melalui PT Timah, Indonesia pun memperoleh pendapatan yang terus meningkat. Khusus 2006, 2007 dan 2008 keuntungan bersih PT Timah masing-masing adalah Rp 208 miliar, Rp 1,7 triliun dan Rp 2 triliun. Dengan peningkatan keuntungan yang begitu besar, ditambah lagi dengan dampak ekonomi dan efek multiplier dari aktivitas pertambangan timah, seharusnya negara mendapat manfaat yang besar dan kesejahteraan rakyat Babel juga meningkat.

map

Potensi Timah di Indonesia

Manfaat Timah

Penggunaan timah untuk paduan logam telah berlangsung sejak 3.500 tahun sebelum masehi, sebagai logam murni digunakan sejak 600 tahun sebelum masehi. Kebutuhan timah putih dunia setiap tahun sekitar 360.000 ton. Logam timah putih bersifat mengkilap, mudah dibentuk dan dapat ditempa (malleable), tidak mudah teroksidasi dalam udara sehingga tahan karat. Kegunaan timah putih di antaranya untuk melapisi logam lainnya yang berfungsi mencegah karat, bahan solder, bahan kerajinan untuk cendera mata, bahan paduan logam, casing telepon genggam. Selain itu timah digunakan juga pada industri farmasi, gelas, agrokimia, pelindung kayu, dan penahan kebakaran.

Timah dapat diubah menjadi sedemikian licin dan dimanfaatkan untuk melapisi logam lain. Hal ini bertujuan untuk mencegah timbulnya korosi serta aksi kimia. Lapisan tipis timah yang terdapat pada baja dimanfaatkan untuk memperpanjang umur makanan. Timah merupakan logam ramah lingkungan, penggunaan untuk kaleng makanan tidak berbahaya terhadap kesehatan manusia.

Campuran logam timah sangat penting dalam pembentukan solder lunak, logam babbit, perunggu, logam bel, serta logam putih. Timah yang disemprotkan pada bidang gelas dipergunakan untuk membuat lapisan konduktor listrik. Aplikasi jenis ini telah dipergunakan untuk jenis kaca mobil yang tahan terhadap beku. Pada umumnya kaca jendela yang dijumpai sekarang terbuat dari gelas cair dalam timah cair yang berguna untuk membentuk permukaan datar atau proses pilkington.

Penemuan terbaru adalah pemanfaatan campuran logam kristal timah–niobium yang dijadikan superkonduktor pada suhu sangat rendah. Hal ini mengantarkan timah menjadi bahan konstruksi magnet superkonduktif yang sangat menjanjikan. Magnet yang terbuat dari kawat magnet-niobium hanya berbobot beberapa kilogram yang dilengkapi dengan baterai kecil yang menghasilkan medan magnet dengan kekuatan 100 ton elektromagnet yang dioperasikan dengan sumber listrik yang besar.

Konsumsi dunia timah putih untuk solder(52%), industri plating (16%), untuk bahan dasar kimia (13%), kuningan & perunggu (5,5%), industri gelas (2%), dan berbagai macam aplikasi lain (11%).

Tabel 1. Penggunaan timah di beberapa sektor

No. Sektor Contoh
1. Industri Material konstruksi, cat, plastik, industri mesin, lampu bohlam, stick golf, peralatan perang.
2. Kesehatan Kapsul botol minuman, pengalengan makanan, penambalan gigi, obat-obatan.
3. Elektronik TV, radio, papan sirkuit, kamera, telepon, komputer.
4. Perhiasan Cincin, kalung, gelang.

Sumber: PT Timah Tbk, 2000

Di Indonesia produksi timah sudah dapat menghasilkan timah dengan kemurnian tinggi, khususnya tidak mengandung timbal dalam berbagai bentuk, yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan, diantaranya untuk pelapisan plat baja (tin plate) dan sebagian besar diekspor, terutama untuk solder dan paduan timah seperti perunggu dan babbit (Djamaluddin, dkk 2012).

Permasalahan dan Pengelolaan Timah di Indonesia

Indonesia merupakan produsen timah terbesar di dunia, dimana merupakan ”The Indonesian Tin Belt” yang tersebar di wilayah Pulau Karimun, Kundur, Singkep dan sebagian di daratan Sumatera, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau sampai Sebelah Barat Kalimantan. Perubahan kontrol terhadap timah terjadi setelah era Reformasi. Menteri Perindustrian dan Perdagangan mengeluarkan keputusan yang tidak lagi mencantumkan kata ‘timah’ dalam daftar barang-barang ekspor yang diawasi atau diatur pemerintah Keputusan Menperindag No. 146/MPP/Kep/4/1999 tanggal 22 April 1999. Keputusan ini berimplikasi bahwa siapapun berhak memasarkan timah. Hal ini kemudian diikuti dengan dikeluarkan peraturan daerah Nomor 6 Tahun 2001 yang pada dasarnya memberi akses kepada masyarakat Bangka untuk menambang (Erman, 2010).

Semua kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah terjadi perubahan penggunaan lahan karena aktivitas penambangan. Yulita (2011), menyebutkan penggunaan lahan untuk aktivitas penambangan cenderung mengalami kenaikan. Luas lahan tambang pada tahun 2000 adalah sebesar 13.490 ha (6,0%), tahun 2004 sebesar 18.350 ha (8,1%) dan tahun 2010 luasannya sebesar 26.640 ha (11,8%). Lahan tambang meningkat setiap tahunnya dengan laju rata-rata sekitar 1.315 ha per tahun dimana antara tahun 2000-2004 laju peningkatan luas lahan tambang sebesar 1.215 ha per tahun dan tahun 2004-2010 peningkatan tersebut mencapai 1.381,67 ha per tahun.

Penambangan timah lepas pantai dapat meningkatkan produktivitas pertambangan timah di masa mendatang, namun hal ini akan mengakibatkan kerusakan lingkungan jika tidak dilakukan sesuai dengan prosedur. Connel dan Miller (2006), menyebutkan bahwa ekploitasi timbunan bijih akan membongkar permukaan batuan baru dan sejumlah besar sisa-sisa batu atau tanah sehingga akan mempercepat kondisi pelapukan. Beberapa elemen yang merupakan logam ikutan yang mungkin dilepaskan ke lingkungan karena perubahan kondisi fisika kimia dalam fase mineral sekunder adalah Fe, Mn, Cu, Zn, Cd, Pb, W, Bi, Mo, Cr, Ni, Co, As dan U.

Mekanisme dalam penambangan timah lepas pantai adalah dengan membuang langsung limbah hasil penambangan ke perairan sehingga mempunyai dampak langsung. Penambangan timah lepas pantai dibedakan antara penambangan yang dilakukan dengan menggunakan kapal keruk, kapal isap dan TI apung masyarakat. Penambangan yang dilakukan oleh masyarakat dapat menimbulkan dampak terhadap kerusakan lingkungan. Penambangan yang dilakukan oleh masyarakat tanpa izin hanya menguntungkan secara sepihak, tidak adanya pengelolaan lingkungan, jumlah yang banyak dan cenderung berpindah tempat. Harian Kompas (2011), menyatakan bahwa izin operasi untuk 34 dari 67 kapal isap pasir timah di pesisir pulau Bangka diduga kuat tidak jelas, hal ini akan menyulitkan pengawasan terhadap kapal hisap. Puspita (2012), memberitakan pernyataan Direktur Utama PT Timah Tbk, Sukrisno, bahwa ada 6.230 unit tambang inkonvensional (TI) apung di kawasan laut Bangka Belitung. Kondisi ini juga terjadi di Kecamatan Pangkalan Baru tepatnya di Desa Batu Belubang dimana terjadi tambang timah inkonvensional merebak pada tahun 2010 sehingga banyak nelayan yang beralih profesi ke sektor pertambangan

Penambangan timah lepas pantai ini juga akan mengakibatkan terjadinya akumulasi logam berat pada ikan yang hidup di laut. Terdapat beberapa istilah yang dapat menggambarkan akumulasi logam berat di perairan. Connell dan Miller (2006), menyatakan bahwa Bioakumulasi adalah pengambilan dan retensi pencemar oleh makhluk hidup dari lingkungan melalui suatu mekanisme atau lintasan. Biokonsentrasi adalah pengambilan dan retensi pencemar langsung dari massa air oleh makhluk hidup melalui jaringan seperti insang atau jaringan epitel. Biomagnifikasi proses dimana pencemar bergerak dari satu tingkat tropik ke tingkat lainnya dan menunjukkan peningkatan kepekatan dalam makhluk hidup sesuai dengan keadaan tropik mereka.

Selain logam berat, pencemaran yang terjadi juga adalah kekeruhan perairan. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya kualitas perairan. Beberapa ekosistem sangat rentan terhadap kekeruhan perairan. Kondisi perairan yang keruh juga akan mempengaruhi pemijahan cumi-cumi di perairan. Cumi-cumi akan menunda pemijahan bila kondisi laut dan lingkungan belum sesuai, pembutaan akan mengakibatkan kelenjar optik dan gonad matang terlalu cepat/belum saatnya.

 

 

Daftar Pustaka

Connell, D. W. dan Miller, G. J. 2006. Kimia dan Otoksikologi Pencemaran. Cetakan Pertama. UI Press, Jakarta.

Djamaluddin, H., Meinarni, T., dan Alfajrin A. 2012. Potensi Dan Prospek Peningkatan Nilai Tambah Mineral Logam di Indonesia (Suatu kajian terhadap upaya konservasi mineral). Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Makasar.

Dwiarto, D. 2014. Potensi dan Tantangan Pertambangan di Indonesia. http://www.ima-api.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1937:potensi-dan-tantangan-pertambangan-di-indonesia&catid=47:media-news&Itemid=98&lang=id

Erman, E. 2010. Aktor, Akses dan Politik Lingkungan di Pertambangan Timah Bangka. Masyarakat Indonesia. Edisi XXXVI/No.2/2010.

Harian Kompas. 2011. Izin Kapal Isap Timah Tidak Jelas. http://health.kompas.com/read/ 2011/08/02/04574577/Izin.Kapal.Isap.Timah.Tidak.Jelas. 1 Maret 2015.

Nuh, M., 2010. Menyelamtakan Kehancuran Pertambangan Timah Bangka Belitung (1). http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/menyelamatkan-kehancuran-pertambangan-timah-bangka-belitung-1.htm#.VPFwFy6IX64

Nurhayati. 2014. Survei: Cadangan Timah Hanya untuk 12 Tahun. http://bangka.tribunnews.com/2014/03/22/survei-cadangan-timah-hanya-untuk-12-tahun

PT Timah Tbk

Puspita, G. 2012. PT Timah Resmikan Kapal Bor Geotin 3. http:// bangka. tribunnews. com/ 2012/10/24/pt-timah-resmikan-kapal-bor-geotin-3. 1 Maret 2015.

Yulita, Pratiwi. 2011. Perubahan Penggunaan Lahan di Kabupaten Bangka Tengah. Tugas Akhir. Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.

 

 

 

Cr: Cathy Akila

Asoweni Samantha

Siprianus Bhuka

 


8 responses to “Timah Indonesia”

  1. franstheowiranata says:

    tambang timah sangat menguntungkan bahkan dengan adanya tambang tersebut perekonomian masyarakat dan daerah menjadi meningkat. Tetapi dampak yang ditimbulkan juga sangat kompleks. Dengan adanya pertambangan timah adakah efek bagi kesehatan manusia ?? kemudian apakah tambang timah berpengaruh tehadap kualitas air tanah ??

  2. friskaunandy says:

    Benar sekali mas Theo. Mengenai dampak tambang timah bagi manusia dan lingkungan, kita tau kebanyakan tambang memiliki masalah dengan kesehatan manusia, hal ini dikarenakan pada setiap kegiatan pertambangan baik didaratan maupun lautan menyisakan kandungan logam berat berbahaya bagi makhluk hidup dan manusia. Logam berat pada dasarnya sudah terdapat di perut bumi. Logam berat muncul ke permukaan bumi salahsatunya diakibatkan oleh proses penyingkapan perut bumi oleh aktivitas tambang manusia. Akibatnya pada daerah daratan, kolong-kolong bekas tambang timah yang digenangi air dipastikan terkandung logam berat pada air tersebut. Begitupula halnya pada daerah perairan laut.

  3. ronykristianto says:

    Apakah ada dampak sosial dari penambangan timah di Indonesia ?

  4. danielharjanto says:

    untuk mengurangi dampak pencemaran (ke air khususnya) adakah metode atau usaha yang dapat dilakukan sehingga kelestarian dan pengelolaan sumber daya alam dapat berjalan berdampingan?

  5. miabone says:

    Perihal Perda No. 6/2001 yang memberi akses kepada masyarakat untuk menambang, apakah untuk mendapatkan akses ini masyarakat perlu mendapat ijin terlebih dahulu atau memang murni akses bebas? Lalu dengan meningkatnya penambangan timah, yang bisa dibilang semakin tidak terkontrol, apakah sudah ada langkah dari pemerintah?

  6. friskaunandy says:

    Rony Kristianto: seperti juga keberadaan pertambangan di tempat lain, pada kasus kali ini saya mengambil contoh Bangka misalnya, karena proses pertambangan merusak lingkungan, jatuhnya korban jiwa yang bekerja di pertambangan, dan bergesernya daerah pertambangan ke arah laut mengancam Bangka mengalami dampak sosialnya karena masyarakat Bangka tidak berpastisipasi dalam proses produksinya, dan juga masyarakat (bukan pekerja tambang) tidak dapat bekerja maksimal karena kerusakan ekosistem.

  7. friskaunandy says:

    Daniel Harjanto: Wah, urusan pembuangan apalagi pecemaran seharusnya akan jauh lebih baik (ramah) di alam apabila sebelumnya diolah dengan benar kan Mas Daniel? Ini memang resiko yang wajib di tanggung dari daerah tempat pertambangan. menurut saya, selain metode pengolahan limbahnya harus sangat baik, perlu juga dilakukan pengiritan dalam menambang, agar paling tidak limbahnya tidak mencemari lingkungan separah sekarang. Bagaimana Mas, ada masukkan atau ide lain?

  8. friskaunandy says:

    Mia Bone: Perizinan dalam melakukan pertambangan tergantung pada peraturan daerah masing-masing yang dapat berupa pembagian hasil ke pemerintah, pajak, ukuran tambang maksimal, bardasarkan ukuran peralatan yang dipakai dan sebagainya.
    Ini yang perlu diperhatikan, pemerintah belum memperhatikan keadaan tambang-tambang bekas yang ditinggalkan sehingga banyak lubang-lubang yang merupakan sarang bagi sumber penyakit, tidak adanya diversifikasi ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php