ViviFreshily

Ikan “Bertelinga” dari Jawa Yang Kurang Dikenal Masyarakat

Posted: April 2nd 2016

SONY DSC

c-8.FT_1 12647296_1029423453781335_4377643626080320244_n

Apa yang akan kalian lakukan jika kalian mendapatkan ikan sebesar ini? dan apakah kalian tahu nama dan jenis ikan ini?

mungkin kebanyakan dari kalian masih jarang menemukan ikan yang seperti ini di pasaran.

Ikan Sidat (Anguilla spp.).

Sidat merupakan salah satu jenis ikan yang potensial untuk dikembangkan. Sebagian masyarakat menyebutnya sebagai ‘Belut Bertelinga’ karena keberadaan sirip dadanya menyerupai daun telinga. Sidat dikenal pula dengan nama lain moa, lubang, dan uling ( Jawa Barat); sedangkan di Jawa Tengah menyebutnya dengan nama pelus

Tubuh sidat berbentuk bulat memanjang, sekilas mirip dengan belut yang biasa dijumpai di areal persawahan. Salah satu karakter/bagian tubuh sidat yang membedakannya dari belut adalah keberadaan sirip dada yang relatif kecil dan terletak tepat di belakang kepala sehingga mirip seperti daun telinga sehingga dinamakan pula belut bertelinga. Bentuk tubuh yang memanjang seperti ular memudahkan ikan sidat untuk berenang diantara celah-celah sempit dan lubang di dasar perairan. Panjang tubuh ikan sidat bervariasi dengan kisaran 50-125 cm tergantung jenisnya. Ketiga siripnya menyatu, yaitu sirip punggung, sirip dubur dan sirip ekor.

download (1) download

Adapun klasifikasi ikan sidat menurut Nelson (1994) sebagai berikut:

Phyllum : Chordata

Kelas : Actinopterygii

Anak kelas : Neopterygii

Divisi : Teleostei

Bangsa : Anguilliformes

Suku : Anguillidae

Marga : Anguilla

Jenis : Anguilla spp.

Potensi Ikan Sidat

Sidat memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi komoditi perikanan unggulan karena permintaan dunia yang sangat tinggi. Ikan sidat merupakan komoditas perikanan yang bernilai jual tinggi (USD 12-15/kg sidat hidup) dan laku di pasar internasional. Produksi sidat dunia pada tahun 1997 mencapai 198.452 ton dengan nilai USD 678.064.000 dan pada tahun 2000 mencapai 250.000 ton.  Jepang merupakan konsumen sidat terbesar di dunia. Konsumsi sidat di Jepang pada tahun 1999 mencapai 136.955 mt, bahkan pada tahun 2007, Jepang mengimpor 80.000 ton atau 2/3 dari total kebutuhannya terutama dari Tiongkok dan Taiwan.

Ikan sidat merupakan ikan yang penyebarannya sangat luas yakni di daerah tropis dan sub tropis sehingga dikenal adanya sidat tropis dan sidat sub tropis. Di dunia paling sedikit terdapat 17 spesies ikan sidat, dan paling sedikit enam jenis diantaranya yakni: Anguilla marmorata, A. celebensis, A. ancentralis, A. borneensis, A. Bicolor bicolor dan A. bicolor pacifica terdapat di Indonesia.. Jenis ikan tersebut menyebar di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam yakni di pantai selatan Pulau Jawa, pantai barat P. Sumatera, pantai timur P. Kalimantan, seluruh pantai P. Sulawesi, Kepulauan Maluku, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur hingga pantai utara Papua

r

Pemanfaatan Ikan Sidat Yang Mulai Digemari

Ikan sidat telah diketahui memiliki pitensi yang sangat besar di kalangan internasional. Namun pemanfaatan ikan sidat di alam negeri sendiri masih kurang familiar. Akhir-Akhir ini mulai ditemukan kuliner dengan menggunakan ikan sidat sebagai bahan utama pembuatan.Warung-Sidat-Bu-Iis-600x300 SONY DSC sidat-bumbu-kecap

Permasalahan Yang Terjadi

Dilihat dari gambar persebaran ikan sidat di atas, jelas terlihat bahwa Indonesia memiliki ketersediaan yang sangat besar. Namun hal ini tidak sesuai dengan kenyataan dilapangan dimana masyarakat belum banyak mengenal ikan sidat. kebanyakan masyarakat mencari dan memburu ikan sidat yang ada dan tumbuh di alam. Budidaya ikan sidat di Indonesia masih sangat terbatas dan kegiatannya hanya berupa pembesaran. Hal ini disebabkan teknik reproduksinya yang belum dikuasai karena sifat daur hidupnya yang unik. Pada ukuran anakan sampai dewasa mereka hidup di perairan tawar, tetapi pada saat mijah beruaya menuju ke laut dalam.

Ikan sidat memiliki potensi yang sangat besar. Namun hal ini tidak dibarengi dengan perkembangan budidaya ikan sidat di Indonesia. Di Indonesia budidaya ikan sidat masih sangat rendah. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat keberhasilan budidaya yang sangat sedikit. Terdapat beberapa kendala dalam proses budidaya ikan sidat, diantaranya :

  1. tingginya mortalitas pada saat glass eel sampai elver (benih) yang mencapai 70-80%.
  2. laju pertumbuhannya yang sangat lambat.
  3. biaya pakan yang tinggi karena ikan sidat bersifat karnivora sehingga pakan yang berprotein tinggi yang diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan.
  4. biaya pemeliharaan yang tinggi, karen ikan sidat bersifat nokturnal (makan di malam hari) sehingga dibutuhkan energi lebih.
  5. tingkat kerentanan terhadap proses penanganan pasca panen yang tinggi.

Proses Penanganan Masalah yang Dapat Dilakukan

Untuk menangani masalah dalam meningkatkan budidaya ikan sidat, maka dapat dilakukan dengan mengembangkan teknik budidaya ikan sidat yang efektif dan murah salah satunya adalah dengan menggunakan pakan berprotein tinggi yang jarang dimanfaatkan seperti limbah pengolahan ikan atau daging, penggunaan hewan-hewan berprotein tinggi yang tidak diminati seperti bekicot dan cacing tanah. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan teknologi pembenihan dan pemeliharaan yang sesuai sehingga menurunkan tingkat mortalitas ikan sidat.

Referensi :

Affandi, R. 2005. Strategi Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Sidat, Anguilla spp. di Indonesia. Jurnal iktiologi Indonesia 5 (2) : 77-81

Haryono. 2008. Sidat, Belut Bertelinga : Potensi dan Aspek Budidaya. Jurnal Fauna Indonesia 8 (1) : 22-26

 

 


5 responses to “Ikan “Bertelinga” dari Jawa Yang Kurang Dikenal Masyarakat”

  1. linceriasitohang says:

    wahh wawasan baru nih, baru tau belut betellingo ni punya daur hidup di dua perairan, pantes susah dikembangbiakan. Terimakasih sharingnya 🙂

  2. linceriasitohang says:

    sy beri skor 85, YEY!

  3. Gusti Ayu Putri Amelia says:

    Wah info terbaru nig buat aku, soalnya aku baru tau ikan sidat ini dan keliahatannya agak serem gtu ya. Makasi ats tulisannya yg menarik :D. Skormu 80 ya

  4. johan1415 says:

    wow baru tau saya kalau ikan sidat saat ingin memijah berpindah ke laut dalam, oh iya kalau saya boleh tau,iapa sih yang membuat ikan sidat sangat laku di pasar internasional? aku beri kamu skor 80 vi

  5. bogo6013 says:

    wih, seperti belut ya. info yang menarik, belum banyak di ketahui masyarakatnya. jika biaya pembudidayaannya mahal, pasti harga jualnya pun mahal. terimakasih infonya. nilaimu 80. Ini Anna Ranti ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php