Frans Theo Wiranata

Macan Tutul Jawa Raja Rimba Terakhir Di Jawa

Posted: September 9th 2014

Pulau Jawa memang dikenal sebagai pulau terpadat penduduknya di Indonesia, tidak seperti Sumatera atau Kalimantan yang masih banyak memiliki hutan-hutan belantara yang biasa dihuni oleh hewan-hewan buas. Namun meski hanya sebagian kecil saja hutan belantara yang ada di Pulau Jawa, Pulau Jawa memiliki hewan buas yang mengagumkan yaitu Macan Tutul Jawa. Namun sayang, kini keberadaannya terancam punah (Critically Endangered) karena banyaknya perburuan liar. Hingga akhirnya, Macan Tutul Jawa menjadi kucing besar terakhir di Jawa setelah punahnya Harimau Jawa.

Klasifikasi Ilmiah

Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mammalia

Ordo: Carnivora

Famili: Felidae

Genus: Panthera

Spesies: Panthera pardus

Subspesies: Panthera pardus melas

Nama trinomial Panthera pardus melas

Macan Tutul Jawa atau dalam bahasa latin disebut Panthera pardus melas menjadi kucing besar terakhir yang tersisa di pulau Jawa setelah punahnya Harimau Jawa. Macan Tutul Jawa (Java Leopard) merupakan satu dari sembilan subspesies Macan Tutul ( Panthera pardus ) di dunia yang merupakan satwa endemik pulau Jawa. Hewan langka yang dilindungi ini menjadi satwa identitas provinsi Jawa Barat. Macan Tutul Jawa ( Panthera pardus melas ) yang dimasukkan dalam status konservasi “Critically Endangered” ini mempunyai dua variasi yaitu Macan Tutul berwarna terang dan Macan Tutul berwarna hitam yang biasa disebut dengan Macan Kumbang. Meskipun berwarna berbeda, kedua kucing besar ini adalah subspesies yang sama. Ciri-ciri Macan Tutul Jawa, dibandingkan subspesies macan tutul lainnya, Macan Tutul Jawa  ( Panthera pardus melas ) mempunyai ukuran relatif kecil. Panjang tubuh berkisar antara 90 – 150 cm dengan tinggi 60 – 95 cm. Bobot badannya berkisar 40 – 60 kg.

Subspesies Macan Tutul yang menjadi satwa endemik pulau Jawa ini mempunyai khas warna bertutul-tutul di sekujur tubuhnya. Pada umumnya bulunya berwarna kuning kecoklatan dengan bintik-bintik berwarna hitam. Bintik hitam di kepalanya berukuran lebih kecil. Macan Tutul Jawa betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan. Macan Tutul Jawa ( Panthera pardus melas ) sebagaimana macan tutul lainnya adalah binatang nokturnal yang lebih aktif di malam hari. Kucing besar ini termasuk salah satu binatang yang pandai memanjat dan berenang.

Macan Tutul Jawa adalah binatang karnivora yang memangsa buruannya seperti kijang, monyet ekor panjang, babi hutan, kancil dan owa jawa, landak jawa, surili dan lutung hitam. Kucing besar ini juga mampu menyeret dan membawa hasil buruannya ke atas pohon yang terkadang bobot mangsa melebih ukuran tubuhnya. Perilaku ini selain untuk menghindari kehilangan mangsa hasil buruan, selain itu juga untuk penyimpanan persediaan makanan.

Meskipun masa hidup di alam belum banyak diketahui tetapi di penangkaran, Macan tutul dapat hidup hingga 21-23 tahun. Macan tutul yang hidup dalam teritorial (ruang gerak) berkisar 5-15 km2. Bersifat soliter, tetapi pada saat tertentu seperti berpasangan dan pengasuhan anak, macan tutul dapat hidup berkelompok. Macan tutul jantan akan berkelana mencari pasangan dalam teritorinya masing-masing, di mana tiap daerah tersebut ditandai dengan cakaran di batang kayu, urine maupun kotorannya. Macan tutul betina umumya memiliki anak lebih kurang 2-6 ekor setiap kelahiran dengan masa kehamilan lebih kurang 110 hari. Menjadi dewasa pada usia 3-4 tahun. Anak macan tutul akan tetap bersama induknya hingga berumur 18-24 bulan. Dalam pola pengasuhan anak, kadang-kadang macan tutul jantan membantu dalam hal pengasuhan anak.

Konservasi Macan Tutul Jawa, kucing besar ini termasuk satwa yang dilindungi dari kepunahan di Indonesia berdasarkan UU No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999. Oleh IUCN Red list, Macan Tutul Jawa ( Panthera pardus melas ) digolongkan dalam status konservasi “Kritis” (Critically Endangered). Selain itu juga masuk dalam dalam CITES Apendik I yang berarti tidak boleh diperdagangkan. Jumlah populasi Macan Tutul Jawa tidak diketahui dengan pasti. Data dari IUCN Redlist memperkirakan populasinya di bawah 250 ekor (2008) walaupun oleh beberapa instansi dalam negeri terkadang mengklaim jumlahnya masih di atas 500-an ekor. Populasi Macan Tutul Jawa ini tersebar di beberapa wilayah yang berbeda seperti di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon, TN. Gunung Halimun Salak, TN. Gunung Gede, Hutan Lindung Petungkriyono Pekalongan, dan TN. Meru Betiri Jawa Timur. Subspesies Macan Tutul.

Daftar Pustaka

Afnan EMA. ( skripsi ) Studi Karakteristik dan Preferensihabitat Macan Tutul ( Panthera pardus melas Cuvier 1809 ) di Taman Nasional Ujung KulonNational Park.

Direktorat Jendral Perlindungan dan PengawetanAlam. 1978. Studi Habitat dan Populasi Macan Tutul Khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Direktorat Jendral Perlindungandan Pengawetan Alam. Jakarta.

Gunawan et al. 2009. Habitat Macan Tutul Jawa ( Panthera pardus melas Cuvier 1809) diLanskap Hutan Produksi yangTerfragmentasi. Jurnal Penelitian Hutan danKonservasi Alam. Vol. VI No.2 : 95-114.

Hoogerwerf. 1970. Ujung Kulon, The Land of the Last Javan Rhinoceros

Santiapillai, C. dan W. S. Ramono. 1992. Status of the Leopard (Panthera pardus) in Java, Indonesia. Tigerpaper:1-5.

Soehartono T. And A. Mardiastuti. 2002. CITES  Implementation in Indonesia. Nagao NaturalEnvironment Foundation. Jakart. E. J. Bril.

 

 

 

 

 

 


10 responses to “Macan Tutul Jawa Raja Rimba Terakhir Di Jawa”

  1. ronykristianto says:

    jika macan tutul benar-benar punah(tapi semoga saja tidak), apakah ada spesies yang akan terganggu keberadaannya ?

  2. adeirma says:

    Jangan jadikan pulau Jawa tercinta ini kehilangan raja rimba untuk kedua kalinya. Apakah sudah ada undang – undang yang mengatur mengenai larangan perburuan dan perlindungan kucing ini?

    Good info, keep rawck \m/

  3. florencia says:

    kira-kira apa sih yang menyebabkan kepunahan macan tutul jawa ini ? apakah habitat nya yang mulai rusak akibat ulah manusia atau satwa ini banyak diburu karena keindahan kulitnya misalnya, yang bisa diolah menjadi suatu produk yang bernilai ekonomis? atau mungkin ada penyebab lainnya? mungkin bisa dijelaskan 😀 terimakasih 😀 😀 😀

  4. agnes9 says:

    informasi yang sangat menarik 😀
    sebagai generasi muda, adakah saran atau tindakan yang dapat kita lakukan untuk mencegah kepunahan macan tutul ini melihat ketegasan dari pemerintah hanya sebatas UU?

  5. mariaalintar says:

    macan tutul jawa termasuk dalam apex predator kah? jika iya , kerusakan ekosistem macam apa yang bisa ditimbulkan ketika macan tutul ini punah ? nice info !

  6. alfonslie says:

    nice posting.. keep blogging 🙂

  7. agungprayogo says:

    terima kasih buat infonya, sangat bermanfaat 🙂

  8. richardkion says:

    kasihan juga ya. menurut anda, jika macan tutul punah, apakah rantai makanan dan ekosistem tempatnya akan terganggu? jika iya, tolong berikan contohnya mba theo.

  9. elviena says:

    jangan sampai raja rimab ini punah. let’s save macan tutul 🙂

  10. wah jangan sampai hewan endemik jawa yang satu ini punah, sayangkan kalau generasi kedepan hewan ini sudah tidak bisa lagi dijumpai di pulau jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php