elviena

“Odo-Odo” sang Pahlawan Imut Penyelamat Komodo

Posted: December 4th 2014

Komodo! Tentu banyak dari kita yang tahu bahwa komodo adalah nama reptil purba yang masih tersisa pada zaman sekarang. Kita juga pasti sepakat apabila hewan melata yang hanya terdapat di Indonesia khususnya Nusa Tenggara Timur ini perlu dilestarikan keberadaannya. Namun banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan populasi komodo ini semakin berkurang setiap tahunnya, bahkan usaha dari pemerintah pun seakan sia-sia ditambah dengan kesadaran masyarakat yang masih sangat rendah. Maka dari itu, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sedikit cerita tentang komodo dan bagaimana personal action untuk membantu konservasi komodo Komodo (Varanus komodoensis) merupakan hewan endemik Indonesia yang hanya ditemukan di beberapa tempat saja. Menurut  Auffenberg (1981), penyebaran komodo meliputi Pulau Flores bagian barat, Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Gilimotong dan Pulau Mada Sumbi. Penyebaran di Pulau Flores ada 2 bagian yaitu dibagian barat Pulau Flores mulai dari Labuan Bajo hingga Nanggili, di bagian Pantai Utara mulai dari Dampek sampai sebelah … Read more


Surili…Primata Pemalu Asal Jawa Barat yang Hampir Punah

Posted: September 10th 2014

Tahukah anda apa itu Surili?? Mungkin kata “Surili” masih terdengar asing di telinga, bahkan beberapa orang masih pun masih belum dapat menebak apakah surili itu… Untuk lebih mengenal Surili..saya ingin membagikan sedikit informasi mengenai surili dalam tulisan saya kali ini 🙂


Identifikasi DNA dari Feses untuk Konservasi Satwa Liar

Posted: September 8th 2014

Gambar 1. Identifikasi DNA (sumebr : srebrenica.genocide.com) Beberapa tahun terakhir, pendekatan analisis gen untuk tujuan forensik dan konservasi fauna liar mulai dilakukan di Indonesia. Beberapa lembaga konservasi, seperti Wildlife Conservation Society (WCS), Borneo Orangutan Survival (BOS), dan WWF Indonesia, telah menggunakan pendekatan ilmiah ini. Jika pada awalnya pendekatan DNA menggunakan darah atau bagian tubuh fauna, kini berkembang sistem pengambilan contoh yang tak menyakiti fauna, yaitu memanfaatkan kotoran hewan. Berbeda dengan pengambilan sampel secara invasif, pengambilan sampel secara noninvansif tidak memerlukan penangkapan ataupun bersinanggungan langsung dengan hewan uji sehingga bisa menghilangkan resiko stres fisiologis atau efek samping berbahaya akibat penggunaan oabat bius bagi hewan yang bersangkutan (Savira, 2012). Kotoran yang identik dengan bau tak sedap dan menjijikkan ternyata menyimpan informasi tentang individu dan habitatnya.  Satu gram feses dapat mengandung sejumlah besar fecal DNA yang berasal dari sel-sel epitel usus yang terlepas selama proses pencernaan berlangsung. Keberadaan lendir kotoran yang menyimpan sel-sel usus … Read more


Hello world!

Posted: August 28th 2014

Welcome to Komunitas Blogger Universitas Atma Jaya Yogyakarta. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!



© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php