dimaspambudi

PERSONAL PLAN ACTION “Proyek Penyelamatan dan Konservasi Badak Jawa”

Posted: December 4th 2015

Taman Nasional Ujung Kulon yang berada di ujung barat Pulau Jawa, Indonesia telah didirikan sejak tahun 1980. Area taman nasional seluas kurang lebih 1206 km2 ini didedikasikan salah satunya untuk melindungi salah satu hewan yang paling langka di bumi ini, yaitu badak jawa. Hewan mamalia dengan nama latin Rhinoceros sondaicus, dulunya memiliki daerah persebaran yang cukup luas, yaitu mulai dari pulau Jawa, Sumatra, semenanjung Malaya hingga sebagian China dan India. Perkembangan peradaban manusia dan pembukaan lahan baru untuk kebutuhan manusia selama beberapa dekade terakhir telah mengurangi habitat jelajah hewan ini dalam jumlah yang cukup besar. Kini, TN Ujung Kulon merupakan satu – satunya tempat dimana kita bisa melihat Badak Jawa berkeliaran bebas di alam liar. Dalam klasifikasi IUCN Red List, badak jawa masuk dalam kategori critically endangered.

national-park-ujung-kulon

(taman nasional ujung kulon, advr)

Badak jawa merupakan hewan mamalia besar dengan berat antara 900 – 2300 kilogram pada usia dewasanya. Panjang tubuh berukuran antara 2 hingga 4 meter. Badak jawa hanya memiliki satu cula, sama seperti spesies badak india. Ada satu keunikan pada spesies badak jawa, yaitu betina dari badak ini adalah satu – satunya yang tidak memiliki cula hingga usia dewasanya – dan hanya memiliki beberapa inchio tonjolan keras pada daerah muka (diatas hidung). Badak jawa tidak atau jarang menggunakan culanya untuk bertarung atau mempertahankan diri, namun lebih sering menggunakannya untuk meraih batang atau ranting yang dimakan, dan membuka jalan didepannya yang penuh denga ranting dan halangan lainnya. Hewan ini memiliki indera penciuman dan pendengaran yang baik, namun penglihatannya buruk. Biasanya mereka dapat bertahan hidup dari 30 hingga 45 tahun.

Javan Rhino (Rhinoceros sondaicus)

Javan Rhino (Rhinoceros sondaicus)

Sayang sekali, kondisi badak jawa akhir – akhir ini sangat memprihatinkan. Pada awal tahun 2015 yang lalu, polisi hutan yang berpatroli di dalam kawasan TN Ujung Kulon menemukan satu bangkai badak jawa yang diperkirakan telah mati dua hari sebelumnya. Meskipun tidak ada tanda – tanda penyerangan perburuan, namun kematian badak jawa ini sangat memilukan mengingat jumlah mereka yang sangat sedikit.

javanese-rhino_950_326_cy_90

Faktor yang mempengaruhi menurunnya jumlah individu organisme badak jawa secarad drastis sepanjang sejarah yaitu :
1. Poaching – perburuan untuk diambil culanya yang bernilai tinggi dan untuk bahan obat china.
2. Loss of habitat – pembukaan ladang baru untuk pertanian dan pemukiman penduduk mengurangi habitat dan sumber pakan badak jawa.
3. Konflik dengan masyarakat, yang sering kedatangan badak jawa yang kehilangan tempat tinggal alaminya.
Inbreeding dan Evolusi – permasalahan ini mengurangi kemampuan badak jawa untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkunan pada kurun waktu tertentu.


"Poaching" Badak Jawa

Poaching” Badak Jawa

Mengingat permasalahan konservasi badak jawa yang sangat mendesak dan tidak bisa ditunda ini, diperlukan pengembangan strategi dari upaya yang sudah ada untuk meningkatkan tingkat keberhasilan konservasi. Dibawah ini, merupaka rumusan rencana yang bisa dipertimbangkan dalam upaya konservasi Badak Jawa.

A. Kebijakan, Hukum dan Administrasi Pemerintah
Sektor ini meliputi penguatan dan penegakan hukum dalam kancah konservasi. Penetapan area konservasi harus secara tegas tertuang dalam hukum dan kebijakan untuk menghindari sengketa dan penyalah gunaan area konservasi. Bidang ini juga berhubungan dengan penegakan hukum atas tindakan terlarang seperti perburuan liar, pencurian sumber daya alam, perdagangan hewan dsb.
B. Community Awareness
Peran masyarakat sangat penting dalam upaya konservasi sumber daya alam, baik yang terlibat langsung maupun tidak lansgung, terutama masyarakat lokal. Program sosialisasi ini dapat mendorong sikap masyarakat setempat maupun umum untuk peduli terhadap keberlanjutan hidup organisme target. Contoh sederhana, masyarakat lokal disosialisasikan untuk tidak melakukan penyiksaan atau pembunuhan hewan ketika terjadi incidental metting. Contoh lain yaitu masyarakat diajak untuk bekerja sama melindungi satwa langka, misalnya melaporkan ke pihak terkait bila melihat perburuan atau kejahatan pada satwa dilindungi tersebut.
C. Pengembangan Kawasan Lindung
Kasus masuknya satwa liar kedalam perkampungan penduduk nampaknya merupakan akibat dari kurangnya kapasitas habitat alaminya untuk mengakomodasi kebutuhan satwa tersebut. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengembangan kawasan perlindungan yang dapat memperluas daerah hidup hewan dilindungi. Hal ini penting karena habitat dan alam sekitar merupakan faktor penting yang berhubungan langsung dengan tingkat kesehatan dan hidup hewan.
D. Penelitian, Ilmu Penegatahuan dan Teknologi
Upaya penangkaran dan membiakkan badak jawa memang sudah dijalankan segera setelah TN Ujung Kulon dibentuk. Namun hasil yang didapatkan kurang memuaskan, jumlah individu yang hidup masih stagnan bahkan menurun pada periode tahun tertentu. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman lebih lanjut dan menyeluruh mengenai kehidupan organisme ini. Program penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan memberikan kesempatan peningkatan upaya konservasi yang lebih baik dan efektif. Contohnya mengetahui siklus dan perilaku hidup serta genetika dari badak jawa akan memberikan wawasan baru yang dapat dimanfaatkan dalam program breeding. Improviasi dalam sektor teknologi terkait juga sangat bermanfaat dalam hal praktikal perawatan maupun perkembang biakan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php