Delila Faidiban

Ada apa dengan Sungai Tambakbayan?

Posted: June 19th 2015

Hai hai komunitas bogger, ada yang baru lagi nih! Mari simak sejenak biar lebih tahu! Terkhusus buat kalian yang tinggal di kota Yogya yang istimewa ini. Kamu belum istimewa kalo kamu belum baca blog ini! Selamat membaca dan semoga bermanfaat yah, salam konservasi!! 😀

LAPORAN ANALISIS KEANEKARAGAMAN SPESIES DAN AKTIVITAS DI SUNGAI TAMBAKBAYAN, BABARSARI
Tugas Konservasi Sumber Daya Lokal

lambang atma
Oleh:
Maria Anindya Puspitasari (120801243)
Frans Theo Wiranata (120801266)
Delila Faidiban (120801279)
Fenty Waty (120801295)

Blog : Ada apa dengan Sungai Tambakbayan?

UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2015

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem lotik (perairan mengalir) yang berfungsi sebagai tempat hidup bagi organisme makri ataupun mikro, baik yang menetap maupun berpindah-pindah (Maryanto,2005 dalam Febriansyah,2011). Organisme yang hidup dalam sungai merupakan organisme yang memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kecepatan arus atau aliran air (Susanto dan Rochdiyanto, 2008 dalam Febriansyah, 2011).
Sungai merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia, karena sungai menyediakan air bagi kebutuhan manusia dalam melakukan aktivitasnya. Namun dewasa ini aktivitas manusia semakin meningkat, hal ini sejalan dengan peningkatan kasus pencemaran air. Kasus pencemaran air muncul karena adanya pergeseran fungsi utama dari sungai itu sendiri. Fungsi utama sungai adalah mengalirkan air dari hulu ke hilir demi pemenuhan kebutuhan manusia, namun saat ini fungsi sungai berubah menjadi media yang mudah dan murah untuk pembuangan limbah, baik yang berasal dari industri, domestik ataupun pertanian (Asdak,2004).
Sungai sebagai tempat air mengalir dan membawa berbagai makhluk hidup lainnya. Manusia mengunakan air sungai untuk keperluan hidupnya sehari-hari seperti perikanan, pertanian, transportasi dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Bagi manusia sungai juga merupakan salah satu habitat bagi organisme akuatik dan bagian dari ekosistem air. Komponen biotik yang dijumpai di sungai adalah produsen dan konsumen meliputi flora dan fauna. Komponen abiotik di sungai terdiri dari air, batuan, karbon, oksigen, nitrogen, dan karbondioksida. Inventebrata lentik terutama gastropoda merupakan spesies yang melimpah di daerah hulu sungai. Hal ini karena adanya gastropoda yang melimpah menandakan bahwa sungai tersebut masih jernih dan sedikit pencemaran (Asdak,2004)

B. Tujuan
1. Mengetahui keanekaragaman yang terdapat di sekitar Sungai Tambakbayan
2. Mengetahui jenis aktivitas atau kegiatan manusia yang dilakukan di sekitar Sungai Tambakbayan
3. Mengetahui dampak jenis aktivitas/kegiatan manusia terhadap keanekaragaman spesies yang terdapat di sekitar Sungai Tambakbayan
4. Menentukkan langkah-langkah ataupun rencana yang dapat dilakukan untuk melestarikan keanekaragaman spesies di sekitar Sungai Tambakbayan
II. DESKRIPSI LOKASI
Sungai Tambakbayan memiliki panjang mencapai ± 24,00 km dan mengalir dari Lereng Merapi, memasuki kotamadya dan bermuara di sungai Opak. Penggal sungai yang melewati Kabupaten Sleman di bagian tengahnya terdapat embung yang merupakan hasil tempuran sungai Tambakbayan dengan sungai Buntung. Aliran sungai Tambakbayan yang dimulai dari Dusun Santan, Maguwoharjo, Depok Sleman ke arah hilir sampai pertemuan Sungai Opak di Dusun Pamotan, Potorono, Banguntapan, Bantul digolongkan ke dalam kelas II menurut Peraturan Gubernur nomor 20 tahun 2007. Peruntukan Air kelas II adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi tanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

 

III. METODE PENGAMBILAN DATA

Pengamatan terhadap keanekaraaman spesies di Sungai Tambakbayan meliputi kelas Insekta, Gastropoda, Pisces, Reptil, dan Amphibi dilakukan dengan metode release and capture. Pengamatan dilakukan dengan menyusuri lokasi transek sebanyak 2 kali (4 tempat pemberhentian dengan lama waktu setiap pemberhentian 10 menit) dan mencatat spesies yang ditemui. Pengamatan juga dilakukan terhadap aktivitas yang ada di sekitar Sungai Tambakbayan.
Beberapa spesies di sepanjang lokasi transek ditangkap dan difoto, beberapa spesies yang tidak dapat ditangkap diamati morfologinya untuk diidentifikasi. Pengamatan yang dilakukan hanya menggunakan kamera handphone sehingga tidak bisa mengambil gambar spesies dengan yang tidak bisa ditangkap atau tidak bisa didekati. Keterbatasan ini menjadi kelemahan hasil inventarisasi keanekaragaman spesies yang telah dilakukan.
Pengamatan hanya dilakukan sebanyak 1 kali pada tanggal 2 Juni 2015 pukul 10.00-13.00 WIB di lokasi Transek 5 yang ditentukan menggunakan aplikasi Google Earth. Koordinat di lapangan ditentukan menggunakan handphone, koordinat lattitude 7°46’31.55″S-7°46’27.13″S dan longitude 110°25’13.16″-E110°25’7.83″E. Lokasi transek 5 memiliki arus air yang cukup deras di beberapa tempat dan terdapat bendungan.

 

IV. HASIL PENGAMATAN

Analisis keanekaragaman spesies kelas Insekta, Gastropoda, Bivalvia, Pisces, Reptil, dan Amfibi dapat dilihat pada Tabel 1-6. Hasil pengamatan menunjukkan adanya beberapa spesies yang menjadi indikator pencemaran lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa pencemaran yang terjadi di Sungai Tambakbayan belum pada tingkat yang sangat buruk dan pencemaran yang terjadi masih dapat ditoleransi oleh beberapa spesies. Meskipun demikian, tidak diketahui keanekaragaman spesies pada tahun-tahun sebelumnya, melihat kondisi sungai yang mulai tercemar, dapat dipastikan terjadi penurunan keanekaragaman spesies di Sungai Tambakbayan. Pada pengamatan yang dilakukan, tidak dilakukan uji kualitas air sungai, adanya pencemaran dilihat dari warna sungai yang keruh, jumlah sampah, dan kegiatan manusia di sungai. Aktivitas manusia di sungai menjadi penyebab kuat pencemaran dan menurunya keanekaragaman spesies. Aktivitas manusia di sekitar Sungai Tambakbayan dan dampaknya dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 1. Keanekaragaman Insekta

No. Gambar Kedudukan Taksonomi Habitat Persebaran Status Manfaat atau Peran Keterangan
1. anggang Nama lokal: anggang-anggang

Filum: Arthropoda

Kelas: Insekta

Bangsa: Hemiptera

Suku: Gerridae

Spesies: Gerris marginatus Say

 

 

Permukaan air Amerika Tengah, Amerika Utara, Amerika Selatan
  1. sebagai bioindikator kualitas air pada suatu badan air
  2. sebagai predator serangga lain yang berukuran lebih kecil, terutama serangga udara
  3. siklus hidup: metamorfosis tidak sempurna
  4. aktivitas kawin pada anggang tidak dipengaruhi oleh ketersediaan makanan
  5. kondisi ekologis seperti resiko predasi mengurangi aktivitas kawin pada anggang-anggang dan menurunkan aktivitas makan pada anggang-anggang betina
  6. perkawinan terjadi pada musim semi dan panas pada daerah beriklim subtropis
2. belalang coklat Nama lokal: belalang coklat

Filum: Arthropoda

Kelas: Insekta

Bangsa: Orthoptera

Suku: Baissogryllidae

Spesies: Phlaeoba fumosa

Sinonim: Gomphocerus rusticus, Opomala javanica, Opsomala fumosa

Daerah terestrial, banyak ditemukan di rumput, semak, dan pepohonan Jawa hama Tinggi rendahnya kemampuan berkembang biak dipengaruhi oleh kecepatan berkembang biak dan perbandingan kelamin. Semakin banyak jumlah betina, kecepatan berkembang biaknya semakin tinggi. Waktu perkembangan belalang umumnya relatif pendek sehingga kemampuan berkembang biaknya juga tinggi.
belalang padi Nama lokal:Belalang padi

 

Filum: Arthropoda

Kelas: Insekta

Bangsa: Orthoptera

Suku: Baissogryllidae Spesies:

Oxya japonica

Sinonim: Gryllus japonicus

Daerah terestrial Cina, India, Autralia, Malaysia, Maluku hama aktif di siang hari, tanaman inang antara lain: padi, jagung, kedelai, lombok, mentimun, dan labu
belalang pocong Nama lokal: belalang pocong

(belum banyak yang mengidentifikaasi)

3. capung Nama lokal:Capung

 

Filum: Arthropoda

Kelas: Insekta

Bangsa: Odonata

Suku:

Aeshnidae
Austropetaliidae
Cordulegastridae
Corduliidae
Gomphidae
Libellulidae
Macromiidae
Neopetaliidae
Petaluridae

 

Salah satu spesies yang teramati dan dapat diidentifikasi:

Diplacodes trivialis

Kolam, danau, rawa, sawah, saluran irigasi India, Cina, Jepang, New Guinea, Australia Least concern
  1. sebagai predator hama
  2. indikator pencemaran lingkungan

 

4. nyamuk Nama lokal: nyamuk

Filum: Arthropoda

Kelas: Insekta

Bangsa: Diptera

Suku: Culicidae

41 genus

Kolam, rawa, tempat basah Hampir di seluruh tempat di bumi
  1. pembawa penyakit
  2. penghisap darah (manusia dan binatang)
  3. Dapat berkembang biak meski tidak berada di habitat alami
  4. lingkungan lembap paling baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup nyamuk
  5. banyak ditemukan di daerah tropis
5. lalat Nama lokal: lalat

Filum: Arthropoda

Kelas: Insekta

Bangsa: Diptera

Suku: Sarcophagidae

 

 

Salah satu spesies

lalat yang teramati dan dapat diidentifikasi

Sarcophaga sp.

Daerah tropis, terestrial, air tawar Hampir di seluruh tempat di bumi
  1. parasit
  2. pembawa penyakit
  3. metamorfosis sempurna
  4. musim kawin ketika cuaca hangat dan tersedia cukup makanan bagi larva
  5. waktu hidup: lebih lama saat menjadi larva atau pupa, saat dewasa hanya selama 1-2 bulan, beberapa minggu, bahkan beberapa hari
6. lebah Nama lokal: lebah

Filum: Arthropoda

Kelas: Insekta

Bangsa: Himenoptera

Suku: Apidae

Lebah yang ditemui terdapat 2 jenis yaitu berukuran besar dan kecil tetapi tidak dapat didentifikasi spesiesnya secara pasti

Pepohonan Australia, Asia Selatan  
7. semut Nama lokal: semut

Filum: Arthropoda

Kelas: Insekta

Bangsa: Himenoptera

Suku: Formicidae

Terdapat lebih dari 1 spesies

Tanah Hampir di seluruh tempat di bumi
  1. musuh alami hama tertentu
  2. penyerbuk tanaman

 

 

8. kupu-kupu Nama lokal: kupu-kupu

Filum: Arthropoda

Kelas: Insekta

Bangsa: Lepidoptera

Suku: Hesperioidea dan Papilionoidea

 

Terdapat lebih dari spesies. Salah satu spesies yang teramati dan dapat diidentifikasi:

Hypolimnas bolina pallescens

 

Hasil peneltian Sela (2011), pada ruang terbuka hijau di Babarsari terdapat 18 jenis kupu-kupu yang termasuk dalam 6 Famili yaitu Pieridae, Nymphalitidae, Danaidae, Satyridae, Papilonidae , dan Lycaenidae.

Daerah terestrial, tropis: gurun, lahan basah, padang rumput, hutan, pegunungan Hampir di seluruh tempat di bumi -(tergantung spesiesnya)
  1. penyerbuk tanaman
  2. indikator lingkungan yang “sehat”
  3. indikator rentang yang luas keberadaan invertebrata lain (semakin banyak kupu-kupu, semakin banyak invertebrata lain)
  4. pengendali hama alami
  5. organisme model untuk mempelajari dampak degradasi habitat dan fragmentasi, dan perubahan iklim

 

  1. metamorfosis sempurna
  2. umumnya waktu hidup sangat singkat
9. Tidak dapat diidentifikasi spesiesnya.

 

 

 

 

Tabel 2. Keanekaragaman Gastropoda

No. Gambar Kedudukan Taksonomi Habitat Persebaran Status Manfaat atau Peran Keterangan
1. 1 Filum: MoluskaKelas: Gastropoda

Bangsa: Stylommatophora

Suku: Helicidae

Spesies: Helix lutescens

Padang rumput dataran rendah, daerah lebat, tidak ditemukan di pegunungan Bagian timur Eropa Timur bagian Hungaria, Slovakia, Serbia, Poland, Romania, Moldavia, Ukraine Least concern Tidak dijadikan bahan pangan, tetapi dikoleksi bersama dengan Helix pomatia Di Hungaria, spesies ini diindungi
2. 2 Nama lokal: susuh kura

Filum: Moluska

Kelas: Gastropoda

Suku: Pachychilidae

Spesies: Sulcospira testudinaria

Sinonim: Melania testudinaria

Air tawar,Perairan arus deras atau lambat dengan dasar berlumpur Pulau Jawa, Sumatra Selatan Indikator pencemaran lingkungan Mulai jarang ditemukan
3. 3 Nama lokal: -Filum: Moluska

Kelas: Gastropoda

Suku: Pachychilidae

Spesies: Sulcospira sp.

Air tawar
4. bekicot Nama lokal: bekicot

Filum: Moluska

Kelas: Gastropoda

Suku: Achatinidae

Spesies: Achatina fulica

Area agrikultural, lahan basah

Daerah tropis

Afrika, Asia, Pulau Pasifik, Autralia, New Zealand, Amerika Selatan, Caribbean, USA
  1. hama tanaman
  2. pembawa patogen tanaman

 

  1. hemafrodit
  2. kematangan seksual dicapai dalam 1 tahun
  3. sekali bertelur: 100-400 telur

 

Tabel 3. Keanekaragaman Bivalvia

No. Gambar Kedudukan Taksonomi Habitat Persebaran Status Manfaat atau Peran Keterangan
1.  kijing(Kijing Air Tawar) Filum: MoluskaKelas: Bivalvia

Bangsa: Eulamellibranchiata

Suku: Unionidae

 

Air tawar, danau, sungai, kolam Indikator pencemaran air

 

Tabel 4. Keanekaragaman Pisces

No. Gambar Kedudukan Taksonomi Habitat Persebaran Status Manfaat atau Peran Keterangan
1. ikan bawalIkan Bawal

 

 

Filum : ChordataSubfilum : Craniata

Kelas : Pisces

Subkelas : Neopterigii

Bangsa: Cypriniformes :

Suku : Characidae

Marga : Colossoma

Spesies : Colossoma macropomum

Air tawar, danau, sungai, kolam IndonesiaThailand

Malaysia

Filipina

Brazil

Jepang

 

Ikan bawal memiliki rasadaging yang gurih dan enak, meski cukup banyak duri pada dagingnya. Sebagai

ikan konsumsi ikan ini sekarang menjadi alternatif baru (Azam et al., 2010). Ikan

bawal air tawar dijadikan sebagai pilihan karena memiliki harga yang relatif

murah dan lebih terjangkau oleh masyarakat, mudah dalam pembudidayaan dan

memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi (Anggraini, 2002).

kelompok ikanpemakan semuanya (omnivora), tetapi ada pula yang menyebutkan bahwa ikan ini

cenderung menjadi karnivora (pemakan daging). Hal tersebut terlihat dari bentuk

giginya yang tajam. Saat masih kecil, ikan ini menyukai plankton serta tumbuhan

air, namun setelah dewasa, selain pakan yang disebutkan tadi, ikan ini juga

memangsa hewan seperti ikan kecil, udang kecil atau serangga air.

 2. ikan sapu-sapuIkan Sapu-Sapu

 

Kelas: PiscesBangsa: Siluriformes

Suku: Loricariidae

Marga: Hyposarcus

Spesies: Hyposarcus pardalis

 

 

Air tawar, danau, sungai, kolam IndonesiaBrazil

Malaysia

Thailand

 

BioindikatorIkan Sapu-sapu merupakan salah satu jenis ikan yang mampu hidup di perairan kotor dan berlumpur (Ratmini, 2009).

 

Ikan sapu-sapu (Hyposarcus pardalis) memiliki tubuh yang ditutupi sisik keras kecuali bagian perutnya, bentuk kepala pipih dan melebar, mulut terletak dibagian kepala dan berbentuk cakram, memiliki adifose fin yang beduri. Semua sirip berduri kecuali sirip ekor yang diawali dengan jari-jari keras. Sirip punggung lebar dengan 10-13 jari-jari lemah. Warna tubuh cokelat atau abu-abu dengan bintik-bintik hitam diseluruh tubuhnya. Ikan sapu-sapu (Hyposarcus pardalis) mempunyai bentuk mulut tipe inferior , bentuk ekor berlekuk tunggal, serta ukuran mulut yang besar dan dapat digunakan sebagai alat penghisap dan menempel pada berbagai macam benda di periaran.
 3.  

ikan tombroIkan Tombro

Filum : ChordataKelas : Actinopterygii

Bangsa : Cypriniformes

Suku: Cyprinidae

Marga: Cyprinus

Spesies : Cyprinus carpio

Air tawar, danau, sungai, kolam AsiaEropa

Amerika

Vulnerable Bio indicator

Ikan Tombro memiliki kemampuan pertumbuhan yang relatif lebih cepat, dapat menerima pakan yang beragam (alami maupun buatan) dengan kadar protein tinggi, dan dapat dipijahkan dalam lingkungan budidaya.

 

 

 

 

Ukuran mulut yang besar dan dapat digunakan sebagai alat penghisap dan menempel pada berbagai macam benda di periaran.
 4. ikan waderIkan Wader

 

Filum: ChordataKelas: Pisces

Bangsa: Cypriniformes

Suku: Cyprinidae

Marga: Rasbora

Spesies : Rasbora jacobsoni

Air tawar, danau, sungai, kolam Indonesia Bioindikator

 

Ikan Wader (Rasbora jacobsoni) mempunyai bentuk tubuh memanjang,memiliki garis hitam yang memanjang dikedua sisi tubuhnya, panjang ikan dewasa dapat mencpai 5-9 cm, ikan ini memiliki laju pertumbuhan yang cepat. Ikan ini merupakan ikan herbivora, penyebaran habitat perairan tawar dan dapat bertahan pada arus yang deras.

 

Tabel 5. Keanekaragaman Amfibi

No. Gambar Kedudukan Taksonomi Habitat Persebaran Status Manfaat atau Peran Keterangan
1 katak sawah Amfibi (amphibia) terbagi menjadi tiga ordo yaitu anura (kodok dan katak), caudata (salamander), dan gymnophiona (sesilia). Katak sawah ini temasuk dalam ordo anura. Berikut merupakan klasifikasi katak sawah :Filum: Chordata

Bangsa: Anura

Kelas: Amphibia

 

Katak sawah ialah sejenis katak yang banyak hidup di sawah-sawah, rawa, parit dan selokan, sampai ke rawa-rawa bakau. Katak sawah menyebar luas mulai dari Indochina, Hainan, Semenanjung Malaya sampai ke Filipina, Borneo, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Katak sawah ini juga terintroduksi ke Papua. Sebagai Antibiotik, Mencegah Asma, Mengatasi Kerusakan Jantung. Terdapat beberapa manfaat dan peran dari katak sawah ini sehingga perlu di budidayakan lebih lagi, karena sangat membantu dalam bidang kesehatan bagi manusia.

 

Tabel 6. Keanekaragaman Reptil

No. Gambar Kedudukan Taksonomi Habitat Persebaran Status Manfaat atau Peran Keterangan
1 kadal Filum : ChordataKelas: Sauropsida

Bangsa: Squamata

Sub-bangsa: Lacertilia

 

Kebanyakan jenis kadal dapat ditemukan di daerah tropis Kadal ini yang banyak ditemukan di pekarangan, kebun-kebun, tegalan, rerumputan atau persawahan, sampai ke hutan belukar. Rentan Daging kadal dapat dipergunakan sebagai obat sakit kulit. Adanya manfaat pada daging kadal ini, oleh sebab itu patut di jaga habitatnya.

Tabel 7. Kegiatan dan aktivitas manusia disekitar Sungai Tambakbayan

Kegiatan Keterangan dan Permasalahan Dampak
Pemacingan buatan Tidak ada pengolahan limbah untuk air bekas kolam dan sisa pakan Menurunnya kualitas air sungai, bisa menyebabkan air sungai kaya akan materi organik berakibat pada booming organisme tertentu (seperti eceng gondong, fitoplankton), keanekaragaman ikan menurun
Aktivitas pemancingan di sungai Beberapa orang menangkap ikan di sungai dengan pancing, tidak ditemui pemancing menggunakan listrik atau pukat harimau tetapi terlihat adanya ikan sapu-sapu yang mati yang kemungkinan disebabkan oleh aktivitas pemancingan Umpan ikan dapat menjadi sumber pencemaran air sungai
Rumah pengumpulan plastik bekas Sejumlah besar botol plastik berserakan di suatu rumah pengepul tanpa ada alas atau wadah khusus Tanah disekitar sungai tercemar bahan plastik, sumber penyakit
Buang air besar/kecil Tidak tempat khusus untuk MCK di sungai (tidak ada penutup), dilakukan oleh warga berusia lanjut Air sungai tercemar oleh amoniak
Cuci baju Dilakukan oleh warga berusia lanjut Air sungai tercemar oleh deterjen
Pembuatan lidi bambu Memanfaatkan bantaran sungai sebagai tempat berteduh sambil melakukan pekerjaan Kebersihan sekitar sungai apabila sisa pembuatan lidi bambu diabaikan
Hewan ternak disekitar Sekelompok kambing dan bebek yang sengaja dilepaskan (dengan tali pengikat) untuk mencari makanan sendiri Air sungai tercemar oleh amoniak yang berasal dari kotoran ternak, bau tidak sedap di bantaran sungai
Penambangan pasir Penambangan pasir menggunakan peralatan khusus, tidak terdapat pengolahan limbah, tidak ada batasan penambangan dan digunakan pipa-pipa besar Sungai semakin dalam, sungai tercemar oleh oli dari peralatan yang digunakan untuk penambangan
Sawah Persawahan di sekitar sungai dengan jarak tidak lebih dari 5 meter. Potensi sungai tecemar oleh pupuk dan pestisida yang digunakan
Pembakaran ikan di pinggir terlihat sisa tulang ikan dan bekas bakaran Air sungai tercemar oleh abu sisa pembakaran, kemungkinan kebakaran apabila sisa api tidak mati sepenuhnya, kebersihan sungai terkait sisa bakaran

 

Pada pengamatan yang telah dilakukan, keanekaragaman spesies yang dapat dianalisis dirasa belum mewakili keanekaragaman spesies di Sungai Tambakbayan, terutama pada lokasi transek. Hasil pengamatan menunjukkan adanya hewan yang tidak dapat diidentifikasi dan tidak semua spesies dapat teramati. Hal ini disebabkan oleh waktu pengamatan, ada kemungkinan lebih banyak spesies yang aktif di luar waktu pengamatan, seperti spesies-spesies yang aktif di jam-jam tertentu di pagi dan malam hari. Oleh sebab itu, diperlukan analisis lebih lanjut terhadap keanekaragaman spesies di Sungai Tambakbayan, Babarsari. Analisis lanjutan sebaiknya dilakukan menggunakan metode sampling yang lebih sesuai untuk setiap kelas dan digunakan peralatan yang lebih mendukung seperti kamera, alat pancing, jaring, dan lain-lain. Analisis fisik terhadap kualitas air sungai dapat menjadi data pendukung untuk mengetahui hubungan kualitas air (tingkat pencemaran) terhadap keanekaragaman spesies.

 

KESIMPULAN DAN USULAN PENGELOLAAN

Berdasarkan survei di Sungai Tambakbayan yang telah dilakukan kita dapat menarik beberapa kesimpulan yaitu :

  1. Keanekaragaman spesies yang teradapat pada Sungai Tambakbayan cukup melimpah. Beberapa golongan keanekaragaman spesies yang diamati adalah Insekta, Gastropoda, Bivalvia, Pisces, Amfibi, dan Reptil
  2. Beberapa hewan yang ditemui tidak dapat diidentifikasi dan terdapat kelompok hewan yang terdiri dari lebih dari 1 spesies yang tidak dapat diidentifikasi satu per satu
  3. Aktivitas manusia yang dilakukan di sekitar sungai adalah pemacingan buatan, pemancingan di sungai buang air besar/kecil, mencuci baju, pembuatan lidi bambu, hewan ternak yang dibiarkan di sekita sungai, penambangan pasir, sawah dan pembakaran ikan. Aktivitas manusia berpotensi mencemari sungai dan berdampak pada menurunnya keanekaragaman spesies.

 

Usulan pengelolaan kenanekaragaman spesies yang terdapat pada Sungai Tambakbayan adalah

  1. Upaya Pengelolaan dari pihak pemerintah
  2. Diberlakuannya peraturan yang tegas mengenai larangan mandi cuci kakus (MCK) di sekitar sungai, pemancingan menggunakan pukat harimau dan listrik, penumpukan sampah di pinggir sungai dan pembuangan sampah di sungai dan menetapkan kebijakan berupa denda bagi pelanggar peraturan yang ditetapkan
  3. Diberlakukan batasan yang tegas mengenai jumlah pemancingan buatan serta menerapkan pemancingan tanpa merusak ekosistem dan keanekaragaman spesies sungai (terkait pengolahan limbahnya)
  4. Denda dan sanksi tegas yang ditetapkan bagi industri atau usaha yang membuang limbah di sungai. Pemerintah berperan besar dalam mendukung penyuluhan dan penyediaan sarana prasarana terkait pengolahan limbah, terutama bagi industri dan usaha kecil
  5. Perluasan daerah bantaran sungai sebagai langkah melesetarikan sungai dalam jangka panjang. Perluasan bantaran sungai dapat dilakukan dengan larangan pembangunan pada jarak tertentu dari sungai dan dapat dilakukan dengan memindahkan sejumlah warga yang bermukim di sekitar sungai. Berkurangnya jumlah warga yang bermukim di sekitar sungai dapat meminimalkan pencemaran akibat MCK yang dilakukan di sungai. Apabila pemindahan warga tidak memungkinkan, pemerintah berperan besar dalam membangun sarana MCK bagi warga dan bekerja sama dengan komintas setempat untuk meningkatkan kepedulian warga terhadap kelestarian sungai
  6. Pembatasan kegiatan penambangan pasir yang dilakukan. Eksploitasi penambangan pasir dapat dicegah apabila pemerintah setempat memberikan perhatian khusus terhadap permasalahan ini. Akan tetapi, peran dan kepedulian warga setempat sangat penting dalam mencegah eksploitasi penambangan pasir. Warga setempat dapat mengajukan protes yang disertai dengan bukti-bukti dampak dari penambangan pasir sehingga pemerintah juga semakin peka untuk menanggapi permasalah penambangan pasir di Sungai Tambakbayan. Selain penambangan pasir, warga juga memiliki andil besar dalam memberikan masukan dan pendapat mengenai pembangunan di sekitar sungai.

 

Upaya pengelolaan dari diri sendiri dan masyarakat sekitar:

–Tidak membuang sampah sembarangan ke sunga.

–Mengajak dan menghimbau agar masyarakat secara umum, terutama warga sekitar selalu menjaga kebersihan sungai. Pendekatan secara rutin dengan metode yang dapat meyakinkan warga terkait pentingnya kelestarian sungai, melibatkan anak-anak hingga manula, terutama tokoh masyarakat yang memiliki peran besar dalam menggerakkan warga.

–Tidak memanfaatkan sungai untuk kegiatan MCK.

–Ikut serta dalam kegiatan pemerintah yang bertujuan untuk kebersihan sungai dan menggencarkan program pemerintah melalui media sosial

 

REFERENSI

Anonim. 2015. Butterfly Conservation Europe. http://bc-europe.eu/upload/Why%20butterflies%20and%20moths%20are%20important%203.pdf. 14 Juni 2015.

Anonim. 2015. Giant African Land Snail: Achatina fulica. http://entnemdept.ifas.ufl.edu/hodges/ProtectUs/presentations/african_land_snail.pdf. 14 Juni 2015.

Anonim. 2015. Kid’s Inquiry of Diverse Species. http://www.biokids.umich.edu/critters/Diptera/.14 Juni 2015.

Anonim. 2015. Musquito. http://www.orkin.com/other/mosquitoes/mosquito-habitats/. 14 Juni 2015.

Asdak, C. 2004. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Febriansyah. 2011. Komunitas Makrozoobentos DI Sungai Batang Hari Kabupaten Solok Sumatera Barat. Skripsi. akultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas. Padang.

LIPI. 2015. Evaluasi Keanekaragaman Keong Air Tawar di Pulau Jawa. http://biologi.lipi.go.id/bio_indonesia/mTemplate.php?h=3&id_berita=331. 14 Juni 2015.

Pitojo, S. 2010. Talesom: Sayuran Berkhasiat Obat. Kanisius, Yogyakarta.

Sela, A. F. 2011. Keanekaragaman Jenis Kupu-kupu pada Ruang Terbuka Hijau di Babarsari, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi. Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.

 

Jangan lupa Kunjungi:

http://www.gbif.org/species/

http://www.catalogueoflife.org/col/details/species/id/

 

 TERIMA KASIH sudah mau membaca 😀


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php