Delila Faidiban

Mencoba Memahami Kromit.

Posted: March 3rd 2015

Jeng jeng ada yang baru nih dari blog aku, pembahasan seputar mineral kromit, selamat membaca. 🙂

Kata Kromium berasal dari bahasa Yunani (chroma) yang berarti warna. Kromium (Cr) merupakan salah satu unsur logam berat yang mempunyai nomor atom 24 dan mempunyai berat atom 51,996. Logam Krom murni tidak pernah ditemukan di alam, logam Krom ditemukan dalam bentuk persenyawaan padat atau mineral dengan unsur-unsur lain. Logam Krom sesungguhnya berasal dari kromit.
Kromit merupakan satu-satunya mineral yang menjadi sumber logam kromium. Kromit mempunyai komposisi kimia FeCr2O3 dan mempunyai sifat antara lain:
 Berwarna hitam
 Berbentuk kristal massif hingga granular
 Memiliki sistem kristal oktahedral
 Memiliki goresan berwarna coklat
 Kekerasan 5,5 (skala mohs)
 Berat jenis 4,5 – 4,8

814c78f0-e326-4b37-b7d9-e3db154d79b8

Gambar 1. Kromit (http://www.geocaching.com/geocache/GCZP2A_chromite-feocr2o3-dp-ec5).

Komposisi kimia kromit sangat bervariasi karena terdapat usur-unsur lain yang mempengaruhinya, sehingga berdasarkan perbandingan Cr:Fe, kromit dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu kromit kaya krom, kaya aluminium, dan kaya besi (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, 2005).

Peta

Gambar 2. Sumber Kromit di dunia ((Pariser, 2013).

Kromit dapat terjadi sebagai endapan primer, yaitu tipe cebakan stratiform dan podiform, atau sebagai endapan sekunder berupa pasir hitam dan tanah laterit (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, 2005). Potensi kromit di Indonesia berupa endapan primer tipe podiform yaitu berbentuk seperti lensa meskipun lebih banyak ditemukan berbentuk seperti pensil, terbentuk di ofiolit yang merupakan lapisan litosfer yang telah tergeser ke continental plate. Kromit tipe podiform kaya akan Cr (Krom) dan Al (Alumunium) (Robinson dkk., 1997).
Potensi kromit di Indonesia lebih sedikit dibandingkan negara-negara lain di dunia seperti Kazakhstan, Turkey, Kanada, Afrika Selatan, Finland, Brazil, India, dan Zimbabwe. Meskipun demikian, potensi kromit di Indonesia cukup besar, hal ini dikarenakan kromit terbentuk pada batuan induknya yaitu ofiolit, sedangkan penyebaran ofiolit di Indonesia diperkirakan lebih dari 80 ribu km2 (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, 2005).
Penyebaran kromit di Indonesia terdapat di:
Sumatera Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan (Gunung Bobaris, Gunung Meratus, Pulau Laut, dan Pulau Sebuku), Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah (Bungku dan Wosu), Maluku Utara (Pulau Gebe dan Pulau Halmahera), dan Papua (Pegunungan Siklop dan Pegunungan Maropeni) (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, 2005).

Pulau

Gambar 3. Potensi kromit di Indonesia (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, 2005)

Alur

Gambar 4. Proses penambangan biji kromit (CDE Global, 2013).

Proses penambangan biji kromit dibedakan menjadi 2 tahap, yaitu tahap feed preparation dan concentration. Pada tahap feed preparation digunakan chrusher, screens, dan grinding mills, bertujuan memperkecil ukuran bahan mentah kromit dan memisahkan kromit dari bahan lainnya sehingga mempermudah tahap concentration. Pada tahap concentration digunakan hydrocyclones dan spiral untuk menghasilkan konsentrat krom. Sisa air pada tahap concentration selanjutnya dapat melalui tahap penyaringan menggunakan tailing dams (bendungan) (CDE Global, 2013).

 

Untitled

Gambar 5. Penggunaan Kromit (Pariser, 2013).

Kromit banyak dimanfaatkan untuk produksi ferokrom (FeCr: campuran besi dan krom) sebagai “agen” anti-korosi dan pemberi kesan mengkilap untuk pembuatan stainless steels, campuran baja, baja cor, dan besi cor. Konsentrat kromit yang telah mengalami proses roasting akan menjadi sodium dikromat yang berguna dalam pembuatan logam krom (Cr2O3), asam kromat, sulfat kromat, dan kromat, serta untuk campuran baja, pembuatan logam, sebagai katalis dalam penyamakan kulit, dan sebagai bahan dasar pembuatan pewarna atau cat. Selain itu, biji kromit juga digunakan untuk pembuatan mortar, batu bata, dan cetakan untuk pengecoran (Pariser, 2013).

Permasalahan-permasalahan:
Bahaya Krom
Krom di lingkungan paling sering ditemukan dalam bentuk Cr-III (ditemukan dalam kromit) dan Cr-VI. Jumlah Cr-III yang terlalu banyak dapat bersifat toksik bagi tumbuhan dan hewan. Kegiatan pertambangan kromit dan produksi ferokrom dapat mengubah Cr-III menjadi Cr-VI yang juga bersifat toksik dan dapat menyebabkan kanker. Proses perubahan Cr-III menjadi Cr-VI atau sebaliknya dipengaruhi oleh kondisi kompleks yang melibatkan faktor biologi dan kimiawi seperti tipe tanah, kandungan mineral, karakteristik air, dan interaksi biologi. Cr-VI lebih mudah berpindah ke dalam sel tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme sehingga berpotensi tinggi sebagai toksik (MiningWatch Canada, 2012).
Pertambangan kromit bertujuan memisahkan kromit untuk produksi ferokrom, tetapi proses penambangan tidak berjalan secara 100% efisien. Proses penambangan menghasilkan limbah seperti debu, sisa air, tailing, sisa batuan, dan terak yang masih mengandung krom, termasuk Cr-VI. Selain itu, dimungkinkan pula adanya kandungan logam berat dan senyawa kimia lainnya dalam limbah pertambangan kromit sehingga berpotensi besar mencemari lingkungan (MiningWatch Canada, 2012).
Kandungan Cr-VI sebanyak 1-10 mg/kg dan Cr-II sebanyak 25-100 mg/kg berdampak negatif pada kelangsungan hidup organisme tanah dan keseimbangan ekosistem tanah. Tumbuhan yang hidup pada tanah yang mengandung krom sebagian besar mengakumulasi krom dalam akar dan bagian tumbuhan lainnya seperti daun, sehingga menjadi toksik apabila dikonsumsi. Tumbuhan memiliki tingkat toleransi yang berbeda terhadap bahan pencemar, tubuhan dengan tingkat toleransi rendah terhadap krom akan terhambat pertumbuhannya dan bahkan mati. Suatu studi menemukan bahwa tumbuhan dan alga mengandung bentuk intermediet dari Cr-VI yaitu Cr-V dan Cr-IV yang bersifat lebih toksik bagi manusia dan hewan, dan menjadi ancaman bagi “kesehatan” ekologi.
Kandungan krom dalam air minum dan makanan dapat menyebabkan kanker, gangguan organ reproduksi, perubahan perilaku, menghambat pertumbuhan, dan meningkatkan risiko kematian (MiningWatch Canada, 2012). Krom dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kanker paru-paru, kerusakan hati (liver), dan ginjal. Selain itu, kontak krom dengan kulit menyebabkan iritasi dan jika tertelan dapat menyebabkan sakit perut dan muntah (Pellerin, 2006).

Daftar Pustaka

CDE Global. 2013. Chromite. http://mining.cdeglobal.com/applications/73/chromite. 27Februari 2015.
MiningWatch Canada. 2012. Potential Environmental Impacts of Mining and Processing. MiningWatch Canada: Mines Alerte. Kanada.
Pariser, G. C. 2013. Ontario’s Ring of Fire: Unlocking Potential andCreatingOpportunity.PDAC Convention:
Heinz H. Pariser Alloy Metals and Steel Market Research. Toronto.
Pellerin, M. B. 2006. Reflection on Hexavalent Chromium: Health Hazards of An Industrial Heavyweight. http/www.nickel & chromium hazard/millennium ark water purification.Httm. 1 Maret 2015.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. 2005. Kromit. http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Kromit/ulasan.asp?xdir=Kromit&commId=20& omm=Kromit. 1 Maret 2012.
Robinson, P. T., Zhou, M-F., Malpas, J., dan Bai, W-J. 1997. Podiform Chromitites: Their Composition, Origin, and Environment of Formation. Episodes 20(4): 247.


3 responses to “Mencoba Memahami Kromit.”

  1. yunicefemilia says:

    Menurut anda apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi bahaya krom bagi kesehatan manusia maupun bagi lingkungan?

  2. mariajanina says:

    lala, menurut anda Pribadi bagaimana dampak kromit bagi masyarakat disekitar daerah Pertambangan kromit?..

  3. nitabawole says:

    saya mau bertanya, dari beberapa potensi krom di atas, masih adakah potensi potensi lainnya yang berasal dari krom ini sendiri?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php