LODEINA

Konservasi Tanaman Pasak Bumi dengan Analisis Molekuler

Posted: August 29th 2015

30Pasak
Pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) adalah salah satu jenis tumbuhan obat yang banyak ditemukan di hutan – hutan Indonesia. Semua bagian tumbuhan pasak bumi dapat digunakan dalam pengobatan, yaitu akarnya dapat digunakan sebagai obat kuat, penurun panas, anti malaria dan disentri, kulit dan batangnya dapat digunakan untuk mengobati demam, sariawan, sakit tulang, cacing perut, serta sebagai tonik setelah melahirkan, daunnya digunakan untuk mengobati penyakit gatal, sedangkan bunga dimanfaatkan untuk mengobati sakit kepala, sakit perut dan nyeri tulang (Ginting, 2010). Manfaat yang beragam tersebut menyebabkan pasak bumi banyak diekspor ke luar negeri untuk keperluan pembuatan obat herbal.
Semakin meningkatnya pemanfaatan pasak bumi oleh masyarakat sebagai bahan pengobatan dengan cara pencabutan langsung sampai pada akarnya serta pengambilan tumbuhan pasak bumi secara liar di hutan alam telah menyebabkan kelangkaan populasinya, hal ini berpotensi mengakibatkan hilangnya keragaman genetik. Salah satu upaya penyelamatan plasma nuftah tanaman pasak bumi dengan cara konservasi baik secara in situ maupun eksitu. Dalam konservasi tanaman pasak bumi informasi keragaman genetik sangat diperlukan. Analisis keragaman suatu populasi tanaman dapat dilakukan secara morfologi, sitologis (karyotipe kromosom) dan analisis molekuler (RAPD, RFLP, AFLP dan Isozim) dan setiap metode mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing (Pandin, 2009).
Penanda molekuler banyak digunakan dalam menganalisis keragaman genetik salah satunya yaitu dengan menggunakan metode Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) karena RAPD bersifat lebih sederhana dibandingkan penanda molekuler lainnya seperti mikrosatelit atau simple sequencerepeat (SSR), restriction fragment length polymorphism (RFLP) dan amplified length polymorphism (AFLP). RAPD merupakan salah satu metode penanda genetik berbasis DNA yang telah cukup banyak digunakan untuk menilai keragaman genetik tumbuhan hutan. RAPD memiliki keunggulan dibandingkan jenis penanda lain yaitu tidak dipengaruhi oleh umur tumbuhan, mudah dilakukan, biaya relatif murah dan hasilnya cepat diperoleh. Teknik RAPD didasarkan pada penggunaan primer sekuens Nukleotida yang berubah-ubah untuk mengamplifikasi segmen genomik DNA acak melalui pemanfaatan PCR (Polymerase Chain Reaction) sehingga menunjukkan polimorfisme (Nasir, 2002).
Beberapa alasan pemilihan teknik RAPD untuk menganalisis populasi genetik pasak bumi antara lain membutuhkan latar belakang pengetahuan tentang genom yang akan dianalisis, tersedianya primer yang secara universal dapat digunakan untuk organisme prokariot maupun eukariot, mampu menghasilkan karakter yang relatif tidak terbatas jumlahnya, bahan – bahan yang digunakan relatif murah dan cepat memberikan hasil. Sampai saat ini studi mengenai keanekaragaman populasi genetik tumbuhan pasak bumi yang ada di Indonesia khususnya provinsi Riau sangat sedikit dilaporkan.

DAFTAR PUSTAKA

Ginting, A. B. R. 2010. Kajian Ekologi Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack.) dan Pemanfaatan Oleh Masyarakat di Sekitar Hutan Bukit Lawang. Program Studi Magister Ilmu Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara Medan.
Nasir, M. 2002. Bioteknologi Molekuler. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Pandin, D. S. 2009. Keragaman genetik kultivar kelapa dalam mapanget (DMT) dan dalam tenga (DTA) berdasarkan penanda random amplified polymorphic DNA (RAPD). Buletin Palma. 36: 17-27.


9 responses to “Konservasi Tanaman Pasak Bumi dengan Analisis Molekuler”

  1. nilai dari pasak bumi sudah dikenal di sektor apapun, terutama kesehatan. semoga kelangsungan tanaman ini tetap ada sehingga di masa depan masih tetap menjadi salah satu tanaman obat. Semangat !

  2. Eunike Priscilla Tanio says:

    Studi mengenai pasak bumi harus semakin ditingkatkan supaya pasak bumi dapat dilestarikan. Studi molekuler dapat mempermudah tindakan konservasi yang harus dilakukan karena keanekaragaman genetik dari pasak bumi dapat teranalisis dengan baik. Oleh karena itu, kesadaran madyarakat akan konservasi tanaman herbal seperti pasak bumi ini memang sangat penting.

  3. lakshita says:

    artikel yang baik, cindy. mungkin di post selanjutnya bisa dituliskan mengenai rincian proses analisis molekuler terhadap pasak bumi serta hasilnya (yang katanya masih sangat sedikit dilaporkan itu). barangkali ada yang termotivasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

  4. Neil says:

    haha semoga ke depannya perkembangan teknik molekuler semakin meningkat dan tanaman ini dapat dijaga kelestariannya. Mungkin admin mau meneliti lebih lanjut tentang pasak bumi? 😀
    Dan buat para pria di luar sana yang mengalami disfungsi organ vital, mendingan minum jamu pasak bumi aja daripada pake obat2an kimia yang ga jelas 😀 😀 😀 ;))

  5. rahelfrida says:

    Mungkin, analisis molekuler terhadap tanaman herbal potensial seperti pasak bumi harus dikembangkan lagi, melihat masih kurangnya minat untuk meneliti pasak bumi ini.

  6. valleryathalia says:

    informasi yang diberikan dapat dengan mudah dipahami. semoga para peneliti yang menggunakan metode RAPD mampu menjaga kelestarian flora endemik dari indonesia ini yaa..

  7. Natalia Cinthya Deby says:

    Informatif bingitsss..

    Mungkin bisa ditambah dengan kandungan2 yg udah diteliti yang menjadikan si pasak bumi ini bermanfaat bagi kita terutama di bidang kesehatan,,

    Semoga pasak bumi nda punah deh,, tentu dengan bantuan dari masyarakat dari seluruh lapisan supaya terus dapat membudidayakan dan melestarikan…

  8. etti14 says:

    Informasi yang menarik, tanaman ini begitu banyak khasiatnya, oleh karena itu agar tidak punah tanaman berkhasiat ini perlu di perhatikan lagi untuk kedepannya, dan perlunya kesadaran masyarakat dalam penggunaannya,

  9. clararequinta says:

    waw informasi yang bagus sekali cindy, baru tau ternayata khasiat dan manfaat pasak bumi ternayta banyak juga hee. Dan informasi menarik tentang metode yang digunakan, semoga bisa ciptain obat dengan metode ini yaaa 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php