christian bunardi

Si putih Si batu Kapur

Posted: March 2nd 2015

2433565_photo0455_001

Batu Kapur (Limestone)
Batu kapur (limestone) merupakan salah satu bahan galian industri non logam yang sangat besar potensinya dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia (Shubri dan Armin, 2014). Batu kapur (gamping) dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu secara organik, secara mekanik, atau secara kimia. Sebagian besar batu kapur yang terdapat di alam terjadi secara organik, jenis ini berasal dari pengendapan cangkang/rumah kerang dan siput, foraminifera atau ganggang, atau berasal dari kerangka binatang koral/kerang. Batu kapur dapat berwarna putih susu, abu-abu muda, abu-abu tua, coklat bahkan hitam, tergantung keberadaan mineral pengotornya (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, 2005).
Mineral karbonat yang umum ditemukan berasosiasi dengan batu kapur adalah aragonit, yang selanjutnya akan berubah menjadi kalsit (CaCO3). Mineral lainnya yang berasosiasi dengan batu kapur namun dalam jumlah kecil adalah Siderit, ankarerit, dan magnesit (MgCO3) (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, 2005).

Manfaat
Sejauh ini, batu kapur banyak digunakan untuk keperluan Bahan bangunan sepertiang untuk plester, adukan pasangan bata, pembuatan semen tras ataupun semen merah. Kapur ini juga berfungsi untuk mengurangi plastisitas, mengurangi ppenyusutan dan pemuaian fondasi jalan raya. Uniknya, batu kapur juga dapat dimanfaatkan sebagai pembasmi hama, yaitu sebagai warangan timbal dan warangan kalsium (CaAsO3) atau sebagai serbuk belerang untuk disemprotkan. Tidak hanya itu, di dunia pertanian, bubuk batu kapur umum ditaburkan untuk menetralkan tanah asam yang relatif tidak banyak air, sebagai pupuk untuk menambah unsur kalsium yang berkurang akibat panen, erosi serta untuk menggemburkan tanah. Kapur ini juga dipergunakan sebagai disinfektan pada kandang unggas, dalam pembuatan kompos dan sebagainya.
Eitsss… tunggu dulu, nggak cuma itu… si batu sakti beribu fungsi ini juga bisa digunakan sebagai penjernih air. Dalam penjernihan pelunakan air untuk industri , kapur dipergunakan bersama-sama dengan soda abu dalam proses yang dinamakan dengan proses kapur soda. Dan ini dia, salah satu fungsi utama yang membuatnya berharga di industri persemenan… sekaligus yang jadi alasan kenapa penambangannya banyak dilakukan berlebihan. Kenapa? Industri apa? Bicara soal industri semen, ya batu kapur inilah yang jadi adonan utamanya. Dengan eksplorasi yang tidak bijak, lambat laun warisan dunia yang unik dan terbentuk ribuan tahun ini akan hilang dan hanya menjadi cerita anak cucu kita kelak, jika kita tidak ikut membantu melestarikannya.

Penyebaran
Tahu kan yang di atas itu gambar apa? yep, bener banget, peta Indonesia, dengan bakso-bakso hijau yang bertaburan di sana sini. Kenapa banyak bakso ijo’nya? ya karena tanah air kita Indonesia ini kaya banget akan batu kapur, potensi sumber daya mineral yang daerahnya terwakili dengan gambar bakso-bakso ijo di peta tersebut.
Potensi batu Kapur/Gamping di Indonesia hampir menyeluruh di wilayah Indonesia. Data secara umum jumlah batu kapur Indonesia mencapai 28,678 milyar ton. Sebagian besar cadangan batu kapur berada di Sumatra Barat dengan jumlah cadangan sekitar 23,23 milyar ton atau hampir 81,02 % dari cadangan keseluruhan di Indonesia (Madiadipoera dkk, 1990). Dari sekian banyak lokasi batu bara di Indonesia, tidak banyak yang sudah dimanfaatkan.

Di wilayah Kalimantan, potensi batuan gamping atau batuan kapur ini yang terbesar adalah di provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur (Anonim, a). Cadangan batuan kapur di dua daerah tersebut sangat memungkinkan untuk dikelola dan diolah untuk menjadi sebuah industri. Masih banyaknya sumber tanah gamping yang belum di eksplorasi, terutama di wilayah Indonesia bagian timur membuat kekayaan Indonesia atas bahan tambang galian seperti gamping ini dapat menjadikan sumber devisa bagi Indonesia.

indonesia-coal-resources2

Oke deh, coba sekarang di’zoom gambar petanya… di pulau Jawa, deket jawa tengah, tapi agak ke bawah… yak, yak di sana… di Jogja juga ada bakso ijo’nya ternyata. Berarti nggak usah jauh-jauh… di deket kita pun ada nih. Di jogja, daerah Gunung Kidul. Pernah lewat sana kan? Pernah kan nemu onggokan lahan gersang yang warnanya keputihan gitu? Ya ini dia masalahnya… PETI…

PETI apa? Pertambangan Tanpa Izin…
Sesuai singkatannya, penambangan batu kapur yang dilakukan tanpa izin ini kalau dilakukan terus-terusan bisa jadi PETI kematian beneran, kematian potensi sumber daya batu kapur.

Kita perlu siap siaga ngejaga Jogja juga nih menanggapi statement Pak Edy Sumantry bahwa salah satu bahan galian yang dijadikan sasaran PETI adalah bahan galian golongan C berupa batu kapur. Berkaitan dengan metode penambangan terbuka, Dharmajala juga mengatakan bahwa pertambangan ini sangat merugikan lingkungan sekitar karena cara-cara seperti ini berakibat hilangnya vegetasi tanah penutup,tanah lapisan atas yang berhumus yang akan dijadikan lokasi penambangan dibuang begitu saja oleh para penambang.

Adapun dampak negatif dari PETI yang dikemukakan oleh Edy Sumantry ini ada beberapa macam yaitu kehilangan penerimaan Negara karena tidak ada pemasukan pajak, kerusakan lingkungan hidup, dan resiko kecelakaan tambang karena tidak memenuhi prosedur K3. Selain itu, dampak nyata yang bisa langsung kita lihat dan rasain nih, misalnya polusi udara, banyak lahan terbuka, tanah yang berdebu dan berpasir, galian material yang terserak dimana-mana, lubang-lubang, udara kotor akibat prosesing serta jalan-jalan yang dilintasi para pengangkut tambang jadi cepat rusak akibat kelebihan beban. Kegiatan penambangan maka vegetasi penutup tanah akan dihilangkan, hal ini akan berpengaruh pada keadaan morfologi daerah tersebut. Selain itu, keadaan udara juga menjadi kotor hal itu disebabkan debu tambang yang dihasilkan dari kegiatan penambangan tersebut mengakibatkan gangguan pada para penambang dan masyarakat sekitar penambangan, seperti timbulnya beberapa jenis penyakit atau gangguan paru-paru (Supardi, 1984).

Dan satu lagi, yang paling krusial… kalau mengurus ijin saja tidak mau, apalagi reklamasi. Padahal selanjutnya, menurut Katili (1983), usaha perbaikan lingkungan di dalam pertambangan seharusnya meliputi perbaikan kembali kondisi lapisan atas tanah sedemikian rupa sehingga tidak mudah tererosi, misalnya dengan penggarapan secara fisik serta penanaman tumbuhan. Selain itu, perlu dilakukan penanaman kembali lahan yang habis ditambang, dilakukan dengan cara mengembalikan tanah penutup atau memindahkan tanah penutup lainnya yang sedang atau harus dikupas ke lahan yang telah selesai yang telah dilakukan tidak diikuti dengan usaha perbaikan tanah, udara, dan kondisi air. Kebayang kan kalau batu kapur itu ditambang ilegal, PETI…

Di Kabupaten Gunungkidul sendiri terdapat 8 (delapan) kecamatan yang merupakan tempat kegiatan pertambangan PETI batu kapur, yaitu kecamatan Ponjong, Semin, Semanu, Karangmojo, Patuk, Tepus, Girijati, dan Wonosari (Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pertambangan Bidang Pertambangan dan Energi Kabupaten Gunung Kidul, 10 September 2009).

Penindakan lanjut terhadap PETI batu kapur di daerah kabupaten Gunungkidul dilakukan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pertambangan dibantu DinasPerekonomian, Dinas Satuan Polisi Satuan Polisi Pamong Praja danKantor Pengendalian Dampak Lingkungan. Sehubungan dengan kendala yang dihadapi Budi Susanto selaku Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan PertambanganBidang Pertambangan dan Energi Kabupaten Gunungkidul menjelaskan bahwa kendala yang dihadapi berupa tidak ada kesadaran daripara penambang batu kapur.

Rendahnya pengetahuan para penambang akan arti penting sebuah perizinan dan tingkat pendidikan masih rendah serta tidak ada keinginan untuk mengurus perizinan. Hal ini membuat pemerintah daerah kesulitan dalam memberikan sanksi pidana sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain itu, masalahnya juga terjadi karena adanya gejolak sosial dalam masyarakat seperti unjuk rasa atau demonstrasi oleh penambang yang tidak terima berkaitan dengan usaha pertambangan yang merupakan mata pencaharian mereka dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari (Arvina, 2009).

 

Disusun Oleh :

Christian Bunardi/ 120801235

Inge Octaviani/ 120801252

Maria Stares Axl Bone/ 120801274

Arum Wulan Wijayanti/120801289

Dayin Fauzi/ 120801313

 

Daftar Pustaka

Anonim, a. 2011. Potensi Gamping. http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/30/gampang-memanfaatkan-potensi-gamping-di-indonesia-376878.html. Diakses pada 28 Februari 2015.
Anonim. 2005. Informasi Mineral dan Batubara. http://www.tekmira.esdm.go. id/data/ Batuk apur/potensi.asp?xdir=Batukapur&commId=35&comm=Batu%20kapur/gamping. Diakses pada 28 Februari 2015.
Arvina, S. U. 2009. Penegakan Hukum terhadap Perusakan Lingkungan sebagai Akibat Penambangan Batu Kapur Tanpa Izin di Kabupaten Gunung Kidul. Skripsi S1.Universitas Atma Jaya Yogyakarta Fakultas Hukum.
Edy Sumantri. Pertambangan Tanpa Izin dan Karekteristiknya. www.djmbp.esdm.go.id.
Katili. 1983. Sumberdaya Alam Untuk Pembangunan Nasional. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Madiadipoera, T., dkk. 1999. Bahan Galian Industri di Indonesia. Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Bandung.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. 2005. Ulasan Batu Kapur/Gamping. http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Batukapur/ulasan.asp?xdir=Batukapur&commId=35&comm=Batu%20kapur/gamping. Diakses tanggal 28 Februari 2014.
Shubri, E. dan Armin, I. 2014. Penentuan Kualitas Batu Kapur dari Desa Halaban Kabupaten Lima Puluh Kota di Laboratorium Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumatera Barat. Universitas Bung Hatta. Padang.
Supardi. 1984. Lingkungan Hidup dan Kelestariannya. Alumni, Bandung.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php