A Bridge

Kajian Molekuler yang Membantu Polisi

Posted: September 11th 2014

SnapCrab_NoName_2014-9-12_7-40-16_No-00

 

Kasus perdagangan illegal merupakan hal yang mengancam kehidupan satwa liar. Perdagangan yang sering dilakukan dapat berupa satwa yang masih hidup maupun bagian tubuh satwa saja seperti kulit hingga gading. Walaupun mengancam kestabilan ekosistem di suatu kawasan, ternyata para pelaku perdagangan satwa liar juga sulit diadili karena minimnya bukti sehingga mereka jadi kebal hukum. Akibatnya, pencurian dan perdaganagn satwa liar menajdi lebih marak karena dianggap aman dari jeratan hukum. Hal ini mengancam banyuak negara seperti Inggris, Mozambik, Malaysia, Vietnam, hingga Indonesia.

Namun hal ini sudah berubah. di Indonesia, Lembaga Eijkman bersama Kementerian Riset dan Teknologi bekerjasama mengembangakan penerapan genetika forensik dalam upaya konservasi satwa liar. Tindakan ini diperlukan untuk mengungkap penyelidikan kejahatan terkait perdagangan bagian tubuh maupun satwa liar yang merugikan lingkungan terutama di negara asal. Genetika forensik memanfaatkan mtDNA dan gen Y STR sebagai penanda khusus pada beberapan organism seperti ikan, larva, burung, serangga, hingga organism laut.

Penanda molekuler genetik berguns untuk mengidentifikasi spesies dan sub spesies dengan meneliti pola genetic antara populasi yang terisolasi secara georafis, serta mendefinisikan tingkat sub spesies untuk tujuan manajemen konservasi. Genetika forensik dapat dimanfaatkan untuk melakukan investigasi satwa liar karena dapat mengidentifikasi jenis dan asal populasi spesies atau bagian tubuh satwaserta membangun database individu demi tujuan penegakan hukum.

Saat ini banyak negara melakukan tes DNA forensik bagi satwa liar untuk menjaga kelestarian spesies dari kerentanan bahkan kepunahan akibat perdagangan illegal. Malaysia adalah contoh nyata dimana pada tahun 2012 telah ada 1.205 sampel forensik satwa telah diproses. Vietnam telah menggambil sampel DNA seluruh harimau yang ada di negara tersebut untuk mencegah pencurian harimau. Indonesia sebagai negara dengan kekayaan satwa liar yang sangat besar perlu segera memiliki database tes DNA forensik bagi seluruh satwa sehingga jangan sampai maraknya perdagangan illegal diperparah dengan sulitnya melacak jejak pengiriman satwa tersebut akibat kurangnya database DNA forensik satwa asli Indonesia.

Jadi, aplikasi bidang molekuler ternyata juga bisa mempermudah kerja para polisi kita.

 

Beebee, T. J. C., dan Rowe, G. 2008. An Introduction to Molecular Ecology. Oxfor University Press. Oxford. Conservation Genetics, pp. 247-250.

Nowell, K. 2012. Wildlife Crime Scorecard. http://assets.wwf.org.uk/downloads/wwf_wildlife_crime_scorecard_report.pdf. 11 September 2014.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php