Bernadus Andy

Selamatkan Kami Wahai Kawan

Posted: September 7th 2015

111 222

Elang Jawa adalah spesies burung endemik di Pulau Jawa. Sebagai salah satu satwa endemik di Pulau Jawa, spesies ini termasuk yang menghadapi resiko kepunahan karena berkurangnya habitat yang telah banyak berubah peruntukannya dan masih maraknya perburuan untuk perdagangan satwa. Spesies burung ini masih dapat dijumpai di blok-blok hutan yang masih tersisa di daerah pegunungan. Spesies ini dikategorikan ke dalam satwa “terancam punah” di Buku Data Merah.

Spesies burung yang sangat karismatik ini dapat mewakili contoh sehatnya habitat dan ekosistem hutan dan nilai penting keanekaragaman hayati di Jawa. Keadaan ini oleh pemerintah telah mendapat perhatian dengan adanya perlindungan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 421/Kpts/Um/8/8/1970. Peraturan ini diperkuat dengan adanya Undang-Undang terhadap perlindungan satwa terancam kepunahan pada Pasal 21 ayat (2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990. Satwa ini dianggap identik dengan lambang Negara Republik Indonesia, yaitu Garuda sehingga pada tanggal 10 Januari 1993, di era pemerintahan Soeharto, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1993 yang menetapkan satwa Elang Jawa sebagai simbol nasional. Satwa ini juga masuk daftar Appendik II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), yang mengatur larangan seluruh perdagangan internastional tanpa adanya ijin khusus.

Sebelumnya, Elang Jawa ini sebagai salah satu spesies burung pemangsa yang sangat sedikit diketahui informasinya di dunia. Namun dengan adanya intensitas penelitian dan berbagai gerakan konservasi yang terarah sejak tahun 1994, maka telah banyak diketahui perkembangan data dan informasi terbaru mengenai berbagai aspek kehidupan Elang Jawa.

Deskripsi

Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) adalah salah satu spesies elang berukuran sedang, dengan panjang sekitar 60 cm yang habitatnya berada di pulau Jawa, Indonesia. Elang Jawa adalah salah satu kelompok burung pemangsa di hutan hujan tropis dalam kelompok genus Spizaetus di Asia Tenggara. Walaupun kedudukan taksonomi telah dilakukan pada tahun 1924 dan karena masih jarangnya koleksi spesimen dan beragamnya bulu elang Spizaetus dengan usia yang tidak terdata, maka baru pada tahun 1953 diangkat sebagai spesies penuh endemik di Jawa.

Habitat

Elang Jawa diketahui hidup dari dataran rendah dengan ketinggian 200-3000 mdpl. Elang Jawa sering juga menggunakan hutan sekunder untuk berburu dan bersarang yang berdekatan dengan hutan primer untuk keberhasilan perkembangbiakannya. Daerah jelajah Elang Jawa di beberapa lokasi yang berbeda mencakup berbagai macam tipe habitat termasuk hutan produksi, kawasan budidaya dan perkebunan.

Populasi

Populasi Elang Jawa diperkirakan sangat rendah yang didasarkan kepada ukuran perkiraan daerah teritori individunya terhadap ketersediaan habitat yang tersisa. Luasan teritori dan daerah jelajahnya sekitar 20–30 km2, sedangkan luasan daerah jelajahnya 120 km2 yang didasarkan pada habitat optimumnya.

            Tabel kompilasi perkiraan jumlah populasi Elang Jawa

333

Perkembangbiakan

Elang Jawa adalah jenis burung monogami. Waktu bertelurnya terjadi pada bulan Desember–Januari ke Juni–Juli. Pembiakan terjadi pada setiap tahun, tetapi biasanya antara Januari hingga Juli. Masa pengeraman 47±1 hari, dan 95% dierami oleh induk betina, sedangkan induk jantan menyediakan makanan. Berbiak pertama diperkirakan pada umur 3–4 tahun. Anak elang dari periode pembiakan sebelumnya dapat membantu untuk menjaga sarang anak elang berikutnya. Pohon sarang biasanya memiliki diameter batang cukup besar sekitar 1 m dengan ketinggian pohon di atas 30 meter.

Data bulan Desember tahun 2011, jumlah elang jawa hasil sitaan yang ada di Pusat Penyelamatan/Rehabilitasi Satwa (PPS/PRS) ataupun Balai KSDA adalah sebagai berikut:

444

Sedangkan data yang ada di lembaga konservasi, sampai dengan tahun Desember 2011 adalah sebagai berikut:

555

Tantangan Konservasi Elang Jawa

Permasalahan yang dihadapi oleh Elang Jawa dan jenis elang lainnya di Indonesia menjadi tantangan dalam upaya Konservais Elang jawa. Adapun permasalahan utama yang dihadapi lam konservasi Elang Jawa adalah

  1. Kerusakan Habitat
  2. Perburuan dan Perdagangan Ilegal

Faktor Pendukung

  1. Penegakan hukum yang dilakukan oleh Balai KSDA memperlihatkan kemajuan yang luar biasa
  2. Berbagai program dan kegiatan telah dilakukan oleh LSM, LIPI, pemerintah daerah serta pihak terkait lainnya dalam mendukung kegiatan manajemen spesies yang dilindungi di Pulau Jawa
  3. Dukungan dari Mitra Jaringan untuk pelestarian Elang Jawa
  4. Dukungan internasional untuk pelaksanaan dari jaringan internasional, beberapa kedutaan, dan korporasi lain
  5. Komitmen Pemda untuk Mengelola Kawasan Perlindungan

Faktor pembatas

  1. Ketidakpastian kesadaran hukum terhadap kepemilikan Elang Jawa dan kerusakan habitat
  2. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi dan Kabupaten yang belum mempertimbangkan manajemen spesies kunci
  3. Koordinasi antar pihak di daerah masih lemah dalam tataran pemerintah
  4. Semangat desentralisasi yang memicu daerah untuk meningkatkan PAD dari industri ekstraktif

 

Sumber :

BirdLife International 2012. Spizaetus bartelsi. IUCN Red List of Threadtened Species. Versi 2.015,2. www.iucnredlist.org. (Diakses: 7 September 2015).

Gjershaug, JO; Rov, N .; Nygard, T .; Prawiradilaga, DM; Afianto, MY; Hapsoro; Supriatna, A. 2004. ukuran Rumah-range dari Jawa Elang (Spizaetus bartelsi) diperkirakan dari pengamatan langsung dan radiotelemetry. Jurnal Penelitian Raptor 38 (4):. 343-349.

Nijman, V .; Shepherd, CR; van Balen, S. 2009. Deklarasi Elang Jawa Spizaetus bartelsi sebagai Hewan Langka Nasional Indonesia menghambat konservasi spesies. Oryx 43 (1):. 122-128.

Nijman, V .; van Balen, SB 2003. bintang Wandering: penggunaan habitat yang berkaitan dengan usia dan penyebaran Jawa Hawk-elang (Spizaetus bartelsi). Jurnal for Ornithologie 144:. 451-458.

Prawiradilaga, D. 2004. elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan Flora Fauna 6: 29.

Prawiradilaga, DM 2006. Ekologi dan konservasi terancam punah jawa Elang Spizaetus bartelsi Ornithological Ilmu 5 (2):. 177-186.

Sibley, CG dan Monroe, BL 1990. Distribusi dan Taksonomi Birds of the World. Yale University Press, New Haven, Amerika Serikat.

Sibley, CG dan Monroe, BL 1993. Sebuah suplemen untuk ‘Distribusi dan Taksonomi Birds of the World. Yale University Press, New Haven, Amerika Serikat.

Syartinilia; Tsuyuki, S. 2008. pemodelan berbasis GIS dari jawa distribusi Elang menggunakan model regresi logistik dan autologistic Biological Conservation 141 (3):. 756-769.

Van Balen, S. 2000. elang jawa: kesalahpahaman tentang langka dan ancaman Biological Conservation. 96:. 297-304


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php