bernadete

Ikan Depik

Posted: September 9th 2015

Ikan Depik (Rasbora tawarensis)

 

depik

Apabila kita berkunjung ke dataran tinggi Gayo, tepatnya di Takengon, tentu kita tidak akan lupa akan keindahan Danau Laut Tawar. Masyarakat Gayo yang ramah, suhu udara yang sejuk, dan tentu pula, Ikan Depik. Anugerah di dalam ekosistem Danau Laut Tawar. Jenis ikan yang menjadi kebanggaan masyarakat Gayo, Kabupaten Aceh Tengah. Begitu pun, ternyata tak banyak orang yang tahu secara detail tentang Ikan Depik. Pemuda-pemudi Gayo pun jika ditanya mengenai depik banyak yang tidak mengenalnya.

Ikan Depik, (Rasbora tawarensis) termasuk ikan endemik dan bersifat pelagis. Menurut peraturan pemerintah RI No. 60 Tahun 2007, pasal 23 ayat 2c menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan endemik adalah daerah penyebaran terbatas. Endemisitas merupakan suatu keadaan dari jenis ikan tertentu yang memiliki sebaran terbatas.

Di danau Laut Tawar terdapat beberapa jenis ikan Rasbora yaitu Rasbora sumatrana, Rasbora argyrotaenia. Dalam bahasa setempat disebut eyas dan relo. Depik yang hidup di air tawar disebut Rasbora tawarensis. Ikan Depik merupakan ikan air tawar yang hidup di perairan umum, terutama di perairan umum Danau Laut Tawar (Weber dan Beaufort, 1916). Taksonomi Ikan Depik Rasbora tawerensis n. sp Rasbora tawerensis termasuk dalam kelas pisces, subklas teleostei, ordo Ostariophysi. Ikan tersebut termasuk family cyprinidae (Abulias dan Bhagawati, 2012).

Morfologi Ikan Depik adalah D. 2.6-7; P 1.14-15; V. 2.8; L.1. 29-31. Panjang total 4,1-4,4 kali tinggi tubuh atau 5,1-5,7 kali tinggi batang sirip ekor, dan 3,7-4,1 kali panjang kepala. Perutnya pipih membentuk siku, sambungan tulang rahang atas membentuk cekungan. Sirip punggung tidak berjari-jari keras, permulaan siripnya di tengah-tengah antara hidung dengan sirip ekor dan garis rusuk lengkap (Abulias dan Bhagawati, 2012).

Sedangkan panjang batang ekor lebih dari dua kali tingginya. Keping ekor dan sirip punggung mempunyai bercak hitam. Tidak mempunyai sungut. Panjang umumnya 120 mm.  Hidup bersifat Bentopelagik (Weber and de Beaufort, 1916). Ikan Rasbora jantan lebih kurus dari pada ikan Rasbora betina (Abulias dan Bhagawati, 2012).

Ikan Depik bersifat heterosekssual, karena ikan jantan dan betina terdapat dalam individu yang berbeda. Ikan Depik mempunyai fekunditas rata-rata 3082 butir tetapi tidak tergolong ikan “small brood spawner”. Ikan ini merupakan ikan yang memijah secara total .TKG III dan TKG IV dengan kisaran panjang 81-99 mm dan berat antara 4,57-8,62 gram. Memijah setiap hari sepanjang tahun dengan puncaknya pada musim hujan. Telur ikan yang akan dibuahi menetas setelah 24-30 jam dan akan menempel pada tumbuhan air. Setelah menetas anak ikan dapat berenang bebas setelah tiga sampai lima hari (Abulias dan Bhagawati, 2012).

Makanan kelompok Rasbora beragam khususnya, kustase kecil dan larva akan lebih disukai. Makanan ikan seluang (Rasbora dusonensis) di Sungai Kalimantan Tengah adalah fitoplankton (Navicula, Nitzschia dan Fragillaria) dan zooplankton (Calanus, Diaoptomus dan Cyclops). Anak ikan jenis Rasbora sumatrana cendrung memakan alga dalam bentuk sel tunggal karena ukuran lebih kecil dibandingkan dengan bentuk koloni atau filamen (Weber dan de Beaufort, 1916).

Ikan Depik hidup pada suhu optimum 20-27 ⁰C dengan derajat keasaman pH 6,7 – 8,6. Dissolve oxygen berkisar antara 5-8 ppm. Hidup  pada daerah yang memiliki tumbahan air (Hydrilla verticilata) yang cukup baik. Memijah pada daerah yang memiliki nilai transparency yang tinggi.

Ketersediaan makanan adalah salah satu faktor yang menentukan kepadatan populasi, pertumbuhan, reproduksi, dan dinamika populasi, serta kondisi ikan yang ada disuatu perairan. Kekurangan makanan merupakan faktor pembatas yang serius terhadap populasi ikan di perairan umum. Selain sebagai faktor pembatas populasi ikan, ketersediaan makanan juga merupakan faktor yang mempengaruhi pola distribusi ikan.

Pada suatu habitat yang kaya bahan makanan seperti tempat dangkal yang berarus lemah serta banyak tanaman air, cenderung lebih padat populasi ikannya. Sebaliknya ditempat yang sedikit bahan makanan, seperti tempat dangkal berarus kuat atau tempat dalam tidak dihuni oleh tanaman air, cenderung lebih sedikit populasinya (Effendi, 1997). Melihat pola penyebarannya, Ikan Depik banyak ditemukan di bagian utara danau Laut Tawar. Terutama di daerah Kelitu.

Untuk melakukan reproduksi, ikan mencari tempat memijah yang sesuai, sehingga dapat menghasilkan individu baru (Effendie, 1979). Ikan Depik, berdasarkan informasi dari nelayan (belum teruji ilmiah) memijah ke daerah-daerah masukan air yang jernih dan bersuhu rendah, substrat terdiri dari kerakal dan kerikil.

Ikan Rasbora melimpah di Danau Laut Tawar karena vegetasi air yang dominan adalah Hidrilla verticillata dan Ceratophylum sp. Kebanyakan spesies ikan memiliki keterbatasan dalam batas kedalaman perairan, kecepatan debit air, karateristik habitat dan tergantung pada tingkah laku serta sejarah hidup (Siti, 2010)

Ikan Depik sendiri telah dikoleksi pada museum Zoologi Amsterdam Belanda dan di USA. Karena kesimpangsiuran tersebut, perlu kajian mendalam tentang Ikan Depik. Hal yang sangat mungkin dilakukan adalah dengan melakukan identifikasi ulang jenis Ikan Depik yang ada di Danau Laut Tawar.

Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) 1990, Ikan Depik masuk ke dalam status vulnerable (rawan). Ikan kawan (Propuntius tawarensis) yang ada di danau Laut Tawar juga memiliki status yang sama.

Tingginya permintaan terhadap Ikan Depik telah mengakibatkan meningkatnya tingkat eksploitasi terhadap Ikan Depik. Hal ini dicirikan dengan bertambahnya jumlah nelayan dan alat tangkap yang beroperasi. Sehingga pendapatan penduduk meningkat. Di lain pihak, terjadi ancaman terhadap kelestarian sumberdaya Ikan Depik akibat alat tangkap yang dioperasikan tidak selektif sehingga tidak memberikan kesempatan ikan untuk melakukan reproduksi (Muchlizin, 2011).

Nilai ekologis Ikan Depik di danau Laut Tawar tidak bisa diabaikan karena bila ikan ini berkurang atau punah maka ada relung ekologi yang tidak termanfaatkan sehingga terjadi perubahan komunitas organisme di perairan. Perlu suatu perlindungan sehingga sumberdaya ikan ini tetap lestari.

Berdasarkan IUCN (1990), IUCN telah menetapkan bahwa ikan depik ini masuk dalam The Red List of The Threatened Species, terdapat beberapa langkah yang di tempuh untuk mengantisipasi masalah tersebut :

  1. Pemerintah daerah bersama-sama pihak perguruan tinggi perlu segera melakukan kajian yang komprehensif tentang ikan ini agar sejarah hidupnya (life history) dapat diketahui dan didokumentasikan dengan baik. Selain kajian dari aspek biologi ikan depik itu sendiri, kajian ekologi danau juga perlu dilakukan untuk mengetahui berapa daya dukung danau (carrying capacity), mengidentifikasi kawasan-kawasan yang boleh dan tidak untuk pengembangan budidaya dst.
  2. Mengidentifikasi dimana kawasan pemijahan dan kapan waktu pemijahannya terjadi sehingga dapat ditetapkan sebagai kawasan terlarang dan dilindunggi dengan undang-undang (Sanctuary atau Lake Protection Area, LPA), dimana masyarakat dilarang menangkap ikan depik pada kawasan tersebut pada waktu tertentu sehingga induk-induk ikan dapat memijah dengan baik tanpa terusik dengan dedesen atau mata jaring. Jika kawasan yang telah diidentifikasi ini telah dikuasai oleh masyarakat, maka pemerintah perlu membebaskannya. LPA dapat mengadopsi prinsip-prinsip dasar dari Marine Protection Area (MPA) yang dilaporkan telah sukses dibeberapa tempat, yang perlu diingat adalah perlindungan kawasan ini adalah bersifat integrated and comprehensive antara kawasan air (aquatic) and kawasan darat (terrestrial), dengan melibatkan semua stakeholder (yang berkepentingan), dan bentuk management yang mungkin dapat diterapkan adalah community based management (manajemen yang berdasiskan masyarakat).
  1. Menata kembali kebijakan tata kota, membatasi pemberian izin tempat wisata di sekitar Danau Laut Tawar, mengawasi aktifitas hotel terutama dalam hal penanganan limbah agar tidak dibuang langsung ke danau. Memperbaiki sistim drainase kota sehingga tidak menjadikan danau sebagai “tong sampah” Kota Takengon.
  2. Pemerintah Daerah bersama-sama dengan DPRD dan Perguruan Tinggi menyusun qanun tentang ekploitasi dan konservasi danau yang memberikan kekuatan hukum khususnya bagi penetapan Lake Protection Area, pengembangan usaha budidaya, wisata atau tata kota secara detail.

 

 

Daftar pustaka

Abulias, M. N. & D. Bhagawati. 2012. Karakter Bilateral Simetri Ikan Betutu (Oxyeleotris sp.): Kajian Keragaman Morfologi sebagai Dasar Pengembangan Budidaya. Depik, 1(2): 103-106.

Effendie, M. I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri, Bogor.

Effendie, M. I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta

IUCN. 1990. IUCN red list of threatened animal. IUCN, Gland and Cambrige.

Muchlisin Z.A. 2011a. Analisis kebijakan introduksi spesies ikan asing di perairan umum daratan provinsi aceh. Jurnal Kkebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 1(1): 79-89.

Siti-Azizag. 2010b. Spawning seasons of Rasbora tawarensis (Pisces: Cyprinidae) in Lake Laut Tawar, Aceh Province, Indonesia Reproductive Biology and Endocrinology 2010, 8:49.

Weber, Mdan L.F. de Beaufort. 1916. The Fishes of the Indonesian. Australia Archipelago.Vol III. Laiden.

 

 

 

 

 


5 responses to “Ikan Depik”

  1. Devina says:

    Dengan ditetapkannya status rawan oleh IUCN untuk ikan Depik, kiranya ada usaha untuk melestarikan satwa ini, misalnya memberikan sosialisasi pada penduduk sekitar agar tidak terjadi eksploitasi berlebih yang dapat mengancam keberadaan ikan Depik ini. Apalagi ikan ini merupakan satwa endemik yang menjadi kebanggaan masyarakat Gayo, Aceh Tengah

  2. fennylc says:

    Sangat informatif. Artikel ini membahas spesies ikan yang seringnya dimanfaatkan sebagai bahan pangan, namun ternyata berada dalam status rawan. Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui status konservasi dari ikan ini, termasuk warga yang menangkap ikan ini untuk dimakan. Selain itu, informasi dalam artikel ini juga sudah cukup lengkap 🙂

  3. garvin says:

    Apa sih faktor ancaman yg terberat yg mengakibatkan ikan ini bs hampir pumah

  4. bernadeteayu says:

    @Garvin faktor ancaman terbesar yaitu eksploitasi thdp ikan depik, krna tingginya tingkat permintaan ikan depik untuk dikonsumsi masyarakat, selain itu juga karena alat tangkap yang dioperasikan tidak selektif sehingga tidak memberikan kesempatan ikan untuk melakukan reproduksi

  5. bernadeteayu says:

    @Devina & fenny: semoga dgn adanya sosialisasi antara pemerintah dan penduduk sekitar, dpt meningkatkan upaya konservasi ikan depik yg terancam punah, selain itu agar penduduk sekitar lebih memahami bahwa ikan depik sangat bermanfaat sbg bahan pangan mereka untuk khdupan sehari-hari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php