byumiko

Oh, No!!! Si Buas Penghuni Hutan Sumatera Terancam Punah!

Posted: September 10th 2015

Siapa yang tidak kenal si buas penghuni hutan Sumatera, ya Panthera tigris sumatrae atau biasa disebut harimau Sumatera. Harimau Sumatera adalah salah satu satwa khas Pulau Sumatera yang memiliki banyak keunikan.  Bila dibandingkan dengan semua sub-spesies harimau yang hidup saat ini harimau sumatera memiliki tubuh yang paling kecil. Warna kulit si buas khas Sumatera ini juga yang paling gelap dibandingkan harimau lainnya, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua.  Pola hitam yang dominan menyelimuti tubuh harimau Sumatera dengan tekstur belang yang tipis.

harimau sumatera

Jantan dewasa bisa memiliki tinggi hingga 60 cm dan panjang dari kepala hingga kaki mencapai 250 cm dan berat hingga 140 kg. Harimau betina memiliki panjang rata-rata 198 cm dan berat hingga 91 kg. Hewan ini sering dijuluki si “Kucing Air” karena pandai berenang karena adanya selaput yang terdapat di sela-sela jari kakinya. Selain itu, si buas khas Sumatera ini merupakan hewan yang dapat menyesuaikan diri dengan segala kondisi. Hewan ini termasuk dalam kategori hewan soliter sehingga jarang ditemukan hidup berpasangan kecuali si betina dengan anak- anaknya. Harimau sumatera adalah karnivora yang biasa mengejar mangsa di malam hari. Hewan seperti babi, kijang, rusa, unggas, ikan, dan orang utan adalah sederet jenis hewan yang menjadi target buruannya. Klasifikasi si buas khas Sumatera adalah sebagai berikut

Kingdom :Animalia

Phylum: Chordata

Class: Mammalia

Order:Carnivora

Family: Felidae

Genus: Panthera

Species: Panthera tigris

Subspecies: Panthera tigris sumatrae

Nah, di Indonesia sebenarnya terdapat tiga dari delapan sub spesies harimau yang ada di dunia, akan tetapi dua diantaranya yaitu Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan Harimau Bali (Panthera tigris balica) telah dinyatakan punah. Bagaimana dengan si buas khas Sumatera ini? Si buas khas Sumatera belum dinyatakan punah. Sayangnya menurut Lembaga Konservasi Dunia IUCN pada tahun 2008, si buas khas Sumatera ini termasuk dalam “Red List” spesies yang terancam punah (critically endangered). Jumlah di habitat aslinya, Sumatera, hanya tersisa 450-600 ekor, di mana hewan-hewan ini hidup pada habitat yang terisolasi satu dengan lainnya.

images

Lalu apa faktor penyebab semakin menurunnya jumlah harimau Sumatera?

Dua faktor utama yang paling banyak disoroti akhir-akhir ini adalah  adalah deforestasi dan perdagangan ilegal. Deforestasi secara besar-besaran menyebabkan hilangnya habitat hutan atau terpotongnya blok kawasan hutan yang luas menjadi bagian-bagian kecil yang terpisah-pisah. Kompetisi ruang dan sumber pakan antara manusia dan harimau telah mendorong masyarakat untuk memusuhi dan membunuh si buas khas Sumatera ini. Hal tersebut akan berlanjut dengan perburuan liar yang kemudian menuju pada tahap perdagangan ilegal .

Manusia melakukan perburuan satwa liar pada dasarnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya zaman ataupun kebudayaan,maka perburuan liar kini juga dilakukan sebagai hobi maupun kesenangan yang bersifat eksklusif (memelihara satwa liar yang dilindungi sebagai simbol status) dan untuk diperdagangkan dalam bentuk produk dari satwa liar. Jika hal ini tidak segera dilakukan upaya konservasi dapat dipastikan perlahan tapi pasti si buas khas Sumatera ini akan punah.

89430_144308

body

trade

Menurut Ng dan Nemora (2007), dari 28 kota besar dan kota kecil yang disurvei di Sumatera, ditemukan penjualan bagian-bagian tubuh harimau di delapan kota (29%). Sepuluh persen dari 326 tempat penjualan yang dikunjungi diketahui menjual bagian-bagian tubuh harimau secara terbuka. Dari hasil survei tersebut, secara jelas dapat terlihat bahwa perdagangan bagian tubuh Harimau berlangsung secara terus-menerus dan bersifat terbuka, serta jumlah gigi taring, cakar dan potongan kulit yang ditemukan dijual di Provinsi Sumatera Utara lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil survei tahun 1999-2002. Medan dan Pancur Batu adalah pusat utama dari perdagangan bagian tubuh Harimau di Provinsi tersebut.

Nah, dalam upaya perlindungan/ konservasi si buas khas Sumatera tersebut, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan beberapa Undang-Undang untuk mendukung upaya perwujudannya. Harimau Sumatera dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, yang berisi memindahkan, mengangkut dan memperniagakan dalam keadaan hidup, mati ataupun bagian-bagian tubuh dari satwa dilindung. Pasal 40 dari UU No. 5 menyatakan bahwa barangsiapa yang memiliki satwa dilindungi didenda hingga Rp100.000.000 (USD 11.000 dengan kurs tahun 2006) dan hukuman penjara hingga lima tahun.

Selain itu,  WWF Indonesia (Worldwide  Fund  for  Nature ) bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia, industri dalam upaya konservasi harimau Sumatera yang mengancam habitat harimau, organisasi konservasi lainnya serta masyarakat lokal untuk menyelamatkan Harimau Sumatera dari kepunahan. Pada tahun 2004, Pemerintah Indonesia mendeklarasikan kawasan penting, Tesso Nilo, sebagai Taman Nasional untuk memastikan masa depan yang aman bagi keberadaan Harimau Sumatera. Tahun 2010, pada KTT Harimau di St. Petersburg, Indonesia dan 12 negara lainnya yang melindungi harimau berkomitmen dalam sebuah tujuan konservasi spesies ambisius dan visioner yang pernah dibuat. Program Nasional Pemulihan Harimau Indonesia sekarang merupakan bagian dari tujuan global dan meliputi enam lansekap prioritas Harimau Sumatera ini: Ulumasen, Kampar-Kerumutan, Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Bukit Balai Rejang Selatan, dan Bukit Barisan Selatan.

WWF saat ini tengah melakukan terobosan penelitian tentang Harimau Sumatera di Sumatera Tengah, menggunakan perangkap kamera untuk memperkirakan jumlah populasi, habitat dan distribusi untuk mengidentifikasi koridor satwa liar yang membutuhkan perlindungan. WWF juga menurunkan tim patroli anti-perburuan dan unit yang bekerja untuk mengurangi konflik manusia-harimau di masyarakat lokal.

Namun, jika dilihat sampai saat ini kasus perdagangan ilegal harimau Sumatra masih sering dijumpai dikarenakan kurang tegasnya penegakan hukum akan hal ini. Pemerintah Indonesia perlu menjamin bahwa penuntutan ke meja hijau akan dilakukan. Hal tersebut tidak cukup hanya dengan menggelar razia di tempat-tempat penjualan bagian tubuh Harimau, namun juga menuntut dan membawa pemilik tempat-tempat penjualan tersebut ke pengadilan. Dan kita sebagai warga Negara Indonesia juga harus mendukung upaya konservasi harimau Sumatera agar keanekaragaman Indonesia dan keseimbangan alam dapat tetap terjaga.

Referensi:

Ganesa, A. dan Aunurohim. 2012. Perilaku Harian Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dalam konservasi ex-situ Kebun Binatang Surabaya. Jurnal Sains dan Seni ITS 1(1): 48-53.

http://www.iucnredlist.org/details/summary/15966/0

http://www.wwf.or.id/program/spesies/harimau_sumatera/

Ng, J. dan Nemora. 2007. Tiger Trade Revisited Sumatra, Indonesia. TRAFFIC Southeast Asia, Malaysia.

Suspina, Y. 2013. Upaya WWF (Worldwide Fund For Nature) dalam Mengatasi Perdagangan Ilegal  Harimau Sumatera di Provinsi Riau.  eJournal Ilmu Hubungan Internasional 1(4) : 1169-1176.


4 responses to “Oh, No!!! Si Buas Penghuni Hutan Sumatera Terancam Punah!”

  1. ruthangelina says:

    Wah sangat menarik sekali informasinya:) semoga bermanfaat untuk kita semua agar kita dapat tetap menjaga dan melestarikan hewan ini 😀

  2. Vivi Indriasti Freshily says:

    astaga,,, ini hal yang sangat mengkhawatirkan,, harus ada koordinasi yang tegas antara pemerintah dengan lembaga-lembaga perlindungan hewan,, hukum mengenai perburuan liar harus diperberat,, dampak dari berkurangnya beberapa spesies Indonesia ini tidak hanya pada keanekaragamannya namun juga berdampak pada rantai makanannya

  3. elvinadea says:

    Hewan ini seharusnya dilestarikan, bukan digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang akan menimbulkan akibat fatal bagi kelangsungan hidup hewan tersebut. Kita sebagai manusia seharusnya ikut melindungi hewan ini agar tidak punah.

  4. mena19 says:

    sangat disayangkan jika melihat kondisi pemerintahan dan masyarakat di Indonesia saat ini. hanya karena kurang tegasnya hukum membuat suatu spesies menjadi punah. menurut anda bagaimana cara yang bisa kita dan pemerintah lakukan agar UU yangg menyangkut tentang perlindungan Harimau Sumatera, khususnya Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1990, bisa lebih di pertegaskan khususnya terhadap pihak2 yang sering melakukan Deforestasi.thx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php