Biotechnology

Kamu Apa Ya ????? Cucak Rowo ?

Posted: August 30th 2015

Kamu apa ya ??

            Ya… pertanyaan yang muncul adalah “kamu apa ya ?” Hal itu adalah pertanyaan yang saya lontarkan pada saat saya melihat dan mengamati burung cucak rowo di pasar burung sekitaran kota Solo. “Kamu apa ya ???” Jantan atau betina ?? Burung cucak rowo merupakan burung yang cukup sulit diketahui apakah burung tersebut jantan atau betina. Burung cucak rowo termasuk burung monomorfik, yaitu hewan yang memiliki bentuk yang sama sehingga jantan dan betina susah dibedakan.

Sebagai kaum awam kita pasti bingung bagaimana cara untuk mengetahui jenis kelamin burung cucak rowo secara tepat ????? Dilihat dari segi ilmu, kajian bidang ekologi molekuler memberikan jawaban atas pertanyaan kita. “Molecular Sexing” merupakan solusi yang ditawarkan oleh cabang ilmu ekologi molekuler ini. Molecular Sexing adalah cara untuk menentukan secara pasti jenis kelamin dari spesies burung yang memiliki sifat monomorfik. Molecular Sexing merupakan metode atau teknik yang menjadikan gen sebagai acuan utama untuk mengetahui jenis kelamin burung, salah satunya adalah burung cucak rowo.

Cucak Rowo

KPCR ??? Apa itu KPCR ?? ketika saya mulai menulis topik ini, saya menemukan informasi mengenai komunitas ini…KPCR merupakan salah satu  Komunitas Penangkar Cucak Rowo yang berpusat di kota Jakarta. Melalui informasi yang saya dapatkan, memang diketahui bahwa burung cucak rowo merupakan burung yang susah ditentukan jenis kelaminnya secara kasat mata. KPCR juga menggunakan metode Molecular Sexing untuk menentukan jenis kelamin dari burung cucak rowo yang ditangkarnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa memang ilmu ekologi molekuler memiliki peran penting di kehidupan. Ekologi molekuler mencakup 2 ruang lingkup yang sangat penting, yaitu ruang lingkup ekologi kehidupan kita dan proses biologinya. Ekologi molekuler akan mengkaji dan memanfaatkan segi molekuler kehidupan untuk digunakan sebagai kunci penyelesai permasalahan kehidupan itu sendiri. Salah satu bukti nyatanya adalah adanya metode Molecular Sexing ini yang sangat membantu dalam menganalisis jenis kelamin dari spesies burung monomorfik (contohnya burung cucak rowo).

 

Molecular sexing itu apa sih ?????

         Studi molekuler sering mengkaji dan mengkoleksi sampel-sampel biologi. Pada kehidupan nyata, banyak organisme di alam yang sulit untuk diamati, misalnya adanya spesies burung yang sulit untuk diamati jenis kelaminnya. Pada kasus seperti inilah, DNA merupakan salah satu kunci yang dikaji untuk membantu manusia agar dapat dengan tepat menentukan jenis kelamin dari spesies burung monomorfik tersebut.

         Molecular Sexing merupakan teknik berdasarkan DNA. Teknik Molecular Sexing memiliki ketepatan yang paling tinggi dibandingkan dengan teknik lainnya. Vent sexing merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk menentukan jenis kelamin burung yang tingkat keakuratannya mencapai 60-70%, sedangkan Molecular Sexing merupakan teknik yang tingkat keakuratannya dapat mencapai 95%. Hal tersebut menunjukkan bahwa teknik yang memanfaatkan aspek molekuler memang memiliki keakuratan yang tinggi.

Pada pengamatan atau penentuan jenis kelamin burung cucak rowo akan dilakukan sampling DNA dari burung yang diamati. Aspek genetiklah yang akan dilihat dalam pengujian ini. 2 hal pokok yang perlu diperhatikan dalam melakukan “Molecular Sexing” adalah :

  1. Bahwa DNA yang paling baik adalah DNA dari “Ayah”(Jantan).
  2. Mikrosatelit (>10 loci/genome) merupakan hal yang paling efektif.

      Cucak Rowo 2

         Molecular Sexing memiliki sistem utama yaitu menganalisis DNA. DNA merupakan sejenis biomolekul yang menyimpan dan menyandi instruksi-instruksi genetika setiap organisme dan banyak jenis virus. DNA pasti juga mengkode intruksi genetik mengenai jenis kelamin suatu organisme, seperti burung. Maka dari itu, metode Molecular Sexing merupakan metode yang cukup akurat untuk menentukan jenis kelamin dari spesies burung monomorfik. Teknik Molecular Sexing merupakan teknik analisis yang mudah dilakukan dan bersifat efektif.

Teknik Molecular Sexing mudah untuk dilakukan dengan bantuan PCR. PCR merupakan alat yang dapat membaca susunan sandi/kode pada DNA sampel. Molecular Sexing berdasarkan PCR membutuhkan jumlah sampel DNA yang sedikit.

Cara mudah Molecular Sexing :

  1. Menyiapkan burung yang akan dianalisis jenis kelaminnya (misalnya :  burung cucak rowo).
  1. Mengambil bulu atau sampel darah dari burung tersebut.

Menurut salah satu jurnal yang saya baca, sel darah merah pada burung merupakan sumber DNA nukleus. Pada teknik Molecular Sexing, pada umumnya sampel yang telah diperoleh akan disimpan dalam larutan etanol 96%, buffer EDTA, atau Queen’s Lysis Buffer. Penyimpanan DNA pada etanol dan Queen’s Lysis Buffer akan membuat sampel DNA semakin awet. Menggunakan 2 larutan tersebut dapat memperpanjang umur simpan DNA selama beberapa tahun dengan suhu penyimpanan -20oC hingga -80oC.  Sedangkan, sampel DNA pada buffer EDTA harus disimpan terlebih dahulu di dalam freezer jika tidak ingin langsung digunakan.

Hal yang menjadi acuan utama pada saat kita menggunakan cara Molecular Sexing adalah susunan kromosom dari burung betina dan jantan. Mengetahui susunan kromosom burung betina dan jantan akan mempermudah kita untuk menarik kesimpulan.

  1. Kromosom burung jantan : ZZ
  2. Kromosom burung betina : ZW

          Molecular Sexing pada burung monomorfik memiliki hasil berdasarkan gen penanda CHD (Chromobox Helicase DNA Binding). Gen CHD terletak pada kromosom W. Hasil amplikasi PCR dengan teknik molekuler ini akan menunjukkan jenis kelamin dari spesies burung monomorfik berdasarkan jumlah pita yang dibentuk.

Sebagai informasi tambahan, terdapat primer-primer yang mampu mengidentifikasi gen CHD yaitu :

  1. Pasangan primer P2 dengan urutan nukleotida :

5’-TCTGCATCGCTAAATCCTTT-3’ dan primer P8 dengan urutan nukleotida : 5’-TCTGCATCGCTAAATCCTTT-3’.

  1. Pasanagn primer 2550F dengan urutan nukleotida :

5’-GTTACTGATTCGTCTACGAGA-3’ dan primer 2718R dengan urutan nukleotida : 5’-ATTGAAATGATCCAGTGCTTG-3’.

3.   Pasangan primer 1237L dengan urutan nukelotida :

5’-GAGAAACTGTGCAAAACAG-3’ dan primer 1272H dengan urutan nukelotida : 5’- TCCAGAATATCTTCTGCTCC-3’.

 

Melalui topik sederhana yang saya tulis ini, sebenarnya kita dapat mengetahui bahwa sesungguhnya ilmu biologi memang mengambil peran dalam kehidupan. Bagi orang awan yang tidak mempelajari bidang ilmu biologi secara mendalam mungkin menganggap hal ini tabu. Namun, yang perlu diketahui bahwa seiring dengan berkembangnya teknologi di dunia ini, teknik yang lebih kompleks pun memang perlu untuk dilakukan untuk memperoleh hasil yang benar-benar akurat. Keakuratan data akan menambah informasi baru bagi kita para peneliti dan masyarakat umum.

Terimakasih sudah membuka blog saya ini, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca, semoga tulisan ini bermanfaat bagi anda sekalian para kawan pembaca, apabila ada hal yang ingin didiskusikan…silahkan memberi komentar di bawah ini….. hehehe, terimakasih.

Tuhan Selalu Memberkati 🙂


10 responses to “Kamu Apa Ya ????? Cucak Rowo ?”

  1. Natalia Cinthya Deby says:

    Kerennn, mgkin bisa ditambahin animasi ttg molecular sexing jadi bisa kebayang gimana wujudnya…

  2. Armae Dianrevy says:

    Artikel yang bagus, semakin banyak perkembangan teknologi yang membantu dan mempermudah dalam ilmu sains. Artikel ini sangat menarik dan menambah pengetahuan, molecular sexing dapat dijadikan metode tambahan dalam menganalisis secara molekuler dan hal ini memungkinkan untuk dicoba pada burung monoformik lainnya.

  3. nataliarizki says:

    hal-hal yang disekitar kita yang kita tidak pernah sadari, bisa jadi cara sederhana untuk identifikasi spesies 😀 jadi tambah tau deh 😀

  4. selviaemanuella says:

    Untuk tulisan anda yang berbunyi demian : Molecular Sexing pada burung monomorfik memiliki hasil berdasarkan gen penanda CHD (Chromobox Helicase DNA Binding, apa perbedaan hasil dari burung monomorfik dan polimorfik dalam penggunaan CHD? atau apakah gen penanda CHD hanya khusus digunakan pada jenis burung monomorfik? trims

  5. alfonsacindy1355 says:

    terima kasih atas infonya. Tulisan ini membuka wawasan bagi kita bahwa mendeterminasi jenis kelamin burung yang biasanya sulit dibedakan secara fisik, ternyata dapat dideterminasi dengan mudah dan ketepatannya tinggi melalui pendekatan molekuler.Para pecinta burung pastinya sangat terbantu dengan tulisan ini. Semangat!

  6. kharinawaty says:

    Informasi ini sangat menarik karena memang sulit membedakan jenis klamin apabila hanya mengandalkan morfologinya saja. Sebaiknya tulisan ini dilengkapi lagi dengan aspek-aspek lain seperti umur dan kesehatan burung apakah berpengaruh terhadap keakuratan dalam memrbedaan jenis kelamin.Terimakasih

  7. Yani Evami says:

    Artikel yang sangat informatif, semoga metode ini dapat semakin maju dan membantu dalam bidang konservasi para hewan yang ada.

  8. ayutiya95 says:

    Terimakasih untuk segala komentar yang diberikan, pada kesempatan ini saya ingin menjawab pertanyaan dari mbak selvia… menurut artikel dan jurnal yang saya baca… gen penanda CHD memang umumnya digunakan pada analisis kelamin pada burung monomorfik, hal tersebut dikarenakan gen penanda CHD ada pada kromosom W pada burung. Sehingga, dapat diketahui apabila terdapat gen penanda CHD pada sampel, berarti burung tersebut adalah betina..seperti itu…semoga dapat menjawab pertanyaan anda 🙂

  9. rahelfrida says:

    artikel yang menarik, ternyata pendekatan molekuler seperti molecular sexing dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin pada hewan monomorfik seperti burung cucak rowo. Hal kecil yang tidak kita sadari, padahal apabila diteliti lebih lanjut pasti menarik. =)

  10. ruthangelina says:

    Waaaw informasi yang menarik,dengan metode ini ternyata dapat membedakan jenis kelamin pada burung. Keep ngeblog gaes 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php