SAMPAN

Nasib si “mungil” dari Sulawesi Utara

Posted: September 4th 2014

collared-scops-owl-otus-lettia-3-by-peter-ericsson

Gambar I. Celepuk Siau (Otus siaoensis)

Sumber : Anonim, 2012.

Burung hantu adalah jenis satwa murni karnivora (raptor) atau pemakan daging, termasuk kedalam jenis satwa malam (Nocturnal) karena hidup aktif pada malam hari, tersebar dengan jumlah sekitar 222 diseluruh dunia, terkecuali di antartika.

“26 spesies diantaranya ditemukan di Asia dan Indonesia” (Chelsea Loise Ramulo, 2012)

Burung hantu Otus siaonesis merupakan jenis burung hantu dengan ukuran tubuh menengah sedang ±17 cm termasuk kedalam keluarga Strigidae, memiliki warna tubuh coklat dan berbintik coklat tua pada bagian atasnya, dan coklat muda bagian bawahnya ditemukan pertama kali oleh Schlegel pada tahun oleh 1873 (Anonim, 2012).

“Status saat ini tidak dilindungi namun beresiko punah” (Critically Endangered, IUCN).

Celepuk Siau kini masuk kedalam Apendik II sejak 2008. Apendik adalah daftar yang ditetapkan oleh badan konvensi perdagangan internasional untuk spesies flora dan satwa liar (CITES Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Flora and Fauna).

“Yang berarti bahwa satwa ini terancam punah dalam perdagangan jika terus diperjualbelikan tanpa adanya pengaturan”

Makanan berupa Serangga dan kumbang. Dari spesimen atau sampel-sampelyang diteliti di pulau Siau pada 1866. Diperkirakan jumlah populasi saat ini tidak lebih dari 50 Individu dewasa. 

Otus siaoensis diperkirakan masih hidup dan berhabitat disekitar danau kepetta yang berada dikawasan selatan kepulauan Siau, tapi kemudian hutan yang sedikit dijadikan lahan pertanian dan hutan yang tersisa hanya sekitar 50 Hektar dipuncak gunung tamata dengan ketinggian 800 m.

Sebagai gambaran, kepulauan Siau merupakan pulau berukuran kecil, memiliki gunung karanggetang gunung berapi yang termasuk aktif dibagian utara. Pada bagian tengah pulau terdapat gunung tamata gunung berapi yang sudah tidak aktif. hutan yang berada dikawasan kepulauan Siau sangat sempit hanya dibagian puncak gunung tamata.

“Penjualan satwa secara ilegal tanpa adanya pemberitahuan atau penyuluhan terlebih dahulu yang dijual secara terang-terangan yang tidak memenuhi prosedur yang sesuai dengan undang-undang juga menjadi masalah tersendiri.”

Burung hantu penting untuk keberlangsungan dari keseimbangan lingkungan. Karena burung hantu termasuk kedalam jenis burung pemangsa atau raptor dimana diantaranya mengendalikan jumlah populasi hewan yang dimangsa seperti ular, tikus, ataupun serangga. Akan tetapi, fakta yang ada menunjukkan bahwa banyak burung hantu yang diperjualbelikan tanpa konservasi.

“lebih dari 70 ekor burung hantu diperjualbelikan. Ini ancaman nyata penyelamatan satwa bukan sekedar seremonial. pemerintah harus melakukan pengubahan pola pikir masyarakat bangsa ini untuk peduli terhadap satwa di negara ini, selama itu tidak dilakukan, maka kepunahan satwa apalagi burung pemangsa tinggal menunggu waktu” Begitu kata Lim Wen Sin Kepala Konservasi Alam, Raptor Club Indonesia (RCI).

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh J Riley dan J.C wardill in litt pada tahun 1999, penyebab kepunahan dari Celepuk Siam dikarenakan oleh pola deforestasi hutan yang terus berlangsung berakibat pada kurangnya lahan hutan dan habitat Celepuk Siau, dimana hanya menyisakan 50% saja lahan hutan yang ada disekitar danau Kepetta.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak keanekaragaman flora dan fauna, namun dalam faktanya banyak dari satwa-satwa ini terancam menuju kepunahan bahkan hilang. Salah satu diantarnya adalah akibat pola hidup manusia sebagai makhluk tetinggi yang kurang baik. Seperti kurangnnya pemahaman dan kesadaran akan pesona burung Celepuk Siau tersebut dan pengurangan lahan hutan untuk kepentingan agribisnis ataupun deforestasi hutan, yang mengakibatkan beberapa masalah di lingkungan sekitarnya berakibat diantaranya invasi binatang pemangsa satwa yang tidak terkendali, rusaknya habitat satwa untuk tinggal dan berkembang biak menjadikan kurangnya spesies dan satwa tersebut.

Lihat kan, betapa sempit pengetahuan kita tentang Indonesia? Masih ada banyak flora dan fauna yang nasibnya sama dengan Celepuk Siau yang menunggu kita untuk mengenal dan menjaga mereka.  Jadi, sebelum belajar mengenal keanekaragaman negara tetangga, lebih baik kita mengenal dan menjaga keanekaragaman hayati negara kita dahulu.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Otus Siaoensis. http://burung.org/index.php?option=com_k2&view=item&id=98:otus-siaoensis&Itemid=66. 4 September 2014.

Hui, L. 1997. Barn owl for field rat control in cocoa. Journal Trop. Argic and Fd, 25 (1) : 44. 

Sangster, G., King, B., dan Verbelen, P. 2013. A New Owl Species of the Genus Otus (Aves: Strigidae) from Lombok, Indonesia. PLOS ONE  Journal, 8 (2) :                  2-3.

Wihardandi, Aji. 2013. Celepuk Siau, Misteri Burung Endemik Kepulauan Sitaro.  http://www.mongabay.co.id/2013/02/09/celepuk-siau-misteri- burung-endemik-kepulauan-sitaro. 4 September 2014.

 

 


13 responses to “Nasib si “mungil” dari Sulawesi Utara”

  1. jejejacqueline says:

    Pulau Sumatera dan kepulauan di sekitarnya, sebenarnya, menyimpan keanekaragaman hayati yang begitu besar. Namun ulah manusia telah merusak harta karun Indonesia dan bahkan harta karun Dunia tersebut. Alangkah baiknya jika upaya konservasi segera dilakukan, sebelum 50 spesies terakhir ini benar-benar menjadi punah.

  2. selviaemanuella says:

    Informasi yang baik, apakah hewan celepuk siau ini memang hanya terletak di kepulauan siau ?
    atau bisa bermigrasi ke wilayah lain ?

  3. vika says:

    Sayang sekali pemerintah belum melindunginya dg peraturan uu sehingga tidak diperjualkan lagi..tapi apakah sudah ada yayasan lindung yang menangkarkan burung hantu ini?

  4. adeirma says:

    Sayang sekali, untuk burung sebagus ini yang bahkan sudah hampir punah tapi tidak dilindungi hukum. Seharusnya ada perundang – undangan yang melindungi semua satwa di Indonesia jangan hanya yang sudah langka.

  5. arum08 says:

    Dari informasi yang didapat, celepuk siau ini hanya endemik di pulau Siau…

  6. Inge says:

    thx infonya. baru tahu kalau ada hewan yg statusnya sekarat tapi belum ada perlindungan hukum. Yah, memang rumit. menambah daftar panjang fauna endemik yang terlantar. jadi ke’inget video pertama di kelas BioKons, statement Ibu Aktivis India yang bilang bahwa konservasi itu jadi complicated karena ada unsur kepentingan manusia yg berembel-embel efek egoisme hukum dan ekonomi manusia.

  7. nitabawole says:

    burung mungil yang lucu, salah satu kebanggan sulawesi utara khususnya kepulauan siau yang seharusnya dilindungi, akan tetapi blm ada upaya lebih dari pemerintah untuk melindungi burung ini. sebagai salah satu anak bangsa yang memiliki darah siau saya pun menyayangkan status konservasi dari celepuk siau ini. semoga saja pemerintah lebih menaruh perhatian terhadap hewan mungil ini

  8. arum08 says:

    Betul banget nita. tapi kalau hanya mengandalkan pemerintah, mungkin juga kurang efektif.. mungkin lebih baik di mulai dari diri sendiri aja… 😀

  9. novia11 says:

    sayang sekali hewan selucu ini harus punah akibat ulah manusia
    Belum ada kah peneliti dari Indonesia tersebut? karena yang saya baca sepertinya semua peneliti berasal dari luar negeri kemudian belum ada kah undang-undang yang mengatur tentang Celepuk Siam?

  10. santha21 says:

    Sungguh menyedihkan celepuk siau ini diperjulbelikan secara besar-besaran dan ilegal. Padahal si mungil ini merupakan penyeimbang ekosistem sebagai burung raptor. Sebaiknya pemerintah harus lebih memperhatikan semua satwa yang ada khususnya yang merupakan kunci penyeimbang lingkungan

  11. miabone says:

    Burung ini lucu sekali, selain lucu juga sangat bermanfaat, terutama untuk masyarakat lokal. Kita tahu bahwa tikus, ular, maupun serangga terkadang menjadi hama bagi usaha pertanian warga lokal. Apakah tidak ada usaha dari warga lokal untuk menjaga dan melestarikan hewan ini mengingat perannya yang penting tersebut? Terimakasih 🙂

  12. nitabawole says:

    yups benar juga sih, harus ada kesadaran dari dalam diri kita sendiri, thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php